Dug Dug Dug
Aku berjalan sambil menendangi kerikil kecil di jalan dengan sepatuku yang sudah butut. Untuk membeli sepatu saja aku perlu menabung jauh-jauh hari. Apalagi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lain. Menyebalkan!
"Hey, minggir!"
Tiiiiinnnn!
Saat aku menolehkan kepala, cahaya silau langsung memenuhi pengelihatanku.
"Ugh..." rintihku saat baru membuka mata.
Mataku melebar ketika menyadari jika aku tidak sedang berada di tempatku semula. Tapi, tempat yang sekarang kupijak nampak tak asing. Ini seperti...
Neraka?
Ya, nama itu yang cocok untuk menggambarkan tempat ini. Gelap, dengan api menyala sebagai penerangan, tanah bercampur darah yang mengeluarkan aroma... Ah, mantap. Entah mengapa ada dorongan rasa ingin menjilat darah menggenang di tanah itu.
"Alice?"
Terdengar suara dari belakang, entah siapa yang dia panggil. Aku sama sekali tak bergeming, mataku tertumpu pada pasukan orc di depan sana, mereka nampak berperang dengan sesama kaumnya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Potongan episode ini mengingatkanku pada suatu cerita dalam game yang pernah aku baca. Tapi, dimana ya?
"Alice!"
Suara panggilan itu semakin mendekat. Namun kenapa panggilan itu seperti ditujukan padaku? Masa bodoh, lagian namaku juga bukan Alice.
"Hey, Alice!!"
Ayolah. Kenapa sih itu mulut?! Bisa disumpal gak sih?
"Alice!"
Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku, reflek aku menepisnya, hingga sinar hitam memancar dari telapak tanganku mengenai orang yang dari tadi berisik memanggil nama Alice.
Brugh!
Orang itu terpental kebelakang karena ulahku.
Terkejut? Tentu saja.
Sejak kapan aku memilih kekuatan seperti itu? Aku mengamati tanganku sendiri. Masih tampak seperti biasa, tidak ada luka, ataupun alat yang bisa mengeluarkan kekuatan. Tapi dari mana sinar itu muncul?
"Argh! Ada apa denganmu, Alice? Aku ini sekutumu!" geram orang tadi sembari berusaha bangkit.
Ku amati lagi orang tersebut dengan seksama. Saat api menyala memantulkan cahaya ke arahnya, aku baru menyadari jika dia bukan manusia. Dia manusia setengah kadal.
"Thamuz?" gumamku.
Aku kenal dia. Dia salah satu tokoh di game yang sering aku mainkan. Lalu kenapa dia memanggil-manggil Alice? Aku tidak melihat wujud Alice sama sekali.
Alice adalah tokoh antagonis dalam cerita di game yang menjadi dalang di setiap pertempuran. Dia sang ratu kegelapan yang haus darah.
Sepertinya aku bertransmigrasi ke dalam game yang beberapa menit sebelum pulang sekolah sempat aku mainkan.
"Kita selesaikan peperangan ini, dengan cepat," tukas Thamuz, mendekatiku. Sepertinya dia berbicara denganku.
"Kau berbicara denganku?" Aku berbalik menatapnya.
"Tentu saja, siapa lagi?"
"A-aku? Alice?"
Thamuz mengangguk dengan wajah bingung sama sepertiku.
"Cepatlah, jangan suka bercanda! Peperangan bukan tempatnya untuk bercanda." Terdengar seperti tuntutan dari nada bicara makhluk itu.
Benar saja, saat mengamati jemariku sendiri, aku sadar jika jari ini berbeda dengan jemariku yang sedikit gempal. Jari ini panjang dan lentik, dengan kuku tajam yang menurutku terlalu panjang dengan berwarna merah menyala. Kutek merek apa yang digunakan Alice? Ini cantik.
Baiklah, aku harus memainkan peranku dengan baik. Sekarang aku adalah Alice. Ratu kegelapan yang haus darah.
Mengambil nafas panjang sebelum memulai aksiku. Aku harap ini berhasil. Kedua tanganku terjulur ke depan. Fokus. Tiba-tiba seluruh darah yang ada di tepat itu bagai tersedot ke arah tanganku. Tak terkecuali seluruh darah para orc yang sedang berperang di depan sana.
Seperti sungai yang mengalir, darah dari dalam tubuh mereka terserap masuk ke dalam telapak tanganku.
Secara tak sengaja aku sudah mengambil kehidupan seluruh makhluk mitologi itu. Tubuh mereka berjatuhan bagai seonggok daging tak berguna. Tak disangka semudah ini merampas hak hidup makhluk lain.
"Hahaha," Aku tertawa puas melihat para orc meregang nyawa di depanku.
Ada rasa bangga pada diri sendiri. Aku tak pernah sebahagia ini dalam hidupku sebelumnya. Sebab aku tak pernah mendapatkan apa yang aku mau.
"Alice! Kau akan menerima akibatnya, karena sudah ingkar dengan perjanjian kita! Argh!" Salah satu orc yang aku yakini adalah pemimpinnya berteriak padaku.
"Hahahaha," Tawaku semakin membahana. Aku puas. Sangat puas. Aku ingin lebih. Lebih banyak darah.
"Mari perluas wilayah kekuasaan kita," titahku mencoba berperan sebagai 'Alice' yang asli.
Thamuz nampak setuju-setuju saja. Ya lah, dia hanya menonton, tapi secara tak langsung dia ikut meminum darah kehidupan yang kurenggut tadi. Tak apalah, berbagi sedikit tak masalah. Lagi pula aku juga perlu pengawal. Hanya untuk formalitas saja. Masa seorang penjahat tidak punya kaki tangan?
Hahaha.
Kami menuju perkampungan para elf. Aku senang sekali, karena tahu akan makan besar di sana. Aku sudah tak sabar ingin mencicip darah suci para elf itu. Pasti lezat.
Setelah membuat keributan di sana sini, sang pemimpin elf akhirnya muncul juga.
"Menyerahlah! Berikan aku para elf muda kalian untuk makan siangku!" seruku lantang.
"Tidak akan!" balas Estes, pimpinan elf.
"Kau akan menyesali keputusanmu."
Akhirnya kami berduel dengan sengit. Kekuatan Estes lumayan juga. Aku sampai kewalahan mengimbanginya. Darahnya tidak habis-habis, padahal aku terus menghisapnya dengan diam-diam.
Aku pun meminta bantuan pada Thamuz yang dari tadi hanya jadi penonton. Setidaknya dia sedikit berguna. Aku yang sudah hafal dengan skillnya--karena melihat dalam game--tersenyum puas menyaksikan hasil by one mereka, sambil menyerap energi Estes diam-diam tentunya.
Sesuai harapan, dengan menyatukan kekuatan, Estes dapat kami kalahkan dengan mudah. Aku kembali merentangkan tanganku untuk merenggut seluruh kehidupan di kampung ini.
Walau sebagian dari para elf sudah kabur saat kami melawan Estes tadi. Ternyata pemimpin lemah itu hanya sebagai pengalih perhatian saja. Sialan.
Tak apa, dengan ini kami bisa memperluas wilayah kekuasaan. Aku dan Thamuz kembali berburu darah di wilayah lain. Elf yang kami hisap darahnya tak cukup untuk memenuhi nutrisi dalam tubuh.
Tak kusangka, semudah ini mendapatkan apa yang aku inginkan. Hanya dengan merentangkan tangan, maka semua makhluk akan tunduk. Aku ingin menjadi Alice saja, dan hidup di dalam game ini.
Daripada pulang ke dunia nyata, dimana tak semua keinginanku bisa kudapatkan begitu saja hanya dengan merentangkan tangan.