- luas dan nyaman
- aman, namun usang
- gelap gulita, menemani si tinggi yang menyendiri
_ bukan persoalan, ini pernyataan yang tak pernah menjadi istilah dari sebuah kata
Negeri Garuda. Konon katanya, Negeri Kincir Angin pernah menjajah nya. Merusak seisi ruang lingkar sayapnya demi mencapai ribuan rempah-rempah yang hanya ada di Indonesia.
Di tempat asing, di dalam bangunan mulai menua yang tak pernah hilang keindahannya. - sebuah museum tempat sejarah sejarah Negara Indonesia di mulai. Dari perkenalan pahlawan - Pak Soekarno dan Pak Mohammad Hatta. Di lanjutkan dengan bapak dan ibu yang ikut serta dalam masa perjuangan kemerdekaan.
Berdiri tegap; menuntun dan berlalu lari seperti ini memakan waktu, tapi Kaila sangat menikmati. Ia memiliki dalih untuk mengajarkan pada anak anak muridnya tentang makna dari perjuangan dan pengorbanan.
Tentunya, bukan hanya ia yang ditugaskan untuk menjadi penanggungjawab para siswa siswi. Ada beberapa wali kelas yang ikut serta dalam kegiatan ini. Termasuk ia, yang menjadi ketua pelaksana - si manis nan ayu yang disibuki dari pukul dua pagi.
---
"Kota Batavia?" tanya salah satu murid pada pria yang berdiri memandu mereka.
Pria itu mendengar, maka ia segera menjawab sebuah pertanyaan dari si murid yang terlihat tertarik dengan bangunan tua ini, "Batavia, nama kota sebelum Jakarta. Nama kota yang sayangnya diganti menjadi Jakarta karena sebuah alasan klasik; menarik hati penduduk pada Perang Dunia II."
Seluruh atensi beralih padanya. Seulas senyum tampan tercipta membuat beberapa pasang mata terpana.
"Menurut kalian, jika kota Jakarta dahulu dinamakan kota 'Batavia', bangunan tua yang kita pijaki saat ini di kenal sebagai apa sekarang?"
---
Selesai membuang hajatnya, bu guru cantik dengan segera mendekati ratusan siswa siswi yang menikmati hidangan masing-masing. - sudah pukul dua belas lebih, masanya mereka makan siang.
Kaila Rainazia, seorang mahasiswi yang menekuni Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Seorang calon wanita karir yang memilih untuk menjadi seorang guru. Walau dilanda masa masa lelah skripsi yang menghantui, ia tak pernah bisa berkutik selain mengerjakan, memahami, dan mengisi. Kehidupan yang selalu monoton, namun di nikmati dengan lelah sebagai bonus dari hasil keringat yang membasahi tubuh kala teriknya menyinari bumi.
---
"Jadi, bagaimana kak?" Sorot matanya menatap sepasang bola yang memandangnya dengan lurus. Tak memiliki makna, namun salah satu berharap dapat menjadi alasan binar itu tak akan redup.
Tuk tuk.
Meja itu terketuk, lawan bicara menetralisir kegugupan dengan batuk kecil yang tertahan. Ia mengalihkan pandangan, lalu menunjuk salah satu berkas penting yang ditujukan pada si ketua pelaksana.
"Mereka melakukannya dengan baik. Mendengarkan kami yang menjelaskan, aktif juga dalam bertanya.
.. Dari semua antusias mereka, kami rangkum dalam satu berkas. Berisi materi materi yang mereka pelajari dan kritik saran dari saya pribadi untuk mereka yang kami ajarkan. "
"Lalu, adakah sebuah ketidaknyamanan yang membuat para pengunjung lain merasa tak nyaman atau sikap mereka yang kurang memadai dalam kegiatan hari ini?"
".. Yang pastinya, mereka hanya ratusan siswa dari sekolah dasar yang berdiri di angka 5. Mereka labil dan susah diatur. Dan untuk itu, kami masih memaklumi."
---
Terduduk tanpa arah. Mengarah pandangan ke seluruh sudut yang dapat ia lihat. Wajah berkerut lelah yang tak ingin berhenti mencari dan menunggu, tanpa tahu siapa yang ia tunggu.
Lantas, disebelahnya ikut menduduki. Menjulur satu kaleng cola yang cocok di minum saat si kuning tengah berganti tugas dengan bulat lampu yang berada di langit langit sebuah ruangan. "Mas Jefi ga ngomong sama kamu kalau dia pulang duluan?"
"Aku disini ga nunggu siapapun, sya. Aku terjebak." Mengerutkan kening, tak mengerti maksud dari kalimat terakhir. "Maaf..?"
Kaila terkekeh sumbang. Tangannya membuka tutup kaleng lalu meneguk cola hingga tandas, "aku jatuh cinta pada ilusi. Khayalan yang menjadi teman tidur, namun tak pernah sekalipun aku dapat mendekati si bunga tidur yang menjadi alasan tenangnya malamku setelah masa itu."
Si tampan ikut terdiam. Mengikuti arah padangan si cantik yang tak jauh dari kendaraan lalu lalang. Sesekali ia beralih ke tempat dimana isi pesan itu tertuju padanya - mengajaknya untuk menemani di tengah lelahnya tugas yang menjadi kewajiban besar dan persyaratan dalam jubah hitam ketika ia melewati semua fase di titik ia berdiri dan berjuang dengan langkah yang akan sampai sekejap lagi.
---
"Ini hal tabu, sya. Aku jatuh cinta pada setengah lingkaran yang sudah menemukan setengahnya dan menjadi sebuah lingkaran yang sempurna." Ditambah sunyi, sampai jumpa keresahan hati..
---
Konsekuensi dan upaya menjadi pemikiran tertinggi dari kedua pasang kaki yang berjalan menghiraukan arah pulang. Selagi bersama, mereka tak pernah ingin pergi dan menjauh. Keduanya tak rela jika takdir memisahkan di siang sunyi hati namun ramai dipandang dalam damai.
"Sya, mencintai itu bukan larangan, kan?" Ia tak menjawab, menlanjutkan perjalanan tanpa berniat mengeluarkan suara yang - harap cemas dapat menyakiti hati.
---
"Ini, pertemuan terakhir kita. A-aku ga mungkin terus berdiri buat menunggu yang gak pasti. Dan juga, kamu dan dia ga akan bisa jadi aku dan kamu."
"..."
"Sya, aku berharap, kita yang jadi bulat. Bukan satu yang melebur ke dua arah berkebalikan seperti kita berdiri saat ini."
"..."
Tepukan bahu Kaila daratkan pada Arsyanendra. Anggun senyum yang dilayangkan membuat sepasang netra kelam Arsya tak lepas dari sana. Menyelami dan menjadikan senyum itu sebagai materi yang tak boleh terlupakan.
Ia menunduk setelahnya, kembali mengangkat kedua tangannya dan menggenggam kedua lengan si manis yang sebelumnya sempat bertengger di pundaknya, "kita kasih tunjuk sama anak anak, kalau kita bisa bersanding dengan harapan mereka."
"Sya, jangan dipaksa.. "
"No, aku ga memaksa diriku sama sekali.
.. Ini tujuan dan harapan, kita dua peran yang ditugaskan untuk melanjutkan sebuah cerita."
"Ini sulit, Arsyanendra. Kita bukan pihak pasrah, kita - kamu juga bisa menyangkal dan berontak kalau memang hatimu menolak." Si tampan menggeleng, ibu jarinya bergerak pelan menghapus liquid bening dari salah satu bola mata si cantik. Mencoba untuk tegar, walau rasanya sudah tertampar dengan manik berkaca-kaca di depannya.
---
"Kita berdamai. Dua cincin yang melekat di jari manis sudah menjadi sebuah arti dari aku dan kamu. Bukan aku dan dia atau kamu dan dia.
.. Caca, kita bisa dan kita mampu. Asal tetap berusaha dan bersama, ekspektasi itu ga akan jadi nyata."
"Asya.. "
"Aku udah putus dari Raisya. Dia memilih untuk merelakan, dan mas Jefi juga bilang ke aku buat jaga kamu." Tangannya mengusap dengan sayang cincin yang tertanam di jari manis sangat calon pasangan. Ia mengamati dan menyelami segala isi pikiran lewat tatapan mata yang saling memuja, "kita mampu, dan ini takdir kita. Jangan pernah takut sama ilusi, karena aku yang akan berdiri di sebelahmu, untuk berganti peran dan selalu ada untuk menuntun jalanmu."
-
-
-
"Kadang, jodoh bisa datang lewat orang tua. Tapi lucunya, anak anak lugu itu menggemaskan."
"Sya.. "
"- kamu harus tau, ca. Alasan aku masih berdiri disini pun karena mereka. Bukan karena orang tua kita aja."
".. Asya.. " Arsyanendra, pria berusia dua puluh tiga tahun itu tertawa. Memeluk sang istri dari belakang dan mengayun-ayunkannya dengan sayang. Menciptakan semburat merah muda, yang menjadi bahan untuk menggoda si calon ibu.
"Cie ibu, masih malu ya sama pak ganteng?"
-
garis yang berawal tak tentu pada arah.
ia berhasil menemukan arah pulangnya, tanpa harus kembali tersesat.
-
Dengan demikian, buku itu Kaila tutup. Menaruhnya di rak buku khusus dan mengusapnya ketika buku itu sudah tertarik rapih di sana.
Cklek.
"sst, tadi abis main sama ayahnya. Udah capek dianya."
"Oh ya? Udah bisa respon ya anak bunda, hm?"
"Anak ayah juga itu bun." Si cantik itu tertawa, ia mengecup pipi sang anak lalu membaringkan nya di atas ranjang.
Ia merebahkan diri disebelah kanan sang anak, dengan sang suami yang berada di sisi kiri si kecil mereka.
---
"Jangan cepet gede ya, dek."
"Kenapa emang?"
"Nanti aku ga ada temen kalo lagi weekday." Yang lebih tua menatap dengan kerlingan mata menggoda, membuat si ibunda muda salah tingkah karenanya.
".. Kalau adek udah besar, ya kita harus kasih baby lagi dong buat jadi temen adek."
"Itu mah maunya kamu!"
`Bu, pak guru yang tadi ganteng loh. Saya mau jadi shipper bu guru sama pak guru aja.`
`Yang tadi cantik, mas. Pacarnya?`
`Bukan pak, teman saya.`
`Kayaknya, kita break aja, ar. Aku mau lanjutin pendidikan di London.`
`Mas jef, maaf. Aku ga bisa nerima. Aku sudah terikat dengan seseorang.`
`Itu perjodohan, kamu masih punya waktu untuk menolak dan kita bisa bersama, kai.. `
"Jangan tinggalin aku sama adek, ya.. "
"Ga akan pernah, sayang.. "
Sebuah persahabatan, kerjasama yang sebelumnya tak memikirkan bagaimana kedepan, lalu didekatkan dengan puluhan siswi yang berawal hanya ingin menggoda dan berakhir menjadi sebuah kenyataan.
_ garis interaksi, yang tak pernah lepas dari jalurnya
ini ila, 27 April 2022