Satu tahun berlalu, tapi masih saja aku mengingat dirimu yang telah hilang. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana aku melupakan mu. Sudah berbagai cara ku lakukan untuk melupakan mu tapi tetap saja aku aku tidak bisa.
Bayang-bayang senyum mu, tawa mu. Masih saja terngiang-ngiang di pikiranku. "Kamu kemana? Sudah setahun kamu hilang. Aku kangen kamu," ucap ku pada diriku yang berharap kamu ada disini bercanda bareng dengan ku lagi. Tapi apa daya kamu sudah hilang dan tidak akan mungkin bisa kembali.
Kamu tahu, aku masih sering datang tempat pertama kali kita bertemu dan memesan minuman yang kamu suka. Aku tidak tahu kenapa aku melakukan nya. Mungkin, karena harap Ku kamu masih ada dan mampir ketempat ini. Yah, walau aku tahu kamu sudah hilang. Tapi salah kah berharap kamu ada? Tidak, kan?
Aku kembali mengingat hati terakhir kita ketemu. "Kamu tahu kalau aku sayang kamu?" Tanya mu padaku dengan koper yang saat itu kamu genggam mengingat kamu akan berangkat ke Surabaya. "Tahu lah. Makanya kamu mau sama ku. Kalau ngga mau mana mungkin aku jadi pacarmu," jawab ku padamu yang langsung kamu balas dengan senyum mu. "Kamu jangan kangen yah. Aku ngga pergi lama kok."
Sayang, nya ucapan mu bohong. Kamu pergi selamanya dari ku. Kamu hilang ikut dengan pesawat yang kamu naiki. Kamu jahat, Tasya. Kamu memberi kan ku janji itu yang membuat aku sampai sekarang menunggu hadir mu. Tasya. Nama wanita yang saat ini pergi dariku. Wanita yang aku tunggu saat ini. Wanita yang buat aku seperti ini, menjadi cowok yang berantakan. Jiko nama ku yang sekarang dikenal dengan cowok paling galau di tongkrongan dan di keluarga ku.
"Kamu kesini lagi. Ayok, lah. Lupain dia, jangan ingat lagi," ujar teman ku yang tiba-tiba saja muncul dihadapan ku. "Aku kangen dia, bung," ucap ku lirih.
Teman ku menarik paksa diriku keluar dari cafe tersebut menuju parkiran. "Kamu jangan gini terus. Kamu kan bisa cari wanita lain," ucap nya padaku setiba diparkiran. Aku melihat kearah nya dengan tatapan sendu. "Kalau dia pergi meninggalkan ku karena orang lain mungkin, bisa. Ini beda. Dia pergi dengan dirinya. Dia hilang. Aku tidak tahu bagaimana keadaan dia. Apakah dia baik-baik saja atau tidak," ucap ku dengan nada yang naik berapa oktaf.
Aku menaiki Vespa ku pergi meninggalkan teman ku yang menatap ku dengan tatapan iba nya kepadaku. Tatapan yang paling ku benci saat ini. Aku tidak butuh dikasihiani, yang aku butuh saat ini adalah dia. Orang yang ingin kulihat kalau dia sedang baik-baik saja. Cuman itu.
Aku memasukan Vespa ku garasi dan langsung menuju kamar ku. Tempat yang paling nyaman saat ini untuk menenangkan diriku. Aku mengambil hp ku dari saku melihat kembali chatingan kita. Chatingan garing tapi aku merindukan masa chatingan bersama mu. Apalagi mengingat kamu sering melarang ku memakan makanan instan karena kamu khawatir penyakit asam lambung ku kumat.
Aku melihat foto pap mu yang kamu berikan padaku. Sungguh cantik. Emang dari lahir mungkin kamu ditakdirkan untuk cantik tiap harinya. Sayang, nya kamu harus meninggalkan kami. Apakah itu juga takdirmu? Kalau iya bukan kah itu sangat jahat.
"Tasya. Aku rindu," ucapku yang perlahan air mata jatuh membasahi pipiku.