Braakkk. Aku menjatuhkan barang-barang yang ku angkat. Pasalnya aku melihatnya dia berdiri di balkon rumah samping kanan itu.
Lelaki idolaku berdiri menatap ke arah aku dengan tangan kanannya memegang mug dan bersandar di teralis besi pagar balkon kamar dia.
Kami baru pindah hari ini, Ibuku di nikahi Boss nya dan kami pindah satu mingguan setelah akad nikah itu. Aku yang meminta dia memberikan waktu seminggu kemudian untuk berpamitan dengan rekan-rekan ku karena pindah rumah dan sekolah. Rencana mau kuliah di sekitar rumah lama. Namun Ayah sambung aku minta pindah di kampus elite itu. Dan aku tidak memiliki pilihan lain. Dan hanya menurut saja.
"Sofie kenapa berat ?" Kakak sambung aku berlari kecil menghampiri aku. Aku hanya tersenyum tipis dan mengambil buku-buku itu dan menaruh ke box lagi.
"Maaf kak. Merepotkan !" Ucapku lirih. Fajri menanggapi sekedarnya saja. Aku menarik koper dan mengikutinya di belakang. Ibu menyambut aku juga Ayah. Aku di antar ke kamar baruku. Kamarnya bernuansa pink menghiasi seluruh isinya.
"Aku yang desain. Sudah lama ingin punya adik cewek. Dan baru terkabulkan jika tidak suka rombak saja. Aku tak keberatan." Ujarnya seraya duduk di pinggiran kasur.
"Aku suka kak. Jangan khawatir. Makasih." Jawabku.
"Baiklah yuk ngumpul di bawah. Soal ini nanti saja." Aku hanya mengangguk. Singkatnya keluarga baruku baik dan hubungan komunikasi antara kami terjalin baik.
Aku juga sibuk dengan urusan kampus, aku membawa mobil butut peninggalan Ayah kandungku. Kakak sering membujukku agar memakai yang di garasi. Namun hanya kujawab, " Iya kak".
Terik matahari tak bersahabat, hari ini aku menyesal. Harusnya aku pakai aja mobil kakak. Sekarang dia batuk-batuk dan keluar asap, mana banyak lagi gerutuku dalam hati. Kuhela nafas panjang sambil mencari kontak Bima.
Sahabat ku itu tahu mesin hanya saja jarak kampus nya dan aku bertolak belakang apa dia mau ke sini. Oh God. Aku hanya memandangi phonsel pintar itu.
Sebuah mobil mewah parkir di depan mobilku nampak dia. Sang idolaku turun dari mobilnya.
"Kenapa ? Mogok ?" Tanyanya sambil mengibaskan tangannya karena debu dan asap jadi satu. Aku hanya mengangguk pasrah. Dia melihat mesinnya sejenak lalu menjauhi aku menelepon seseorang.
"Sebentar lagi ada yang ngambil mobilnya. Kenalan aku. Kau ikut aku saja. Mau pulang ?" Tanyanya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
Benar saja ada dua orang datang dengan mobil derek. Bersalaman ala cowok. Aku kenal dia juga temannya saat itu apa dia pemilik bengkel dan itu anak buahnya. Karena satunya berpakaian werpak baju khas montir.
"Ayo jalan !' Ajaknya sambil mengulurkan tangannya. Dan aku menyambut nya.
"Yang baru ?" Tanya rekannya dengan ekspresi menggoda.
"Anak tetangga adiknya Fajri ?" Sahutnya sambil tersenyum.
"Benarkah ? Wah mujur sekali dia. Punya adik secantik dan seimut ini." Katanya meninggi kan suaranya. Aku jadi takut ia mempunyai ekspresi aneh.
"Hati-hatilah Fajri akan menghajarmu jika berani menyentuh nya !" Teriaknya sambil menyeretku ke mobilnya.
"Kamu kenapa tidak memakai mobilnya Fajri. Koleksinya banyak." Tanyanya setelah kami berada di dalamnya dan mobilnya melewati jalan yang macet dan padat.
"Kenapa juga kamu kerja part time ? Dua tempat lagi.. Apa Om Dan tak memberikan uang saku ?" Lelaki itu ngomong tak ada jeda. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya. Keliatan banget kesal, sama siapa ? Aku yang merepotkan dia ? Batinku.
"Aku sudah biasa mandiri kak. Lagi salah aku juga ga pakai mobilnya. Salah aku tidak patuh." Jawabku sambil terus melihat jalanan.
"Kamu itu manis banget. Seperti gadis kecil yang ku tolong, waktu aku masih sekolah high school. Gadis cilik dengan pita dua di kanan-kiri di kepalanya. Karena takut telat ia lari eh, malah jatuh. Lucunya !" Dia terkekeh geli menertawakan aku.
"Kamu itu pakai sopir aja. Jika ada kejadian kaya gini siap juga yang nolongin kamu ! Atau pacar kamu suruh antar jemput. Beres kan ?" Omelnya.
"Aku sibuk kak ga ada waktu pacaran dan ingin fokus kuliah abis itu kerja cuma itu aja !" Sanggah ku emosi.
"Asal kakak tahu aja. Akulah gadis cilik itu ! Puas tertawanya ? Puaskan aja ! Terimakasih tumpangan dan bantuannya." Sungut ku sambil bersedekap menatap jendela mobil. Mobilnya berhenti di depan rumah. Aku pun berlari keluar masuk ke rumah.
"Ada apa dek ?" Fajri berteriak memanggil tapi ku acuhkan. Lelaki itu hanya berpandangan dengan tetangganya itu lalu ia masuk ke mobilnya keluar dari rumahnya.
Satu Minggu kemudian. Aku pulang dari kerja part time ku biasanya mereka sudah istirahat. Ini mereka duduk di ruang keluarga dan ada lelaki itu.
"Assalamualaikum. Ada apa Bu ?" Tanya aku bingung karena semuanya memandangi wajah aku.
"Sini dik. Dia memang raja tega, baru beberapa bulan aku memiliki dia. Tapi sudah kau rebut !" Ujar Fajri sengit, aku lihat ke-dua seperti saling bersitegang, aku duduk diam di sampingnya Fajri.
"Sayang. Damian datang melamar kamu jadi istrinya. Kau bersedia kah ?" Tanya Ayah Dan.
"Apa ?" Pekik aku terkejut.
"Katanya kamu tidak mau pacaran, makanya dia melamar kamu!' Lanjut Ibu.
Aku menatap dia shock. "Ayo kita nikah saja. Kamu cewek yang ingin ku nikahi waktu itu. Dan doaku di kabulkan. Bagaimana ?" Tanyanya dengan tersenyum.
"Bukannya kamu tidak suka ?" Belum sempat aku menjawab dia menyela kalimat ku.
"Aku memang bukan sebersih kamu. Tapi aku tidak melewati batas-batas norma kesusilaan. Dan aku pekerja keras. Memiliki pendapatan dan mapan. Bagaimana kau bersedia kan ?" Tanyanya lagi.
" Menurut aku dia kandidat suami baik dan cinta keluarga. Jadi terima saja demi masa depan." Ucap Ayah Dan. Ibu mengangguk setuju. Hanya Fajri yang menatapku sendu.
Dua di banding satu haruskah kujawab Ya ? Dia idolaku dan sekarang melamar aku ? Sungguh diluar dugaan ku, aku hanya menatapnya saja.