Namaku Elang, umur 27 tahun.
Aku sedang sibuk membuat audio berdasarkan naskah yang berikan oleh salah satu platform baca novel saat ponselku tidak berhenti menerima pesan.
Membaca nama pengirim pesan, ingatanku kembali ke beberapa hari lalu. Aku mendapatkan pendengar dari audiobook yang sedang aku kerjakan. Seorang perempuan bernama Bella.
Banyaknya komentar penyemangat di tiap bab dan ulasan mengenai cerita yang sedang aku bawakan membuat aku mudah ingat dengan namanya.
Bella menghubungiku lewat chat, bertanya mengenai update cerita lalu berbasa basi bertanya ke arah yang lebih pribadi. Dari beberapa percakapan yang kami lakukan, aku sedikit bisa menilai kalau Bella terlalu naif terhadap dunia media sosial.
Sebagai laki-laki normal, aku memuja wajah Bella yang cantik. Tanpa riasan dan sangat natural. Mempesona sebagai wanita yang beranjak dewasa. Usianya baru 21 tahun dengan tingkat kematangan masih belum maksimal.
Menurutku, Bella terlalu penasaran denganku, terlalu ingin tau segala sesuatu tentangku yang bersifat pribadi, terlalu banyak bertanya dan tentu saja terlalu berharap lebih. Mungkin Bella menganggap aku sebagai idolanya.
Alih-alih menjawab jujur setiap pertanyaan Bella, aku justru banyak berbohong dan mempermainkan kepolosannya.
"Abang tinggalnya dimana sih?" tanya Bella tak berhenti penasaran. Kami mengobrol lewat panggilan video yang dilakukannya.
"Yogyakarta," jawabku asal. Aku memang pernah tinggal di Yogya, tapi itu dulu sewaktu masih kuliah. Sekarang aku full time tinggal di Surabaya bersama orang tua.
"Abang udah punya cewek?" Bella tersenyum canggung saat bertanya semakin jauh dan tentu saja itu sangat bukan urusannya.
"Belum!" Aku menjawab dengan mata menatap lurus pada layar laptop yang menampilkan wajah ayunya.
Dalam hati aku terbahak, bahkan aku bisa berbohong tanpa berkedip dan tanpa ragu. Kalau dipikir-pikir, mana ada cowok seperti aku menyandang status jomblo? Lebih masuk akal kalau aku ini banyak pacarnya. Karena … aku ini tidak bisa dibilang jelek apalagi culun.
Salah satu ciri garangan adalah selalu bilang nggak punya pacar dimana-mana, terutama di medsos. Oh Bella … betapa polosnya dirimu! Percaya amat dengan mulut manisku!
"Bella udah punya cowok ya?" godaku padanya. Aku tau pasti dia akan menjawab belum, dan dilihat dari gelagatnya dia tidak akan bisa bohong. Lugu sekali.
"Bella nggak pernah pacaran, Bang! Nggak boleh sama ayah," jawabnya tersipu.
Pucuk dicinta ulam tiba. Selanjutnya tidak akan ada kata sulit untuk merayu Bella. Aku pastikan hanya butuh satu kalimat lagi untuk membuat cewek cantik itu meleleh dan mau jadi pacar abal-abalku.
Kok abal-abal? Mau bagaimana lagi, aku sudah punya dua pacar di dunia nyata, dan lebih dari lima di dunia maya. Biarlah … yang penting mereka tidak janjian ketemu dan merencanakan minta dinikahi bersamaan itu sudah cukup bagiku.
Playboy dilawan, ups!
"Bella jadi pacar abang aja ya!" ungkapku sekenanya. Iseng, tanpa perasaan dan tujuan apapun selain senang-senang. Sayang aja kalau ada cewek cantik dibiarkan tanpa pasangan. Ya … kalau bisa aku malah akan mengambil keuntungan dari sebuah hubungan yang tidak mungkin jelas arahnya ini.
"LDR brarti ya, Bang!" tanya Bella malu-malu.
Benarkan?! Dia nggak mungkin menolak. Apapun istilahnya aku nggak peduli, lagian kami nggak tinggal dalam satu kota, nggak mungkin ketemuan juga. Bella akan jadi satu dari sekian cewek yang berhubungan denganku hanya di dunia yang jauh dari kata nyata.
Aku mengangguk meyakinkan dan mulai menggombal ini itu untuk menyenangkan hatinya. Dasar wanita … cintanya memang ada di telinga!
Seminggu berlalu begitu saja, aku pacaran dengan Bella setiap malam lewat panggilan video. Berbagi kisah indah dan harapan palsu, berucap penuh cinta yang tak ada tulus-tulusnya sedikitpun.
Sebelum menutup panggilan videonya, Bella mengatakan kalau sedang menunggu ayahnya datang menjemput. Dia akan pulang ke rumah karena sudah masuk masa liburan anak sekolah. Bella memang tinggal di asrama dan mengajar ilmu agama di pondok khusus putri dari sejak lulus sekolah, di kota Semarang
***
Aku masih malas-malasan di kamar setelah mengisi audiobook sepanjang malam. Aku tidak berniat kemanapun hari ini, aku hanya ingin di rumah dan menghabiskan waktu untuk tidur.
Orang tuaku sudah pergi ke acara saudara di luar kota sejak matahari baru terbit tadi pagi, meninggalkan aku sendiri di rumah dengan asisten rumah tangga yang berumur setengah baya.
Mataku masih enggan terbuka walaupun telingaku terganggu dengan bunyi bel yang dipencet dari luar pagar rumah. Menunggu Mbok Sri yang membuka dan mengurus tamu yang datang pagi-pagi. Paling juga asisten tetangga sebelah yang biasa datang ngerumpi kalau majikannya sudah pergi.
Setelah beberapa waktu bel masih terus berbunyi, aku keluar kamar dengan menggerutu. Rupanya Mbok Sri sedang ada keperluan di kamar mandi.
Aku keluar setelah membersihkan kotoran mata dengan dua jari. Menguap lebar dan menajamkan mata keluar pagar. Aku membuka gerbang dan hendak bertanya keperluan wanita cantik yang bertamu sepagi ini.
"Bella?" tanyaku skeptis, mengerjap beberapa kali dan menggosok kasar kedua netraku. Barangkali aku sedang bermimpi.
"Elang? Abang?" Mata Bella mendelik melihatku dari atas ke bawah. Bella datang membawa hantaran dari orangtuanya untuk Mom.
Astaga, ternyata dia anaknya Haji Rohman yang dari kecil sekolah di pesantren. Pantes saja aku tidak pernah melihatnya. Kami sama-sama tidak pernah tinggal dengan orang tua selama menempuh pendidikan. Jadi walaupun bertetangga, aku tidak pernah kenal dengan Bella.
Uhuk, melihat wajah asli Bella yang sedang merona aku jadi merasa bersalah sudah menipunya. Di sisi lain aku tetap terpaku dan tidak bisa memalingkan mataku dari pesonanya.
Mendadak aku merasa jatuh cinta dan menginginkan Bella menjadi pacarku di dunia nyata. Sungguh gila!
Menyadari hatiku yang kacau karena beauty efek dan pikiranku yang terpusat hanya pada Bella, aku memutuskan dua pacarku dan semua perempuan yang memiliki hubungan aneh denganku di dunia maya. Aku memaksa mom dan dad untuk datang ke rumah Haji Rohman, melamar Bella untukku.
"Elang nggak mau nikah kalau nggak sama Bella, Mom!" ucapku hiperbola. Ungkapan jujur yang membuat Mom menertawakanku.
Sungguh dewi cinta sedang berbaik hati padaku. Haji Rohman menerima lamaran orang tuaku dan Bella setuju untuk menikah denganku secepatnya.
See, aku adalah playboy paling beruntung di dunia ini!
"I love you, Bella!"
End
***