Ctak Ctak Ctak
Zainal menekan-nekan keyboard-nya di tengah malam. "Baiklah dengan begini aku akan selesai modding game ini."
Ctak!
Tekanan tombol keyboard terkahir terdengar dari kamar yang sunyi itu. Zainal akhirnya bisa lega dan melentangkan duduknya dengan santai.
"Mod-mod ini sudah berhasil ku susun, sekarang aku akan load save-save anku."
Zainal membuka game yang baru ia mod, sebuah game strategi dimana politik dan membangun pasukan adalah unsur utamanya. Dia memodifikasi data supaya pasukan-pasukan dan semua bawahannya menjadi yang terkuat dan paling setia. Tidak lupa juga, memasangkan karakter dengan equipment terbaiknya.
Sekitar 1 jam Zainal memainkannya, ia sudah merasa bosan. Pasukannya terlalu kuat meskipun sudah di setting dengan kesulitan paling sulit, bawahannya yang setia juga selalu mengikuti apa perintahnya.
"Mungkin sebaiknya aku buat musuhnya saja yang kuat...hwahh(menguap), besok ajalah...Ngantuk."
Zainal mematikan komputernya dan berjalan ke kasurnya, namun...
"Eh?!"
Gubrak
Zainal tersandung kabel dan kesetrum terminal kuningan yang patah,
"Arrggghhg!" Suara erangnya.
Dia meninggal karena itu.
Tak lama kemudian...
"Hehh.... Dimana aku?"
Zainal terbangun di sebuah tempat yang penuh dengan kemewahan, dia duduk disebuah singgahsana raja.
"Yang mulia! Yang mulia!" Seseorang memanggilnya dari samping.
Zainal melihat ke arah sumber suara. Seorang pria kekar dengan baju zirah yang terbuat dari besi yang bercampur berlian berdiri di samping dengan khawatir.
"Kau...Jeremus?"
Zainal menyebut nama NPC yang dia jadikan menterinya saat dia naik tahta sebagai raja di game itu.
"Tunggu?! Kau benar-benar Jeremus?!" Zainal terkejut saat dia baru menyadarinya.
"Ya benar, Yang mulia. Kenapa anda melupakanku? Mungkin anda terlalu kelelahan karena habis pesta kemenangan setelah menguasai Suno." Jeremus menundukkan badannya dan menyuruhku istirahat.
"Baiklah, mungkin benar."
Zainal mungkin masih bermimpi, jika ini benar-benar dunia Calradia, seharusnya dia tahu di mana tempat tidurnya.
Saat di jalan menuju kamar, dia bertemu dengan salah satu bawahannya, bila tidak salah ingat namanya Lezalit.
"Tuan Gehixo, selamat malam. Apa anda sudah mau pergi tidur, hahahaha? Mungkin melelahkan bagi raja baru untuk tidur teratur."
Lezalit menyapanya dengan membungkukkan badannya seperti Jeremus, bedanya dia lebih lantang dalam berkata.
'Gehixo itu namaku di game itu.' Zainal berbicara dalam hatinya.
Zainal tiba di kamarnya dan langsung berbaring di atas kasur. Sambil melihati langit-langit kamar yang dipenuhi bebatuan dia memikirkan sesuatu.
'Pertama, aku mati karena kesetrum di kamar. Kedua, aku terbangun di sebuah istana dan singgahsana Suno. Ketiga, aku menggunakan armor dan senjataku yang ada di game itu. Keempat, bawahannya akan selalu setia padanya, apapun yang aku pikirkan akan diturunti.'
Bila Zainal pikir-pikir, mungkin hidupnya enak juga. Tapi perasaan sedih juga harus ia hadapi. Kenyataan kalau dia telah meninggal di dunianya tidak bisa dipungkiri dan kini dia terlempar ke dunia game miliknya.
'Aku hanya ingin memastikan.' Zainal bangun dari kasurnya dan mengeluarkan pedangnya.
Bila diingat-ingat, gamenya masih dalam keadaan ter-mod sehingga seharusnya senjata yang ia pakai memiliki kekuatan yang mengerikan.
"Mariku coba...Hyahhh!" Zainal mengayunkan pedangnya horizontal.
Duaaaar!
Seluruh isi kamar yang ia arahkan dengan pedangnya langsung terbelah menjadi dua, sekarang kamarnya ada bekas tebasan pedang yang sangat besar.
"Apa aku terlalu berlebihan saat memodifikasinya?" Zainal melihati pedangnya sambil menggarut rambutnya.
"Yang mulia?! Apa yang terjadi?!" Jeremus datang menghampiri dengan ekspresi terkejut.
Suara tebasan dari pedang Zainal membuat gemetar seisi istana, sebaiknya Zainal harus mencari alasa.
"Tadi ada musuh merangkak masuk lewat jendela." Ia berbohong dengan menggaruk kepalalnya lagi.
"Benarkah?! Maafkan aku, Yang mulia. Kami teledor." Jeremus menundukkan badannya.
"Tenanglah, tidak apa-apa." Zainal mengangkat telapak tangannany.
"Pasti itu pasukan dari Ratu Isolla." Suara Lezalit tiba-tiba muncul dari pintu.
"Bisa jadi..." Jeremus hanya bisa menjawab dengan lirih.
"Tuan Gehixo, besok Ratu Isolla akan menyerang istana ini. Dia ingin merebut kembali sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya. Beri kami perintah!"
Ucap Lezalit dengan tegar.
Lezalit menaruh tangan kanannya di dada. Dia siap diperintahkan apa saja, meski itu adalah bertarung sendiri di medan perang.
"Ratu Isolla ya..." Zainal menatap ke jendela yang sudah terbelah.
Di gamenya, semua raja terdahulu ia tumbangkan dan dia gantikan dengan raja dan ratu yang lebih muda. Isolla adalah salah satunya, Zainal mengingat perjuangannya dengan Isolla untuk membuat semua count dari Raja Harlaus berbelok ke arahnya.
Sebuah ikatannya dengan para raja dan ratu baru di Calradia sangatlah erat. Tapi semua itu berubah, sejak Zainal atau yang dikenal di game ini sebagai, Gehixo menyerang Kastil Rybelet dan menjadi raja di sana.
Para raja dan ratu di Calradia tidak menganggapnya sebagai raja melainkan hanya sebagai bandit. Kekesalan memenuhi pikiran Zainal dan menguasai Suno malam itu.
"Dia pasti akan datang." Zainal menatap keluar jendela.
"Persiapkan para pasukan! Kita akan maju sebelum Ratu Isolla mendekati Istana Suno!" Zainal memberi perintah.
"Siap yang mulia!"
"Siap, Tuan Gehixo!"
Lezalit dan Jeremus menepuk tangan dengan menggenggam lalu pergi meninggalkan Zainal yang ada di kamar.
"Gehixo ya... Mungkin aku akan pakai itu nama sekarang."
Zainal menyebut dirinya sebagai Gehixo malam itu juga, dan pergi tidur untuk perang besok.
Pagi hari yang cerah membangunkan Gehixo.
"Ini saatnya bersenang-senang!"
Ini adalah hari pertama Gehixo untuk mencoba kekuatan dari senjata dan pasukan yang tak terkalahkannya. Mungkin ini membosankan bila di game, tapi kalau kau bisa menggeraknya dengan dirimu sendiri dan merasakannya, siapa yang tidak mau coba.
Gehixo berjalan keluar kastil, di luar sudah ada sekita 500 pasukan berkuda, 100 pasukan pengguna pedang, dan 200 pasukan crossbow. Mereka semua dulunya adalah pasukan bayaran, namun setelah Gehixo merekrutnya mereka jadi pasukan khas milik negara baru dari Gehixo, Zaenal Empire.
"Tuan!" Sorakan dari para Lord-ku terdengar.
Mereka berbaris berjejer sepanjang jalan keluarku dan sudah bersiap memimpin divisi pasukan. Aku berdiri tegap di antar mereka, sebuah pidato akan ku katakan.
"Ratu Isolla memang adalah temanku saat itu, namun itu adalah masa lalu. Saat ini! Saat aku sudah menjadi raja, mereka para raja dan ratu Calradia tidak menganggapku! Mereka menganggap kita sebagai bandit! Harga diri kita diinjak-injak! Mereka seenaknya saja melupakan pertemananku! Hanya ada satu cara supaya aku dianggap menjadi raja! Yaitu dengan mengambil alih setengah kekuasaan Ratu Isolla! Jadi! Aku mohon dengan kalian! Bantu aku, angkat senjata kalian! Kita akan melawan ketidakadilan ini!"
Pidato telah kuucapkan.
"Hwaaaaah!!!!! Hidup Kaisar Gehixo!!!!"
"Hidup!"
"Hidup Kaisar Gehixo!!!!"
"Hidup!"
Mereka mengulangi itu beberapa kali sampai aku menangkat telapak tanganku.
"Semua pasukanku yang kubanggakan...Maju!!!"
Gehixo dan para pengikutnya berangkat ke medan perang dengan moral yang sangat tinggi.
Peperangan akan berlangsung di antara Istana Suno dan Praven. Jaraknya yang berdeketan dan tidak ada pepohonan rindang membuat pasukan Gehixo tak mengalami kerugian.
'Keren sekaliii!!! Aku tidak pernah menyangka, aku akan berpidato sebagai seorang kaisar' Gehixo tersanjung dalam hatinya.
"Tuan Gehixo, pasukan Ratu Isolla sudah terlihat!"
Seorang Lord yang belum ia temui tadi malam berkuda mendekatinya, dia adalah Firentis. Dia adalah keluarga bangsawan yang dibuang dan lari dari rumahnya. Kini dia melayani Gehixo karena kebaikannya.
"Semua pasukan berhenti!" Gehixo memerintahkan pasukan dengan berteriak.
Ratu Isolla ada di depannya, wajah marahnya terpampang di wajahnya. Dia ingin membalaskan dendamnya pada orang yang sudah membantunya menjadi ratu.
Gehixo dan Isolla maju dengan berkuda pelan ke tengah-tengah medan pertempuran. Mereka menatap satu sama lain dengan kecewa.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu sebagai musuh!...Kau menyerang Rybelet dan menjadi raja, tapi para raja tahu, kau melakukan itu dengan paksa. Kau bukan raja tapi bandit!"
Gehixo hanya diam mendengarkan sambil menutup matanya, saat Isolla selesai bicara, ia membukanya kembali.
"Terserah apa yang mau kau katakan... Ketidakmauan kalianlah yang membuat jadi seperti ini...Aku akan menghancurkan kerajaanmu...Sampai tidak bersisa!"
Gehixo tanpa mengatakan lebih banyak langsung mundur ke barisan prajuritnya.
"Kau tidak akan menang! Pasukanmu hanya berjumlah 800 sedangkan pasukanku berjumlah 2000!" Isolla meneriaki Gehixo dengan nada tinggi lalu kembali ke pasukannya.
"Ini adalah masalah kualitas bukan kuantitas." Gehixo bicara dengan santai.
"Bagaimana Tuan? Apa aku harus menghajar mereka?" Lezalit mematah-matahkan jarinya.
"Ya...Mereka semua lemah, maka dari itu(menutup mata)...Jangan biarkan satupun count mereka kabur!(membuka mata)" Gehixo menodongkan pedangnya ke arah lawan.
Semua pasukan yang dikerahkan Gehixo maju dan menyerang pasukan Isolla. Sebuah bentrok terjadi di antara mereka berdua.
Pasukan berkuda saling menusukkan tombak mereka, pasukan pedang saling menebas satu sama lain, pasukan jarak jauh saling menembak dari kejauhan.
Gehixo maju mencari celah untuk menemukan para count yang ikut dalam pertempuran. Dia melihati sekitar dan didapatkan ada sekitar 6 count yang ikut serta.
"Ayo coba tangkap aku!"
Gehixo maju ke tengah-tengah pasukan musuh dengan kudanya. Para musuh terpancing dengan taunt-nya dan berlari ke arahnya.
"Itu pemimpin mereka! Jika kita menangkapanya, maka kemenangan akan menjadi milik kita!"
Para count berkuda mengikuti Gehixo yang sendirian.
"Kena kalian." Senyum jahat terpampang dimuka Gehixo.
Gehixo turun dari kuda dan mengeluarkan pedangnya. Dia berdiri sendirian dihadapan para pasukan musuh yang berjalan ke arahnya. Pedangnya siap ditebaskan kapan saja.
"Lenyaplah kalian!" Gehixo menebaskan pedangnya ke arah gerombolan prajurit.
Puluhan bahkan Ratusan prajurit gugur hanya dalam satu kali serangannya. Para count terjatuh dan sekarat di medan pertempuran, mereka sudah tertangkap.
Isolla yang sedang fokus bertarung langsung kehilangan konsentrasinya setelah melihat sekitar 1/4 pasukan dan seluruh count-nya dikalahkan.
"Jangan bengong kalah perang, dasar ratu hasil berian!"
Firentis mengayunkan pedangnya ke arah Isolla dan berhasil menjatuhkannya dari kuda. Isolla yang panik berlari menjauh dari medan perang, namun tembakan para crossbowmen mengenai kakinya. Ratu itu tersungkur ke tanah dengan mengenaskan.
Peperangan berakhir dengan Ratu Isolla dan para count yang dikalahkan. Di bekas medan perang para count dibuat berdiri berjejer dengan borgol di tangan mereka.
Gehixo berjalan di depan mereka, menilai apakah mereka layak atau tidak.
"Apakah kalian mau bergabung kerajaanku? Bila ada yang mau majulah, tapi bila ingin tetap mundurlah. Kegelapan penjara akan menemani hidup kalian!" Gehixo mencoba merekrut para count.
Sayangnya semua count berjalan mundur satu langkah. Mereka semua menolak ajakan Gehixo dan lebih memilih menjadi tahanan, kesetiaan mereka pada Ratu Isolla sangatlah tinggi.
Gehixo menatap Isolla dengan muka kesal. Dia berjalan mendekati ratu itu.
"Kau! Karena kau-!" Suara Gehixo dipotong oleh Jeremus. Jeremus menundukkan badannya sambil merasa bersalah karena sudah memotong pembicaraan.
"Yang mulia...Ini hanya sebuah saran, sebaiknya anda melepaskan mereka semua. Tapi dengan syarat, mereka harus memberi tahu Calradia kalau Gehixo adalah raja yang layak dan tak boleh dianggap sebelah mata. Maka anda tidak perlu repot-repot menghancurkan 1/2 kerajaan agar diterima." Jeremus memberi saran.
Gehixo menarik napas dan mengeluarkannya lagi.
"Mungkin itu ada benarnya...Tapi buat mereka ketakutan! Buat mereka tahu kalau bahaya ada di depan mereka! Buat mereka lihat kalau Kaisar Gehixo akan menguasai seluruh Calradia ini!"
Senyum Gehixo terpapar dimukanya. Dia mengangkat tangan kanannya ke depan. Dia bersungguh-sungguh akan menamatkan game ini dan menjadi True King of Calradia.
Mengalahkan Isolla hanyalah langkah awal, masih ada Valdym, Lethwin, Kastor, Arwa, dan Dustum. Para raja dan ratu akan ia tantang. Kekuasaan mereka lambat tapi pasri akan jatuh pada tangan Gehixo.
"Lihat saja!"