Sebut saja nama ku Joko, aku telah lama bekerja di Jakarta sebagai Seorang kuli bangunan.
Aku telah memiliki istri dan anak.
Anakku tiga orang. Setiap mau lebaran aku pasti pulang kampung di tempat tinggal ku di Purwekerto.
Namun sejak terjadi pandemi pada tahun lalu hingga tahun ini , amat sulit ternyata untuk hanya sekedar melepas rindu dengan keluarga.
Di jalan-jalan yg mesti di lalui banyak sekali pemeriksaan oleh pihak yg berwajib. Hingga tahun lalu terpaksa lah kupendam keinginanku untuk bertemu keluarga.
Suatu hari di saat bulan Ramadan di tahun 2021, bertanya lah Seorang teman ku yg masih muda sebut saja Deni. Ia bertanya kepada ku, " pakde lebaran tahun ini akan mudik ,?" tanyanya kepada ku.
" Entahlah Den, rasa-rasa nya sulit untuk mudik, karena pemerintah melarang nya,!" jawab ku.
" Seperti nya memang begitu pakde, berarti sudah dua tahun aku tidak sungkeman pada ibuku,!" tutur Deni dengan nada kecewa.
" Iya, berarti dua tahun ini tidak mendengar takbiran keliling yang ada di kampungku,!" balas ku.
" Heh bagaimana kalau kita tetap mudik kali ini,?" tanya Deni kepada ku
" Bagaimana cara nya kita melewati pemeriksaan yg banyak dan rapat begitu?" tanya ku balik kepada Deni.
" Aku punya ide, pakde,!" kata Deni yg segera membisiki sesuatu kepada ku.
" Boleh juga,!" jawab ku.
Kami kemudian melanjutkan pekerjaan hingga sampai saat nya istrahat.
Setelah itu kami pun melanjut kan pekerjaan sampai batas waktu untuk pulang ke barak .
Hari berganti hari, saat lebaran tinggal lima hari lagi oleh mandor kami telah di berikan Thr alakadar nya dan ia pun bertanya kepada kami apakah akan mudik tahun ini mengingat tahun yg lalu tidak.
Deni kemudian menjawab ," kalau mandor ngasih ongkos ya kami mudik,!" ucap nya.
" Lah wong sudah di beri Thr kok malah minta ongkos lagi Den,!" tanya mandor heran.
" Soal nya dor, biaya bensin mahal,!" balas Deni.
" Mahal dari Hongkong, harga BBM kan tidak naik,?" tanya Mandor heran.
" Memang sih Harga BBM tidak naik, akan tetapi kalau kami mudik BBM pasti banyak habis,!" jawab Deni kepada sang Mandor.
" Kok Bisa?" tanya Mandor heran.
" Ya, iyalah ndor, kami kan mesti mencari jalan yg tidak di lalui orang, supaya menghindari pemeriksaan, kalau lewat jalan biasa otomatis kami takkan pulang,!" jelas Deni.
" Memang Kampungmu dimana Den?" tanya Mandor.
" Kulonprogo Ndor,!" jawab Deni .
" Cukup jauh ya Den,!" ujar mandor.
" Begitulah Ndor, berapa pemeriksaan yg harus kami lalui, dan berapa jalan tikus yg mesti kami masuki ,!" jelas Deni yg otak nya lumayan pintar sayang kehidupan yg sulit membuat ia harus putus sekolah dan bekerja di Jakarta tanpa keahlian.
" Nanti akan ku tanyakan kepada pemborong apakah ada uang tambahan untuk beli bensin kalian,!" ucap mandor sambil berlalu dari situ.
Keesokannya kami, aku dan Deni mendatangi salah seorang supir truk yg berada di dekat tempat kami bekerja yg biasa membawakan bahan material ke tempat kami , ia kami kenal dan masih dari daerah Jawa tengah.
" Pak Sucip kapan kembali ke Jawa,?" tanya Deni kepada Sucipto salah seorang supir truk itu.
" Lebaran kurang tiga hari Den,!" jawab pak Sucip.
" Kami bisa nebeng,?" tanya Deni.
" Wah mana berani aku membawa kalian, bisa-bisa aku tidak sampai ke kampungku,!" ucap pak Sucipto.
" Beres deh kalau soal ongkos, kami lebih kan dari biasanya, soalnya sudah dua tahun ini kami tidak mudik,!" jelas Deni kepada Sucipto.
Lama supir Truk itu berpikir, dan ia pun sebenarnya kasihan melihat mereka sudah tidak mudik tahun kemaren dan kini larangan itu pun masih berlaku karena ada nya pandemi covid 19.
" Memangnya kalian berapa orang Den,?" tanya pak Sucip lagi.
" Kami lima orang, Aku, pakde , wisnu, parman dan Andi ,!" jawab Deni.
Pak Sucipto memandang lama ke arah aku dan Deni,
" Baiklah , kalau cuma berlima biarlah, nanti kita tutup terpal Truk ku ini supaya kalian didalam tidak kelihatan,!" jawab pak Sucipto lagi.
" Tetapi kami membawa motor , pak nanti kami taruh di belakang truk supaya ada alasan pak Sucip, jika nanti di tanya polisi,!" kata Deni.
" Atau mereka malah curiga mengapa ada motor di dalam truk,!" kata pak Sucipto.
" Pokoknya kalau ada pemeriksaan , pak Sucip cepat memberi kode supaya kami bisa bersembunyi di bawah barang-barang,!" kata deni lagi.
" Sip lah pokoke,!" jawab pak Sucipto.
Setelah Ramadan tersisa tiga hari lagi maka Aku dan Deni di tambah tiga orang lagi teman kami kemudian bersiap mudik menggunakan truk pak Sucipto.
Truk itu bermuatan bahan-bahan sembako yg di pesan dari kampung pak Sucipto.
Setelah kami susun secara rapi maka kami pun naik dan duduk di bawah tumpukan barang-barang bawaan pak Sucipto,
" Cukup sumpek ya Den,!" kata ku kepada Deni.
" Biarlah pakde, sing penting iso tekan neng kampung,!" jawab Deni.
Memang di dalam Truk yg di tutupi terpal amat pengap, namun tetap kami lakukan agar dapat bertemu keluarga di kampung.
Perjalanan kami terbilang lancar, walaupun beberapa kali pemeriksaan, pihak yg berwajib tidak dapat menemukan kami karena pak Sucip tetap memberi kode apabila terjadi pemeriksaan.
Yg pertama kali turun adalah Wisnu yg kampung nya berada di Jawa barat, kemudian parman, Andi, Aku dan terakhir ada lah Deni.
Itulah kisah kami saat mudik di masa pandemic.