September 13, 2017. Seorang gadis berjalan sendiri dikeramaian, gadis ini sedang bersedih karena melihat tragedi yang menewaskan calon suaminya. Gadis ini hanya bisa menangis dalam diam dibawah guyuran hujan.
Betapa menyesakkan, ia baru mengetahui bahwa calon suaminya yang ternyata meninggal ditempat bersama gadis lain. Padahal dirinya tulus mencintainya dan setia kepadanya tetapi apa yang didapatkan? Ia hanya bisa melihat calon suami sedang berpelukkan dengan seorang gadis didalam mobil dalam tak berdaya.
Dia menyadari bahwa ini pertunjukkan dari Maha Pencipta diatas sana, ia diberi tahu bahwa lelaki yang selama ini didekatnya bukan jodohnya. Gadis ini tidak memiliki tujuan selain rumah yang ditinggalkan oleh ayahnya.
Sepulang rumahnya, gadis itu tertawa, bukan tawa bahagia ia hanya tertawa sedih dan sangat menusuk dadanya. Selama ia masih bersama pria itu, hanya dia yang sibuk mengurus pernikahan itu tidak ada yang membantu, calonnya pun tidak pernah menemaninya sekalipun.
Dia sadar bahwa lagi lagi dirinya dengan mudah dibodohi orang lagi, dan mulai sekarang ia sudah tidak ingin percaya lagi dengan manusia diluar sana. Manusia diluar sana sangat hina, tidak memiliki perasaan apa yang sedang mereka permainkan.
Ia berharap jodohnya bukan manusia diluar sana yang selalu mempunyai muka banyak. Dirumah gadis itu mengedarkan pandangan, ia merasa rumahnya sangat bersih dan tidak berantakan seperti saat ia berangkat tadi. Ia merasa paranoid dalam satu dua hal.
Saat ia melangkah kaki pelan kelantai dua, ia mendengar suara air didalam kamar mandi kamar ayahnya. Ia mematung melihat bayangan seseorang didalam kamar mandi, bayangan itu seperti seorang pria yang sedang menikmati guyuran air.
Gadis itu mendengar sesuatu jatuh dibelakangnya namun saat menatap kamar mandi sudah tidak ada lagi bayangan pria itu. Sampai ia menyadari ada satu kaos diatas kasur ayahnya. “Siapa yang menaruh ini?” gumamnya namun ada yang menjawab dirinya dari arah belakang. “Itu milikku.”
Gadis itu segera membalikkan badannya dengan cepat, dan mengedarkan pandangan. “Siapa yang disana? Keluarlah! Jangan menakuti orang!” jantungnya berdebar dengan cepat, gadis itu sesak nafas dan berjalan pelan kearah meja disamping tempat tidur ayah mengambil obat asap miliknya.
Setelah menggunakannya ia langsung bernafas tenang dan melepaskan kaos yang berada ditangannya saat ini, lalu meninggalkan kamar ayahnya dengan cepat. Tanpa ia sadari suara itu berubah menjadi suara kucing yang sudah duduk santai didepan kakinya, gadis itu heran bagaimana bisa anabul ini masuk kedalam rumahnya.
Digendongnya kucing itu kedalam dekapannya, “Bagaimana kamu bisa masuk kesini, cing?” tanyanya yang hanya dibalas ngeong oleh anabul yang sangat lucu dan gempal ini. “Tapi akan ku panggil apa kamu? Apa kamu memiliki nama?”
“Meow.”
Gadis itu menghembuskan nafas dengan lelah, dan berbaring dikarpet bulu dikamarnya. Sudah dua tahun ayah meninggalkannya dan menuju dunia yang indah diatas sana. gadis yang sedang tertidur bersama anabul bernama Lena, usia 23 tahun.
September 26, 2017. Lena yang sekarang sedang mengetik sesuatu didalam laptopnya, disampingnya ada kucing putih yang memiliki mata unik sedang tertidur melingkar.
Lena sesekali mengelus bulu kucingnya yang sekarang sudah ia namai. Poco nama kucing tersebut, poco ini sangat nurut dan patuh terhadap lena, dan lena sekarang sudah bisa melupakan penghianatan yang dilakukan oleh mantan calon suaminya.
Namun ia masih sering kali dipertengahan malam, melihat sosok bayangan pria yang sedang berjalan dikoridor lantai 2, kamar tidur ayahnya atau didalam dapur sedang memasak. Lena bingung, kenapa sosok itu selalu berada dirumahnya. Sedikit ia tersadar saat bayangan itu muncul kucing miliknya menghilang.
Apa sosok bayangan itu adalah kucing miliknya? Ditatap lembut kucing berbulu putih bersih ini dan diajak bicara oleh lena. “Poco, apakah kamu siluman kucing yang bisa berbentuk manusia?” tanyanya yang tidak ditanggapi oleh poco. “Kok kamu tidak menjawab? Setidaknya bersuaralah.” Lanjut lena dengan mengelus kepala poco.
30 menit kemudian, lena tertidur kepalanya berada diatas laptop dengan bertumpu pada kedua tangannya. Lena merasakan tubuhnya melayang seperti digendong oleh seseorang, sedikit ia mengintip dan melihat sosok yang sering ia lihat belakangan ini. Sesampai diatas kasur ia tidak merubah posisi tidurnya, ia juga merasa tangan sosok itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Saat sosok itu ingin pergi, dengan cepat ia tahan tangannya dan membuka mata langsung menatap mata unik yang sama seperti kucingnya. “Kamu? Poco?” tanya lena ragu dengan menggenggam pergelangan tangan sosok itu dengan erat. Sosok itu mau tak mau mengangguk. “Aku poco, kucingmu.”
‘Suara ini? Yang berada dikamar ayah tahun lalu?’ batinnya dengan mengerjapkan kedua matanya. “Siapa nama asli kamu? Jangan bilang kamu siluman?”
“Nama asli saya Aarich Belonire, dipanggil Ich, dan kamu benar aku siluman.”
Lena tercengang, selama ini ia penasaran dengan sosok bayangan yang ia lihat. Dilihat lagi tubuh siluman kucing ini sangat atletis. Dan ia sangat suka kepada tubuh milik sosok ini, wajahnya juga tampan yang pas untuk tubuhnya. “Umurmu berapa?”
Ich menatapnya dengan serius, ich duduk disamping kasur lena. “Umurku 29 tahun, dan aku kemari untuk menjagamu dan menikahimu. Seperti janjiku kepada ayahmu.” Jelas ich membuat lena lagi lagi bingung dan heran.
“Kamu mengenal ayahku?” “Ya, ayahmu sama sepertiku siluman juga.” Ucapnya
“Disini aku ingin menjemputmu untuk kembali kedunia kami, sebagai istriku.” Lanjutnya sembari menatap Lena dengan senyuman
“Gimana maksudnya? Kamu berumur 29 tahun dan ingin menjemputku menjadi istrikku?”
Ich mengangguk, “Sesudah kamu lahir didunia ini, aku sudah berjanji akan menjagamu. Dan tak tau kapan, aku sudah mencintaimu mungkin sejak melihat senyumanmu dimasa kecilmu itu. Jadi maukah kamu ikut pulang denganku?”
Lena berdiam memikir, jika ia tidak ikut ia akan sendiri disini. Jika ia ikut mungkin saja ia menemukan kebahagiaan bersama sosok dihadapannya ini. “Baik aku akan ikut namun apakah aku bisa bertemu kembali dengan ayahku?”
Ich tersenyum masam, dan menggeleng. “Maafkan aku, maaf aku menjemputmu telat. Ayahmu sudah meninggal didunia ini maupun dunia kami. Seminggu yang lalu, aku melihatnya tersenyum menatapmu walaupun beliau tahu pria itu tidak baik untukmu.”
Lena menangis, sampai sesak namun ia tahan. “Aku dengan tulus menerimamu sebagai suamiku.” Ich memeluk Lena dengan erat, saat ini gadis didekapannya hanya membutuhkan kekuatan dari orang terdekat. “Terima kasih sudah menerimaku.”
Tamat