Tepat hari ini, aku secara kebetulan mengetahui bahwa tetanggaku rupanya adalah idolaku, sudah sangat lama aku menyukainya! Apa aku harus menyapanya? Atau cukup melihatnya dari jauh saja?
Tidak, tidak! aku tidak akan membuang kesempatan emas ini. Kapan lagi aku bisa sedekat ini dengan idolaku? Wajah tampannya, perutnya yang kadang ku intip di dunia maya, Oh Tuhan terima kasih kau telah menurunkan mahluk tampan ini.
"Jadikan dia jodohku Tuhan, jika jodohku bukanlah dia maka berikanlah yang mirip dengan dia. Jika yang mirip dengan dia juga masih bukan jodohku maka biarkan aku berjodoh dengannya di hari tua nanti. Tidak apa-apa keriput Tuhan aku tetap suka!" itulah ucapanku saat berdoa sembari melihat gambarnya dari layar ponselku 9 tahun yang lalu.
Siapa sangka jika doaku di kabulkan setelah 9 tahun lamanya? Bertemu dengan dia idolaku di usia yang tak lagi muda. Aku bertemu dengan dia sekarang ini. Ya sekarang ini di saat aku tengah mengenakan daster dengan rambut yang super berantakan sembari menarik tangan anakku. Kami berlari keluar ketika getaran gempa itu terjadi.
Dan dia idolaku, Dennis Harzen dia dahulu adalah aktor mahal, namun namanya hilang karena sebuah gosip dan kandal dengan istri pejabat. Namun begitu entah mengapa aku tetap mengaguminya. Wajah tampannya tak luntur digerus jaman.
"Mama, tolong kedipkan matamu. Aku takut nanti ada kumbang yang membuatmu kelilipan," kata anakku yang sepertinya sengaja menjatuhkanku di hadapan manusia tampan ini.
"Ish!" aku mendengus dengan melebarkan mataku. Iya aku tengah memelototi anakku. "Jaga mulutmu, apa kamu tidak mau Mama carikan Papa baru?" bisikku pada putraku.
"Papa baru?" Ia mendongak menatapku yang masih berantakan ini.
Aku mengangguk melihatnya dan dia seperti tengah memindai keberadaan objek yang ku sebut sebagai 'Papa baru'. "Apa itu?" ucapnya lantang dengan jari yang menunjuk Dennis yang berdiri tepat di sampingku.
Seketika Dennis menoleh dan melihat kami. Dia tersenyum melihatku. Sumpah jantungku bisa tidak sehat kalau terus begini. Tatapan matanya membuatku membeku. Begini rasanya di tatap oleh pria tampan?
"Mendiang suamiku, tolong jangan hantui aku setelah ini. Aku begini saat masa idahku sudah selesai," batinku dalam hati agar tak di mimpikan oleh almarhum suamiku yang meninggal 2 tahun lalu.
Dennis tersenyum dan semakin mendekatiku. Akupun semakin deg-degan tidak karuan. Ia mendekat dan tangannya terulur ingin membelai kepalaku. Aku bersiap dan menutup mataku. Sumpah dia membuatku jantungan.
"Mbak, maaf itu di rambutnya ada sikat gigi," katanya sembari mencabut sikat gigi dari rambutku yang super kusut.
Ya ampun!! adakah yang bisa sulap? Aku sangat malu. Bisakah pindahkan aku ke Korea Selatan? Aku ingin menjadi babunya Jungkook saja, setidaknya aku tidak malu begini. Aku menerima sikat gigi sialan itu dan, dia memanggilku lagi.
"Mbak, pakai baju saya saja," ucapnya dengan sopan di tengah hiruk pikuk para tetangga yang lainnya yang juga menyelamatkan diri.
"Kenapa harus pakai baju dia? Kita tidak habis melakukan uh ah uh ah 'kan?" batinku. Aku menatapnya aneh hanya saja memang punggungku terasa sangat sejuk seperti berada di dalam kulkas baru dengan suhu 5°.
"Kenapa ya Mas?" tanyaku dengan gugup mencoba memberanikan diri, sebenarnya aku takut saat bicara nafasku bau. Maklum saja, gempa terjadi pukul 3 dini hari. Aku takut saja saat menyahut dia malah pingsan karena gas beracun dari mulutku.
"Itu Mbak Daster Mbak punggungnya sobek lebar hampir ke pinggang," katanya dengan berbisik di telingaku.
Oh My Lord! Aku menyesal mengapa tidak mengikuti serial Naruto kesukaan anakku? Setidaknya di saat seperti ini aku bisa menghilang dengan jurus bayangan.
Dennis dengan segera memakaikan kemejanya padaku. Aku hanya mematung dan menerimanya begitu saja. Dari saat itu, kami sering bertemu dan sedikit bertegur sapa.
Lalu sekarang, dua tahun setelah kejadian itu, aku berada di sini. Aku berada di rumahnya sambil menggendong anaknya dan menyuapinya sambil menunggu yang punya rumah pulang. Kalian pasti mengira aku yang hobi berdaster ini menjadi pembantunya. Iya 'kan?
Maaf, aku menjadi istrinya di usianya yang tak lagi muda. Kami menikah di usianya yang sudah 45 tahun dan aku 40 tahun. Keajaiban memang kami masih bisa memiliki anak di usia tua. Tidak ada yang tidak mungkin di Dunia ini jika Tuhan sudah berkehendak.
Banyak Asam manis kisah yang kami lewatkan untuk sampai pada tahap pernikahan. Aku mengidolakannya dan sekarang malah menjadi istrinya? Doa ku terkabul setelah 11 tahun lamanya.
kini aku mengerti, terkadang Tuhan tidak melulu mengabulkan sesuatu melalui cara yang indah. Seperti aku contohnya, bertemu dengan dia ketika ditimpa musibah dan sebuah awal yang memalukan yang malah membuat kami sering bertemu setelahnya. Berwa dari baju kemejanya yang ternayata muat di badanku dan kini anaknya pun keluar dari rahimku.
Mengapa bisa kami bertetangga tapi tidak pernah saling sapa? Aku sering memikirkan hal itu, dan sekarang aku bertekad untuk menanyakan hal itu padanya.
"Pa," panggilku padanya yang masih memeluk putri kecil kami dan aku tengah memijit kakinya.
"Hm?" sahutnya hanya secuil.
"Sebenarnya Papa tinggal di lingkungan sini sudah berapa lama?" tanyaku yang membuat dia kemudian duduk dan menatapku.
"Kenapa memangnya Ma?"
"Ya, Mama 'kan baru di sini. Mama pindah disini baru 5 tahun ini dan baru bertemu papa saat gempa terjadi."
"Papa sudah di sini dari 15 tahun yang lalu, Papa memang jarang keluar Ma, Mama tahu 'kan, bagaimana masyarakat menilai Papa karena skandal itu. Cuma Mama saja yang mau mengenal Papa lebih jauh di sini," ucapnya sambil bergantian memijit lenganku.
"Yah, Pa. Bagaimana Mama bisa menolak untuk dekat sama Papa orang Mama aja dari mulai Papa muncul di TV udah suka," jawabku yang kelepasan. Aku tahu setelah ini suamiku ini akan bertingkah seperti apa.
"Ehem!" dia berdehem dan kemudian memelukku. "Terima kasih Ma, sudah menjadi penggemar setiaku sampai saat ini. Meskipun aku banyak tertimpa berita miring," katanya dengan penuh haru.
"Dulu Pa, Mama itu selalu bilang seperti ini, ya tuhan jodohkan aku dengan dia, sudah keriput pun tidak apa-apa Tuhan!" celetuk putraku yang menirukan bagaimana aku berdoa secara asala di depan TV.
"Itu Mama begitu pas sudah janda apa belum Kak?" tanyanya penuh selidik.
"Untungnya pas udah janda Pa, makanya Kakak biarkan saja Mama berhalusinasi untuk menjaga kewarasannya," jawab putraku dengan acuhnya. memang anakku itu sangat pandai dalam membuatku malu.
Dennis, idolaku yang menjadi suamiku. malu saja sekarang rasanya setiap kali dia membahas hal itu. Namun aku bersyukur setelah kami menikah, karirnya kembali menanjak. Dia kembali dan memulai semuanya dari awal. Sedangkan aku selalu menjadi rumah tempatnya kembali. Itulah asam manis kisah kami. Banyak perjuangan yang harus kami tempuh untuk sampai pada tahap ini, termasuk meyakinkan keluargaku akan sosoknya yang dinilai miring.