"Aku mau pamit, besok aku mau pindah ke sekolah asrama di luar kota," katanya suatu hari.
"Kenapa?" tanyaku dengan sesak yang mulai memenuhi dada
"Di sini aku gak bisa berkembang. Aku merasa stuck dan gak bisa melangkah lebih jauh lagi. Aku butuh suasana baru, teman baru, dan pastinya tempat baru yang mungkin bisa membuatku berkembang lebih baik."
Percakapan ini memang hanya via Whatsapp di malam hari. Tapi perkataannya sungguh membuatku merasa frustasi. Air mata yang ku bendung menetes setitik demi setitik.
"Lah, terus aku gimana? Aku sendirian dong di sini," jawabku pilu. Sejujurnya saat ini aku menangis dengan setengah tertawa. 'Hah... Kok selalu gini sih. Pada akhirnya selalu aku yang sendirian,' batinku.
"Ya... Kan masih ada temen-temen yang lain. Temen kamu banyak gitu." Ya, begitulah yang ada dalam benaknya.
Berbeda dengan apa yang kurasakan. Bagiku dia bukan sekedar teman dekat, dia adalah motivatorku yang bisa membuatku bertahan dalam pergaulan toxic sampai sejauh ini.
***
Namaku Eliza, seorang siswi cupu dan kutu buku. Maunya berteman dengan siapapun, meskipun yang paling kusuka tentunya yang sefrekuensi dengan karakterku.
Lingkungan sekolahku banyak diwarnai dengan pergaulan toxic. Pada akhirnya, aku juga menjadi bahan bully-an, meskipun sebenarnya aku sudah biasa dengan hal itu. Bukan hanya karena cupu dan kutu buku, wajahku juga pas-pasan. Satu-satunya yang menonjol dariku hanyalah ranking yang berputar pada tiga besar.
Salah satu sainganku dalam peringkat tiga besar adalah Alga, beberapa kali kami bertukar tempat antara peringkat satu dan dua. Berbeda denganku, Alga adalah anak yang tampan sekaligus rajin dan pintar. Tak ayal banyak teman-teman sekolahku yang menyukainya. Lucunya, mereka tidak tahu bahwa kami bertetangga dan berteman sejak kecil.
Kalau mereka mendekati Alga karena menyukainya, berbeda dengan anak-anak lain yang mendekatiku, mereka hanya mendekatiku saat membutuhkan otakku untuk membantu mengerjakan tugas. Bahkan beberapa siswi yang tahu bahwa aku adalah teman kecil Alga, mereka tidak segan untuk meminta bantuanku untuk mendekati Alga.
Bagiku tidak ada lagi teman sebaik Alga. Dia seseorang yang sangat baik dan tulus berteman denganku. Sejujurnya aku juga kagum dengannya. Bagaimana dia bisa fokus dan tetap berjalan dengan baik, sedangkan dia juga memikirkan hal terkait kisah cintanya. Ya, simple-nya dia pacaran.
Bagiku berpacaran hanyalah hal yang merepotkan. Hubungan yang terikat tetapi bukan dalam bentuk kepastian dan memiliki kemungkinan untuk ditinggalkan. Kebahagiaan yang adakalanya hanya sementara, tetapi jika berakhir buruk justru meninggalkan rasa sakit yang berkepanjangan.
***
Suatu hari, seorang fansgirl Alga bertanya kepadaku, "Liz, kamu denger kabar gak? Alga mau masuk sekolah asrama mana?"
Deg!
'Alga mau masuk asrama? Kok aku gak tau?' batinku. "Ummm... Gak tau ya, soalnya aku juga baru denger dari kamu kalau Alga mau masuk Asrama." Aku benar-benar tidak tahu kalau Alga akan pindah ke sekolah asrama, apalagi sampai di luar kota.
"Loh, kamu kan tetangganya, kok gak tau sih?" tanyanya jutek.
Aku hanya diam, perasaanku bercampur aduk. Beberapa hari lalu Alga memang mengirim pesan Whatsapp kepadaku. Hanya pembicaraan basa-basi dan bagiku memang tanpa arti. Sekalipun begitu, itu adalah percakapan yang mengaduk-aduk perasaanku, dan aku sangat mengingatnya.
***
"Liz, kamu kan pinter, gak mau masuk sekolah asrama kah?" tanya Alga via chat Whatsapp.
"Aku gak bisa deh kayaknya, Ga. Aku cewek, bakal sulit izinnya sama ortu, khawatir aku begini lah begitu lah. Dan lagi, keluargaku gak ada biaya buat masukin aku ke sekolah asrama," paparku. Jujur, saat itu mataku berkaca-kaca. Sekolah asrama adalah impianku sejak kecil, tetapi keadaan memintaku untuk tetap bertahan di sini.
"Sayang banget ya," Alga prihatin.
Saat itu aku tidak tahu bahwa Alga berniat untuk pindah ke sekolah asrama. Ku kira itu hanya percakapan basa-basi antara dua teman kecil dengan impian yang tidak jauh berbeda.
***
Hingga kemudian hari ini Alga berpamitan untuk pindah ke sekolah asrama di luar kota. Wajar Alga bisa melakukan hal itu, keluarga yang berkecukupan dan seorang anak laki-laki membuat dirinya cukup mudah untuk meminta izin.
"Kapan kamu berangkat?" tanyaku berusaha menabahkan diri.
"Setelah selesai semester ini. Surat-surat kepindahan masih diurus," jawabnya.
Percakapan online membuatku tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang. 'Dia pasti sangat bahagia. Apa dia gak kepikiran sama aku sama sekali ya?' batinku frustasi.
***
Libur semester berlalu dengan cepat. Baru beberapa pekan percakapanku dengan Alga terkait kepindahannya. Hari ini sekolah kembali masuk dan aktif kembali. Karena masih semester genap, kelas kami masih sama. Perbedaannya hanya satu, tidak ada Alga di kelasku. Dia sudah pergi.
Dalam lingkungan seperti ini, aku merasa sangat depresi dengan kepergian Alga. Tidak ada semangat bersaing lagi di kelas, kosong dan hampa. Si kutu buku sudah pergi menghilang entah kemana, yang tersisa hanyalah si cupu yang tidak berguna.
Satu semester, dua semster, hingga kelulusan. Aku mendapatkan nilai tertinggi dan selalu peringkat satu, tidak ada Alga yang akan berebut posisi denganku. Sangat mengherankan, sekalipun aku tidak belajar, pada akhirnya tetap aku juga yang mendapatkan peringkat. Kepergian Alga membuatku menjadi pemalas dan selalu duduk dalam zona nyaman. Tapi aku semakin frustasi.
Alga hanya menyapa sekilas di Whatsapp. Dia sibuk dengan kegiatan sekolahnya yang baru, anak yang aktif. Percakapan sesekali dan selalu berputar bagaimana keadaan sekolah kami masing-masing, bagaimana kegiatannya, bagaimana teman-teman, dan lain-lain. Aku hanya tidak pernah menceritakan satu hal kepadanya, yaitu bahwa Eliza si cupu tidak pernah benar-benar memiliki teman di sekolah itu selain Alga.
Akhir tahun, kelulusan. Aku hampa, tidak ada Alga. No moment with Alga again. Kelulusan tanpa teman yang kurindukan.
***
Bertahun-tahun berlalu. Alga melanjutkan kuliah di kota tempatnya sekolah asrama, dan aku masih disini. Kuliah di kampus swasta bersama teman baru. Aku sudah bukan Eliza si cupu kutu buku lagi. Semenjak kelulusan tanpa Alga, aku bertekad untuk merubah penampilan dan sikapku. Aku tampak lebih ceria sekarang, public speakingku berkembang jauh lebih baik.
Wisuda penutup masa kuliahku hanya dihadiri oleh keluargaku, aku lulus dengan nilai cumloud. Aku bersyukur dengan itu. Entah bagaimana dengan Alga, aku kesulitan untuk mendapatkan kontaknya dua tahun terakhir ini. Dia tetaplah motivatorku. Aku melanjutkan kuliah pun karena dorongan dari Alga, hingga aku bertahan dan berjuang untuk kuliah hingga wisuda bagaimana pun caranya. Pekerjaan freelance menjadi keseharianku sejak tekadku terbangun.
***
Alga Putra Afandi, hari ini, setelah sekian tahun lamanya, aku berjumpa lagi. Kali ini aku berjumpa dengannya bukan sebagai teman curhat, saingan, atau lainnya. Aku menjadi salah satu kerabat yang menghadiri pertunangannya dengan seorang gadis yang merupakan teman kuliahnya.
Gadis itu cantik, bulu matanya lentik dengan mata yang berbinar. Ekspresif, sopan, berhijab dengan rapi, fashionable.
Aku tersenyum miring, lagi-lagi perasaanku bercampur aduk. Alga mendapatkan seorang gadis yang begitu cantik, seharusnya aku bahagia. Tapi apa ini? Dadaku sesak, mataku berat. Ujung-ujung tubuhku terasa dingin, dadaku berdebar. 'Hufftt... Apa sih yang ku pikirkan sampai hari ini? Dia lebih pantas untuk Alga, seharusnya aku sadar diri,' batinku.
Ya, entah sejak kapan perasaanku kepada Alga berubah. Dari seorang teman kecil, teman curhat, kagum, dan ... dan ... ya, tahulah. Alga sudah merampas sebagian perhatianku tanpa kusadari.
Pada akhirnya, hanya terima kasih yang tak bisa kuucapkan, entah sampai kapan. Cukup dengan doa restu dan doa kebahagiaan untuknya dan pasangannya kelak.
Thank you so much, Alga. Proud of you, and ... (I Love You)