Hiduplah sepasang suami isteri di tepi hutan. Sudah bertahun-tahun mereka menikah. Tapi belum juga mendapatkan momongan. Hingga suatu ketika sang suami berpamitan pada sang istri untuk masuk hutan mencari rotan. Setelah menebang bebarapa rotan, sang suami beristirahat sejenak di bawah pohon yang rindang.
Angin yang bertiup di tengah teriknya panas membuat matanya secara perlahan mulai tertidur.
Di dalam lelapnya, sang suami bermimpi yang belum pernah di alaminya.
Seakan sang suami bertemu dengan sosok tinggi besar dan tertawa menatapnya, seakan tahu akan gundah hatinya selama ini. Sosok tinggi besar ini memberikan jalan keluar.
"Hahahaha ... suara tawa sosok ini."
"Kau ingin anak dan itu yang menjadi gundah hatimu!"
Sesaat sang suami termenung mendengar ucapan sosok ini. "Bagaimana kau tahu jika itu yang selama ini menjadi sumber masalah di rumah tanggaku?"
Kembali sosok ini tertawa kencang.
"Untuk urusan itu sangatlah muda bagiku. Tapi ... ada satu syaratnya," ucap sosok ini lagi .
"Aku akan memberi mu sesuatu. Tapi, jika anak itu telah lahir dan berusia dua tahun kau harus menyerahkan padaku. Apa kau sanggup dan menyetujui nya?" Kembali sosok ini bertanya.
Lama sang suami termenung dan berfikir. Hingga akhirnya sang suami setuju akan persyaratan itu.
"Ya. Aku setuju," ucap sang suami.
Sosok ini kemudian kembali tertawa hingga beberapa saat. Kini sosok ini tengah memberikan sesuatu pada sang suami.
"Tanamlah ini jika nanti berbuah, pilih lah buah yang paling besar dan berkilau di sana nanti kau akan mendapatkan anakmu."
Setelah berkata demikian sosok ini pun segera menghilang dan sang suami memegang erat pemberian sosok dalam mimpinya.
Hingga beberapa menit sang suami terbangun saat merasa ada sesuatu yang menyentuh kakinya.
Teringat akan mimpinya, sang suami segera membuka genggaman tangannya kemudian tersenyum.
Kini sang suami dengan cepat berlari menembus tengah hutan dan melupakan rotan yang telah di tebangnya.
Dengan nafas tersengal sang suami tiba di rumah dan menceritakan semua yang di alaminya di tengah hutan. Merasa tak percaya dengan apa yang di dengarnya sang isteri dengan tak sabar ingin segera menanam biji-biji itu.
Semua benih pemberian sosok misteri dalam mimpinya itu telah di sebar dengan sabar dan telaten sepasang suami isteri ini merawat biji itu.
Hari berlalu dengan cepat dan biji-biji ini sudah tumbuh subur dan cepat berbuah tak menunggu hitungan bulan, telah tumbuh buah yang mirip mentimun. Tapi ada satu buah yang begitu besar dan berkilau seperti emas.
Mengingat pesan sosok misterius dalam mimpinya akhirnya sepasang suami isteri itu memilih timun yang terbesar .
Dengan tersenyum bahagia sepasang suami isteri membelah mentimun itu. Begitu melihat isi dari buah mentimun ini. Sepasang suami isteri ini tersenyum bahagia dan langsung menggendong bayi perempuan yang cantik ini.
Waktu berlalu dengan cepat tak terasa bayi yang di beri nama Timun mas itu sudah berusia dua tahun.
Sesuai perjanjian. Sosok tinggi besar ini datang dan menagih janji pada sang suami, karena rasa sayang dan cinta pada sang anak, akhirnya sang suami meminta sosok tinggi besar ini, untuk kembali lagi dua tahun mendatang.
Dengan kesal akhirnya, sosok ini menurut dan akan kembali dua tahun ke depan.
Sang suami menatap lekat anaknya. Anak yang tumbuh dengan cantik dan mulai rasa takut kehilangan muncul dalam hati sepasang suami isteri ini.
Akhirnya sang suami bertekad turun ke dusun untuk mencari kabar. Akhirnya setelah beberapa hari sang suami mendengar kabar baik, bahwa ada seorang pertapa di sebuah gunung yang bisa membantunya.
Akhirnya dengan tekad nya sang suami mendatangi sang pertapa dan menceritakan semua yang terjadi.
Setelah melalui ritual sang pertapa menyuruh sang suami untuk pulang dan membarikan empat bungkus benda pada sang suami .
Melalui perjalanan panjang akhirnya sang suami tiba di rumah. Sang isteri mengetauhi kedatangan sang suami menyambutnya dengan gembira.
Waktu perjanjian kedua pun telah datang dengan suara keras dan lantang sosok ini menagih janji.
Mengetauhi kedatangan sosok ini. Akhirnya sang isteri menyuruh anak gadisnya untuk pergi lewat pintu belakang.
Namun, kepergian anak gadis ini di ketauhi oleh sosok ini. Mengetauhi kepergiannya di ketauhi, anak gadis ini berlari dengan cepat. Hingga anak gadis ini hendak tertangkap. namun, ingat akan pesan sang ayah, akhirnya anak gadis ini menebar bungkusan yang pertama, begitu isi dari bungkusan yang pertama di sebar. Kini tumbuh pohon mentimun yang tumbuh dengan subur dengan buah yang besar besar.
Sejenak sosok ini melupakan misinya untuk memakan anak gadis ini dan dengan lahap nya sosok ini memakan semua timun itu dengan tandas. Bukannya menjadi lemah, tapi sosok ini semakin kuat.
Melihat sosok ini semakin kuat. Akhirnya anak gadis ini kembali berlari. Namun, langkahnya terhenti saat berada di tepi jurang, teringat akan bungkusan yang kedua akhirnya anak gadis ini menebar bungkusan yang kedua yang berupa jarum tak lama tumbuh pohon bambu yang rimbun dan tinggi tinggi.
Dengan berjalan di antara pohon bambu anak gadis ini kembali berlari lagi.
Sedangkan dengan kesaktiannya sosok ini berhasil menghancurkan rimbunya pohon bambu dalam sekejap.
Melihat buruannya kembali lepas, sosok ini kembali mengejar hingga mereka tiba di dataran yang luas dengan lelahnya anak gadis ini mengambil kantong yang ketiga dan menaburkannya dalam sekejap daratan ini sudah menjadi lautan. Tapi dengan kesaktiannya sosok ini kembali mampu mengejar anak gadis ini.
Rasa lelah yang menderannya, akhirnya anak gadis ini kembali berusaha untuk berlari jatuh dan bangun dan kembali terjatuh .
Hingga sosok ini semakin mendekat dengan segera anak gadis melempar isi dari kantong yang keempat , dengan segera benda yang mirip terasi di lempar ke arah sosok ini. Dalam sekejap tempat berpijak sosok ini menjadi lautan lumpur yang meletup akhirya sosok ini meninggal tenggelam dalam lumpur yang mendidih .
Akhirnya end