Aku tersenyum padanya yang terlihat begitu cantik dengan dress merah pemberianku, yang ada bercak putihnya, dan juga tas cantik hadiah ulang tahunnya yang kuberikan padanya beberapa minggu yang lalu.
Kami saling memandang tanpa mengucapkan sepatah kata, aku tahu ini kencan pertama kami, terdengar gila memang, terlebih ketika aku tahu bahwa dia juga memiliki rasa terhadapku, rasanya dunia ini hanya milik kami berdua sekarang.
Matanya birunya yang indah mencoba menghipnotisku dalam sekali tatap saja, lagi, dan lagi aku terjatuh kedalam pelukannya.
Suara alunan piano classic yang kuputar semakin membuat susana kencan malam itu begitu indah. Dari sekian banyak wanita yang aku kencani, dialah satu-satunya yang sangat mengangu pikiranku. Siang, dan malam aku selalu terbayang dirinya.
"Malam ini kau terlihat begitu cantik" Pipiku mengembang setelah mengatakannya, namun dirinya hanya tertunduk malu, bahkan tidak berani menatap wajahku semenjak pertama kali aku membawanya kemari untuk berkencan.
"Aku tahu kau malu, namun setidaknya katakan sesuatu tentang penampilanku malam ini" Dia masih terdiam.
"Ahh, aku lupa menyalakan perapiannya" Aku berjalan menuju perapian.
"Julia sayang, apa kau memiliki korek api sayang ?" Tanyaku, padanya yang hanya diam tanpa menatapku.
"Ahh aku lupa"
"Kenapa semua kayu dirumahmu ini basah ? Kupikir akan sulit menyalakan perapian dengan bahan bakarnya yang basah" Aku mencoba menyalakan koreknya, beberapa kali, setelah perapian menyala aku kembali mendekat padanya.
"Aku suka sekali aroma kayu dirumahmu, seperti aroma sebuah steik" Gurauku padanya, yang kemudian tersenyum.
"Julia, kenapa warna merah pada bajumu terlihat tidak rata ? Apa kau mencucinya sebelum kau pakai, itu pasti kelunturan sesuatu" Terangku padanya.
***
Aku mencoba menelponnya beberapa kali, namun semua panggilanku tidak dia angkat. Akhirnya aku urungkan niatku untuk menunggunya, segera aku pergi kerumahnya dengan menaiki motor kesayanganku.
Aku segera turun setelah sampai dirumahnya, mengetuk pintunya beberapa kali, berharap dia keluar dengan gaun merah pemberianku kemarin.
Tok
Tok
Tok
Pintu terbuka, namun dia tidak disana, ibunya membukakan pintu lalu tersenyum padaku. Dia memakai dress merah yang sangat cantik. Namanya tante julianne, ibu dari julia. Dia sudah mengetahui hubunganku dan julia yang baru berjalan 2 minggu.
"Dress yang indah tante" Komentarku.
"Terima kasih, seseorang memberikannya padaku" Ucap Ibunya Julia sambil tersenyum.
"Aron Kau mencari julia ?" Ibunya menyapa dengan ramah.
"Iya tante, julia ada dirumah ?" Ibunya mengeleng, lalu terlihat berfikir.
"Tadi ada seseorang yang menjemputnya" Jawabnya.
"Seseorang, siapa tante ?"
"Aku tidak tau, mereka pergi menggunakan sepeda motor bersama seorang pria, pria itu yang kuingat mengenakan kemeja berwarna biru" Terang ibunya, aku mengangguk paham, setelahnya dia tersenyum.
"Baiklah aku akan mencarinya tante"
"Ya, jika ketemu bilang padanya jangan pulang terlalu larut"
"Baik tante, aku akan menyuruhnya pulang"
***
"Lia, kenapa kau disini ?" Tanyaku saat aku menemukannya disebuah toko kalung, kami sudah saling berhadapan satu sama lain.
"Aku membelikanmu ini" Julia menunjukanku sebuah kalung, dengan huruf A yang tertera disana.
"Terima kasih sayang" Dia tersipu malu dengan ucapanku.
"Apa kau suka" Aku mengangguk dengan pertanyaannya.
"Aku senang kau terlihat cantik dengan gaun putih pemberiannya"
"Ahh, iya apakah bagus ? Iya itu bagus" Pujiku padanya.
"Gaun merah pemberianmu hilang, sudah kucari kemanapun, tetap saja aku tidak bisa menemukannya, jadi kuputuskan membeli dress berwarna putih, kupikir akan lebih bagus jika aku memakai dress putih saat berkencan nanti. Lagi pula kau pernah bilang, menyukai wanita dengan dress panjang, dan rambut hitam yang terurai. Yahh meskipun dress ini tidak panjang, tapi aku sudah membeli sesuai warna kesukaanmu" Dia tersenyum setelah mengatakannya.
"Baiklah tidak apa, aku membawakan ini untukmu"
"Untuk apa ini ?" Dia sedikit penasaran saat aku menunjukan kain putih ini padanya.
"Untuk menutup matamu"
"Memangnya kenapa ?"
"Aku ingin memberimu kejutan" Seruku padanya, dia berfikir namun tak lama tersenyum.
"Baiklah, kau memang baik"
***
"Sudah sampai ?" Tanyanya padaku, aku membantunya untuk menuruni motor yang kami naiki.
Aku membuka kain yang menutup matanya "Sudah, sekarang buka matamu"
Julia membuka matanya perlahan, dia sedikit terkejut "Rumahku !"
"Ada apa ? Kau tidak suka" Wajahnya terlihat muram, namun setelahnya dia tersenyum.
"Tidak, aku suka" Aku tersenyum mendengar pengakuannya.
Kami berjalan masuk, dengan bergandengan tangan mencoba untuk menjadi romantis dalam semalam.
"Oh, iya aku juga sudah mendekor kamarmu. kau bisa melihatnya nanti"
Pintu dibuka oleh ibu Julia yang langsung memeluk anaknya, kami segera masuk, dan berjalan keatas, kelantai 2 rumah Julia, ketempat kamarnya berada.
Saat sudah didepan kamarnya, aku segera bersiap untuk membuka pintunya.
"Satu...dua..."
"Tiga" Pintu dibuka sempurna memperlihatkan seorang pria yang terduduk dengan kemeja biru yang sudah bersimbah darah.
"AYAHHH !" Pekik Julia.
"Dia ayahmu ?" Julia menangis namun aku segera menenangkannya.
"Ibumu sudah menyiapkan tempat untuk kencan kita" Aku segera merangkulnya, dan mengajaknya kebawah.
Dibawah ibu Julia sudah menyiapkan semuanya, aku segera mempersilahkan Julia duduk.
Ibu Julia segera meletakkan makanan, dan minuman untuk kami diatas meja, dia orang yang sangat baik. Setelahnya dia memakaikan bando dikepala sang putri, Julia tertunduk, dan menangis haru setelah dipakaikan bando itu oleh ibunya.
"Julia, kau sangat cantik dengan bando itu" Komentarku, dia tersipu saat aku merayunya.
Ibu Julia memasukan beberapa buah kayu kedalam perapian.
"Tante, kenapa kayu-kayu itu berbentuk seperti tangan, dan juga lihat ranting-rantingnya yang menyerupai jari jemari itu" Dia tersenyum.
"Aku mendapatkannya dari kamar Julia, entah mengapa kayu ini sangat basah" Keluhnya. Setelahnya Ibu Julia pergi dari sana.
"Julia, kau menangis sampai air matamu berwarna merah, aku tahu kau sangat bahagia. Tapi seka lah air matamu itu" Aku mencoba mendekat saat dia tida meresponku, lalu menyeka air matanya. Beberapa air matanya jatuh kedressnya, membuat bajunya terlihat aneh.
"Aku suka warna dressmu sekarang, itu terlihat seperti dress pemberianku" Aku kembali mendudukan diriku, lalu menatapnya yang masih tertunduk malu.
"Julia, angkat wajahmu, dan tatap aku" Julia tidak mengindahkan permintaanku, membuatku seketika naik pitam.
"Inilah mengapa aku membeci sifatmu Julia, kau terlalu arrogant, baik jika kau tetap seperti ini aku akan cari penggantimu" Ancamku padanya, yang masih tertunduk.
"Julianne " Ucapku lembut.
"Iya sayang ?" Dia keluar dengan dress pemberianku.
"Cantik sekali" Dia tersipu.
Lalu kami menghabiskan kencan malam itu, tanpa ada pengangu diantara kami.