Namaku Rojul, usiaku sudah memasuki dewasa. Bicara usia tentu sudah waktunya untuk menikah. Kali pertama Aku mengenal cinta itu bermula dari orang tuaku.
Pada awalnya Aku diajak oleh Bapak ke kantor Departemen Agama.
“Rojul... ayo ikut Aku,” ajakan Bapakku
“Kemana?” tanyaku.
“Ke kantor Departemen Agama,” jawab Bapakku.
Aku berpikir “ini pasti mau ambil gaji," gumamku.
“Ayo cepetan!” seru Bapakku, sambil mengambil sepatu hitam.
Aku langsung mengenakan celana jeans dan kaos biru lengan panjang. Kemudian berangkatlah bersama-sama dengan menggunakan sepeda pancal. Dalam perjalanan sambil menaiki sepeda, Bapakku bertanya.
“Rojul...kamu kok belum berpikir mencari jodoh, padahal teman-temanmu sudah punya anak?” tanya Bapakku.
Pertanyaan itu tidak kujawab, Aku diam seribu bahasa. Sesampainya di jalan raya, Aku diajak naik angkutan umum untuk menuju ke kantor Kemenag. Setelah sampai di depan kantor Kemenag, Bapakku langsung turun kemudian masuk ke kantor tersebut.
Aku menunggu sambil nongkrong dipinggir jalan raya. Pandangan mataku mengarah ke sana ke mari. Dari arah selatan terlihat sosok berbadan tegap berseragam layaknya pegawai negeri sipil itu keluar dari kantor. Lalu menghampiriku.
“Ayo kita cari makan,” tutur Bapakku.
Berjalan bersama menuju ke arah warung yang berada di seberang jalan. Sambil menikmati nasi pecel, sayur kangkung, dan segelas teh. Aku ditawari untuk ikut dengan dengan Bapak.
“Nanti setelah makan ayo ikut aku,” tutur Bapakku.
“Kemana?... pulang ya,” tanyaku.
“Ke rumah teman Bapak, namanya mbah Suto, dulu pernah kutempati waktu program penyetaraan ijazah PGA”
Becak yang setia menunggu pun langsung berangkat menuju rumah mbah Suto. Sesampainya di sana Aku dan Bapak langsung memasuki halaman rumah.
“Assalamualikum,” ucapan salam dari Bapakku.
“Waalaikumussalam,” jawab keluarga mbah Suto dengan senyuman.
“Ayo masuk,” dengan tergopoh-gopoh mbah Suto mengajak masuk rumah.
“Terima kasih,” Jawab Bapakku.
“Ternyata keluarga mbah Suto itu akrab sekali dengan Bapak,” gumamku.
Sambil menikmati suguhan teh hangat, roti, dan biscuit. Bola mataku liar, memandang ke sana ke mari. Tiba-tiba ada sesosok tubuh langsing berkulit putih, berambut hitam dan panjang keluar dari kamar tidur. Sambil berbincang-bincang Bapakku menanyakan gadis yang terlihat sekilas keluar dari kamar itu. Ternyata gadis itu adalah cucu mbah Suto.
Canda gurau masih berlangsung akrab, mbah Suto kangen dengan Bapakku karena sudah lama tidak pernah bertemu. Tiba-tiba mbah Suto melirik ke arahku, lalu bertanya kepada Bapak.
“Ini anak kamu?” tanya mbah Suto.
“Iya...ini anakku,” jawab Bapakku, keduanya saling tersenyum simpul.
“Rupanya sudah punya anak jejaka ya,” tutur mbah Suto dengan senyuman khasnya, sambil menggeleng-nggelengkan kepala.
“Bagaimana kalau cucu mbah Suto saya jadikan menantu?” canda Bapakku, dan semua tertawa bahagia.
“Iya ... iya ... aku setuju, Alhamdulillah usia cucuku juga sudah memasuki usia 26 tahun, tetangga kanan kiri sudah sering bertanya tentang jodohnya,” kata mbah Suto.
Tidak lama kemudian Aku dan Bapak berpamitan pulang. Sambil naik angkutan umum berwarna biru, berdua saling berembuk tentang gadis yang serumah dengan mbah Suto. Gadis itu bernama Ika, Dia bekerja di salah satu BUMN yang berada di kota Bojonegoro.
Waktu terus berjalan, sekitar satu minggu Aku bermain ke rumah teman dengan mengunakan sepeda motor Suzuki Jet colet, Aku menyempatkan diri untuk mampir di rumah mbah Suto. Waktu itu kebetulan cucunya sudah pulang dari tempat kerjanya. Mbah Suto langsung mempertemukanku dengan Ika. Aku bingung dan malu karena Aku sifatnya pendiam dan pemalu.
“Mas dari mana?” tanya Ika.
“Dari rumah teman, kebetulan rumahnya tidak jauh dari sini,” jawabku, dan keduanya saling tersenyum simpul.
“Ooo ... ayo, silakan duduk,” Ika mempersilakan duduk.
“Iya, terima kasih,” jawabku.
Setelah berjabat tangan dan mempersilakan duduk, Ika pergi ke belakang untuk mengambil minuman.
“Ayo diminum tehnya,” keduanya saling menikmati teh hangat buatan Ika.
“Wahhh...manis sekali tehnya, semanis senyummu dik Ika,” Ika tersenyum malu, karena sanjunganku.
Obrolan berlansung santai, terasa akrab seperti sudah mengenal lama, hati terasa berbunga-bunga seakan-akan dunia milik kita berdua. Tidak lama kemudian, waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, Ika menawariku untuk makan bersama, hatiku semakin berbunga-bunga, gadis yang bernama Ika itu mengulurkan tangannya yang halus dan lembut, Aku pun mengulurkan tangan.
“Ayo kita makan, pasti mas Rojul sudah lapar ini,” kata Ika.
“Terima kasih,” jawabku, sambil berpegangan telapak tangan.
Setelah makan bersama, Aku pun berpamitan pulang.
“Dik Ika, Aku mau balik, waktu sudah hampir salat Magrib,” kataku.
“Kok cepat sekali Mas,” kata Ika.
“Lain waktu Insya Allah kita ketemu lagi, jaga diri baik-baik ya?” tuturku.
Waktu terus berjalan, hari demi hari telah kulalui. Komunikasi secara terus menerus melalui pertemuan maupun telepon kulalukan. Telepon meja yang selalu setia menemani Ika saat Aku menelepon lewat warnet yang bermodal koin itu.
Ternyata jalinan kasih yang kubangun selama itu hancur, karena ada pihak ketiga yang memfitnah Aku dihadapan mbah Suto. Katanya Aku sudah punya kekasih yang sebentar lagi kunikahi.
Aku mengetahui hal itu melalui jaringan telepon wartel. Kring...kring...kring...suara telepon berdering.
“Halo dik Ika?” Aku menyapa terlebih dahulu.
“Siapa Ini!” tanya Ika dengan nada tinggi.
“Suara Ika tiba-tiba kok begini,” gumamku.
“Apa kabarmu hari ini baik-baik bukan?” tanyaku,
Beberapa detik menunggu jawaban dari Ika. Tiba-tiba Ika mengeluarkan suara bernada tinggi.
“Mas penghianat!” jawaban Ika sambil marah-marah.
Brak, suara gagang telepon diletakkan begitu keras. Akhirnya Aku sudah tidak pernah ketemu lagi dengan Ika, sebenarnya Aku akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi rasanya sudah sulit untuk dijelaskan, karena fitnah yang begitu kuat.
Beberapa bulan kemudian, Aku sudah berusaha melupakan Ika, hingga pada akhirnya ada penawaran gadis kedua dari pak Leknya Ika, namanya pak lek Yis. Aku akan dijodohkan dengan keponakannya. Gadis yang ditawarkan itu bernama Yuyun.
Yuyun adalah seorang gadis cantik yang bekerja di toko sepatu di pasar kota. Waktu itu Aku disuruh menumuinya di toko sepatu itu. Aku disuruh bersandiwara, berpura-pura akan membeli sepatu. Padahal Aku tidak ada niat untuk membeli sepatu. Yuyun sambil menawarkan sepatu yang dijualnya, Aku pun memilih-milih sepatu yang dijual Yuyun.
“Mas, ayo silakan pilih-pilih, ini barang baru lo,” Yuyun menawarkan sepatunya.
“Aku suka sepatu yang ada di atas itu, bolehkah aku melihatnya,” kataku.
“Boleh Mas, bentar ya kuambilkan,” tuturnya sambil naik ke atas kursi.
Sambil menunggu sepatu yang diambil Yuyun, Aku mengamati tubuh yang molek sedang naik di atas kursi itu. Setelah sepatu itu diambil, lalu saling tawar menawar harganya. Akhirnya harga sudah disepakati, dan Akupun segera membayarnya. Dengan berjabat tangan dan mengucapkan.
“Saya beli, semoga sepatu ini awet,” kataku.
“Iya Mas, sepatu ini Saya jual, semoga awet,” balasan Yuyun.
Beberapa hari kemudian Aku diajak sama pak lek Yis ke rumah Yuyun, tepatnya didesa yang tidak jauh dari desaku. Obrolan berlangsung akrab, saling mengenal antara Aku dan keluarga Yuyun. Dari pintu tengah datanglah sosok bertubuh molek sambil membawa beberapa gelas berisi teh hangat.
“Monggo Mas diminum tehnya,” Yuyun mempersilakan minum teh.
“Ini Yuyun, ayo kenalkan ini teman pak Lek Yis nama Rojul,” ujar Bapaknya sambil menunjuk jari ke arahku.
Tidak terasa, setelah saling mengenal, dan waktu begitu cepat, jarum jam sudah meunjukkan pukul 22.00 wib, akhirnya Aku bersama Pak lik Yis segera berpamitan pulang.
Satu bulan menunggu, keluarga Yuyun tidak kunjung datang ke rumahku, Aku risi setiap hari ditanya sama orang tuaku masalah rencana perjodohan sama Yuyun, karena rencana perjodohan yang pertama sudah gagal. Berhubung keluarga Yuyun tidak kunjung datang. Akhirnya Aku berusaha mulai mendekati gadis lain yang satu desa denganku. Gadis itu baru pulang dari Jakarta. Namanya I’is.
Keakraban antara Aku dan I’is secepat kilat bagaikan petir menyambar. Kami berdua sudah saling sepakat, bahwa akan melangsungkan ke kursi pelaminan. Dalam jangka waktu yang tidak lama. Keluarga I’is datang ke rumahku. Tiba-tiba jawaban Bapakku sangat mengejutkan. Yaitu, tidak menyepakati hubunganku dengan I’is.
Budaya jawa masih melekat pada diri Bapakku, jika nama depan kedua orang tua calon mempelai itu sama (gelit jeneng). Maka, tidak akan berani untuk melangsungkan pernikahan. Nah, dari permasalahan inilah hubunganku dengan I’is terputus lagi.
Aktivitas rutin di lembaga pendidikan tetap kujalani, Aku belum menjadi pendidik, tetapi sebagai tenaga adminstrasi. Teman-teman pendidik selalu melontarkan sindiran padaku, karena seusiaku ini semestinya sudah menikah. Ada yang setiap ketemu selalu menjodoh-jodohkan pada Siswi yang sudah duduk di akhir kelas jenjang SLTP pada lembaga yang kutempati, namanya Yanti. Dengan seringnya telingaku mendegar tawaran itu. Aku pun mencoba mencari tahu Siswi yang bernama Yanti.
Hari Sabtu, tepatnya pada jam ketiga pada mapel bahasa Arab yang mengampu mapel tersebut berhalangan hadir, akhrinya Aku disuruh mengisinya. Sambil menulis di papan tulis sesekali Aku melirik dan mengamati Siswi yang selalu ditawarkan padaku.
Jam istirahat, para Siswa dan Siswi sudah berlangganan duduk-duduk di depan kantor tempat Aku mengabdi. Diam tapi pasti, Aku selalu mengamati gerak gerik Siswi yang berkulit putih bernama Yanti. Setelah pengumuman kelulusan diberikan pada masing-masing Siswa. Terjadilh pertemuan antara Aku dan Yanti.
“Assalamualaikum,” ucap Yanti.
“Waalaikum salam,” jawabku sambil mengenakan kaos.
“Lho...Yan.., kamu?” sambil mempersilakan duduk.
Keakraban berkomunikasi pastinya berlangsung mengalir, hatiku juga sudah tidak berdebar karena sudah sering ketemu saat di lembaga pendidikan. Hal ini terjadi beberapa kali pertemuan, sampai kemudian orang tua Yanti berkunjung ke rumahku, tentu akan memastikan kabar yang diterimanya. Akhirnya terjadilah kesepakatan antara kedua orang tua kami untuk melangsungkan pernikahan antara Aku dan Yanti.