“Jon, si miskin lewat!” seorang anak kecil memanggil kawannya ketika ia melihat seorang pemuda dengan wajah kumuh dan baju compang-camping.
“Miskin lewat, miskin lewat, miskin lewat..” nyanyi anak-anak itu membuntuti pemuda.
Hari itu sedang panas, di gang sempit nyanyian anak-anak semakin nyaring. Kini, urat-urat di wajah pemuda itu semakin mengeras.
Pemuda itu dengan segera menunduk dan mengambil sandal bututnya, dengan postur layaknya pemain baseball profesional dia melempar ke arah Joni dan headshot! Sebuah jejak sandal berada di wajah Joni.
Melihat rekan yang tumbang membuat anak kecil berlari sekuat tenaga dan berteriak “Mak! si miskin mau pukul aku!”
Dengan gagah perkasa, seorang wanita tua dengan sepasang koyo di keningnya berdiri di ujung gang.
“Eh, Bambang! mau lu apain anak gua? Udah bangkotan aja masih ladenin bocah, sadar diri lu, beban keluarga aja masih jalan-jalan ga jelas! Lu itu ga pantes disini! Pergi sono! Dasar bauk!” silat lidah sang mak-mak julid.
Ya, pemuda itu adalah Bambang pemuda miskin dan beban keluarga. Dia kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan nenek sihir itu. Dia juga melihat anak kecil tersenyum sambil menjulurkan lidah kepadanya, dasar bocah sinting pikir Bambang.
Bambang hanya menghelakan nafasnya dan melanjutkan perjalanan menuju ke tempat sehari-harinya, tempat dimana dia dapat melepaskan kegilaan yang menimpanya saat ini.
Tempat yang berisi banyak orang-orang sepertinya, miskin dan beban keluarga. Tidak lain adalah warnet.
“Bang biasa ya.” ucap Bambang melewati operator warnet. Dia duduk di kursi paling ujung, tempat kesukaannya. Orang-orang sudah tahu, apa yang akan dilakukan Bambang selanjutnya.
Berbeda dengan teman-temannya, bambang hanya duduk dan membuka situs-situs lowongan kerja. “Woi lag! jangan buka youtube!” teriak anak warnet di sisi lain.
Ya, terkadang bambang juga memutar musik dari youtube. Baginya, musik adalah cara dia untuk mengosongkan pikiran.
Waktu terus berlalu, dengan ijazah SMP, apa yang dapat bambang lakukan? Wajahnya kini sangat muram, bahkan lebih buruk daripada dimarahi nenek sihir tadi siang.
“Please, Tuhan. Berikan aku pekerjaan yang dapat membanggakan keluarga!” Doa Bambang dengan putus asa.
Dia terus menjelajah internet, mungkin dia juga sampai melewati situs-situs terlarang. Apapun itu, yang penting ia mendapatkan pekerjaan yang layak baginya.
Hingga suatu ketika, dia menyadari ada sebuah kejanggalan. Ada sebuah banner iklan yang sangat eksentrik.
Banner itu bertuliskan, ‘pekerjaan untuk si beban keluarga, klik disini.’ Tanpa diperintah, tangan Bambang menggerakkan mouse lalu mengklik banner itu.
“Ah! mataku!” teriak Bambang, entah apa yang terjadi, seketika layar monitor menjadi sangat menyilaukan. Membuat mata bambang menjadi buta sementara.
Bambang sangat ketakutan bahkan hampir pipis di celana, dia berdiri memanggil operator warnet, tetapi tidak ada yang menjawab, malah hanya terdengar suara asing yang didengarnya.
“Aku mencium bau hangus? Apa yang terjadi?” bambang bertanya-tanya, namun pertanyaan itu terjawab ketika kedua matanya telah perlahan pulih.
Dia melihat pemandangan yang lebih buruk dari kenyataan hidupnya, sebuah gedung tiga tingkat yang berwujud seekor naga!
“Hei waspada!” Ucap seorang gadis cantik di belakangnya. “A..ap..apakah ini mimpi?!” tanya Bambang namun segera terjawab ketika sang naga menyemburkan api sehingga setengah alis kiri Bambang hangus terbakar!
Menyadari dirinya berada dalam bahaya, bambang lari sekuat mungkin, meninggalkan gadis yang berada di belakangnya.
Dia berlari namun dia merasakan tubuhnya sangat berat, akhirnya dia menyadari ada sebuah pedang besar berada di punggungnya.
“Freddy! apa yang kau lakukan?” Gadis itu memanggil Bambang berkali-kali, tapi Bambang tidak menghiraukannya hingga dia berjumpa dengan segerombolan monster.
“I..ini..ini gila! aku..aku…akan mati! Tunggu..” di dalam tekanan batinnya, membuat bambang berpikir. Entah apa yang dipikiran Bambang yang pasti ini adalah keputusan yang sangat ekstrim baginya!
Dia mengangkat pedang yang berada di punggung dan menggenggamnya dengan sangat erat. Lagaknya sudah seperti pendekar pedang yang biasa ia mainkan di warnet.
Bambang mencoba menebas salah satu monster yang berada di hadapannya, seketika tubuhnya mengeluarkan aura aneh. Begitu juga dengan sebuah pesan muncul di pandangannya.
[Buff Warrior Instinct diaktifkan, cooldown 60 detik]
Walaupun Bambang mengerutkan dahinya, dia tidak terfokus pada pesan tetapi pada monster yang kewalahan dengan kecepatan bermain pedang Bambang.
Dalam beberapa tarikan nafas, monster itu tumbang dan muncul sebuah pesan lagi.
[Hob Goblin Lv. 75 terbunuh, Exp+120k]
“Freddy! cepat kembali, naga semakin mengamuk!” bujuk gadis itu dengan nafas yang terengah-engah, “Fred..” ucapan gadis itu terpotong ketika ia melihat wajah Bambang.
“Ka..kamu siapa? Kemana Freddy?!” tanya gadis itu dengan panik. “Ak..aku tidak tahu! Aku Bambang dan aku…” sebelum Bambang menyelesaikan ucapannya, segerombolan monster telah mengepung Bambang dan gadis itu.
“Aku Alice, ayo selamatkan negeri ini!” desak Alice gadis itu, dia segera menutup mata dan merapalkan beberapa mantra.
Sebuah pusaran angin melingkupi Bambang dan Alice sehingga mereka berada di tengah-tengah pusaran itu. Para monster yang ingin mendekati mereka, selalu terpental jauh.
Tidak ingin berdiam diri saja, Bambang mencoba mengayunkan pedangnya sekuat mungkin. Tanpa perintah, sebuah energi yang sangat terang melingkupi pedang bambang dan melesat ke arah para monster.
Seketika sepuluh kepala monster terpenggal. Lalu menghilang dan meninggalkan beberapa item.
[Angelic Slash digunakan, cooldown 10 detik]
[High Orc Lv. 79 terbunuh, Exp+126k]
.
.
.
Bambang merasa heran dengan apa yang dilakukannya, dia merasa dirinya berada di dunia game!
Lalu untuk memastikannya, ia mencoba mengayunkan pedangnya dengan gaya seolah-olah sedang ingin membelah bumi.
Seketika, pedang itu mengeluarkan energi yang sangat gelap dan penuh dengan kekacauan. Bambang menghantam pedang itu ke tanah, mengarah ke segerombolan monster lainnya.
Retakan besar di tanah semakin membesar, menyebabkan pijakan para monster berhamburan. Retakan itu membuat sebuah kubangan berbentuk huruf V! Belasan monster lenyap seketika!
[Judgement Strike digunakan, cooldown 15 detik]
[Troll Archer Lv 75 terbunuh, Exp+125k]
.
.
.
Gerakan Bambang semakin liar, dia mengejar semua monster bahkan tidak ragu menolong para prajurit yang sedang kesulitan!
“H..hei, siapa pria itu?! Aku tidak pernah melihatnya!” tanya seorang prajurit menyaksikan pertunjukan yang dilakukan bambang.
“Bi..bisakah kau diam?! Jangan sampai pria itu menolong kita! bisa-bisa kita juga bisa lenyap!” Jawab prajurit lain dengan wajahnya yang pucat ketakutan.
Memang, gerakan bambang sangat mematikan namun juga sembrono. Dia memukul mundur lawannya secara membabi buta, tidak memikirkan dampak dari serangan kuatnya itu.
“Bambang! jangan terlalu jauh! Naga hampir memasuki gerbang kota!” panggil Alice sekuat tenaga.
Di tengah kesenangannya, Bambang segera kembali ke sisi Alice. Dia telah mengerti kekuatan yang didapatkannya saat ini.
Sekarang, di hadapan naga besar Bambang, Alice dan para prajurit menggenggam erat alat perang mereka.
Tidak ada yang mengetahui akhir dari peperangan ini, sosok naga terlalu mendominasi pandangan mereka.
Mereka semua menelan ludahnya berkali-kali, seolah-olah ini adalah hari terakhir. Siapapun yang lemah, akan mencium aroma kematian.
Tetapi, berbeda dengan pria yang memegang pedang besar itu! Siapa lagi kalau bukan Bambang!
Dengan rasa percaya diri selangit, dia berlari dengan sangat cepat. Berbeda seperti pertama kali Bambang berjumpa Naga, kini Bambang memiliki nafsu membunuh sama besarnya!
Setiap langkah Bambang menciptakan hentaman petir dari langit, tubuhnya juga mengeluarkan percikan listrik.
“Pri..pria itu sangat kuat! Mataku tidak dapat mengikuti pergerakannya!” ucap seorang prajurit dengan mulut terbuka. Dia menggenggam pundak rekan di sebelahnya seolah-olah kakinya tidak mampu berdiri.
Bambang dengan secepat kilat menyerang kaki-kaki naga itu, setiap kali dia tampak, muncratan darah kaki naga muncul di udara. Pemandangan yang sungguh liar! pikir semua orang.
Tidak ingin membiarkan dirinya dilukai oleh manusia rendahan, sang naga mengubah warna kulitnya menjadi perak. Kulitnya kini lebih keras dari sebelumnya, bahkan tebasan bambang telah menjadi tumpul.
“Bambang! mundur sekarang! kau tidak bisa melawannya! ucap Alice, lalu merapalkan mantra untuk membuat perisai pertahanan.
Bambang merasa dirinya masih kuat terus menyerang kaki-kaki naga itu, kini dia berganti jurus! Dia mencoba untuk menyerang jantung sang naga.
Dengan kuda-kuda terpasang dengan kokoh, dia memusatkan kekuatannya ke ujung pedang. Sebuah energi kegelapan dan petir menjadi satu! Dia menunggu sesuatu di pandangannya.
[Channeling The Night of Reaper 70%]
.
.
[The Night of Reaper telah siap.]
Selama dia memusatkan kekuatannya, langit semakin gelap! petir hitam menyambar dimana-mana, hingga sihir pertahanan Alice hampir tidak mampu menahannya!
Sosok bayangan Grim Reaper muncul di belakang Bambang, dan mengangkat sabit lebarnya.
Seketika tubuh Bambang menghilang dan dalam hitungan satu detik, sisik perak sang naga hancur berkeping-keping. Bukan hanya itu saja! Setelah Bambang berdiri di hadapan sang naga, seluruh tubuh naga hancur menjadi kepingan daging kecil!
“HA HA HA HA! Manusia rendahan! Kau sudah berani membunuh peliharaanku?!” Terdengar suara bergemuruh dari langit, suara itu memekakan telinga bahkan membuat Bambang jatuh berlutut.
“S..sangat kuat!” batin Bambang dengan tubuh yang bergemetaran sangat kuat. Dia tidak tahu, selama ini ada yang sedang mengawasi mereka.
Sosok itu muncul dari langit, tubuhnya sangat besar. Dia membawa pedang yang lebih besar dari Bambang, dialah Raja Iblis.
“I..ini mustahil! ini lebih buruk dari kematian!” batin Bambang. “Mungkin kalau aku lari, aku akan selamat! Ya! Aku harus lari!” rencana Bambang sudah matang.
Tetapi semua itu berantakan ketika sang Raja Iblis menjentikan jarinya. Lima buah bola api hitam berukuran satu rumah melayang di udara dan bergerak menghantam tanah!
Gempa bumi dahsyat terjadi di daratan, setengah dari para prajurit musnah seketika.
“Bambang bergeraklah! tolong kami! Kamu adalah satu-satunya harapan kami!” teriak Alice dengan wajahnya yang memerah karena putus asa. Rasa marah, takut, kecewa, geram telah bercampur aduk.
“Tapi aku bukanlah pahlawan kalian! Aku ingin pul…” Ucapan Bambang terhenti. Dalam keheningan wajah Bambang semakin menggelap, terlihat jelas urat-urat di wajahnya hampir putus!
“Sial, sial, sial! Tuhan, mengapa engkau membawaku kesini?! Memang terbukti bahwa sekarang aku bukan si miskin dan beban keluarga, tapi haruskah aku menanggung semua ini?!” batin Bambang menggerutu dan berteriak, bahkan alam dunia lain akan sangat kebisingan mendengar semua doanya!
Tetapi yang bambang sadari bahwa, ini adalah kutukan sekaligus hadiah untuknya. Dia harus melakukan sesuatu!
Tidak ingin mengulangi nasib yang sama, Bambang mengambil posisi bertarung. Matanya kini semakin gelap seolah-olah ada yang sedang merasukinya.
“Semua prajurit bersiap! Aku yang akan memimpin kalian! Jika aku mati, akan ku pastikan kemenangan di tangan kalian!” Teriak Bambang membangkitkan moral semangat perang para prajurit.
Semua pasukan menjadi menggila setelah seruan peperangan yang telah pecah itu. Mereka merapatkan barisan dan terus menyerang para monster yang menghadang mereka.
Begitu juga dengan Alice, sekarang dia mundur jauh ke belakang dan mulai merapal sihir-sihir kuatnya. Sebuah meteor besar jatuh dari langit dan menghancurkan sebagian medan pertempuran!
Bambang yang melihat semuanya berjalan sesuai keinginannya mulai bergerak menuju medan pertempuran.
Sama seperti sebelumnya, dia menyerang sangat beringas dan kejam. Dalam satu serangan, puluhan monster terpenggal kepalanya.
Tidak ingin bawahannya mati sia-sia, Raja Iblis menjentikan jarinya kembali dan mengeluarkan lima bola yang sama seperti sebelumnya. Namun serangannya tertahan ketika pedang Bambang menebas ke arah langit dan mengeluarkan energi hitam pekat selebar 30 meter!
Bola-bola itu bertumbukan dengan energi hitam milik Bambang dan seketika energi hitam itu menelan mereka dan terus melesat ke arah Raja Iblis.
Raja Iblis yang memandang rendah serangan Bambang hanya menangkis serangannya dengan pedang seolah-olah tiada artinya.
Namun, serangan Bambang melukai harga diri sang Raja Iblis. Nampak jelas wajahnya sangat geram, dia sangat ingin menelan Bambang hidup-hidup!
Kini, Raja Iblis telah turun ke medan pertempuran. Semangat juang prajurit luntur! Perlahan mereka mundur!
“HA HA HA! YA! Kalian manusia tunduklah padaku! Jadilah budakku, maka aku akan mengampuni nyawa kalian!” Tertawa Raja Iblis memandang para prajurit yang sebagian lari terbirit-birit! Namun yang sebagian semakin teguh hatinya.
Melihat kesetiaan para prajurit membuat Bambang juga memantapkan hatinya, dia semakin menggenggam erat pedangnya dan siap menyerang Raja Iblis.
“Pahlawan, berfokuslah pada Raja Iblis, sisanya serahkan padaku!” Teriak Alice di belakang Bambang.
Tanpa disadari, Bambang tersenyum. Dia melompat ke arah Raja Iblis. Aura tubuhnya berubah, kini lebih kuat ketika dia melawan naga.
[Channeling The Night of Reaper 99%]
.
[The Night of Reaper telah siap]
Dengan pedang mengarah ke langit, dia terbang tinggi layaknya burung hantu di malam yang sangat gelap.
Tenang dan Mematikan!
'Dahulu aku sampah tak berguna, mengemis sesuatu kepada orang-orang yang berharap aku segera mati. Sekarang, mimpi atau tidak, Aku akan memperjuangkannya! Dunia asalku atau dunia sekarang, aku akan berusaha sekuat tenaga!'
~Tamat~