Begitu banyak tumpukan komik di kamarku, komik favorit ku adalah komik slice of life atau komedi karya penulis 'Sunshine'. Aku adalah orang yang selalu menunggu karyanya yang akan terbit. Aku menyukai karyanya karena selain bagus, disana banyak motivasi untukku belajar menjalani hidup, tawaku juga selalu ada di setiap bait gambarnya. Namun, dia menghilang selama 5 tahun, tanpa ada kabar apapun, bahkan penerbit tempatnya bekerjapun tidak mengklarivikasi kabar apapun tentangnya.
~~~~~~
Aku tinggal di pinggiran kota besar, di bawah jalan tol. Setiap malam aku selalu duduk di teras sambil membaca komik, merasakan hembusan angin, melihat kelap-kelip bintang, dan yang paling utama adalah melihat lampu kendaraan yang berlalu lalang di atas jalan tol.
Kini aku kesap tapi aku tidak bisa melampiaskannya. Pasalnya, kini aku tidak bisa melihat indahnya kelap-kelip lampu kendaraan di jalan tol, dan bintang di langit lagi karena saat ini, sebuah bangunab yang telah rampung di bangunan berada di depan tempat tinggalku. Bangunan itu telah mengambil, segalanya diriku. Dari mulai, pemandangan jalan tol, pemandangan langit, hembusan angin hingga sinar matahari. Yang lebih menyebalkannya lagi, di bangunan itu sudah ada orang yang menempatinya.
"Ayo ikut ibu, kita sapa tetangga baru sekalian anterin makanan ini ke tetangga baru kita." Kata ibuku menyuruhku.
Dengan kesal aku mengantarkan makanan bersama ibuku ke sana. Kami mengetuk pintunya beberapa kali, tapi dia baru membuka pintunya setelah kami mengetuk tujuh kali (keterlaluan).
Seorang pria muda yang tampan, tinggi dan ramping, berkulit putih dengan hidung yang mancung, cocok sekali jika aku menikah dengannya untuk memperbaiki keturunan. Tetapi, dia bukan tipeku!
Ya, memang tipeku juga sepertinya tetapi ada yang kurang. Aku menyukai pria yang memakai kaca mata (yang Kesannya seperti kutu buku), pria yang memiliki 2 sisi (humoris tapi serius), wajah yang misterius (saat diam menjadi serius, saat senyum membuat meleleh). Sedangkan dia (tetangga baru ku) wajahnya terlalu manis sebagai seorang pria. (aku takut kalah manis)
~~~~~~
Waktu terus berjalan, setiap aku berangkat sekolah dia selalu duduk di teras rumahnya, sambil menatap kosong ke depan. Rumahnya selalu sepi dan dia selalu di rumah, aku mengambil kesimpulan dia adalah seorang pengangguran kesepian. Karena setiap hari aku selalu di suruh ibuku untuk mengantarkan makanan kerumahnya. (menyebalkan!)
Hari kelulusan ku telah datang, orang tuaku menyuruh pria itu datang ke acara kelulusan ku, untuk menggantikan orang tuaku, padahal setiap kelulusan orang tuaku memang tidak pernah hadir.
Ia membawa motor ayahku dan menyuruhku untuk pulang bersamanya. Raut wajah kesal aku pasang, tatapan sinis aku lontarkan padanya, agar dia menjauhi keluarga ku.
"Kenapa kau selalu seperti itu kepada ku, apa aku berbuat salah padamu?"
"Aku tidak suka padamu karena kau menyebalkan, kau bukan tipeku." Geram ku padanya.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Terserah, tapi jangan dekati keluargaku lagi!"
"Maafkan aku, aku akan membuatmu menyukai ku." Katanya dengan memperlihatkan gigi putihnya.
Deg...
Apa ini senyumnya itu, seperti.....
Zras.....
Tiba-tiba hujan mengguyur kami, kami mencari tempat untuk berteduh.
"Kenapa tiba-tiba hujan ya. Kalo aja sekolah kamu gak jauh kita pasti udah nyampe rumah. Hei...kenapa kau diam."
"Jangan mengajakku bicara."
"Hahaha..sorry. Kau itu sangat menyeramkan ketika marah, tatapan sinis itu juga sangat tajam. Tapi kau sangat manis ketika tersenyum. Apa aku boleh membuatmu tersenyum?"
Dia mengatakan hal itu lalu menatap ku dengan senyuman seperti tadi.
"Diamlah."
Aku takut berdebar melihatnya seperti itu, meski dia belum termasuk tipeku, dia tetaplah lawan jenisku yang bisa saja membuatku melupakan tipeku.
~~~~~~
Setelah hari kelulusanku, aku juga menjadi pengangguran karena aku tidak lolos ujian masuk universitas. Mencari kerja juga belum ada yang menerima. Aku jadi lebih sering melihatnya dan bertemu dengannya. Terkadang dia juga membantu ayahku di rumah, karena di rumah kamu hanya ada 1 pria yaitu ayahku.
Kami menjadi semakin dekat tanpa aku sadari. Aku juga jadi melihat sisinya yang seperti tipeku. Dia orang yang selalu memakai kacamata ketika si dalam rumah, serius saat si depan komputer, dan ceria saat di depan orang-orang. Dia ternyata orang yang humoris, dan menyukai buku.
Kebenaran yang tidak bisa aku terima adalah dia ternyata tipeku.
"Apa kita sudah sedekat ini hingga kau berani mengajakku pacaran."
"Aku lebih tua 4 tahun darimu, berkata manislah sedikit."
"Aku hanya akan menikahi idola ku 'Sunshine'."
"Apa hebatnya dia."
"Kau tidak boleh berkata seperti itu tentangnya, dia adalah motivasi dan semangat ku. Mundurlah kau tidak ada apa-apanya di bandingkan dia."
"Justru aku mengatakan hal itu karena aku mengenalnya."
"Bohong. Aku tidak percaya."
"Dia akan comebeck pada tahun ini, jika benar apa kau akan percaya padaku?"
Entah dia berkata benar atau hanya kebetulan, selang beberapa hari, ada kabar dari penerbit tempat komikus Sunshine bekerja, bahwa ia akan comebeck pada tahun ini. Setelah kabar itu, dia mendatangiku.
"Maukah kau menjadi 'muse' ku?"
Setelah mendengar perkataanya, aku tidak mengerti maksudnya. Dan lagi-lagi dia membuat ku terkejut hingga ternga-nga tak bisa berkata. Dia adalah idolaku 'Sunshine' yang telah lama menghilang.
"Maaf karena aku telah menghilang, hari-hari itu sangat sulit buatku, tapi sejak aku di sini dan melihat mu, aku mulai menemukan kembali kehidupan ku."
"Terima kasih karena kau adalah Muse ku, maaf jika aku mengganggumu. Oleh karena itu aku ingin meminta ijinmu secara resmi, mau kah kau berjalan bersama ku dan menjadi Muse ku?"
Awalnya aku ragu dan banyak berpikir hingga aku mengambil keputusan terakhir yang tidak boleh membuat kami terluka dan menyesal.
Kini komikus 'Sunshine' akan comebeck bersama 'Hope flower' dan memilih genre baru yaitu romance dengan bumbu komedi.