Hari ini Rumah besar dengan kombinasi cat Putih dan Mint itu tampak berpenghuni. Ada satu mobil box besar dengan beberapa orang yang sedang menurunkan barang-barang di dalamnya. Selain itu di garasi usang yang nyaris berkarat, juga terparkir sebuah mobil Lamborghini Countach berwarna silver.
Penghuni baru rumah tersebut pasti bukan dari kalangan sembarangan.
"Kita punya tetangga baru," Bisik Ibu setelah mengintip beberapa menit dari balik kisi-kisi pagar.
"Bagus itu. Kesan angker dari rumah itu seketika hilang." Celetuk ku sekena nya.
Bukan hanya aku yang menganggap begitu, semua orang yang melewati rumah tersebut pasti merasakan bulu kuduk yang tiba-tiba berdiri.
"Ucap si Penakut," Cebik Ibu tiba-tiba.
"Huh. Memang serem." Aku tak ingin kalah berdebat.
Kemudian, aku lanjut menata beberapa pot kembang di halaman rumah. Kalau bukan karena perintah Ibu dengan sedikit ancaman, mana mau aku berkotor-kotor seperti sekarang.
Setelah berperang dengan pikiranku sendiri, tiba-tiba hatiku tergerak untuk turut penasaran pada penghuni baru tersebut. Letak rumah kami sejajar, tapi tidak terlalu dekat karena rata-rata komplek perumahan di sini memiliki halaman yang luas serta pagar beton pembatas yang menjulang.
Sesekali aku akan menoleh ke sana, mengintip siapa pemilik rumah tersebut dari balik kisi pagar yang menghubungkan rumah kami.
"Kau suka?" tanya seorang wanita anggun bersanggul pada pria muda di sebelahnya. "Ini tempat terbaik untuk menenangkan diri."
"Tidak terlalu buruk." Pria berkulit susu itu mengangguk pelan seraya memantau orang-orang yang mengangkut barangnya.
Tubuhnya tidak terlalu tinggi, hanya berkisar antara 173 atau 174 centi saja. Rambut nya yang sedikit panjang di ikat menyerupai ekor kuda, dan itu jadi tampak sangat lucu. Kaos putih oblong dan Celana olaraga abu-abu terlihat cocok dikenakan oleh pria tampan itu.
Tampan? Tidak. Tidak. Aku harus meralat nya, setelah ku tatap lebih lama. Dia justru terlihat cantik. Bibir tebal, hidung mungil dan mata sipit itu.
Sialan!!
Ada yang tidak beres dengan otakku.
"Hai..." Suara itu mengagetkan ku.
Entah kapan pria bermata sipit itu menatap dan melambaikan tangannya dari kejauhan. Ku pastikan jika tidak ada siapapun di belakang ku.
".... " Ku lebarkan senyum hingga menampakkan gigi dengan penuh kekikukan.
Ia melambaikan tangan lagi, lalu kemudian tenggelam di balik rumah besar itu. Aku hanya menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal.
"Aku seperti pernah melihatnya? Pria itu tidak asing. Tapi siapa??" Aku kembali berperang dengan isi kepala, mencoba menemukan jawabannya.
Sikapnya yang ramah dan suaranya yang lembut, jelas menjadi topik yang menyita perhatian. Namun karena jarak kami yang tidak terlalu dekat, sehingga aku belum bisa memastikan apakah aku mengenal pria itu atau hanya sekedar mirip dengan seseorang yang pernah aku temui. Siapapun itu.
***
Sore hari yang hangat adalah waktu paling tepat untuk menikmati segelas es Alpukat di temani Komik paforit. Berbaring di atas dipan kayu, dan pohon rindang yang jadi peneduh membuat soreku semakin sempurna.
Tiba-tiba di detik yang sama, Ibu datang dan mengacaukan semuanya.
"Heelwa, rupanya tetangga baru kita itu seorang idol. Dia artis terkenal di Seoul."
Dengan wajah penuh kegembiraan, Ibu meyakinkan dengan menggoyangkan tanganku berkali-kali.
"Ibu jangan bercanda. Mana ada idol terkenal mau tinggal di komplek perumahan bersama rakyat jelata seperti kita," Acuh ku yang fokus pada halaman komik.
"Sungguh. Kau juga memajang fotonya di kamar. Siapa namanya.. Hemmm.. Mm.. Min.. Ji.. " Ibu tampak mengingat sesuatu.
"Jimin?" Aku menoleh dengan senyum tak percaya. Mana mungkin kekasih ku itu menjadi tetanggaku. Haha. . Maksudku, kekasih semua Army di dunia ini.
"Iya betul. Park Jimin."
"Hahahahaha... "
Aku tertawa terpingkal melihat ekspresi Ibu yang serius.
"Kalau kau tidak percaya, kau harus melihatnya secara langsung."
Sepertinya Ibu sedikit tersinggung karena ulahku, Ia seketika beranjak pergi dan tak mempedulikan teriakan ku yang memanggil namanya.
"Ah, Ibu. Kau ada-ada saja. Bertemu dengan Park Jimin sekali seumur hidup itu mustahil. Apalagi tiba-tiba menjadi tetangganya. Cerita Fanfiction itu hanya fiksi karangan para penggemar, tidak mungkin terjadi di dunia nyata." Aku bermonolog.
Setelah menyelesaikan satu judul Komik, aku memutuskan kembali kerumah. Ingin kembali menggoda Ibu, bahwa sekarang kami bertetangga dengan seorang artis. Hahaha.
Apa Aku perlu meminta tanda tangan?
"Heelwa lihat, siapa yang datang? Tetangga baru kita membawakan Sebuah Cake yang lezat." Ibu menghentikan langkahku.
Aku diam. Mencoba mencari tahu siapa Tamu yang berdiri di depan Ibu. Ku miring kan sedikit kepala ku. Sementara Ibu melambaikan tangannya agar segera menghampiri.
Kemudian Ibu kembali memalingkan wajah, menghadap tamu yang masih berdiri di depannya.
"Dia Heelwa, Putri ku. Dia juga tidak percaya bahwa kau seorang artis." Terdengar kikikkan tawa Ibu yang tengah mengolok ku.
"Aegyo, berhenti mengatakan aku artis Bibi. Aku hanyalah tetangga mu."
Tiba-tiba suara lembut milik pria itu menyahuti dengan sopan perkataan Ibu.
Untuk menjaga gengsi. Aku hanya mematung dan tak mau mendekat.
"Apa yang kau lakukan disana? Cepat kemari. Sapa tetangga baru kita." Cecar Ibu.
"Annyeong, Panggil aku Jimin." Pria berkulit susu itu bergeser dan menampakkan seluruh tubuhnya.
Senyum nya yang lebar, membuat kedua matanya berubah menjadi bulan sabit.
"Oppa?? Jimin Oppa??"
Aku memukul pipiku berulang kali, memastikan bahwa pria yang berkunjung kerumahku adalah Park Jimin, Pria berhati malaikat yang selalu ku impikan setiap malam.
"Hallo... " Sapanya lagi dengan suara yang sangat ramah menyapa indra pendengaranku.
"Jimin Oppa.....!! " Aku berlari dan menghambur di pelukan pria itu. Aroma Smooth vanila menguar dari tubuhnya yang ku kira mungil, tapi ternyata jauh lebih gagah dan tinggi dari yang ku bayangkan.
"Omoo.. Ommooo... " Katanya yang sempoyongan karena menahan beban tubuhku yang menabraknya tiba-tiba.
Dia Park JiMin, Bias kesayanganku. Pria romantis, berhati lembut, dan berjiwa malaikat. Bahkan ia membalas pelukan ku jauh lebih hangat sekarang.
"Dia memajang foto mu di dinding kamarnya." Adu Ibu setelah aku melepaskan pelukan.
"Sungguh? Sejak kapan kau menjadi Army?" Jimin tampak antusias mendengar sepenggal kisah yang di utarakan Ibu.
"Sebenarnya, ini tahun ke lima aku mengikuti Kalian." Aku menjawab malu.
"Dia mengumpulkan foto-foto BTS sejak Sekolah menengah." Sambung Ibu lagi, hal itu semakin membuat wajahku memerah.
Ini nyata kan?
Tuhan tolong, jangan biarkan moment ini cepat berakhir.
"Sungguh anak hebat, Tetap fokus pada sekolah mu. Terimaksih banyak karena telah menjadi bagian dari kesuksesan besar BTS."
Jari-jari mungil yang selalu ku pandang di layar ponsel, kini benar-benar menyentuh dan mengacak pucuk kepalaku.
"Terimaksih Oppa, kalian telah hadir dan membuat hari-hari ku berwarna."
Tidak dapat di gambarkan bagaimana rasa bahagia itu bersarang di dadaku. Bahkan jantungku seperti akan copot, napasku memburu. Seluruh tubuhku gemetar.
"Ambil ini untuk kenang-kenangan dari ku." Jimin melepaskan salah satu gelang di tangannya lalu memberikan padaku. "Berkunjung lah kerumahku. Kita akan menjadi tetangga yang baik."
Aku mengangguk dengan perasaan yang berbunga-bunga.
Sungguh kebetulan yang indah, Bertemu sang Idola dan bercerita secara nyata.
"Saranghae Jimin Oppa, Saranghae Bangtan, Borahae."
***
TAMAT