Kiesou na hoshi wo nagamete
Urei wo yozora ni hakidasu
Ochiru hitosuji no negai wa
Awaku tokete kieta
Aku melihat bintang mulai menghilang, yang dihempaskan ke langit malam. Seperti satu harapan yang jatuh, perlahan-lahan hancur lalu menghilang.
Kimi no itsumo no kuchiguse mo
Makezugirai na seikaku mo
Tonari de warau sono kao mo
Daiji ni shiteta noni
"Ayo pulang bareng," Ren mendatangi mejaku sepulang sekolah.
Ku balas dengan senyuman, lalu mulai membereskan peralatan sekolah.
"Tumben ngajak bareng?" tanyaku, saat ini kami sudah menyusuri koridor sekolah.
"Lagi gak ada ekskul. Emang gak boleh ajak kamu pulang bareng?"
"Boleh aja sih. Hehe," Aku menunjukkan gigi kelinciku.
"Kawaii," celetuknya sambil mencubit hidungku gemas.
Pipiku langung merona dibuatnya. Entah hubungan kami ini apa. Sahabat? Tapi, kami sangat dekat. Terlalu malah. Pacar? Kami tidak pernah terikat dengan komitmen apapun. Padahal aku sangat menyukai segala tentangnya.
Kizukeba naze ka ienaku natta
Kimi ni muketa “suki” to iu kotoba
Kokoro no doko ka de wa
Akirameteta no ka na
Modorenai toshite temo
Aku sadar, tak bisa mengatakan kalimat,“aku menyukaimu” padanya.
Angin segar menerpa wajahku saat berdiri di belakang Ren, kedua tanganku berpegangan erat pada pundaknya. Takut jatuh. Aku sedang berboncengan dengan sepeda kesayangan Ren. Dia mengayuh sepedanya agak kencang.
Tapi, itu bukan masalah buatku. Sudah biasa. Malah menikmati setiap hembusan angin yang menyambut kulit.
"Ai?"
"Ya?" Aku menunduk, menatap rambut yang dipermainkan angin, menanti ucapan Ren selanjutnya.
"Kau tahu tidak?"
"Tidak," balasku cepat.
"Aku menyukaimu."
"Oh."
"Kok cuma, oh?"
"Um, aku belum yakin saja."
"Kau meragukan perasaanku?" tanya Ren sedikit kecewa.
"Bukan. Maksudku, aku belum yakin mau membuat komitmen ditengah label persahabatan kita. Kau tahu, kan? Rata-rata, hubungan percintaan malah akan merusak arti persahabatan."
"Ya, aku tahu itu."
"Maaf, ya? Kau kecewa?" Aku mulai merasa bersalah sudah menolaknya.
Tentu saja iya. Harusnya kalimat itu yang meluncur dari mulut Ren. Tapi, lelaki itu malah berkata, " Tidak masalah," Sambil tertawa renyah.
Aku memang bodoh. Kenapa tidak jujur dengan perasaanku saja? Sama saja aku membohongi dan menyakiti diri sendiri dan juga Ren sekaligus.
Futari no kako wo subete kowashite
Mou boku nanka kirai ni natte yo
Soshitara kimi no koto wo ima sugu ni demo
Wasurete shimaeru noni
Kesalahan waktu itu malah menghancurkan hatiku sendiri. Tak lama setelah aku menolak Ren, dia mulai dekat dengan seorang gadis dari kelas sebelah.
Yang membuat hatiku semakin nyeri, saat terdengar kabar jika Ren sudah resmi berpacaran dengan Risu, anak kelas sebelah tersebut.
Dari namanya saja, mereka sudah terdengar serasi. Aku bahkan tidak bisa membayangkan mereka jalan beriringan.
Terlalu sakit untukku.
Ah, aku merutuki diriku sendiri yang terlampau bodoh ini. Kenapa baru sekarang aku menyesal?
Walau dengan segenap kelapangan dada menerima hubungan mereka, kupikir itu bisa untuk melupakan perasaanku pada Ren sesegera mungkin.
Sayangnya aku salah.
Hatiku malah semakin tertekan. Aku malah semakin membohongi diri sendiri.
Boku no saikou no omoide wo
Mune no naka ni mata kakushite
Saki no mienai kono michi wo
Kyou mo hitori aruku
Aku bersembunyi di balik pohon, saat melihat Ren dan Risu bermesraan di halaman sekolah. Kisah asmaraku kandas sebelum dimulai. Hubungan persahabatanku pun mulai renggang.
Seakan Ren melupakan kenangan indah kita bersama. Hari ini pun aku berjalan sendiri lagi. Rasanya seperti berjalan di jalan yang ujungnya tak terlihat.
Itsu shika nani mo shinjirarenai
Sonna jibun ga kono basho ni ita
Hanaretakunai kedo
Boku wa mou ikanakya
Kaerenai toshite temo
Tanpa sadar, aku tak lagi mempercayai apapun sekarang. Entah itu cinta atau teman.
Sebenarnya aku tak ingin berpisah dengan Ren. Tapi, dia yang membuatku tersiksa jika terus melihatnya bahagia saat tidak bersama denganku.
Sudah diputuskan, aku harus tetap pergi. Meski tahu, aku takkan bisa kembali pulang. Meninggalkan segala kenangan tentang kita.
Aishita hibi mo sono nukumori mo
Dakishime atte sugoshita yoru mo
Uso jyanai to jibun ni
Iikikasete
Nigete itai dake nan dayo
Teringat kembali hari-hari yang kucintai dengan penuh kehangatan itu. Malam yang kuhabiskan dengan bergelayut manja dalam dekapanmu.
Saat itu aku ingin kau mengatakan jika aku hanya milikmu. Bahwa kau menyukai semua hal pada diriku. Aku juga ingin mengklaim kau adalah milikku.
Aku egois, bukan?
Futari no kako wo subete kowashite
Mou boku nanka kirai ni natte yo
Soshitara kimi no koto wo ima sugu ni demo
Wasurete shimaeru noni
Maaf, aku telah menghancurkan persahabatan kita. Aku tahu, dibalik senyumanmu, tersimpan hati yang terluka karena penolakan yang sudah aku lakukan.
Mungkin dengan aku pergi, kau tidak perlu menunjukkan senyum palsu itu lagi. Cepat atau lambat, aku sudah yakin kalau aku harus tetap pergi. Kau pantas bahagia dengan seseorang yang kau cintai. Aku cuma akan jadi penghalangmu.
Kimi ni saigo no kuchizuke wo
Ima made hontou ni arigatou
Kasanaru futari no omoi wa
Namida no aji ga shita
Saat tiba waktunya, dengan berani aku memberimu ciuman terakhir.
Terima kasih atas segalanya. Disela ciuman hangat itu, teringat tumpukan kenangan kita berdua.
Tak terasa air mata mulai membasahi pipi. Segera kulepas tautan bibir kita.
"Kau mau pergi kemana, Ai?"
"Aku bisa mengantarmu."
"Kau tak perlu sendiri, aku masih ada untukmu. Bukanlah kita masih menjadi sahabat?"
Ren terus bercicit, namun sama sekali tak kutanggapi. Keputusan sudah bulat. Dengan langkah yakin, aku mulai menghilang dari pandangan Ren. Tak menghiraukan panggilan yang semakin sayup terdengar. Dengan langkah ini aku juga akan menjauh dari kehidupannya.
Selamat tinggal, Ren. Aku mencintaimu. Kau cinta pertama dan terakhirku. Aku harap kita bisa dipertemukan di surga kelak.