Azka Narendra namanya, tidak ada satupun yang betah lama-lama berdekatan dengan manusia itu meskipun dia memiliki wajah yang nyaris sempurna. Sifatnya yang cuek, dingin, dan bermulut pedas membuat dirinya disegani semua murid di sekolahku. Azka adalah orang yang misterius, dia berbeda dengan siswa lainnya, disaat mereka sibuk memamerkan kekayaan, justru Azka penuh dengan kesederhanaan, dan sialnya aku malah jatuh cinta dengan manusia menyebalkan itu. Bagi sebagian siswa menganggap jika berteman dengan Azka adalah sebuah kesialan.
"Hei jelek! Kemari!"
Dan akulah yang mendapat kesialan itu, dulu aku pernah menganggap dia adalah pahlawan, dia selalu melindungi dan membela ku saat aku dibully, hingga sekarang aku malah terikat dengan manusia yang suka seenak jidat ini.
"Jawab semua soal ini, pokoknya gue nggak mau tahu, jawabannya harus bener!" ujarnya dengan raut wajah datar, sontak kepalaku uring-uringan saat melihat angka-angka di buku tulis milik Azka. Maunya apa sih manusia ini? Padahal jelas-jelas dia pintar, rasanya soal seperti itu dia bisa mengerjakan sambil merem.
"Tap-"
"Nggak ada tapi-tapi, gue kasi waktu lima menit!"
"Gila! Aku nggak mau!"
"Oh nggak mau? Jadi gini balesan lo atas semua yang udah gue lakuin ke lo? Lupa ya dulu gue sampai bonyok gara-gara nolongin lo? Dan coba liat penampilan lo-" Azka menjeda kalimatnya, dia memindai penampilanku dari ujung kaki sampai ujung rambut. "Siapa lagi yang mau berteman sama lo selain gue?"
Bak tersambar helikopter di siang bolong, mulut Azka yang memang suka asal jeplak tak jarang membuatku sakit hati. Tak tahan, aku melempar buku itu sembarangan lalu berlari meninggalkan manusia tak berhati itu, persetan jika dia akan marah nantinya. Aku berlari menuju toilet, sampai disana aku menatap diriku lewat pantulan cermin, kaca mata tebal, rambut dikepang dua, aku tersenyum getir. Memang benar yang dikatakan Azka, siapa yang mau berteman dengan upik abu sepertiku? Bahkan dulu aku menganggap berteman dengan Azka adalah hal yang mustahil. Meskipun penampilan Azka sederhana, tapi itu tidak mengurangi kadar ketampanannya. Bahkan banyak yang iri denganku karena aku bisa dekat dengan Azka tanpa tau resiko yang aku terima.
Ceklek
Aku menoleh ke arah pintu, aku mencoba membuka pintu tapi ternyata terkunci, tiba-tiba aku mendengar suara tawa dari arah luar, aku mengenali suara itu, mereka adalah sekelompok perempuan yang selalu menggangguku.
"Dista! Tolong buka pintunya!" Aku berteriak sambil menggedor-gedor pintu itu.
"Selamat bersenang-senang cupu ..." lagi-lagi mereka tertawa dan mulai menjauh.
Setengah jam berlalu, tenggorokanku mulai sakit, aku lelah berteriak, rasanya percuma saja karena letak toilet ini sangat jauh dari kelas, apalagi karena bersebelahan dengan gudang membuat toilet ini jarang digunakan. Aku mulai kesulitan bernafas karena ruangan itu sangat pengap. Samar-samar aku mendengar bel pertanda jam pelajaran telah berakhir, itu artinya sebentar lagi sekolah ini akan sepi, aku hanya bisa menangis tanpa suara. Tiba-tiba aku teringat Azka, ya sejak lama aku menyukainya, meskipun dia sering bersikap seenaknya tetapi tidak bisa dipungkiri aku telah jatuh cinta dengannya, tapi lagi-lagi aku harus berkaca, pantaskah seorang upik abu sepertiku menginginkan seorang pangeran untuk bersanding dengan diriku?
"Neza, bangun nak ..." bau minyak angin yang menyeruak membuat aku tersadar, mataku menatap sekeliling, aku sangat mengenalnya, ini adalah kamarku, dan perempuan yang sudah tidak lagi muda ini adalah sosok wanita hebat yang telah melahirkan dan merawatku seorang diri. Aku tidak tahu rupa ayahku, karena sejak kecil aku hanya dirawat oleh ibu, dan baru-baru ini aku mengetahui fakta menyakitkan bahwa aku adalah anak yang tidak diharapkan. Tapi tunggu dulu, siapa yang telah membawaku kemari? Seingatku tadi berada dalam toilet sampai akhirnya aku pingsan.
"Tadi ada cowok yang gendong kamu ke sini, dia bilang dia temen kamu." ucap Ibu seolah mengerti kebingunganku.
"Cowok? Azka?" aku bergumam nyaris tak terdengar, tiba-tiba aku tersenyum membuat ibu keheranan.
Malam harinya aku bercermin, kulihat diriku, masih dengan kaca mata tebal dan rambut panjang bergelombang yang masih terikat. Aku melepas kaca mata itu, sebenarnya tidak ada yang salah dengan mataku, setelahnya aku melepas ikat rambut dan membiarkan rambutku tergerai. Setelah mendapat penghinaan dari Azka, aku bertekad untuk merubah penampilanku. Tanpa sadar, aku lupa menutup jendela sehingga ada sepasang mata yang melihat tingkahku dari seberang sana sambil tersenyum tipis.
Keesokan harinya, aku mendengar suara ribut-ribut di halaman rumah, aku yang sudah siap untuk berangkat sekolah langsung berlari saat mendengar ibuku menangis. Sampai di sana aku terkejut melihat Azka dan seorang pria yang menurutku itu adalah ayahnya.
"Ibuk!" aku sontak memeluk ibuku yang terduduk di halaman sambil menangis.
"Apa dia anak itu?" tiba-tiba pria itu menunjuk diriku, aku semakin bingung saat ibu memeluk tubuhku seolah aku akan diambil oleh pria itu.
"Tolong kamu jangan ganggu kami, sudah cukup kamu membuat kami menderita!" teriak ibuku yang mulai tersulut emosi.
"Ibu, dia siapa?" tanyaku.
"Saya adalah ayah kamu!"
Deg
"A-ayah?" aku dan Azka tercengang mendengar penuturan itu.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Azka dan pria itu adalah tetangganya, pemilik rumah mewah bak istana yang selama ini jarang terlihat adalah pria itu. Namun ada satu hal yang ingin sekali aku ketahui, apakah Azka anak pria itu? Lantas jika iya, bukan berarti dia mencintai saudaranya sendiri? Ah tapi rasanya tidak mungkin, lalu kenapa selama ini Azka selalu menutup rapat tentang dirinya? Bahkan aku yang sudah bersamanya selama tiga tahun tidak tahu dimana rumah manusia menyebalkan itu, apalgi Azka memang tidak pernah mau berbicara tentang hal-hal yang bersifat pribadi. Lantas, siapakah dia sebenarnya?
Bali, 29 April 2022