Ting!
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselku, memperlihatkan pengumuman dari komunitas eksternal kampus.
"Dimohon kepada seluruh anggota komunitas yang tidak berhalangan untuk mengikuti acara rutin bulanan besok. Silahkan isi list kehadiran berikut: . . . ."
Saat ini aku masih seorang anggota baru, baru beberapa bulan lalu masuk. Tentu saja, nuansa hari baru membuat siapa pun merasa begitu semangat dan tidak ingin menjadi anggota yang mengecewakan komunitas, termasuk diriku. Dengan segera aku mengisi list di bawah nama anggota lainnya.
Sejujurnya aku orang yang mudah bingung. Melihat nomor Whatsapp anggota lain yang seperti nomor togel membuatku iseng untuk menyimpannya satu per satu. Setiap nama yang mengisi list, kuberi nama sesuai nama urutan di list itu. Yah, padahal tidak kenal.
Tapi, dengan nama-nama yang kusimpan secara 'asal' itu, ternyata cukup mempermudahkanku untuk bwrkomunikasi dengan rekan-rekan yang baru pertama kali kutemui. Terutama kaum hawa, mereka sasaran utamaku. Karena sendirian dan tidak berinteraksi sama sekali dalam forum, itu sangat canggung bukan? Hitung-hitung menambah relasi.
***
Suatu ketika, sebuah bencana menimpa salah satu desa di daerah kami. Komunitasku pun tidak mau ketinggalan untuk berpartisipasi sebagai relawan. Tugas dibagi dengan sistem sift perhari selama satu bulan.
Meskipun mengikuti sebuah komunitas, pada dasarnya jadwalku sangat padat. Hidupku yang banyak diwarnai dengan kuliah, tugas, dan kerja, membuatku sedikit kewalahan dengan kegiatan tambahan dari komunitas. Ingin rasanya tidak mengikuti kegiatan itu, tapi bukan aku namanya kalau tidak aktif dalam organisasi.
Kupilih hari dan tanggal dengan jadwal kesibukan terendah. Hingga hari tersebut diisi oleh beberapa nama anggota lainnya.
***
Tugas menjadi relawan sudah berjalan sejak empat hari lalu. Hari ini adalah jadwalku untuk bertugas. Tugas kami sangat mudah dan sederhana, kami hanya diperintahkan untuk menjaga stan dan mengisi data barang-barang sumbangan yang masuk dan dikeluarkan untuk disumbangkan kepada korban terdampak.
Awalnya kukira akan banyak anggota yang hadir pada hari ini, sesuai dengan nama anggota lain dalam list grup Whatsapp.
Tapi dugaanku salah, karena saat ini kami hanya bertiga. Dua orang perempuan dan seorang laki-laki. Yah, mungkin yang lain akan datang terlambat, begitu pikirku. Tapi telah menunggu lama, ternyata kami memang benar-benar bertiga. 'Ehm... Malang nian lelaki satu ini, tidak punya kawan seorangpun,' batinku.
Aku cukup mengenal rekan perempuan yang hadir pagi ini, karena kami sudah saling mengenal beberapa waktu sebelumnya. Berbincang dan bersenda gurau di waktu santai. Tapi tidak dengan rekan lelaki yang satu ini, sejak tadi dia hanya diam. Tentu saja dia diam, dia tidak mengenal seorang pun dari kami berdua. Entah karena dia pemalu atau bagaimana, aku tidak tahu.
Suasana mulai hening . . .
"Hei, siapa namamu?" Akhirnya dengan keberanian yang kukumpulkan, aku mencoba untuk bersuara dan menyapa lelaki itu. Ugh, ini sangat berat buatku yang pemalu. Tapi kasihan juga dia yang hanya bisa sibuk dengan ponselnya.
"Aku Rey," jawabnya sambil tersenyum kepadaku. Tidak kusangka ternyata dia sangat ramah, sisi pendiamnya yang tadi cukup membuatku mengira bahwa dia sosok yang cuek.
Aku coba mencari daftar kehadiran kami. Disana tertulis nama Reyhan Zulfikar, sebuah nama yang 'sepertinya' pernah ku cantumkan dalam kontak.
"Namamu Reyhan Zulfikar bukan?" tebakku.
"Yap, benar sekali," Rey menganggukkan kepala yang diselingi senyuman dan tatapan hangat dibalik kacamatanya.
Percakapan-percakapan ringan yang berputar pada topik perkenalan berlalu di antara kami. Sebenarnya situasi kami sangat canggung. Aku yang cukup pemalu kepada lelaki, entah seperti apa sekarang ekspresi dan bentuk wajahku, yang pasti aku merasa wajahku cukup panas. Poin plusnya adalah fakta kalau aku mudah luluh dengan lelaki berkacamata. Akh... Bencana!
Percakapan terkait latar belakang masing-masing sudah berakhir. Berganti keheningan yang membuat suasana seketika menjadi beku.
Aku berhitung dalam hati sambil mencari sebuah nama di kontak Whatsapp, mencari topik pembicaraan di antara kami bertiga. Satu... Dua... Tiga... Empat... Lima... . . .
"Ekhem... Aku nyimpen nomor kamu loh." Aaaaakhh... Sepertinya urat maluku sudah hilang. Akh... Masa bodoh! Kata-kata itu sudah terlanjur keluar, tidak mungkin untuk kutelan kembali.
"Oh, iya kah?" tanyanya terkejut dan heran(?). Entahlah, tatapannya sekarang sulit untuk kuartikan. Mungkin dia berfikir, kok ada sih cewek sebodoh dia. 'Akh... Bodo amat!'
"Aku kirim 'P' dulu yah," 'lah, ini kenapa aku jadi mengeluarkan kata-kata seperti itu. Akh... Dasar konyol banget dah!'
Tink!
Notifikasi dari posel milik Rey.
"Umm... Itu nomorku. Kalau mau simpan gak papa, di delete juga gak papa," 'udah lah, kepalang basah juga. Pasti keheningan di antara kami sudah membuatku jadi gila.' "Terserah, lagian gak penting kok" kataku bergumam.
"Eh, bentar. Tadi namamu siapa?" tanyanya.
"Sheela," jawabku ragu, terlanjur malu. Hah... Ternyata aku masih punya rasa malu. Gila!
***
Tidak disangka Rey menyimpan nomorku, beberapa kali Whatsapp story-nya masuk ke ponselku. Dia memang jarang sekali membuat story WA, dan kami hanya sebatas berhubungan sebagai penonton WA story. No contact more after last day meet him.
Suatu ketika, Rey tiba-tiba mengomentari WA story-ku. 'Habis makan apa dia? Tumben banget,' batinku. Apalagi dia mengomentari status quote bucin karena kegabutanku. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia justru mengomentari dengan kata-kata yang tidak kalah bucin dengan quote-ku.
Hari berikutnya dan berikutnya lagi, dia tetap begitu. Hingga berbalas quote bucin seakan sudah biasa bagi kami. Aku pun tahu kalau dia ternyata soarang jomblo.
"Kamu chat aku gini 'ntar ayangmu marah loh >v<" godaku.
"Kalo aku jomblo mah bebas... Kamu tuh yang ayangnya nanti marah. :/" jawabnya
"Hilih.. Jomblo aja bangga.. Kalo aku gak ada ayang. Aku single_-"
"Lah, sama-sama jomblo ngeledek dih >@<" balasnya.
"Beda mah... Aku single, kamu jomblo... Beda tuh... Single itu prinsip, jomblo itu nasib >@<" balasku.
Selain itu, beberapa kali aku juga pernah sharing terkait pembelajaran kepadanya, karena aku dan Rey berada dalam jurusan yang sama meskipun kampus kami berbeda. Tapi, tidak ada perasaan penting yang berkesan buat aku. Paling full hanyalah perasaan nyaman. Apalagi saat ini pikiranku terfokus pada kuliah dan kerja. No heart for boy now until graduate, itulah prinsipku saat ini.
Setelah peristiwa berbalas quote, dalam pertemuan berikutnya aku mencoba menyapa Rey. Entah karena kami mulai akrab di dunia virtual, yang pasti aku seolah melihat setiap kehadirannya. Padahal sebelumnya, sekalipun kami saling bertemu, aku tidak pernah memperhatikan keberadaannya, sekalipun ia pernah duduk berada di sampingku.
***
Hari-hari berlalu dengan kehangatan yang pasang-surut dalam percakapanku dan Rey di dunia maya. Terkadang dia ramah, tapi ada masa dia juga tidak peduli. Sekalipun aku tidak mengharapkan keramah-tamahannya, tapi aku mulai merasa canggung lagi.
Hingga kemudian aku menyadari perilaku anehnya setiap bertemu denganku.
'Ya ampun, ini sungguhan aku? Aku sebegitunya memperhatikan seorang lelaki ini? Huftt... Tenang... Ya, dia memang cowok berkacamata, bisa meluluhkan hatiku, tapi masa lupa prinsip sendiri sih... Aaakh.. Tolong deh...'
Sudahlah, lupakan tingkah lakuku yang tidak pantas itu.
Sejujurnya aku tidak pandai menilai tatapan seseorang, tapi perilaku dan keberadaannya akhir-akhir ini sangat membuatku berpikir. Setiap ada kegiatan tambahan, bila saat itu ada aku maka dia selalu ikut. Apalagi setiap ada kegiatan tambahan, dia selalu menanyakan kehadiranku.
"Besok kamu ikutan gak?" tanyanya suatu hari.
"Umm... Keknya iya... Kalo gak ikutan, aku sayang sama momentnya sih :t" jawabku.
Keesokan harinya, ternyata dia memang hadir, padahal sebagai anak kos kampus yang jaraknya jauh dari daerah ini, dia terhitung sangat rajin dan aktif. 'Wuoh.. Demi apa? Apa dia memang seaktif itu? Umm... Ya, dia mungkin memang tipe seorang yang aktif dalam kegiatan. Bisa jadi aku yang salah karena ge-er, iya kan? Mikir apaan sih!'
***
Tapi aku harus mencukupkan prasangka itu sampai di sini.
"Kamu ikut kegiatan hari ini?" tanyanya via chat Whatsapp.
"Iya," jawabku singkat
"Kamu sudah sampai di lokasi?"
"Iya ini sama temen-temen."
"Itu acaranya dimulai jam berapa? Sudah dimulai?"
"Belum, masih tar lagi mulainya."
Tidak ada respon lagi darinya, centang dua.
Beberapa saat kemudian dia tiba di lokasi. 'Etdah... Barusan juga dia chat aku, lah sudah sampai? Kost sama kampusnya jauh loh. Pulang kampung kali... Tapi tetap aja itu rumahnya jauh dari lokasi,' batinku. Bagaimana tidak terkejut, mungkin baru 15 menit dia menjawab pesanku yang terakhir, sedangkan yang kutahu rumahnya cukup jauh dari lokasi.
Bahu-membahu seluruh anggota menjalankan tugas demi suksesnya acara yang sedang digelar. Tugas dibagi dengan adil. Bersyukur, hingga akhirnya acara diselenggarakan dengan sukses sekalipun lelah menggerayangi tubuh kami. Apalagi aku, entah sudah berapa kali Rey menyapa dan sesekali menegurku, "Lah, kenapa kamu? Kok udah loyo aja?"
Tentu saja kujawab dengan senyum mirinku, itu pertanyaan konyol. 'Ya iyalah bambang, loyo. Ini kaki udah dibuat pontang-panting dari ujung keujung. Etdah,' batinku.
Sesi terakkhir dari acara ini adalah foto bersama seluruh anggota komunitas. Entah apa yang dipikirkan Rey, dia menatapku sekilas dan tiba-tiba berdiri tepat di sampingku.
Deg! Deg! Deg!
Sejujurnya, selama aku menjalani hidup, baru kali ini berjarak sedekat ini dengan seorang lelaki. Desakan demi desakan membuat tubuhnya semakin merapat di sampingku hingga terdorong ke belakangku. 'Risih banget, sumpah!'
Tapi tubuhku yang terkejut seakan mematung di tempat dan sulit untuk bergerak. Terlalu sulit dan bingung untuk bergerak, khawatir melakukan kesalahan yang tidak diinginkan. Keberadaannya yang tepat di sampingku, kian terdorong dan beberapa kali menyikut punggungku. Aku berusaha tidak peduli, bahkan tidak berani menatap wajahnya. Bersyukur, tubuhku yang pendek cukup membuatku sulit untuk menatapnya secara langsung.
Sepertinya bukan hanya aku yang risih, beberapa kali dia juga berbisik di sebelahku agar posisi kami bisa sedikit bergeser dan memiliki cukup ruang. Sayangnya, beberapa orang tidak terlalu peduli dengan itu. Mereka hanya fokus berpose untuk foto bersama. Ruang di antara kami akhirnya berjarak, meskipun sedikit.
Hingga sesi berfoto selesai, perasaanku tetap tidak karuan. 'Haaahhh.... Gila! Baris kek gitu aja bikin aku stress! Haduh... Malah jantung gak bisa tenang lagi.'
***
Ada apa denganku? Perasaan ini membuatku canggung. Mungkin ini wilayah perasaan dengan teritori yang tidak boleh kusentuh. Debaran yang mengganggu, membuatku sempat kehilangan akal dan membuatku mematung. Tidak seharusnya seperti ini. Keadaanku belum siap untuk menerima hal besar itu.
Sekalipun hanya aku yang merasakan hal ini, yang seharusnya tetap harus berjalan sebagaimana adanya. Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang gadis ingin menggapai cita-cita yang seharusnya. Aku harus mulai mengahpus kejadian hari ini. No day will like today in the future.