Sebuah hari yang indah yang mungkin tak akan bisa ku gapai sampai kapanpun. Inilah aku, Aldo Saputra seorang anak yang masih duduk dibangku kelas 11. Saat Sekolah Dasar aku memiliki sebuah keinginan dimana aku ingin memiliki keluarga yang bahagia tanpa adanya kekerasan dalam keluarga itu. Sarapan pagi bersama, makan malam bersama dan bisa menghabiskan waktu bersama. Tidak perlu “selalu” setidaknya aku hanya ingin ada yang menyayangiku dan melihatku tumbuh dewasa, yah itu hanya mimpiku saja sampai saat aku mulai masuk kelas 11 ini.
Hari itu, ketika aku datang terlambat ada seorang perempuan yang begitu cantik dan mungkin ini kedua kalinya aku merasa kagum pada seorang perempuan yang sepertinya dia adalah anak pindahan. Dia begitu mempesona hingga membuatku melamun dan ditegur oleh sang guru, aku melihat dia tertawa malu melihatku. Aku selalu memerhatikannya sampai dia sadar bahwa aku selalu melihatnya dan hari ini dia selalu mengikutiku dari tadi pagi ketika aku pergi menuju kantin. Hingga ketika waktunya pulang sekolah aku menunggunya untuk pulang, dia sudah biasa pulang lebih lama dan yang sudah pasti teman-temannya pulang duluan.
Begitu lama aku menunggu kelas benar-benar kosong yang hanya akan menyisahkan kami berdua. Aku tidak menyangka bahwa dia yang mendatangiku duluan.
“Belum pulang?” tanya perempuan itu
“Belum” kataku
“Mau pulang bareng?” tanya perempuan itu lagi
“Nggak” jawabku
“Lu kenapa ikutin gw dari tadi pagi dah?” tanya ku
“Nggak apa-apa, iseng aja” ucap dia sambil duduk di kursi kosong depanku
“Oh, mending lu pulang dari pada duduk disini” suruhku
“Bentar lagi deh, masih mau disini” ucapnya
Aktu tidak membalas perkataannya satu kata pun dan langsung memainkan handphoneku. Dia juga memainkan handphonenya sambil menghadap kebelakang tepatnya depan hadapanku. Ku lirik dia sedikit-sedikit dan dia tersenyum, ketika dia ingin melihat kearahku langsung kuubah pandanganku ke papan tulis di depan sana, seakan aku bukan memandanginya. Saat dia melihatku aku melihat juga kearahnya dan menaikkan satu alisku seakan bertanya mengapa dia melihatku, dan dia hanya tersenyum aku tidak bisa tenang melihat senyumannya.
Waktu begitu cepat berjalan dan dia masih tetap berada dihadapanku. Aku begitu ingin berbicara padanya tapi ya begitu dan aku memutuskan untuk merapikan barang-barangku saja dahulu mungkin dia akan tergerak juga nanti.
*membereskan barang-barang
“Ehem” tegur perempuan itu
“Kenapa?” tanyaku
“Udah mau pulang?” tanya nya
“Ya” jawabku
“Ikut boleh?” tanya dia
“Kemana? Rumah lu?” tanyaku
“Iya, dekat sini kok” jawab dia
“Ya udah, ayok” ajakku langsung meninggalkannya
“Bentar dong!” teriaknya sambil menutup pintu kelas dan mengejarku
Suara pintu tertutup dan suara langkah kaki yang begitu cepat terdengar, mungkin inilah awal dari semuanya. Dia lari begitu cepat hingga dia pertama yang sampai di motorku, aku tidak tahu mengapa dia tahu itu motorku. Aku langsung menyalakan motorku dan keluar dari area parkiran dan memberi dia helm ku, aku selalu membawa 2 helm untuk jaga-jaga. Setelah dia selesai memakai helm dia menaiki motor dan kami pun mulai bergerak untuk pulang.
Di perjalanan pulang aku hanya menanyai dimana alamat rumahnya dan dia memberitahuku bahwa rumahnya bisa dibilang begitu dekat dengan sekolah, aku mengantarnya hanya butuh waktu 15 menit saja sedangkan rumahku begitu jauh hingga memakan waktu 1 jam lamanya. Walaupun aku punya kerja sampingan tetap saja itu belum cukup untuk kebutuhanku sehari-hari. Hanya sebentar aku bisa berdua dengannya dan aku merasakan ketenangan yang belum pernah kurasakan selama ini, dengan begitu kami sudah sampai di depan rumahnya.
“Dah” kataku
“Oh, sudah sampai ya?” tanya nya
“Ya” jawabku
“Okke” ucapnya sambil turun dari motor
“Orang tua lu nggak marah baru balik jam segini?” tanyaku
“Ehmm, nggak juga” jawabnya
“Dan juga namaku bukan lu tapi Selly, tolong ingat itu ya!” ucapnya sambil memberikan helm
“Ha, ya” jawabku sambil mengambil helm yang dia berikan
“Makasih ya sudah mau nganterin, kamu hati-hati di jalan ya” ucapnya
“Ya, makasih” jawabku
Aku mulai mengendarai motorku sambil melihat kaca spion, yang kulihat dia melambaikan tangannya dan memberikan sebuah senyuman, ini benar-benar gawat. Apakah dia bisa menjadi milikku nantinya? Aku tidak tahu jawaban pastinya. Kesenangan yang kumiliki sekarang hanya untuk sekarang, hingga akan hilang ketika aku kembali ketempat yang begitu sengsara.
*suara ketukan pintu
“Lama sekali kau pulang, bagaimana dengan barangku?” tanya ayahku
“Sudah” jawabku memberikan barang itu yang sudah pasti isinya adalah beberapa minuman alkohol
“Kerja yang benar, jangan sampai besok kau tidak bisa membawa pulang minuman lagi” ucap sang ayah meninggalkan rumah
“Ya” jawabku
Bagaimanapun dia tetap orangtuaku, aku tau hal yang dilakukan dia salah namun tidak masalah jika dia masih menafkahi keluarga ini walaupun tidak sepenuhnya. Oh ya ibu, aku harus segera menemuinya bagaimana dengan memarnya yang semalam, harusnya seorang anak laki-laki bisa menjaga ibunya tapi aku tidak bisa betapa tidak bergunanya diriku.
*berlari menuju kamar
“BU!” teriakku
“Apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan lukamu yan-?” tanyaku yang terhenti saat melihat ibuku yang tergeletak dilantai dengan darah
*berlari kearah ibu dan memindahkannya ke tempat tidur
“Apa dia melakukannya lagi kepadamu, bu?” tanyaku
“Tuhan, kenapa selalu seperti ini” eluhanku
“Jangan seperti itu” ucap ibuku
“Ibu tiduran saja dulu biar aku yang mengobati luka itu dan urusan rumah biar aku saja seperti biasa” ucapku
“Bagaimana dengan kerjamu?” tanya ibu
“Hari ini libur, selang-seling” jawabku
“Terimakasih ya nak” ucap sang ibu perlahan menutup matanya
Begitulah hari-hari ku berjalan, di sekolah merasa bahagia karena ada yang membuatku tersenyum di rumah juga ada yang membuatku merasa sengsara namun aku bersyukur setidaknya aku masih bisa tersenyum. Setelah pulang sekolah aku selalu bekerja untuk mendapatkan uang lebih, kita tidak akan tahu hari kedepannya akan bagaimana jadi sebisa mungkin aku mengumpulkan uang.
Sudah beberapa bulan berjalan, seperti halnya kehidupan yang selalu berputar kadang di atas kadang di bawah. Ibuku tiba-tiba sakit aku menyuruhnya untuk masuk rumah sakit saja tapi dia menolak benar-benar menolak seolah ada sesosok orang yang mengancamnya dari belakang. Saat ibuku sakit, saat itu juga perempuan yang aku kagumi, yang membuatku tertawa, yang membuatku ingin memilikinya menyatakan perasaanya kepadaku.
Aku tidak tahu harus bertingkah seperti apa, ini seperti sebuah keajaiban aku benar-benar senang. Seseorang sepertiku bisa di sukai perempuan secantik dia, namanya anak remaja pasti ada bagian dari dirinya yang merasa begini walaupun sebagian hidupnya sengsara. Setiap orang juga butuh kasih sayang dan ketika kasih sayang itu datang dia pasti merasa begitu bahagia abaikan gender, manusia bisa dengan gampang nyaman dengan orang lain.
Aku menerima perasaanya dan yang terpenting aku juga membalasnya. Aku tidak menceritakan keadaan keluargaku padanya itu adalah privasi keluarga yang sebaiknya tidak ada yang tahu. Saat sedang bahagia-bahagianya ibuku diperlakukan kasar lagi dengan ayahku hingga membuat penyakitnya lebih parah, aku sempat melawan namun aku kalah. Dari kecil aku sudah menyaksikan ini, aku ingin mati saja namun aku juga tak ingin mati.
Hal yang terjadi di rumah biar terjadi di rumah jangan pernah membawanya keluar, jangan pernah melibatkan orang yang tidak bersangkutan, itu yang ibuku katakan. Sehingga sampai saat ini aku tidak pernah membahasnya dengan Selly. Hari ini dia mengajakku untuk kencan, aku menerimannya dengan senang hati sambil menyembunyikan wajah yang tidak seharusnya dilihat. Ingin kubuang, tapi tak bisa.
“Sel, kamu sudah makan?” tanyaku
“Belum, makan dulu yuk!” ajaknya
“Boleh” ucapku
“Setelah makan, ada yang mau aku berikan kepadamu” ucapnya
“Hmm, apa itu?” tanyaku
“Lihat saja nanti” ucapnya
“Kau benar-benar membuatku penasaran ya” ucapku sambil mengelus kepalanya
“Hehehee”
Kami bercerita tentang beberapa hal sembari makan, aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Di rumah aku makan hanya seorang diri, ibu selalu tidak mau makan bersamaku tapi kupastikan bahwa dia tetap makan. Selly tampak senang sekali ntah hanya aku yang merasa begitu atau dia juga, kuharap dia senang. Selesai makan kami berdua pergi ke sebuah hotel, aku benar-benar meng-iyakan ajakannya tanpa berfikir apapun.
“Jadi, apa yang ingin kau berikan?” tanyaku
“Kau benar-benar tidak sabaran ya” ucapnya
*selly mengeluarkan sebuah kalung dari tasnya
“Kalung?” tanyaku
“Iya, ini sama dengan punyaku” ucapnya
“Kenapa sebuah kalung?” tanyaku lagi
“Aku ingin memberi mu gelang awalnya namun itu terasa seperti biasa” jawabnya
“Kenapa tidak cincin?” tanyaku lagi dan lagi
“Kau yang seharusnya memberiku itu, dasar kau begitu banyak tanya” ucap selly
“Hahahaha maaf, aku senang melihatmu ketika marah seperti ini” ucapku sambil memeluknya
“Apa kau suka dengan kalungnya?” tanya selly
“Aku suka, sangat mirip dengan warna matamu” jawabku
“Terima kasih” ucapnya
“Alasan kau mengajakku ke hotel hanya untuk hal ini?” tanyaku
“Nggak, aku ingin kita menghabiskan waktu disini” jawabnya
“Ngapain?” tanyaku
“Seperti hal yang dilakukan oleh orang dewasa” ucapnya
“Hahahaha, lebih baik kita tidur saja” ucapku sambil menariknya untuk tidur bersama
Aku tidak tahu kalau malam ini akan menjadi sebuah cerita yang besar disekolah. Ada salah satu murid yang melihat kami pergi ke hotel dan dia melaporkan kejadian ini ke wali kelas dan juga yang melaporkan hal ini adalah kawan Selly sendiri. Selly lari kepadaku dan menangis, dia begitu banyak berkata dari biasanya.
Sebagai pasangannya aku harus menenangkan dia sebisa mungkin, tidak ada yang mengata-ngatainya hanya sebuah peringatan dari guru. Namun berbeda dengan diriku, banyak yang menghina dan menuduhku. Ini seperti 1 panah yang menusuknya dan 1000 panah yang menusukku, namun aku sudah terbiasa dengan ini berbeda dengannya mungkin dia tidak.
Beberapa minggu kami tidak boleh disatukan dan saat itu aku hanya fokus dengan penyakit Ibuku. Ketika aku ingin membeli beberapa obat untuk ibuku, aku melihat Selly dengan laki-laki lain, aku mengamatinya sebentar saat itu aku hanya berfikir mungkin itu adalah teman atau saudaranya. Semakin lama ku amati, aku melihatnya memeluk laki-laki itu dan menciumnya, tidak ada yang terpikirkan olehku aku langsung membeli obat untuk Ibuku.
Sampai dikamar, aku duduk di lantai dengan dagu yang ditempelkan ke kasur Ibuku setelah itu aku benar-benar menangis, aku benar-benar meminta maaf kepada Ibuku kalau aku membangunkanmu waktu itu. Kehidupanku bagaikan tumpukan sampah “Kehidupanku” ini sungguh tak berarti. Meskipun begitu hari inipun aku akan terus hidup. Aku ingin kau mendekapku, bu.
“Nak, kamu kenapa menangis sampai berantakan seperti ini?” tanya ibuku
“Hm?”
Saat itu aku bangun dan melihat wajah ibuku yang terasa seperti sedang melihat anaknya jatuh saat sedang bermain dengan teman-temannya. Ibuku tiba-tiba menarikku sekuat tenaganya, mengajakku tidur bersamanya saat itu tidak ada yang terlintas di kepalaku aku langsung naik ke kasurnya dan tidur bersamanya untuk waktu yang lama.
Aku tertidur lelap dalam dekapannya. Aku tak ingin bangun namun, aku ingin membuka mataku dan melihat wajahmu saat aku sedang berada dalam dekapanmu. Tapi aku sudah tidak kuat melihat wajahmu aku juga tak kuat dengan kehidupan ini, aku selalu melihat lebam baru di wajahmu begitu juga di tubuhmu. Aku ingin mati namun, aku benci rasa sakit dan enggan merasa sesak. Namun, itu semua tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kenyataan yang lebih menyakitkan.
Pagi pun menyinari kamar ibuku, saatku bangun aku melihat ayahku tepat didepan hadapanku baru saja ingin duduk aku sudah ditampar olehnya. Saat itu aku tidak tahu harus berkata apa, aku bersyukur setidaknya ibuku masih tertidur saat itu. Aku pergi meninggalkannya dan langsung berangkat ke sekolah sampai disana banyak hal yang terjadi lagi.
“Selly, boleh aku berbicara denganmu dulu?” tanyaku
“Mata kamu! Wajahmu! Siapa yang buat?” tanya selly balik
“Bukan urusanmu, ikut aku dulu” ucapku sambil menarik tangannya
“Kau, punya laki-laki lain kan?” tanyaku
“Hah?! Apa yang kamu bicarakan?” tanya selly
“Tidak usah berbohong, sebaiknya sampai sini saja hubungan kita” ucapku dengan tenang
“Kamu bercanda, ya kan?” tanya selly yang tidak percaya
“Aku tidak pernah selingkuh, pecayalah padaku” ucapnya
“Kamu lebih baik bersamanya” ucapku langsung meninggalkannya
*seketika selly langsung berteriak
“KAMU INGIN AKU MENGGUGURKAN ANAK INI?!” teriaknya
*aldo langsung berbalik badan
“Apa yang kau katakan!” teriakku
*para murid langsung berkerumun
“Kau tidak ingat waktu kita di hotel saat itu?! Kau tidak ingat melakukannya padaku?” ucap selly sambil berteriak yang membuat suasana menjadi gaduh
“Aku tidak ingat, kita hanya tidur bersama” jawabku dengan tenang
“Mengapa kau bisa begitu tenang padahal kau sudah menghamili anak orang?!” teriaknya lagi
“Tenang? Kau kira aku tidak tahu siapa yang memulai ini duluan?”
“Kau yang memulai, yang melihat kita berdua dan yang melapor adalah teman mu Sel! Kau bertanya dari mana aku tahu? Jangan kau fikir aku hanya anak yang hidup berdua denganmu saja, aku beruntung memiliki teman yang setia padaku”
“Dia memberitahuku semuanya, tidak perlu ku sebutkan namanya. Aku tahu kau merencanakan semua ini, kau yang meminta teman mu untuk mengikuti kita saat itu. Aku sudah berniat memberikanmu hadiah yang spesial bulan depan saat kau ulang tahun untung saja hal ini terjadi duluan jika ini terjadi belakangan mungkin aku akan menjadi gila. Aku tidak tahu sudah berapa banyak yang kau buat sampai begini, jangan sampai kau lakukan hal yang sama ini kepada lelaki baru mu itu”
“Apapun buktinya, maaf aku tidak akan percaya” ucapku sambil meninggali kerumunan tersebut
Aku pergi dari kumpulan orang-orang yang hanya percaya pada yang baik didepan tapi tidak tahu dibelakangnya bagaimana. Kau hanya perlu satu teman yang setia kepadamu. Walaupun aku sudah pergi meninggalkan kerumunan itu masih terdengar suara perempuan-perempuan yang masih tidak menerima kenyataan yang sebenarnya. Membingungkan, melelahkan, menjengkelkan hanya itu yang terfikir olehku.
Setiap orang pasti akan merasa sedih saat kehilangan sosok orang yang paling dia sayang, dan aku akan berusaha agar hal itu tidak terjadi. Apalagi orang ini adalah orang yang memberi semangat untuk tersenyum setiap hari, seperti tidak terjadi apa-apa dalam hidup. Tapi akan berbeda ceritanya jika orang yang memberi semangat untuk tersenyum ini melakukannya hanya untuk tipuan belaka. Beginilah dunia memang dari dulu sudah banyak dramanya.
Hari ini aku bergegas untuk pulang lebih cepat, Ibuku akan melakukan beberapa pemeriksaan tentang penyakit dan kesehatannya. Sudah pasti aku akan menemaninya sampai selesai, kuubah wajahku agar tidak terlihat murung didepannya. Akhirnya setelah sekian lama aku bisa membawa Ibuku ke rumah sakit, aku berharap tidak ada penyakit yang begitu berbahaya.
Namun itu semua hanyalah khayalanku,
“Ibu anda terkena kanker otak, ini sudah sampai stadium kemungkinan berhasil hanya beberapa persen saja tidak sampai 10% dikarenakan kondisi Ibu anda dan juga umurnya sangat memengaruhi” ucap salah satu dokter disana
“Tolong lakukan apa saja, coba saja dulu tapi yang terbaik. Masalah biaya akan saya bayar setengahnya dulu, sisanya akan saya cari, tolong” ucapku
“Anda yakin dengan ini?” tanya dokter tersebut
“Apa saja akan ku lakukan untuk ibuku” jawabku
“Baiklah, kami akan melakukan yang terbaik” ucap sang dokter
“Terimakasih, tolong lakukan sekarang juga”
Aku benar-benar terkejut dengan kenyataan ini bahwa ibuku terkena kanker otak, aku tak ingin dia merasakan sakit yang begitu lama lagi. Aku ingin berada di sisimu namun, hatiku terasa sangat sakit saat melihatmu terbaring dengan begitu banyak selang yang mengarah kepadamu. Aku ingin mati tapi aku ingin melihat hari esok bersama mu. Aku sudah tak peduli dengan masalah yang terjadi di sekolah biarlah mau menjadi seperti apa namaku nanti, untuk sekarang sembuhkanlah Ibuku dari penyakit ini, kumohon.
Aku benar-benar bekerja keras hari ini dari pagi sampai malam, tetap saja aku harus memberi minum kepada Ayahku ini, untung saja dia tidak ada bertanya dimana Ibu. Aku juga merasa ada yang salah, Ayahku berkata bahwa dia di panggil oleh wali kelasku untuk kesekolah pasti ini masalah yang terjadi di sekolah kemarin yang membuat aneh adalah dia kembali dari sekolah dengan sikap yang sedikit berbeda.
Aku bekerja keras mencari uang sebanyak-banyaknya untuk biaya rumah sakit dan itu membuatku kurang tidur dan kelelahan. Saat ingin menyebrang jalan, pihak rumah sakit menelfon dan berkata bahwa Ibuku dalam keadaan kritis detak jantungnya berhenti secara tiba-tiba, saat itu juga ada seseorang yang mendorongku ke jalan raya saat lampu lalu lintas memancarkan warna hijau. Aku sempat melihat siapa yang mendorongku dan ternyata dia adalah Selly mantanku dengan ekspresi marahnya. Karena kaget aku tidak memperhatikan jalan hingga akhirnya ada salah satu mobil tidak berplat melaju kencang ke arahku dan yang membawanya ternyata adalah Ayahku. Tiga hal terjadi dalam satu waktu, yang membuatku hanya bisa terdiam.
Aku merasa ada yang menabrakku tadi, tapi aku tidak merasakan sakit sedikitpun. Aku merasa berisik disini, banyak orang berkata “Mobil, mobil, bawa mobil secepatnya. Darah begitu banyak keluar dari kepalanya” hanya itu yang aku dengar dari tadi dan sungguh berisik. Badanku terasa terombang-ambing seperti ada sebuah kendaraan yang melaju cepat tidak peduli ada apapun didepannya. Kesadaranku masih ada tapi tidak begitu bagus, aku merasa banyak orang yang menyentuh tubuhkan dan menusukkan beberapa suntikan, aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.
Aku teringat dengan kertas yang aku tulis tadi malam, terkadang saat sedang lelah-lelahnya pasti bisa saja kau menangis dan merasa ingin mati. Itu yang kurasakan semalam, aku mencoba menulis beberapa kalimat yang ingin kutunjukkan kepada Ibuku saat dia sudah bangun, tapi aku tetap tidak bisa aku bukan ahlinya dalam hal ini. Aku tertawa dan terus tertawa hingga sampai dimana aku sudah ikhlas jika aku mati bersama Ibuku juga, aku tak ingin pergi sendiri, aku tak ingin Ibuku tersiksa saat aku tidak ada bersamanya. Kalau Ibuku yang diambil duluan, ambillah. Intinya jangan pernah membuat Ibuku tersiksa lebih parah dari sebelumnya. Aku tidak ingat apa yang aku tulis di kertas itu,aku mengingat menulis sesuatu, aku hanya membiarkannya tergeletak di meja tidak ada kulihat sedikitpun isinya.
Tapi tetap saja disini masih berisik, apa yang mereka lakukan pada tubuhku. Oh ya bagaimana dengan Ibu? Apa dia sudah baik-baik saja? Bukannya tadi aku di telfon pihak rumah sakit? Aku harus menemuinya. Mataku tolong terbuka ku harus menemuinya saat terbuka dan melihat kesampingku, aku tidak tahu mengapa ada Ibuku. Dia juga terbaring sepertiku, apa yang membuatnya disini? Aku ingin menggapai tangannya, aku perlu berbicara.
“I-Ibu, bagaimana?” ucapku dengan susah payah
“Jangan berbicara dulu!” ucap salah satu suster
“Maaf dia sudah tidak tertolong, saat kamu sampai disini. Dia sudah tiada, maaf nak” ucap sang dokter
Aku mencoba menggerakkan tanganku agar ada yang menyadari aku ingin memegang tangan Ibuku untuk terakhir kalinya. Tidak butuh waktu lama para suster mendekatkan ranjang ibuku hingga tanganku menyentuh tangannya. Aku begitu senang.
“Terimakasih” ucapku untuk yang terakhir kalinya
Dengan begini aku sudah tenang, aku sudah bisa tersenyum dengan lega, terimakasih telah berusaha menyelamatkan Ibuku. Dia perempuan pertama yang aku kagumi di dunia ini, dia begitu hebat untuk seorang perempuan. Tak pernah mengeluh kepadaku, begitu hebat menahan sakit yang dia alami selama ini, terimakasih aku berharap bisa bertemu mu, Ibu.
Kasus ini sempat menghebohkan sekolah mendiang Aldo, polisi perlu beberapa bulan untuk menyelidiki kasus ini tidak lama setelah itu Ayah Aldo dan Selly ditangkap atas kasus pembunuhan berencana. Polisi melakukan beberapa penyelidikan di rumah Aldo untuk mencari beberapa bukti lagi namun, yang ditemukan adalah kertas yang bertuliskan “shinde shimaitai”.