“NAJMAAAA” Teriak teman-temanku.
“Iya?” Sontak aku kaget dan terbangun dari tidurku. “A…ada apa?” Tanyaku kemudian.
“Ibu guru mengabsenmu. Kamu dilarang tertidur di kelas” Jelas temanku di belakang.
“Ah menjengkelkan sekali. Padahal aku sedang bermimpi indaaah sekali. Aku melihat Chanyeol Oppa menatapku dalam mimpiku. Aku bermimpi bertemu Ibu Chanyeol dan kita mulai dekat” Jelasku. “Bahkan aku berpikir, setelah ini aku akan diajak makan malam bersama dengan Ibu Chanyeol. Uhh… asiknyaaa” Aku mulai tersenyum-senyum sendiri.
BLUB… Sebuah tisu masuk ke dalam mulutku. Reyna, teman dudukku yang memasukkannya. Ia sudah tak sanggup lagi mendengar ocehanku yang tak tahu malu setelah tertidur di kelas selama 15 menit. ‘Cuma 15 menit saja kok’.
Namaku Najma. Umurku 16 tahun. Aku kelas 11 SMA, dan tinggal 3 bulan lagi aku akan naik ke kelas 12. Aku penggemar boyband Korea EXO, dan aku adalah fans berat Chanyeol EXO. Sejak kecil, impian besarku adalah ingin ke luar negeri, entah apapun itu caranya. Baik bekerja, kuliah, atau sekedar berjalan-jalan. Beberapa tahun terakhir aku mulai yakin dengan negara tujuanku yang pertama yaitu Korea Selatan.
Huh, tapi semua keindahan mimpi itu tak bertahan lama setelah aku terbangun. Menjengkelkan sekali. Padahal begitu indahnya jika aku bisa berjalan-jalan ke Korea, menikmati keindahan bunga Sakura, mengunjungi tempat-tempat wisata, makanan yang lezat-lezat, dan bertemu idolaku. Tapi ketika aku bangun, ternyata aku hanyalah siswi SMA biasa yang harus duduk diam mendengarkan Ibu guru memberikan penjelasan. Membosankan.
“Negara kita sudah kehilangan jati dirinya. Generasi mudanya, seperti kalian ini, lebih bangga akan produk dan budaya negara lain dibandingkan negara sendiri. Kita sebagai warga negara Indonesia haruslah mencintai produk dalam negeri. Tentu jika kita ingin maju. Kalian tahu tidak, negara kita ini sangatlah kaya loh?” Jelas Bu Rahma, ibu guru muda nan cantik di depan kelas.
“Sepertinya ia sedang menyindirku Reyn. Atau lebih tepatnya kita semua” Ujarku menganggapnya angin lalu. Aku lalu mengacungkan jari meminta izin. ‘Aku yakin Bu guru mendengar pembicaraanku dengan reyna tadi’.
“Ya Najma!” Kata Bu Rahma. Seisi kelas pun menatap ke arahku.
“Mau bagaimana lagi Bu. Kualitas produk Indonesia kan sangat jauh dengan negara maju. Semua orang mendambakan kualitas yang bermutu Bu. Bukan salah generasi muda sepenuhnya dong Bu. Salah sendiri, kenapa Indonesia tidak bisa memproduksi produk yang bermutu sebaik produk luar. Arus globalisasi sekarang ini membuat kami sadar bahwa tak ada yang bisa dibanggakan dari negara ini. Membuat malu saja. Mmm… kekayaan budaya? Mau dibanggakan bagaimana, pemerintah saja masih setengah-setengah untuk mengembangkannya. Bagaimana masyarakat bisa bangga, kenal saja tidak.” Aku sepertinya berkomentar panjang lebar ditambah napas yang agak tersengal-sengal. Antara gugup dan kesal. Fiuh… Salah kami lagi, salah kami lagi. Salah pemerintah lagi, salah pemerintah lagi. Lalu yang benar siapa?
@@@
Matahari begitu terik. Aku dan beberapa anak telah berdiri di sebuah halte-rusak-menunggu satu dari sekian mobil berwarna kuning yang bisa mengangkut kami pulang-sebut saja bemo. Tak berselang lama sebuah bemo dengan banyak stiker tertempel pada badannya pun berhenti tepat di hadapan kami.
“Aduh… hati-hati dong!” Kataku jengkel melihat beberapa anak kelas reguler itu mendorong-dorong badanku hanya untuk berebutan masuk.
Fiuh… lega rasanya sudah berada di dalam. “Kenapa sih kita harus dipulangkan jam segini?” gerutuku.
“Kan tadi sudah dibilang Naj… GURU-GURU RAPAT!” Reyna menekankan. Mungkin berharap aku tak kan berkomentar apapun lagi.
“Iya Reyn… aku tahu. Tapi kan pulang jam siang itu menyiksa. Kita harus pulang bersamaan dengan kelas lain pada jam saat matahari di atas kepala.” Aku tidak peduli lagi apakah anak-anak itu mendengarku atau tidak, ah bahkan sekarang mereka semua mulai melihat ke arahku dengan tatapan… aneh mungkin.
Beberapa kilometer terlalui dan satu per satu dari mereka semua turun. Tinggalah aku dan Reyna juga beberapa penumpang lain yang bukanlah berstatus pelajar. Aku pun berpindah tempat duduk. “Om, ini tempat umum, tolong ya jangan merokok!” Ucapku pada si supir bemo.
“Iya, iya dek. Sebentar saja, kok” Jawabnya dengan santai dan masih tetap merokok.
Ahh… aku benar-benar tak tahan lagi. Andai saja aku bisa memilih, aku tidak akan pernah mau pulang dengan bemo. Rasanya aku mau menangis. Aku sudah tak tahan dengan panas terik matahari, keramaian orang yang tak tahu sopan santun, bemo yang kumuh, bau, nyaris rusak, supir yang bau dan merokok, di tambah lagi… bass speaker yang besaaar banget merusak gendang telingaku. Huft… mau bagaimana lagi?
@@@
“Assalamu’alaikum….”
“Wa’alaikumussalam… Najma sudah pulang? Kok cepat?” Tanya Mama dari ruang tengah.
“Hmm…” Jawabku malas sambil berjalan ke arah Mama dan menyalimi tangannya.
“Kok mukanya kusut gitu sih? Ada apa?” Mama khawatir.
“Tidak ada apa-apa, kok Ma.” Jawabku masih dengan enggan. Aku pun masuk ke kamarku dan mengunci pintu. Melihat kasur yang empuk, aku pun melemparkan tubuhku ke atas kasur dan… ah aku lebih suka berada di tempat ini, terasa dingin.
Aku pun tertidur pulas.
Bahkan ibuku mungkin bisa melihatku tersenyum saat tertidur.
Aku bisa merasakan aku pergi ke sekolah dengan gembira. Bahkan dengan berjalan kaki. Udaranya sangat sejuk. Bunga-bunga Sakura berjatuhan di jalanan. Ketika aku menaiki bis umum, aku tak perlu berdesak-desakan sebab mereka pandai mengantri, bayarnya tak perlu pakai kornet, langsung dengan mesin di depan bis. Aku tak pernah tersesat karena aku selalu memakai GPS dengan internet 4G di mana-mana. Bisnya benar-benar bersih dan bagus.
Aku melihat keluar jendela. Gedung-gedung tinggi dan besar. Jalanan tanpa macet. Sungainya sangat bening dan bahkan aku bisa mendengar suara gemericik airnya dari sini. Aku lihat semua orang suka berjalan-jalan di pinggir sungai itu. Seperti kealamian di tengah kota modern. Jalanannya dan semua tempat bersih tanpa sampah.
Saat aku turun, aku melihat sebuah gedung yang sangat besar. Ternyata ini sekolahku dengan beberapa gedung 4 lantai. Dilengkapi dengan beberapa lapangan, kolam, juga taman. Ketika aku masuk ke dalam ruangannya, aku melihat papan kelasnya sudah seperti tablet ukuran besar.
Ups… tiba-tiba aku ingin pipis. Aku pun berlari menuju WC. Aku melihat WC-nya sangat bersih, mewah seperti di hotel-hotel.
“Gawat! Aku kebelet pipis benaran. Jadi tadi aku cuma mimpi. Huft”. Aku terbangun dan menyadari bahwa aku masih berada di sebuah ruangan kecil, sempit penuh dengan barang-barang. Yap kamar tidurku sendiri.
Memang tidak ada yang lebih menyenangkan dari bermimpi indah, dan tak ada yang lebih menjengkelkan selain terbangun dan tersadar jika semua hal indah itu hanyalah mimpi, sementara kenyataan sangat jauh berbeda.
@@@
“Najma, berhenti!” Ibuku sepertinya sudah jengkel melihatku mengganti-ganti channel TV hingga 3 putaran. “Sini! Berikan remotnya pada Mama”
“Mama… acaranya gak ada yang bagus. Norak, alay, semuanya. Sinetron sudah berepisod-episod, sudah jauh sekali dari cerita intinya, konfliknya itu-itu saja. Acara musik yang lebih banyak ngomongnya daripada musiknya. Artis-artis musiman gak berbakat.” Aku pun memberikan remotnya pada Mama.
“Ya sudah, kamu nonton saja drama Koreamu itu di kamar. Biar Mama saja yang nonton.”
“Nah itu benar! Mama mau nonton drama Korea juga, tidak? Ceritanya seru loh Ma, bikin Mama nangis, ketawa, tersentuh, terus banyak quote-quote menarik gitu. SERUUU….” Ujarku benar-benar bersemangat.
“Gak usah ah. Mama cuma mau nonton berita saja, atau gosip lah. Gak ada waktu buat ngikutin cerita drama yang berepisod. Cuma buat refreshing, soalnya nanti Mama ke kantor lagi” Ujarnya sambil serius menonton acara musik dangdut di salah satu stasiun televisi.
“Ya ampun, Ma. Setidaknya episod-nya itu gak sebanyak sinetron. Mereka itu keren loh Ma. Budayanya, makanannya, kerajaannya, bahkan di era globalisasi sekarang budaya mereka yang harus membungkuk hormat, menghormati orang lain, bahasanya pun ada yang formal dan informal gitu, semuanya tidak hilang. Malah aktor dan aktrisnya cantik, ganteng, dan mereka semua berbakat.” Mama tidak menggubris.
Aku nyerocos panjang lebar lagi bahkan di rumah. Aku bahkan tak menyadarinya. Hatiku menerka-nerka apakah Mama akan kesal padaku dan memarahiku seperti halnya Ibu Rahma atau Reyna atau supir bemo atau juga anak-anak reguler. Aku penasaran dan menunggu.
“Banjir kembali lagi terjadi di wilayah DKI Jakarta” , “Kebakaran terjadi di sebuah pasar di daerah Tanggerang” , “Sebuah foto yang menampilkan anak laki-laki berumur 9 tahun memberikan penghinaan lewat jari tangannya ke arah foto Jenderal Sudirman menjadi viral di dunia maya” , “Seorang artis dangdut diketahui telah melecehkan pancasila” , “2 anggota DPR ini diperiksa oleh KPK karena dugaan korupsi senilai milyaran rupiah serta terlibat suap”
“Tuh liat Najma. Begini toh anak-anak jaman sekarang. Sudah tidak ada rasa nasionalismenya lagi. Kamu juga, malah sibuk membanggakan negara lain. Gitu kan jadinya kalau generasinya sudah tidak peduli lagi dengan tanah airnya sendiri, maka akan mudah dihancurkan oleh orang lain” Jelas Mama bahkan tanpa memalingkan matanya dari televisi.
“Iya iyaa…. Aku ke dalam dulu ya Ma.” Kataku kemudian dengan cemberut. Ternyata Mama dan ibu guru sama saja. Aku bingung. Buka tv saja, isinya berita jelek semua. Otakku sekarang sudah dipenuhi berita-berita jelek itu. Otakku mengatakan Indonesia itu jelek, terbelakang. Apalagi Bima. Tak usah ditanya lagi.
Di kamar, aku berpikir keras. Ada apa denganku akhir-akhir ini? Kepalaku lama-kelamaan terasa pusing. Aku menarik napas panjang.
Tiit… tiit…
Hp-ku berbunyi. Kuraih dengan segera dan kulihat sebuah notifikasi instagram di layar Hp-ku. ‘Baekhee membalas komentar anda’. Baekhee? Mataku terbelalak. Anak campuran Korea-Kanada ini membalas komentarku. Asik… Mumpung sekarang aku sedang bete, lebih baik aku chating-an sama dia saja. Semoga dia mau membalas. Aku akan bertanya banyak hal padanya. Anak ini benar-benar beruntung. Prestasi di dunia internasional sudah beberapa kali. Aku benar-benar mengutuk diriku yang lahir di Indonesia, diperparah dengan kota kecil seperti Bima ini. Kau sendiri tahu Bima? Sebuah kota di daerah NTB (kuberitahu jika kau tak tahu). Aku tidak bisa sebebas atau memiliki pengalaman seru seperti mereka di luar sana. Jangan bandingkan dulu dengan mereka dari luar negeri, sama anak Jakarta saja aku tidak percaya diri. Mereka sangat beruntung. Umur yang sama tapi kesuksesan sudah berbeda. Aku iri dengan Baekhee.
Baekhee : Jadi kamu ngefan dengan Exo juga? Ya aku tinggal di Seoul, Korea. Lalu, kamu sendiri?
Najma : Iya. Sejak 6 bulan lalu aku mengenal Exo dan Kpop. Kalau aku dari Indonesia.
Baekhee : (sedang menulis pesan)
Aku cemas. Mengapa ia lama sekali menjawabnya.
Baekhee : Oo… maaf. Aku pikir Indonesia itu sama dengan India. Tapi ternyata Indonesia sangat dekat dengan dengan Korea ya? Kkkkkkkk….
APA? Dia bahkan tidak tahu Indonesia di mana. Apa maksudnya dia? Apa dia tak pernah belajar geografi ataupun sekali saja melihat peta dunia. Ia bahkan hanya bisa melihat Tiongkok dan Indonesia di peta Asia dan akan kesulitan melihat negaranya sendiri.
Najma : Hahah… iya dekat sekali. Kalau kamu mau main ke sini, main-mainlah ke sini.
Baekhee : Oke, kapan-kapan. Oya, kamu kan penggemar Kpop nih. Jalan-jalan ke sini seru loh. Aku juga sudah banyak bertemu dengan penggemar Kpop dari beberapa negara. Kuharap kamu juga. Kamu bisa ke Jeju island atau sekedar menikmati gaya hidup di Gangnam. Hahah…
Najma : Siip… aku memang penasaran banget dengan Korea. Oya, gimana sih rasanya sekolah di Korea? Susah sekali ya? Soalnya setiap aku menonton drama Korea, aku menemukan orang di sana semuanya pekerja keras, sangat kompetitif.
Baekhee : Ya begitulah. Drama itu memang terkadang mengada-ngada tapi ada benarnya juga loh. Di sini benar-benar kompetitif. Bahkan aku punya kakak kelas yang baiiik sekali. Dia juga sangat pintar dan selalu masuk 3 besar di sekolah. Tapi beberapa bulan lalu ia ditemukan bunuh diri. Aku benar-benar sedih. Tapi kerasnya pendidikan di sini gak sia-sia loh. Bahkan alumni sekolahku sudah banyak yang masuk Harvard, Colombia university dan sebagainya.
GLEK! Aku bingung harus menjawab apa. Dia membangga-banggakan negaranya. Lalu aku? Masa iya aku harus menjelek-jelekkan negaraku sama seperti pada Mama ataupun Ibu Rahma. Aku bahkan tambah pusing menghadapi anak ini bukannya semakin lega.
Baekhee : Kalau di negaramu? Ada bahasanya sendiri gak? Huruf sendiri kayak hangul gitu? Kami punya hanbok, kimchi, Goryeo dan Joseon. Kalau kalian? Ceritakan dong!
Najma : Oh ada dong. Namanya Bahasa Indonesia. Tapi kami pakai huruf latin. Lalu…
Aku bingung! Apa mungkin lebih baik aku browsing dulu untuk menjawab pertanyaannya? Pengetahuanku tentang Indonesia sangat minim. Apa iya aku sememalukan ini? Jika aku salah berbicara sedikit saja pada anak ini. Itu artinya untuk pertama kalinya aku benar-benar mempermalukan negaraku di hadapan orang asing.
Aku pun menghapus kembali pesanku. Menutup instagram dan membuka mozilla firefox. Betapa terkejutnya aku melihat banyak prestasi Indonesia di dunia. Jadi selama ini aku telah terbutakan. Sebenarnya bukan karena Indonesia tidak hebat, tapi aku saja yang sibuk membanggakan negara lain sampai tak tahu berita dalam negeri. Ini salahku!
Aku pun berpikir keras bagaimana caranya agar Baekhee tidak akan meremehkanku karena aku berasal dari negara berkembang sementara ia dari negara hebat. Tidak akan kubiarkan!
Najma : Kami punya ribuan pulau, ratusan suku dan ras, ratusan bahasa, ribuan makanan khas, ratusan baju adat, ratusan kerajaan, dan jutaan sejarah, kami juga punya ratusan tempat wisata. Maaf ya Baekhee, aku tidak bisa menyebutkannya satu per satu, kkkkkkk….. mungkin kamu harus browsing sendiri. #peace. Sudah dulu ya Baekhee, aku harus pergi.
Aku menutup Hp-ku. Kusandarkan kepalaku ke meja. Kepalaku benar-benar berat. Sepertinya otakku sudah penuh dengan pikiran-pikiran yang entah tak kumengerti. Di sisi lain aku menyesali negaraku yang tak senyaman negara-negara maju. Sisi lain aku tersadar kalau aku harus menerima kenyataan dan menjalani hidupku di sini. Satu sisi aku meremehkan negaraku sendiri. Di sisi lain aku tak terima orang asing meremehkan negaraku. Satu sisi aku ingin memilih untuk tinggal di salah satu negara maju agar aku nyaman. Sisi lain aku berpikir untuk lebih baik belajar dengan baik lalu mengharumkan nama negaraku di mata dunia.
TING! Aku memilih opsi yang terakhir. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana?
@@@
“Najma… lagi apa?” Sapa Reyna seraya menepuk pundakku.
“Coba deh lihat ini Reyn.” Aku pun menunjukkan sebuah Globe ke hadapan Reyna.
“Ada apa?” Reyna menatapku bingung.
“Coba kamu bandingkan ukuran Korea dengan Indonesia. Keciiiiiillllll sekali…. Apa enaknya punya negara sekecil ini? Jalan-jalannya tidak puas. Hal yang bisa dieksplor sangat sedikit. Tapi kenapa mereka lebih maju ya?” Ujarku tersengal-sengal. Terlalu bersemangat mungkin.
“Justru karena negara mereka lebih kecil, jadi lebih gampang kan urusnya. Penduduknya juga sedikit. Jadi masalah pengangguran juga sedikit dong. Mecet juga enggak. Kita sama-sama punya 1 presiden dan masing-masing mempunyai tanggung jawab yang berbeda besarnya. Indonesia terlalu banyak masalah yang diurus. MUNGKIN!” Jelas Reyna. Ia mungkin mengerti betapa pusingnya aku memikirkan semua ini beberapa hari terakhir. Jadi ia pun mengemukakan argumennya untuk memuaskanku. Reyna memang sahabatku yang cerdas di kelas.
“Reyna, kemari!” Ibu Rahma kemudian memanggil Reyna.
Reyna menoleh “Iya Bu!”
“Selamat ya Reyna, Bulan depan kamu harus pergi ke Jakarta. Kamu lolos OSN tingkat nasional.” Ucap Bu Rahma dengan tersenyum.
“BENAR BU?” Reyna bertanya tak percaya. Matanya berkaca-kaca. Seketika aku melihat Reyna bersujud syukur akan hal hebat yang baru saja terjadi pada masa remajanya. Tiba-tiba ia pun meraih tubuhku dan memelukku erat sambil menangis. “Aku senang sekali Najma… senang sekali! Aku janji aku akan melakukan yang terbaik” Katanya sambil menangis dibahuku. Aku tak mengerti, aku rasa aku juga menangis. Entah karena ikut terharu dengan kebahagiaan Reyna atau aku menangisi diriku yang tak sehebat Reyna. ‘Reyna, kuharap kamu bisa sukses dan membanggakan Indonesia. Aamiin…’
@@@
Hiks… hiks…
“Mama….” Aku pun masuk ke kamar mamaku dan menangis.
“Ada apa Najma?” Tanya mamaku khawatir. Ia pun membelai pipiku dan kembali bertanya. “Kamu tak pernah seperti ini sebelumnya. Ada apa?” Aku memang bukan tipe orang yang mudah menangis, apalagi sekarang aku sudah 16 tahun. Tapi aku memang sudah tak tahan lagi dengan semua kebingungan ini. Aku iri pada Reyna.
“Ma… aku ini benar-benar memalukan. Aku hanya bisa menggerutu. Aku hanya bisa berkhayal. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak pernah bersyukur dengan apa yang aku punya di sini. Aku sibuk memikirkan hal lain yang tak kupunya hingga lupa kalau aku tak pernah melakukan apapun. Sementara Reyna, dia hampir dekat dengan impianku. Aku kapan? Aku takut aku tak bisa, Ma”
Mama pun memelukku. Ia tersenyum. “Mama tahu kamu punya impian yang besar. Mama tahu kamu itu orang yang kritis. Kamu sudah tahu kan kalau yang kamu lakukan itu salah. Mimpi besar itu bagus, tapi semua itu percuma kalau kamu tidak bertindak. Berhenti ya memikirkan hal-hal yang gak penting dan di luar jangkauan, fokus saja sama apa yang kamu lihat di depan matamu, sadar sama situasi di sini, kamu tinggal di sini, berarti pikiranmu harus ada di sini. Oya, Mama sudah dengar dengan ikutnya Reyna di OSN. Sekarang sudahlah, gak usah buang-buang waktu lagi. Mau kelas 3 kan? Mau lulus. Belajar yang baik. Fokus! Najma mau apa nanti kedepannya? Raih itu ya? Lupakan yang lalu, buat hari baru. Gak usah iri sama Reyna, kamu juga bisa asal kamu serius.”
Ada apa dengan Mama? Rasanya kata-katanya begitu menyejukkan. Pelukannya begitu hangat dan menenangkan. Tak ada yang lebih baik dari pelukan seorang Ibu. Jika aku bisa memilih, aku lebih memilih terus seperti ini bersama Mama daripada harus tinggal di luar negeri.
Aku sadar aku telah berdosa. Allah telah memerintahkanku untuk selalu bersyukur atas nikmat-Nya. Aku kebanyakan telah mengingkarinya. Aku bahkan belum pernah melakukan apapun untukku, apalagi negaraku.
Baik! Aku berjanji aku akan bertaubat dan berubah. Aku akan ‘stop dreaming, take action’. Tak ada kata terlambat. Aku berjanji, jika Reyna bisa sampai nasional, maka nanti aku akan pergi hingga internasional dan mencapai cita-citaku. Aku akan belajar banyak tentang Indonesia supaya kelak aku akan menceritakan banyak hal tentang kelebihan Indonesia pada teman-temanku dari negara lain. Aku akan belajar dengan baik agar aku bisa menggapai cita-citaku, berprestasi di dunia dan mengalahkan mereka. Tak kan kubiarkan mereka meremehkanku dan negaraku. Aku berjanji aku akan merubah Indonesia dan membawa Indonesia menjadi maju dengan tanganku bersama dengan anak hebat Indonesia lainnya. Aku ingin semua kemajuan yang aku impikan itu ada di sini, di Indonesia. Kalau bukan aku dan kamu, siapa lagi?
Tekadku sudah bulat. Aku tidak ingin mengulang k
esalahan yang sama. Mulai besok aku berubah! Aku, Najma yang baru! Indonesia, ayo h
idup bersama!