Ini kisah ku. Kisah saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu aku kelas lima atau enam, entah lah aku lupa-lupa ingat. 🤭
Tepatnya di bulan Suci Ramadhan seperti saat ini. Pada saat itu aku dapat tugas dari guru agama. Dimana tugas itu harus mengisi buku Ramadan. Yang mana buku itu berisikan tentang kegiatan selama bulan Ramadhan. Diantara kegiatan nya itu ada : Tadarus, sholat lima waktu, puasa atau tidaknya kita, dan kegiatan sholat tarawih. Nah...tugas yang paling bikin aku malas itu minta tanda tangan imam sholat tarawih.
Ada enggak sih yang dulu juga dapat tugas kaya aku?
Bahkan sampai sekarang pun tugas kaya itu masih ada lo. Kenapa aku bisa bilang kaya gitu! Karena anak ku juga dapat tugas yang sama kaya tugasku dulu. Cuma bedanya sekarang sudah berbentuk buku. Kalau aku dulu masih pakai kertas lembaran gitu, yang di lipat-lipat sampai kucel. 🤭😁
Balik lagi dengan kisah ku. Dulu aku, adik sama tetangga ku kalau sholat tarawih itu di mushola yang tak jauh dari rumah. Hanya berjarak kurang lebih dua ratus meter lah.
Entah mengapa teman ku itu ngajak pindah sholat ke masjid. Dari rumah ke masjid itu jaraknya sekitar lima ratus meter lah. Jaraknya lebih jauh kan!
Hari pertama jama'ah di masjid itu biasa-biasa saja. Pada hari berikutnya tanpa sengaja aku lihat ada Mas - Mas gitu nongkrong di teras masjid.
Deg... 'Siapa tuh?'tanya ku dalam hati.
Aku enggak berani cerita dong sama teman ku apa lagi sama adik ku.
Waktu berjalan begitu cepat. Entah hari ke berapa aku tarawih di masjid itu. Dan, Mas-Mas yang aku enggak tau namanya itu menyita perhatian ku. Anehnya lagi, ternyata teman ku itu juga tertarik sama Mas-Mas itu. Kenapa aku sebut nya Mas-Mas? Karena ada tiga cowok saat itu.
Aku, adik ku dan teman ku yang bisanya malas untuk ikut sholat tarawih. Saat itu berubah sangat rajin. Artian malas di sini, baru ikut sholat berapa rakaat udah istirahat. Dan istirahatnya itu lama, bisa di bilang cuma ikut sholat isya' saja. 😁🤭
"Siapa sih itu yang pakai kacamata?" Tanya ke Dina.
"Enggak tau! Aku juga penasaran sama yang duduk di tengah itu!" Sahut Dina.
Aku langsung dong merhatiin cowok yang duduk di tengah itu , "itu kan Rais!" Ucap ku.
"Kok kamu tau?" Tanya Dina dengan heran.
"Iya... Kakak dia itu temannya mas Hadi! " Mas Hadi itu kakak pertama ku.
"Serius?" Dina masih tak percaya. Aku menjawab dengan anggukan kepala.
"Kalau aku suka sama yang duduk di selatan itu!" Celetuk adik ku.
Aku dan Dina sama - sama terbengong. Sedetik kemudian kami tertawa kecil.
"Fix... Mulai besok kita harus lebih awal buat berangkat ke masjid!" Ucap ku dan mereka setuju.
Di saat aku mencari tau siapa nama Mas yang berkaca mata itu. Tanpa sengaja ada anak kecil yang memanggil namanya. 'Mas Kiki' langsung dong nama itu melekat di otak ku.
Aku baru tau kalau tetangga ku ada yang ganteng. Tetangga jauh sih, beda RT saja. Dan saat itu aku benar-benar mengidolakan dia.
Setiap kali bertemu dan berpapasan sama dia itu bawaannya salting (salah tingkah) 🤭😁
Bisa bertemu dengan idolaku itu saat bulan Ramadhan saja. Karena di hari-hari biasa aku jarang banget ketemu sama dia. Buka jarang lagi sih, lebih tepatnya enggak pernah ketemu. Saat itu aku dengar kabar kalau jika idolaku, Mas Kiki itu sekolah di surabaya atau jakarta. (Aku lupa) dia ikut kakaknya gitu. Jadi bisa ketemu pas bulan Ramadhan saja. Beda dengan teman ku dan adik ku yang bisa kapan saja ketemu dengan idolanya.
Di tahun-tahun berikutnya aku dan temanku jadi rajin buat tarawih. Baru dengar azan isya' aja sudah berangkat ke masjid.
Aku heran saat hari pertama tarawih, aku lihat Mas Kiki.
"Enggak biasanya ya Din Mas Kiki udah datang? Biasanya juga puasa ke dua puluhan tarawih nya!" Ucap ku.
"Iya... Mungkin sekolah nya lagi libur panjang!" Sahut Dina.
Esok paginya saat aku berangkat sekolah, aku enggak sengaja lihat Mas Kiki yang akan berangkat juga. 'Oh... Jadi dia udah pindah ke sini sekolah nya 'batin ku.
Aku ikuti dia dong dari belakang. Saat itu dia masih naik sepeda untuk berangkat sekolah. Aku penasaran dia sekolah di mana, karena dia pakai jaket sehingga aku enggak tau dong itu seragam sekolah mana.
Betapa sok nya aku, saat tau jika Mas Kiki itu sekolah satu komplek sama aku. Bedanya aku SMP dia SMA. Duh... Betapa senangnya aku saat itu.
Setelah kejadian itu aku ingat-ingat jam berangkat dia. Dan itu sukses membuat aku sering bertemu dengan nya. Serasa jadi pengemar rahasia deh saat itu. 🤭😁
Tahun berganti tahun. Sekolah SMP ku telah berlalu. Berganti masuk ke sekolah kejujuran. Begitu juga dengan Mas Kiki yang tetap menjadi idola ku. Dia melanjutkan sekolah nya ke fakultas kesehatan yang ada di kota ku. Nasib baik masih berpihak kepadaku, setidaknya dia enggak kuliah ke luar kota.
Bertahun-tahun aku mengidolakan dia. Pertama kalinya dia mengajak ku bicara itu saat ada kegiatan Agustusan. Saat itu para pemuda di kumpulan olek ketua Rt, untuk ikut lomba baris berbaris atau gerak jalan kampung.
Karena pemudanya sedikit, sehingga cewek, cowok itu di jadikan satu pleton. Karena cewek nya sedikit, jadi barisan cewek itu di taruh tengah. Kebetulan atau jodoh, aku satu baris sama Mas Kiki. Sumpah... Heppy banget aku saat itu. Nervous? Tentu lah nervous. Rasanya jantung ku sudah mau loncat dari tempatnya.
"Sekolah di mana sekarang?" Tanya Mas Kiki saat istirahat latihan baris berbaris.
"HA... " Aku terbengong. 'Kok dia tanya sekolah dimana sekarang? Apa selama ini dia juga memperhatikan ku?' batin ku bertanya.
"Sekolah di mana?" Ulang Mas Kiki.
"Emm... Itu SMK3" Jawab ku dengan gugup.
"Oh.. " Dia mengangguk.
Sumpah baru di tanya gitu aja aku sudah seneng banget.
Setelah acara gerak jalan itu aku jarang sekali ketemu sama Mas Kiki. Hingga suatu saat aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Sore itu aku sedang bersepeda dengan teman ku Dina. Aku lihat Mas Kiki juga bersepeda, tapi dia enggak sendri. Dia bonceng cewek, dan cewek itu ternyata teman ku saat SD.
"Itukan Elis!" Ucap ku.
"Ho'oh"sahut Dina.
" Mereka pacaran?"tanya ku.
"Mungkin!" Jawab Dina dengan mengangkat kedua bahunya.
Rasa kecewa sih ada. Tapi ya apa mau di kata. Namanya juga pengagum rahasia harus siap dengan segala kekecewaan yang ada.
Aku yang bertahun-tahun mengidolakan Mas Kiki, teman ku yang menjadi kekasihnya. Aduh... Nasib - nasib emang nasib, gini amat resiko jadi pengagum rahasia.
Sampai sekarang pun kalau aku ketemu sama Mas Kiki, reflek langsung senyum gitu. Ingat masa-masa di mana aku sangat mengaguminya.
Itu lah kisah ku. Kisah ku yang menjadi pengagum rahasia tetangga ku.