Doni dia adalah tetangga ku, orang baru yang tinggal tepat di depan rumah ku, yang aku tahu di CEO di PT bakti buana.
"halo" ucap Doni setiap kali dia selalu datang ke rumah ku setiap harinya.
"iya, ada yang bisa saya bantu" jawabku.
dia hanya menggelengkan kepalanya dan terus' memandang ku, "kamu cantik" ucapan itu yang selalu terngiang-ngiang di telinga ku.
seketika wajahku berubah menjadi sedikit panas, dan ku tahu jika telah terasa panas berarti wajahku berwarna merah tanda rasa malu.
"ada yang bisa ku bantu" tanya Doni setiap kali mengunjungi rumah ku.
"tidak ada terimakasih"
"untuk..."
"hah ... "seketika aku terdiam seakan otak ku tak berfungsi untuk berpikir.
wajahnya yang tampan rupawan, style yang terlihat sangat pas dengan postur tubuh tinggi tegap.
"kamu tahu nggak " tanya Doni.
"nggak kan kamu belum bicara " jawabku tanpa menoleh tangan dan mata ku sibuk dengan tanaman yang selalu ku rawat.
"ada yang lebih cantik dari bunga itu" ucap nya.
"ya aku tahu banyak yang lebih cantik di luaran sana"
"bukan di luar tapi di sini "
"hah dimana Bunya yang mekar baru satu sedangkan yang lain masih menjadi kuncup bunga."
"tepat di depanku, di hadapan ku wanita yang memiliki paras cantik melebihi bunga yang sedang kamu pegang".
seketika aku terkejut dan berbalik untuk melihat ke arahnya, tanpa sengaja aku menabrak dia yang telah berdiri di hadapan ku tanpa aku tahu sejak kapan dia berdiri.
aku pun mundur 2 langkah namun kaki tak sengaja menabrak pas Bunga yang baru saja ku bersihkan dari rumput-rumput liar aku pun hampir terjatuh beruntung dia dengan sigap menangkap tubuhku.
pandangan mata nya yang sangat dalam menatap mataku sedikit menarik sudut bibir ku untuk tersenyum.
"aduh maaf-maaf saya tidak sengaja" ucap ku setelah aku sadar dari pandangan yang begitu mendamaikan.
tatapan tajam bagaikan mata elang bukan membuat ku takut, namun sebalik aku seakan menyukai mata indahnya itu namun ku juga masih bisa berpura-pura santai hatiku berdebar tak karuan.
"lain kali hati-hati " ucapnya.
"baiklah maaf karena saya tidak hati-hati, baju ka Doni kotor" ucap ku dengan tak enak hati karena tadi refleks menariknya.
"tidak apa-apa baju bisa di cuci, tapi permaisuri di hadapan ku jangan sampai jatuh lagi" ucapnya dengan senyum manis yang dia berikan.
'aduh gawat-gawat kenapa jantungku semakin berdetak dengan kencangnya' batin ku.
"biarkan aku yang mencucinya, sebagai tanda permintaan maaf karena baju kk kotor akibat ulah ku".
"tidak usah,,,"
dia selalu bersikap baik dan perhatian kepada ku, menemani hari-hariku dengan penuh gombalan yang dia ucapkan, namun aku tak terlalu memikirkan semaunya.
aku menganggap dia hanya sebagai tetangga tidak lebih dari itu, tetangga yang sangat baik dan tak mengenal kata malu, di jaman sekarang ini biasanya para pengusaha apalagi CEO akan sangat sombong kepada orang miskin seperti aku namun berbeda dengan nya yang selalu baik kepada setiap orang.
"aku besok kembali ke kota ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di sana" ucap Doni secara tiba-tiba.
"deg ..."
jantung ku seakan berhenti berdetak, bahkan hanya untuk mengambil sebuah nafas saja terasa berat nan sesak di dada.
"kenapa bilang sama saya" ucapku yang mencoba berdamai dengan diri ku sendiri.
"aku hanya memberi tahu,, jangan rindu ya.
rindu itu berat cukup aku saja yang merindu kata Dilan" ucapnya dengan sedikit tawa.
"siapa yang akan merindukan kk tidak usah GR." ucap ku dengan santai.
"baiklah-baiklah"
kami menghabiskan waktu setiap harinya dengan hanya berbincang-bincang ria tanpa alur yang jelas.
sore hari dia pulang ke rumah nya dan aku pun masuk ke rumah ku. ada sedikit sesak di hati saat mengetahui dia tak akan kembali ke tempat ini.
"jika kamu bermain ke kota datanglah ke kantor ku atau ke alamat ini, jangan lupa mampir aku pasti akan sangat merindukan mu ,, maaf jika selama ku tinggal di desa ini selalu merepotkan mu" ucap Doni sebelum pulang ke rumah nya.
"tidak merepotkan kok, justru saya yang lebih merepotkan kk" ucap ku.
"kemungkinan besar aku tak kembali ke sini" ucapnya, dan ku hanya mengangkat alis sekedar bertanya tapi berat untuk aku mengucapkan kata.
"walaupun rumah itu sudah ku beli tapi aku tak kembali lagi aku serahkan kuncinya sama kamu ya tolong di bersihkan dan di rawat jika kamu mau tempati lah rumah ku" ucap nya dengan tulus dan penuh keseriusan.
"apaan sih ya nggak lah ngapain nempatin rumah orang seperti aku tak punya rumah saja" ucapku.
dia hanya mengangguk terlihat sorot matanya yang bersedih namun dia langsung pamit dan pergi.
malam harinya aku duduk di depan jendela, sengaja ku buka sedikit jendela kamarku untuk membiarkan udara malam masuk.
angin yang menerpa tubuh membuat ku merasakan sejuk dengan penuh kedamaian.
seketika aku teringat dengan ucapan Doni siang tadi yang hendak kembali ke kota dan tak akan kembali ke kampung yang dia tempati selama 2 Minggu ke belakang.
"kenapa kamu pergi Don,
adanya kamu disini membuat ku sedikit merasa tenang
hati yang sunyi kini kembali bersinar,
namun hanya sebentar saat kau datang dan pergi bersama perginya dirimu,
apakah kau malu tinggal di kampung,
upss aku lupa jika dirimu CEO derajat kita sangat jauh aku hanyalah abu bekas Bakaran api sedangkan kamu adalah apinya."
aku terus memandangi ke luar jendela dengan bintang yang bertabur di langit luas, bulan yang menyinari bumi sekarang menambah suasana yang romantis jika di lihat oleh dua orang manusia yang saling memadu kasih menjalani cinta.
"jangan datang untuk pergi
jangan kembali untuk menyakiti"
aku bisa bahagia walau tanpa dirimu, satu hal yang perlu kamu ketahui wahai tetangga ku.
aku menyimpan rasa kepada mu namun aku tak bisa mengungkapkan semua rasa itu.