Aku gadis sederhana, miskin, lumpuh bahkan tak pernah jatuh cinta tiba-tiba terbangun di sebuah dunia Game tepatnya sebuah tempat bernama abyss, yang berarti palung atau jurang yang sangat dalam.
Tempat ini seperti kawasan gelap lainnya, sangat angker di mana yang berani datang ke sini banyak yang tak pernah kembali.
Tempat Shadow Abyss berada di bagian selatan dari Moniyan Empire. Meski jurang ini sangat gelap, tetapi di bagian bawah tercuramnya terdapat sebuah dasar di mana para iblis yang haus darah mengintai dari kegelapan. Seiring waktu kehadiran mereka terus bertambah. Nampaknya ada semacam kekuatan mistis yang membuat mereka terus bertambah seiring waktu.
Dan aku Alice berada di antara para iblis itu.
Aku menjadi hero yang berada pada jajaran paling antagonis karena dosa-dosaku terhadap hero lainnya.
Aku terpesona dengan tampilanku, begitu cantik dan misterius, gelap dan licik dalam waktu yang bersamaan. Meski demikian aku, terlahir sebagai iblis perempuan yang berasal dari ras Blood Demon, ras ini memiliki keturunan bangsawan yang terlihat di dalam lore Balmond.
"Alice, kamu adalah bangsawan blood demon queen dengan kecerdasan yang tinggi." Itu yang ku ingat tentang diriku dan membuatku begitu yakin dengan kemampuanku.
Bahkan karena begitu spesialnya aku, sehingga di ciptakan dengan lima skin yang berbeda, kadang seperti Succubus tetap cantik meski menyeramkan, kadang dalam tampilan seorang guru sihir, lengkap dengan topi, kacamata, dan buku. tapi aku juga aku terlihat seksi dalam balutan gaun yang biasa digunakan para ratu di kerajaan, dipadu dengan sayap mirip seperti sayap burung elang yang sangat cantik.
Hari ini aku berdiri dengan skin divine oldku, menatap pada minion yang berada di depanku dengan pongah.
"Aku hanya ingin darahmu..." Ucapku dengan suara dalam, aku dapat merasakan ketakutan minion di depanku itu. Tatapan ngerinya padaku malah membuatku begitu ingin menghisapnya sampai lenyap.
Dengan Skill Pasifku, Blood Ancestry, aku menghancurkan minion di depanku itu tanpa ampun, stack Blood Orb muncul seketika, seketika meningkatkan HPkusebanyak 10 point secara permanen dan restore mana sebesar 50 point.
Aku puas dengan apa yang kulakukan, sekarang aku berharap mencari Orc. Karena jika aku berhasil menaklukan ras tersebut, maka aku bisa menjadikan mereka sebagai budak dan makananku.
Aku sangat ingin berada banyak di arena pertempuran tetapi aku bertugas untuk mengurus Dyrot untuk membuat sosoknya pangeran Moniyan Empire itu memiliki kemampuan trik, penipuan, dan strategi milikku.
"Aku sangat menyukai darah, sangat menyukainya." Desisku sambil mencoba menghisap darah musuh di sekitarku.
Yah, dengan begitu aku bertahan hidup dan mengumpulkan kekuatanku, menjadikan orc sebagai makanan agar ras iblisku mampu bertahan hidup lebih panjang lagi meski dengan begitu darahku tidak lagi murni.
Tapi, aku tak perduli, yang aku inginkan hanya menambah terus kekuatanku untuk bertemu raja Estez!
Aku begitu di takuti, dengan kekuatan orc yang kupunya tetapi satu hal yang menjadi ambisi terbesarku untuk pergi ke tempat kediaman para elf di Enchanted Forest. Aku sangat mendambakan kekuatan super milik ras Moon Elf.
"Estez! Aku sangat ingin menahlukkan raja Estez!!!" Entah berapa kali keinginan itu harus ku redam karena untuk menembus Enchanted Forest bukan pekerjaan yang gampang, Si Estez dengan pasukannya selalu saja berhasil memukulku mundur.
***
Hari ini, aku berdiri menantang raja estez,
sebagai ratu, aku tak segan untuk berhadapan langsung dengan raja penguasa Enchanted forest itu.
Di pertempuran sebelumnya aku terlibat pertempuran hebat dengan raja Estez. Sayangnya pada pertempuran itu sang Ratu harus kembali kalah dan cedera berat, tapi hari ini aku berdiri kembali bersama para Mutan orcku. Aku berniat membalas dendam kesumatku pada raja Estez
"Alice, menyerahlah..." Raja Estez yang tampan dengan rambut putih itu, sejenak membuatku terkesima, entah mengapa aku begitu membencinya sekaligus tak bisa keluar dari pesona raja ini.
Mungkin inilah yang membuatku tak bisa lepas dari ambisi untuk menahlukkannya.
Dan hari ini dalam skin epicnya yang bernuansa hijau, wajahnya tak sedingin biasanya.
"Estes, mari bertarung sampai mati." Ucapku dingin meski hatiku terasa menghangat. Rambut putih keperakannya menyilaukan mataku, tapi aku yak gentar untuk menatapnya tanpa berkedip.
"Alice, permusuhan ini tak harus di lanjutkan, Thamuz telah memanipulasimu untuk menjadi alatnya."
Aku terdiam sesaat, tatapan Estez serasa membekukan jantungku.
Aku tahu benar Thamuz memiliki perasaan sentimen kepadaku karena King of Fire Demon itu merasa aku memiliki darah iblis yang tidak murni seperti dirinya. Dengan alasan itu, Thamuz menganggap bahwa sosok yang pantas memimpin pasukan adalah dirinya, bukan aku.
Tetapi kebencian Thamuz sang penjaga Abyss selama ribuan itu padaku itulah yang membesarkan kekuatanku.
Aku tak perduli jika Thamuz memimpin pasukan iblis dan Orc tetapi satu hal yang pasti bangsa Orc-nya hadir di sana karena memiliki perjanjian dan berada di bawah kendaliku sepenuhnya.
"Estez, satu hal yang ku inginkan dalam hidupku adalah membuatmu musnah!" Ucapku keras.
Raja Estez menatapku, dengan mata hijaunya yang berkilau, sebagai sosok peri dalam jubah bersinar-sinar dan membuatnya nampak begitu elegan sekaligus gagah, aku dan dia sungguh bertolak belakang.
Aku menatap buku tebal di tangannya, itu adalah senjata yang telah mengalahkanku di pertarungan terakhir, sebuah buku sihir yang membuatnya bisa melakukan penyembuhan dengan kekuatan bulan sabit yang mengikuti di belakangnya.
Karena itulah Estes enggak bisa menyerang dari jarak dekat. Dia harus dari jarak jauh untuk melawan musuh dan melindungi timnya, sementara aku bisa merangseknya dengan kekuatan jauh maupun dekat.
Pertempuran tak terelakkan, aku mengeluarkan skill ultimateku, kekuatan untuk menghisap semua yang di miliki oleh Estez sementara Estez menyerang dengan sihirnya.
"Andai aku tak bisa memilikimu, setidaknya aku bisa menghisapmu sehingga bersatu dengan tubuhku."
Tiba-tiba aku menyadari satu hal, di tengah adu kekuatan itu, bahwa aku tak benar-benar berambisi untuk menghancurkan Estez tetapi aku hanya ingin memilikinya! Memiliki seseorang yang bertolak takdir denganku.
Aku, si ratu darah dari ras iblis dan dia Estez sang raja peri. Tak ada satu alasan di dunia ini yang bisa menyatukan kami berdua!
Kami berdua, sama-sama terluka parah, aku bahkan hampir tak bisa berdiri. Di depanku, Estez tersengal, memeluk bukunya dengan raut pucatnya.
Aku diam tak bergeming, hanya menunggu, takdirku mungkin harus mati di tangannnya
"Alice, entah kenapa aku terlahir untuk membencimu sekaligus mencintaimu."
Suara Estez terdengar dingin, tetapi begitu ngilu sampai ke hatiku, kalimat itu terdengar menggema sampai ke jantungku, bersama menghilangnya Estez dari hadapanku. Aku tak tahu apakah aku sempat mencuri darah Estez atau tidak tetapi aku tahu raja dari moof elf itu juga terluka parah seperti diriku.
Sekali lagi aku di kalahkannya tetapi hatiku sebagai ratu darah terluka saat tak bisa mengalahkan perasaanku, aku ternyata tidak hanya ingin menahlukkan kekuatannya tetapi lebih ingin menahlukkan hatinya.
Aku masuk dunia Game untuk mempunyai kekuatan, kekuasaan dan cinta! Tetapi aku punya segalanya, kecuali satu hal, cinta dari orang yang selalu membuatku bersemangat bertaruh hidup dan matiku.
(TAMAT)