Kehidupan di pondok bagaikan di penjara karena banyaknya aturan yang harus ditaati santri. Apalagi bagi yang terbiasa dimanja. Tentu kondisi tersebut terasa menyiksa. Belum lagi kalau ada perundungan dari senior. Bila bisa melewati itu semua, santri akan merasakan manisnya kehidupan di pondok.
***
"Kamu yakin, Put? Kalau kamu tidak yakin, kamu masih bisa membatalkan, kok," kata mama.
Aku tersenyum dan menjawab mantap," Yakin kok, Ma. Tenang saja, Putri akan membuktikan kalau Putri bukan anak manja seperti yang dibilang Mas Tito. Mama tunggu buktinya aja."
"Tapi, Put, kamu kan belum pernah jauh dari kami. Memang kamu sanggup?"
"Insya Allah, Putri sanggup."
"Jangan-jangan Mama nggak sanggup jauh dari Putri, nih?" ujar papa sambil tersenyum.
"Iiih...Papa nih," sahut mama cemberut.
Aku tertawa melihat kedua orang tuaku seperti itu. Tak terasa mobil papa sudah sampai lokasi.
Ini kali kedua aku menjejakkan kaki di sini. Tiga bulan lalu, aku hanya diantar papa ke sini untuk seleksi dan wawancara. Gedung yang cukup mentereng dengan dominasi warna hijau. Pohon-pohon di dekat gedung dan juga tanaman bunga membuat suasana menjadi teduh dan asri.
Kutarik koperku menuju ruangan yang tadi dikatakan petugas. Mama mengikutiku sedangkan papa menunggu di luar.
Ada tulisan 'alas kaki harap dilepas' di lantai. Aku dan mama pun melepas sebelum memasuki teras.
Ruangan berukuran sekitar 9x9 meter itu masih sepi, tidak ada siapa pun. Ranjang tingkat berjajar rapi memenuhi lebih dari setengah ruangan. Kuhitung ada 10 buah. Sementara, di dekat pintu terdapat almari pakaian berjajar rapat dengan dinding. Aku mencari namaku. Setelah ketemu, aku membuka koper dan mulai menyusun bajuku. Mama membantuku.
Saat hampir selesai, seorang anak perempuan masuk. Ia berjalan agak cepat dan tersandung koper yang belum sempat kubereskan.
Aku menangkap tubuhnya yang agak limbung.
"Maaf, Kak," kataku. Kuulurkan tanganku, tetapi dia tidak menyambutnya. Ia hanya menatapku sebentar lalu membawa tas pakaiannya ke sudut ruangan.
Aku bingung. Kulihat mama pun sepertinya tak beda denganku. Tangan kanan mama menarik tanganku sementara tangan kiri menarik koper keluar ruangan.
"Kamu yakin betah tinggal di sini? Kamu tadi tahu, ada anak judes begitu Aku tertawa kecil. Kulihat wajah mama menunjukkan kekhawatiran.
"Kan nggak semua anak begitu, Ma. Pasti lebih banyak yang baik. Kalau cuma dicuekin kan ngfak papa. Lagian belum kenal," kataku seperti orang bijak.
"Sudah, Ma. Biarkan Puput belajar mandiri. Mama harusnya dukung dong," kata papa yang tiba-tiba di belakangku.
Mama mengangguk meski terlihat ragu. Ia terus menatapku.
"Put, kamu harus bisa menjaga diri. Patuhi semua aturan. Jangan bandel, ya!" kata ayah sambil menepuk bahuku.
Papa banyak memberiku nasihat sedangkan mama lebih banyak diam. Mendung terlihat menghiasi wajah mama. Mungkin mama berat berpisah denganku karena aku anak bungsu juga anak perempuan mama papa satu-satunya.
Tak lama beberapa wali santri datang mengantarkan anak-anak mereka.
"Kamu harus bisa jaga diri, ya! Bergaulah dengan baik. Ingat, Mama Papa tidak akan menengok kamu sampai dua minggu mendatang. Jangan menangis, ya! Tahan rindumu dengan banyak berzikir. Kami pun sama. Sekarang Papa dan Mama pulang," kata papa sambil mengulurkan tangan.
Kusambut tangan papa dan kucium beberapa detik. Papa memelukku sebentar. Saat mencium tangan mama, aku ditarik hingga jatuh ke pelukannya. Aku dipeluk erat. Kudengar suara isakan.
"Ma, udah dong. Nanti Putri malah jadi bimbang. Mama harus ikhlas agar anak kita betah, dapat menuntut ilmu dengan tenang hingga mendapat barokah-Nya," kata papa lembut.
Perlahan mama melepaskan pelukannya. Kulihat matanya merah.
"Jaga diri baik-baik, ya," nasihat mama dengan suara bergetar.
"Iya, Ma."
"Kami pamit pulang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aku masih berdiri mematung hingga mobil papa tak terlihat. Setelah itu, barulah aku masuk ke ruang asrama.
Ada kehampaan dalam hati. Padahal, tadi aku masih biasa saja. Kulihat ruangan sudah ramai. Aku mendekat anak yang sedang merapikan baju dekat lemariku.
"Assalamualaikum. Saya Putri, kelas 7," kataku sambil mengulurkan tangan.
"Waalaikumsalam. Aku Dian, kelas 9."
"Oh, sudah kelas 9. Mohon bimbingan ya, Kak."
Ia hanya mengangguk. Sepertinya ia enggan diganggu. Aku pun menjauh, mendekati yang lain.
Sore itu aku sudah berkenalan dengan lima anak.
Malam pertama tinggal di asrama ternyata membutuhkan adaptasi.
Biasanya, aku membaca berita dari portal daring sambil chatting dengan teman-teman sebelum tidur. Sementara sekarang, aku tidak pegang gawai. Televisi pun tak ada.
Kulihat semua penghuni ruang asrama telah merebahkan diri di ranjang masing-masing. Aku tak tahu mereka sudah tidur atau belum.
Akhirnya, waktu untuk bangun dan qiyamul lail. Sebenarnya mata ini masih mengantuk. Entah jam berapa aku tertidur. Rasanya belum lama.
Setelah aktivitas subuh, antrean mandi dimulai. Sambil menunggi giliran, berkali-kali aku menguap.
Saat tiba giliranku, mendadak seorang kakak kelas menyerobot masuk.
"Maafkan daku semuaaa....Aku dah gak tahan ini," teriaknya.
"Dasar Rita! Kebiasaan deh," kudengar suara seseorang menggerutu.
Aku pun harus menunggu lagi Baru sekitar 10 menit aku mandi, suara gedoran pintu mengagetkanku.
"Hei, kamu mandi apa tidur. Cepetan, sudah siang! Yang ngantri masih banyak."
"Iya, sebentar. Baru juga masuk."
"Ini bukan di rumah. Di sini harus gantian. Udah, cepetan!"
Akhirnya aku segera menyelesaikan mandiku. Rasanya aneh sekali. Tidak terasa kesegaran yang biasa kurasakan setelah mandi.
"Siapa yang tadi malam nangis?" kudengar ada yang bertanya saat aku baru masuk.
Kulihat sebagian besar anak duduk di ranjang. Salah satu di antara mereka menunduk.
"Hem, anak mami sedih ya jauh dari rumah? Cie...besok minta pulang." Ucapan anak itu bernada melecehkan.
Pasti yang semalam terisak merasa tertekan. Aku tidak tahu siapa anak itu, tapi aku rasa anak yang duduk di ranjang dekat ranjangku. Aku melangkah masuk dan duduk di ranjangku. Kulirik anak itu masih menunduk. Ah, kasihan dia.
"Hei, ini ada Tuan Putri yang baru mandi. Kangen mamah nggak?"
Aku melihat ke arah suara. Sepertinya kalimat itu ditujukan kepadaku.
Ah, aku ingat. Dia yang tersandung koperku kemarin. Sepertinya dia tidak menyukaiku. Atau mungkin, dia tidak menyukai anak-anak baru.
"Sstt...Rin, udah dong! Nanti ketahuan ustadzah lo!" kudengar suara dari arah pintu.
Anak yang dipanggil Rin terdiam. Namun, sepertinya ia tidak suka ditegur seperti itu.
Aku tidak suka suasana begini. Kenapa harus ada yang jutek begitu? Apa mentang-mentang dia sudah senior? Atau dia punya prestasi tinggi? Tetap saja harusnya tidak begitu.
Tiga hari masa pengenalan lingkungan sekolah dan pondok telah berlalu. Ternyata, tinggal di pondok tak seindah yang kubayangkan. Cerita Mbak Alya, mahasiswi yang tiga bulan lalu KKN di desaku, belum kurasakan. Kata Mbak Alya, di pondok itu menyenangkan. Belajar agama sudah pasti, kaya pengalaman bonusnya.
Selama tiga hari, aku belum merasakan kenyamanan tinggal di pondok ini. Aku belum bisa tidur nyenyak. Apalagi Asri. Dia malah sering menangis diam-diam.
Aku mulai dekat dengan Asri sejak Kak Ririn mempersekusi kami. Aku mencoba menghiburnya meski aku sendiri tertekan.
Begitu banyak hal yang membebani aku. Cemoohan dari kakak kelas, terutama Kak Ririn, hampir setiap hari. Aku juga harus membiasakan mandi kilat, makan tidak menggunakan sendok garpu, mencuci piring dan gelas. Jadwal setiap hari juga sangat padat, tidak ada waktu tidur siang. Lebih parah lagi, aku tidak bisa main gawai, juga nonton televisi. Benar-benar penyiksaan luar biasa. Namun, aku ingat kata Kak Alya kalau akan ada hikmah di balik kesusahan. Ada Asri juga yang nasibnya tak jauh beda.
Pertahananku akhirnya rapuh saat Asri tak ada. Ia dijemput orang tuanya karena sakit. Dia demam tinggi, kadang kejang-kejang. Kasihan Asri. Ah, aku pun perlu mengasihani diriku sendiri. Tidak ada yang kuajak berbagi saat mendapat tekanan saat ini. Haruskah aku sakit? Ah, tidak! Aku harus tangguh.
Namun, sore ini pertahananku jebol. Sambil menunggu antrean mandi, aku baca buku. Mendung yang menggelayut manja membuat kantuk menyerang hingga aku tertidur. Saat terbangun, hujan telah mengguyur bumi dengan derasnya. Aku teringat handukku di tempat jemuran. Ternyata, handuk itu telah bercampur tanah, pasir, dan tentu saja air.
Seketika air mataku tumpah. Bagaimana aku mengeringkan badan sehabis mandi? Handuk yang satu di tempat loundry.
Aku tetap berdiri terpaku membiarkan air mataku meniru air hujan. Sesal mendadak memenuhi pikiranku. Andai saja aku tidak tergoda cerita tentang indahnya jadi anak pondok. Andai saja aku tidak tergiur slogan "Nggak Mondok Nggak Keren". Andai saja aku tidak meniruti gengsiku, membuktikan kalau aku bisa mandiri. Berbagai andai terus menari di otakku.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri semua ini. Aku tidak mau jadi bulan-bulanan Kak Ririn dan teman-temannya. Aku harus mengakui kalau aku belum siap untuk mandiri.
Kubalikkan badanku hendak menemui Ustadzah Baroroh. Namun, sebelum sempat kakiku melangkah, di depanku berdiri sosok yang akan kutemui.
"Sedang apa di sini?"
"Saya...saya mau...mau mengundurkan diri, Us. Saya sudah nggak kuat."
"Maksud Putri?"
Aku bingung menjawab. Tenggorokanku tercekat, lidahku kelu.
"Ikut Ustadzah, yuk!" kata Ustadzah Baroroh sambil membimbingku. Aku menurut saja.
Sesampai di ruangan Ustadzah, aku diminta duduk. Sementara, Ustadzah duduk di dekatku.
"Ada masalah apa? Coba ceritakan!" ucap Ustadzah lembut.
Aku ceritakan yang kualami dan kurasakan selama aku tinggal di pondok. Kejadian handuk jatuh barusan hanya satu dari sekian banyak yang membuatku tertekan. Aku merasa sudah tidak kuat tinggal di pondok ini dan memutuskan untuk mengundurkan diri.
Selesai bercerita, tangisku meledak. Ustadzah Baroroh segera merangkulku dan mengusap-usap kepalaku. Aku merasakan ketenangan seperti di dekat mama.
"Ustadzah bisa memahami perasaanmu. Namun, kau juga perlu mengerti kenapa Ririn seperti itu."
Aku menatap Ustadzah dengan penuh tanda tanya. Aku tidak mengerti yang Ustadzah maksudkan.
"Putri beruntung memiliki keluarga lengkap dan harmonis. Itu tidak dimiliki Ririn. Ia kurang kasih sayang hingga menjadi anak pemarah. Ustadzah tidak akan menceritakan tentang Ririn dan keluarganya. Cukup kamu tahi saja bahwa kamu lebih beruntung. Masih ada lagi yang sebetulnya kurang beruntung tetapi dia tetap tegar."
Ustadzah Baroroh berdiri lalu meninggalkan aku. Tak lama beliau kembali dengan membawa handuk.
"Ini kamu gunakan nanti untuk mandi. Sekarang ikut Ustadzah, yuk!"
Aku menerima handuk itu lalu mengikuti langkah Ustadzah. Sepertinya aku diajak ke dapur.
Benar, Ustadzah Baroroh mengajakku ke dapur. Aku tidak paham maksud beliau. Ada rasa khawatir juga, jangan-jangan aku disuruh memasak.
"Sini, Put. Kenalkan ini Kak Solikhah. Dia sudah Kelas 11," kata Ustadzah.
Seorang gadis yang sedang memasak menoleh. Ia tersenyum ramah dan mendekat. Masya Allah, gadis itu pincang.
"Assalamualaikum," ucapnya sambil mencium tangan Ustadzah Baroroh. Ia lalu mengulurkan tangan kepadaku.
Kusambut tangannya setelah menjawab salam. Lagi-lagi ia tersenyum. Wajahnya tampak teduh menenangkan.
"Bisa ngobrol sebentar?" tanya Ustadzah Baroroh.
"Bisa, Us. Tapi di sini saja, ya. Biar saya tetap bisa menyelesaikan pekerjaan saya," pintanya.
Kami duduk di bangku panjang yang ada di dapur.
"Put, Kak Ikah ini dari SMP mondok di sini. Ibunya bekerja di sini, memasak makanan untuk kita. Dia tidak tidur bersama kawan-kawannya karena harus membantu ibunya. Kak Ikah ini dulu juga sering diejek terutama kakak kelasnya."
Kak Solikhah mengangguk dan menambahkan," Iya, Dek. Saya sering diejek karena kaki saya pincang dan saya di sini tidak bayar. Jadi, mereka sering menyuruh saya macam-macam."
"Kak Ikah diperlakukan seperti pembantu. Itu terjadi selama bulan pertama dia Kelas 7. Dia tidak kuasa menolak. Akhirnya, Ustadzah mengetahuinya. Barulah mereka berhenti berulah."
"Apa Kakak tidak merasa tertekan diperlakukan seperti itu?" tanyaku.
"Ya iyalah. Tapi Kakak kasihan lihat ibu. Kalau Kakak berhenti, ibu pasti sedih. Kakak sudah yatim. Kalau tidak di sini, mau di mana lagi? Lagi pula, di sini kan dapat bekal ilmu agama juga. Ibulah yang menjadi pendorong semangat Kakak. Toh yang namanya ujian pasti akan berakhir pada waktunya," Kak Ikah menjelaskan.
"Ujian?" tanyaku heran.
"Ujian yang Kakak maksud bukan ujian sekolah tapi ujian hidup. Setiap orang pasti diuji. Dulu Kakak diuji kesabaran menghadapi kakak kelas. Ujian itu bagai hujan dan petir. Saat lulus, seperti ada secercah matahari yang membuat pelangi."
Ternyata Kak Ikah lebih berat ujiannya dibanding aku. Dan dia begitu tegar menghadapinya. Aku jadi malu.
"Bagaimana, Put? Masih tetap akan mundur?" tanya Ustadzah Baroroh.
Aku menggeleng mantap, "Tidak, Us. Saya harus kuat."
Ustadzah tersenyum lega. Beliau menepuk bahuku.
"Kalau begitu, sekarang mandi. Nanti keburu maghrib."
"Ya, Us. Saya permisi. Terima kasih, Kak Ikah."
Aku bergegas menuju kamar mandi. Guyuran air mendinginkan tubuhku menyegarkan pikiranku. Aku harus sabar menanti datangnya pelangi.