Sahhh...
Kata itu menandakan bahwa ijab qabul pernikahan telah selesai dilaksanakan. Di sebuah gedung saat ini sedang diadakan acara pernikahan antara dua pemuda pemudi yang duduk di bangku kelas dua SMA. Pernikahan itu hanya di hadiri keluarga dan kerabat dekat saja.
Kiara, gadis cantik, cerdas, disiplin, dan modis tapi galak nan dingin bagai beruang dari kutub utara sebagai mempelai pengantin wanita dengan terpaksa menyetujui dijodohkan dengan cowok brandal dari sekolahnya.
Azkar cowok yang dijodohkan dengan Kiara memiliki temperamen yang bertolak belakang dengan Kiara. Azkar dikenal sebagai brandal tampan di sekolahnya. Azkar cowok langganan guru BK itupun dengan terpaksa harus menyetujui dijodohkan dengan Kiara yang notabenya primadona sekolah.
" Selamat ya anak-anak, semoga cepet dapet momongan hihi.." Ani, mama Kiara berkata.
"Iya, yah jeng, udah gak sabar nih mau gendong cucu, hihi.." Tak mau ketinggalan, Dina mamanya Azkar menimpali perkataan Ani.
" Apaan sih mah, tante. Kiara masih sekolah. " Kesal Kiara.
" Iya, mah, tante. Masa Azkar masih muda gini udah jadi papa sih. " Timpal Azkar.
" Udah pada nikah kok masih manggil tante. " Kompak Ani dan Dina berkata bersamaan.
" Aduhh.. Kompaknya besan ini, hihi.. " Ujar Ariz papanya Azkar.
" Iya, kita juga jangan kalah mas Ariz. " Timpal Jeno papanya Kiara.
" Iya mas jen. " Ucap Ariz.
Setelah semua keluarga dan kerabat dekat mengucapkan selamat, masih mengenakan baju pengantin, Kiara dan Azkar langsung tancap gas ke apartemen milik Azkar. Tapi, karena sudah menikah apartemen itu jadi milik Kiara juga yang pastinya.
Azkar langsung menjatuhkan tubuh kekarnya ke atas ranjang empuk, dengan perlahan Azkar menutup matanya, karena lelah setelah melangsungkan pernikahan.
" Woy bangun. Tega banget lo sama istri, liat tuh gaun gue nyangkut di pintu. Bantuin napa sih." Teriak Kiara pada Azkar. Sedangkan Azkar masih setia menutup matanya.
Kesal suami berandal nya tak menyaut, Kiara melemparkan sepatu yang dikenakannya ke tubuh milik Azkar.
Bugh..
" Ahh.. Gila lo ya. Istri macam apa lo lempar-lempar sepatu ke suaminya. "Azkar meringis kesakitan .
"Enak aja gila. Liat tuh gaun gue nyangkut, bantuin gue! " Titah Kiara.
" Ngerepotin aja lo. " Meski kesal karena telah dilempar sepatu, tapi Azkar masih mau membantu Kiara.
Tepat di hadapan Kiara, Azkar langsung membantu Kiara yang gaun pengantinnya tersangkut.
Degh..
Jantung Kiara berdetak, Kiara sungguh terpesona oleh suami berandal nya itu. Pandangan Kiara tak beralih satu detikpun dari Azkar. Wajah tampan, badan gagah, wahh sungguh idaman. Sayang kelakuannya berandal.
Sadar sedang di perhatikan, Azkar menoleh.
" Terpesona lo?" Goda Azkar.
" Idihh.. Najis jangan Geer lo. Udah apa belom si? lelet amat. " Elak Kiara.
" Udah bawel. "
' Disekolah aja kayak kulkas delapan pintu, napa di sini malah kayak beruang kutub utara, galaknya minta ampun dah ni beruang.' Gerutu Azkar dalam hati.
" Makasih. " Ujar Kiara sambil melewati Azkar , Kiara mengangkat gaunnya hendak menuju kamar mandi.
Tapi, dengan tidak sengaja Kiara menginjak ujung gaunnya itu dan adegan jatuh pun tak dapat di hindari.
Namun, Azkar dengan sigap langsung menangkap Kiara sebelum jatuh mengenai lantai.
Pandangan mereka bertemu, terlihat pipi milik Kiara memerah. " Lepasin gue! " Ujar Kiara. " Cantik. " Gumam Azkar dengan pelan. " Ck.. Ck.. Baru nyadar lo kalo gue cantik? " Decak Kiara.
" Hah.. Apaan si. " Dengan cepat Azkar melepaskan Kiara. " Lo pikir gue budek apa? " Kesal Kiara karena Azkar tak mengakui kalau dia tadi mengucapkan kata
'Cantik'.
" Udah sana lo pergi bersih-bersih terus ganti baju. "
" Iya bawel. " Ucap Kiara. Setelah Kiara pergi, Azkar pun bergegas bersih-bersih di kamar mandi lainnya.
Kiara berjalan menuju ranjang tanpa riasan sedikit pun, dengan mengenakan baju tidur yang agak minim bahan, Kiara melihat tubuh Azkar terbaring disana.
Karena menurutnya terlalu lebay jika tidur pisah ranjang hanya karena terpaksa nikah, Kiara langsung saja merebahkan tubuhnya di ranjang yang sama dengan Azkar dan menarik selimut milik Azkar. " Woy.. Maen tarik tarik aja lo. " Sungut Azkar berkicau. Azkar menatap jengah punggung istrinya itu dan menarik paksa selimut yang membalut tubuh mungil Kiara.
" Ish.. Ganggu aja, gak tau apa gue ngantuk bego. " Dumel Kiara. " Kasar amat lo jadi istri, mana ngatain bego lagi. " Tegur Azkar.
" Ngapa gak terima lo?"
" Iya lah bego. " Sambil melotot Azkar kesal.
" Aish.... Sini selimut nya, gue mau tidur bego. " Kesal Kiara.
" Enggak, ini selimut gue, lo gak punya hak ya beruang. "
"Apa lo bilang, beruang? Tega banget lo ngatain gue beruang, dasar lo buaya selokan. " Serang Kiara.
" Heh... Atas dasar apa lo ngatain buaya selokan? Dasar beruang. " Tanya Azkar tak terima dipanggil buaya selokan.
" Lo juga atas dasar apa ngatain gue beruang? bego." Tanya balik Kiara.
" Gue ngatain lo beruang karena lo galaknya minta ampun dah. Gak habis pikir gue disekolah aja dingin banget kek kulkas delapan pintu, napa disini, di hadapan gue lo kayak beruang dari kutub utara, tau lo. "
" Suka-suka gua lah. Jangan lo pikir gue gak tau yah semua perbuatan lo selama ini. Bener yah, lo emang pantes punya gelar berandal dengan semua kelakuan bejat lo itu, dasar buaya selokan. " Amarah Kiara memuncak jika mengingat semua kelakuan Azkar yang tak ada akhlak.
" Apa maksud lo hah? "Tanya kesal Azkar, tak terima dengan tuduhan Kiara kalau kelakuannya itu bejat.
BERSAMBUNG..
Wahh hal apa nih yang udah dilakukan Azkar? Sampai-sampai Kiara marah banget.
Yukk komen- komen..
*Ditunggu part 2 nya yah..