Sore begitu terasa teduh dengan semilir angin yang melenakan, sementara itu mentari sudah mulai condong ke ufuk timur, menyisakan riak warna jingga yang sangat menggoda, seorang gadis tengah berdiri di teras balkon rumahnya, menatap pada kejauhan. Tatapannya bergerak lincah mengikuti arah objek pandangnya, sesekali bibir tipisnya melengkung membentuk sebuah senyuman, sesekali dahinya mengernyit, dan sesekali ada rasa khawatir dalam raut wajahnya.
Sementara itu, terdengar suara seorang penceramah muda yang sedang naik daun di wilayahnya, memberikan tausiyah kepada para jamaahnya.
‘Jodoh dalam bahasa indonesia itu bisa diartikan pasangan, seperti yang telah dituliskan dalam al-quran bahwasannya segala sesuatu telah ada pasangannya, hanya saja ada jodoh yg sudah di tetapkan dan tidak bisa dirubah, seperti contohnya malam dan siang, langit dan bumi, terang dan gelap, dan lain sebagainya. Sementara itu untuk manusia diberi kebebasan yang terbatas untuk memilih jodoh, manusia memiliki kemampuan untuk berusaha, dan jodoh adalah takdir yang bisa diusahakan, silahkan berusahalah untuk mendapatkan jodoh masing-masing, minimalnya berdo’alah untuk mendapatkan jodoh terbaik, karena bisa saja jodoh yg diusahakan bisa jadi susah, bisa jadi mudah, sama halnya seperti rizky, kadang kita mencari rizky itu susah, kadang bisa jadi juga mudah, karena jodoh adalah bagian dari rizky.’
Gadis tersebut menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan, tatapannya masih tetap pada objek yang sama.
“Oyyyy!! Kakak di sini ternyata!”
Gadis tersebut mengerjap kaget, lalu menatap pada sosok yang baru saja membuatnya terperanjat.
“Apa sih? Ngagetin aja” dengusnya kesal, kemudian mengalihkan tatapannya pada arah depan, kembali pada fokus semula, seolah tidak ingin ketinggalan moment apapun dari tingkah sosok yang beberapa bulan terakhir tengah dia kagumi.
“Namanya Dika”
Gadis itu kembali menoleh pada gadis yang usianya beberapa tahun dibawahnya, ada raut senang, namun dengan segera dia menetralkan fikirannya.
“Gak nanya” dia menyembunyikan senyumnya, sementara angin masih berhembus, mengurai rambut lurusnya yang tengah digerai.
‘Oh, jadi namanya Dika? Tapi ... nama lengkapnya siapa?’
Gumaman dalam hati, hanya dia dan Allah saja yang tahu.
“Gak nanya tapi penasaran kan??” gadis disampingnya menyenggol bahunya, lalu terkikik geli.
“Gak juga” dia mengedikan bahunya acuh.
“Dia masih kuliah semester awal” gadis kecil itu kembali menjelaskan tanpa diminta.
‘Masih kuliah semester awal? Itu artinya selisih usia kita tidak terlalu jauh’
“Apa sih?” senyuman tak bisa lagi disembunyikan.
“Dia memang sering mengajari anak-anak komplek setiap harinya buat main sepak bola, dermawan banget kan??” gadis itu kembali menoleh pada gadis kecil disampingnya, terlihat dia tengah menaik turunkan alisnya.
‘Ya, dia dermawan, andai aku bisa bertemu langsung dengannya’
“Ngomong-ngomong kamu tahu dari mana sih latar belakang orang itu?” akhirnya, gadis itu tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
“Haha ... aku sudah tahu, kalau Kak Dijah penasaran, sini tak bisikin” gadis itu tergelak, lalu menarik kuping Kakaknya yang sedari tadi sudah memendam rasa penasarannya setengah mati.
“Aku tahu, karena aku sudah mencari tahu dari kemarin, cowok yang diam-diam Kak Dijah perhatikan sejak lama, dia masih tinggal di komplek sebelah, kalau Kak Dijah mau, aku bisa mintain nomor ponselnya juga” bisiknya dengan suara yang lumayan tinggi, hingga membuat Dijah terbelalak kaget, celingukan mengedarkan pandangan takut ada yang mendengar isi hatinya, yang tanpa sadar sudah di ungkapkan oleh adik semata wayangnya.
‘Tinggal di komplek sebelah? Di mana? Kenapa aku tidak pernah tahu?’
“Hush! Astri! Apaan sih?” wajah Dijah sudah merona karena menahan malu.
“Coklat ya Kak, seperti biasa” gadis itu mengacungkan dua jarinya, dengan wajah cengengesan.
“Yang nyuruh kamu buat jadi paparazi siapa sih??” Dijah mencubiti kedua pipi adiknya dengan gemas.
“Kak Dijah! Apaan sih? Sakit tahu! Aku ngelakuin semua itu karena kasihan lihat Kakak, cuman bisa bengoonnng aja tiap hari lihatin Dika dari kejauhan, kalau suka itu ya di kejar dong Kak” Astri mencebik.
“Apa sih? Siapa yang suka?” Astri mendelik tidak suka.
“Alah, udah gak usah malu-malu, lagi pula zaman sekarang udah musim kok cewek nembak cowok duluan” Astri masih nyerocos.
“Mana ada! Malu lah, harga diri mau dikemanain?” Dijah melengos tidak suka, pandangannya kembali tertuju pada sosok pria yang tengah mengejar bola bersama beberapa anak kecil lainnya, gerakannya yang lincah membuat Dijah semakin terpesona.
“Harga diri, gak penting harga diri, daripada Kakak jadi jerawatan gara-gara memendam rasa suka Kakak kan?” Astri memeletkan lidahnya, membuat Dijah lagi-lagi merasa gemas dengan tingkahnya.
“Jadi perempuan itu harus anggun, jangan sembrono, malu, nanti di cap perempuan genit, perempuan kecentilan gimana?” pandangan Dijah menerawang pada cakrawala.
“Halah, omongan orang di dengerin, yang paling penting itu bukan omongan orang Kak, tapi ini nih, hati kita yang paling penting, kita hidup untuk kebahagiaan diri kita sendiri, bukan untuk kebahagiaan oranglain” Astri kembali nyerocos dengan segala pendapatnya, sambil menepuk-nepuk dadanya pelan.
“Terserah kamu Astri”
Dijah beranjak pergi, meninggalkan Astri yang baru saja akan membuka mulut, bersiap kembali mengeluarkan suaranya, mengeluarkan segala pendapatnya.
“Kak! Coklatnya mana?! Kok aku ditinggal sih?” dengan langkah kesal Atri mengikuti Kakaknya yang masuk kembali kedalam rumah.
***
Dika ... Dika ... Dika ...
Nama itu terus terngian dalam benak Dijah, bagaikan lantunan merdu yang susah dia enyahkan dari pikirannya, bayangan tawa-nya membuat Dijah ikut tersenyum juga.
Ah ... Dika.
Suara lantunan ayat suci Al-quran terdengar di waktu sepertiga malam dari mesjid yang berada tak jauh dari rumahnya, suara merdu yang membuat Dijah kagum akan penciptanya, beberapa bulan terakhir, suara itu yang menemani Dijah disepertiga malamnya. Dijah bangkit dari posisi tidurnya, lalu bergegas menuju kamar mandi, mengambil air wudhu lalu menggelar sajadahnya, menunaikan shalat malam dengan khusyuk, bayangan pria yang baru saja diketahui bernama Dika membuat Dijah memejamkan matanya.
‘Ya Allah ... jika Dika memang jodohku, maka dekatkanlah dia padaku, namun ... jika Dika bukan jodohku, maka jauhkanlah dia dariku, hapuslah bayangannya dari fikiranku’
Dijah memejamkan matanya erat, tak kuasa menahan segara penasarannya terhadap Dika, rasa ini ... entah rasa apa? Rasa cinta? Kagum? Atau hanya penasaran?.
***
Hari ini, Dijah berangkat kuliah dengan hati sedikit merana, pagi ini Astri sang adik mengabarkan jika Dika sang idola ternyata sudah memiliki kekasih, itu menurut pengamatan Astri setelah beberapa hari, jujur saja Dijah kecewa gadis itu patah hati.
“Kalau bukan jodoh, lantas aku bisa apa?” Dijah bergumam, hingga tanpa sadar langkahnya menuju pada jalan yang salah, Dijah menyebrangi jalanan komplek tanpa melihat laju kendaraan yang kebetulan tengah melaju.
Tttiiiiddd!!
“AAHHHKK!!”
Dijah terjatuh kala sebuah motor menyerempet tubuhnya hingga terjerambab di bahu jalan.
“Mbak gak apa-apa?”
Sebuah tangan mengulur di hadapan Dijah, masih sambil meringis Dijah mendongakkan kepalanya, menatap pada sosok yang tengah tersenyum, namun juga panik mendominasi ekspresinya, Dijah melongo, matanya berkedip lucu berulangkali.
‘Dika!’ batinnya berteriak.
“Mbak gak apa-apa kan?” lagi, pria itu mencoba menyadarkan Dijah dari lamunannya.
“Gak apa-apa” Dijah gugup hingga tergagap.
“Ada yang luka? Maaf saya tidak lihat” pria itu mengucap dengan banyak rasa bersalah.
“Saya obatin kalau ada yang luka atau sakit” lanjutnya lagi.
“Enggak, saya baik-baik saja” Dijah menggeleng sambil tersenyum, tangannya mengepal, bibir bagian dalamnya digigit, merasakan jika bagian bokongnya begitu sakit karena terkena aspal, namun Dijah memilih diam menahannya, demi ingin membuat Dika merasa nyaman dan tidak merasa bersalah terhadapnya.
“Syukurlah” Pria itu terlihat mengelus dada dengan lega.
“Ka!”
Dika dan Dijah menoleh pada sumber suara, terlihat seorang gadis berlari terengah menghampiri mereka.
“Loh? Dijah? Kamu kenapa?” gadis itu mengerutkan keningnya, meneliti penampilan Dijah yang berantakan.
“Aku gak apa-apa” Dijah menggeleng, menatap Agni tetangganya.
Tunggu! Sebentar! Agni? Kenapa Agni terlihat begitu dengan Dika? Astri bilang Dika sudah punya pacar, mungkinkah itu Agni? Tetangga rumah Dijah?.
Batin Dijah berteriak kala melihat kedekatan Agni dengan Dika, mata Dijah menatap lengan Agni yang kini sudah bergelayut di lengan Dika, dengan segera Dijah melempar pandangan pada sebrang jalan, hatinya perih entah kenapa.
***
“Hidup itu pilihan, Lo tinggal pilih mau yang mana? Mau jadi Khodijah? Atau mau jadi Fatimah?” Siska sahabat Dijah di kampus mulai memberikan ceramahnya.
“Maksud Lo?” Dijah mengerut bingung.
“Ungkapkan? Atau pendam dan rebut hatinya di sepertiga malam? Lo tinggal pilih, cara mana yang Lo bisa?” Siska menjelaskan dengan sesekali menyuapkan siomay yang ada di piringnya.
Dijah terdiam, hatinya masih dilema, apa yang harus dia lakukan terhadap Dika? Dijah begitu menyukai Dika, semuanya tentang Dika, terlalu lama dia mengagumi seorang diri, menatapnya dikejauhan, diam-diam berdoa semoga Dika selalu tertawa bahagia seperti biasanya.
Mungkinkah apa yang dikatakan Astri benar? Dika sudah memiliki pasangan, jika demikian maka Dijah akan memilih memendam cintanya saja, dia tidak ingin disebut pelakor.
“Jah, ni ada titipan”
Dijah menoleh pada Agni yang memberikan sebuah kotak berukuran sedang padanya, dengan dahi mengerut Dijah menatap Agni penuh tanya.
“Dari fans Lo” Agni terkikik kemudian berlalu.
“Dari siapa??!” Dijah berteriak, namun Agni malah berlalu pergi, Agni dan Dijah memang satu universitas, namun mereka berbeda jurusan.
“Nah kan? Ngapain sih mikirin Dika melulu? Nih ada fans yang terbukti nyata, doi berarti beneran suka sama Lo, sampe ngirimin coklat segala, tahu aja apa yang Lo suka” Siska dengan hebohnya mengacak coklat yang baru dikeluarkan dari dalam kotak pemberian Agni tadi.
Hhhh ... Dijah hanya bisa menghela napas, beberapa minggu terakhir selalu ada orang misterius yang mengiriminya coklat, tapi sampai saat ini, Dijah belum tahu pelakunya, ketika Dijah bertanya pada Agni, gadis itu masih tetap bungkam, menyebalkan!.
***
Lantunan ayat suci kali ini adalah surah Ar-rahman, terdengar begitu merdu dan membuat siapa saja yang mendengarnya pastilah akan kagum dengan suara yang membacakannya, Dijah kembali terbangun, melakukan rutinitas sepertiga malamnya seperti biasa, masih dengan doa dan harapan yang sama, kali ini matanya tidak lagi terserang kantuk, Dijah memilih untuk membuka jendela kamarnya, udara dingin menusuk kulit, angin sepoi langsung menerjang tubuh Dijah hingga gadis itu merasa dingin sekaligus merasa segar karena udara asri yang Ia hirup.
Dijah memejamkan matanya kala bayangan sosok Dika berkelebat diingatan, Dika yang baik, Dika yang tampan, Dika yang dermawan, Dika yang smart, ah ... jika tentang Dika tak akan pernah ada habisnya Dijah memuja.
***
“Ada apa sih ribut-ribut?” Dijah melongo keluar rumah kala pagi menjelang dan terdengar suara gaduh di luar rumahnya.
“Itu, ada tetangga baru” Astri terkikik menutup mulutnya, sementara Ayah dan Ibu Dijah hanya menggeleng kepala, lalu beranjak membantu tetangga baru yang katanya pindahan dari komplek sebelah.
“Siapa?” tanya Dijah kemudian.
“Kalau Kakak tahu siapa? Kakak pasti seneng” Dijah kembali terkekeh.
“Emang siapa?” Dijah celingukan, namun sosok baru yang dia cari tidak ditemukan, yang ada hanya sepasang paruh baya, dan beberapa tukang yang merapikan barang.
“Ada deeehhh ...” Astri tergelak lalu berlari ke dalam rumah di kejar oleh Dija, mereka tertawa bersama kala Astri berhasil Dijah tangkap dan langsung di gelitiki.
***
“Lesu banget Lo? Kenapa?” Siska menatap sahabatnya yang tengah murung.
“Dika ngasih bunga sama Agni” Dijah menenggelamkan kepalanya pada meja kantin.
“Ya elah baru bunga, bukan cinta” Siska memutar kedua bola matanya jengah.
“Orang ngasih bunga sudah pasti cinta” terka Dijah.
“Belum tentu, Gue pernah ngasih bunga sama mantan Gue, bukan karena Gue masih cinta, tapi karena saking Gue kesel sama dia” Siska tergelak mengingat kenangannya.
“Emang bunga apa yang kamu kasih?”
“Bunga kamboja”
“Buset!”
***
Hari demi hari terus berlanjut, namun bergantinya hari tidak membuat perasaan Dijah juga berganti, gadis itu masih tetap mengagumi sosok Dika yang sedari lama dia idolakan, semua yang ada pada diri Dika, Dijah suka. Meski Dijah juga sedikit kecewa kala melihat kedekatan Agni dan Dika semakin intens saja.
Angin sore hari membuai wajah Dijah yang tengah menyirami tanaman di halaman rumahnya, gadis itu asyik dengan kegiatannya, hingga suara besi yang beradu terdengar, gadis itu menoleh, ternyata seseorang pelakunya. Dijah meletakkan selang, lalu menghampiri orang tersebut.
“Dika?” Dijah menggumam menatap sosok tinggi yang tengah tersenyum dihadapannya.
“Hai! Sorry, aku Dika, kita pernah bertemu sebelumnya, aku pernah nyerempet kamu waktu itu” pria tampan itu tersenyum, mengulurkan tangannya tepat di hadapan Dijah, membuat gadis itu tergagap, tapi menerima uluran tangan Dika dengan hati berdebar. Suara Dika begitu merdu, mirip dengan suara sosok yang sering melantunkan ayat suci di mesjid sebelah disepertiga malam, Dijah menggeleng dengan pemikirannya.
“Aku Dijah” ucap Dijah dengan gugup.
“Aku di suruh Mama buat nganterin ini” Dika menyodorkan kotak berisi makanan pada Dijah.
“Apa ini?” Dijah mengerutkan keningnya heran.
“Kami warga baru disini, ngomong-ngomong kita tetanggaan” Dika tersenyum sembari menunjuk rumah yang beberapa hari lalu baru ditempatinya.
Dijah mematung seketika, ternyata tetangga barunya adalah Dika, tunggu! Jika Dika tetangga barunya, itu berarti dia juga tetangga Agni? Dan mereka jadi semakin dekat? Hati Dijah tergores pedih.
“Dijah?”
“Oh ya, maaf aku melamun” Dijah tersenyum kecut, lalu membawa kotak makanan yang diberikan Dika padanya.
“Kamu kenapa pindah kesini?” pertanyaan itu terlontar begitu saja.
“Iya, kebetulan aku ditawari pindah kesini sama saudaraku, katanya ada rumah kosong dekat rumahnya” Dika menjelaskan, Dijah mengangguk, rumah yang berdampingan dengan rumah Agni itu baru saja kosong, penghuni lamanya kebetulan pindah ke luar kota.
“Saudara kamu siapa disini?” tanya Dijah kepo.
“Agni” jawab Dika singkat, membuat Dijah terbengong kaget.
“Agni saudara kamu?” hati Dijah bersorak lega, ternyata selama ini dia hanya berpraduga terhadap hubungan Dika dan Agni.
“Ya, anak Tante-ku”
“O oh, yah ...” Dijah mengulum senyumnya senang.
“Kalau gitu, makasih makanannya” dengan gugup, Dijah memeluk kotak makanan yang diberikan Dika, lalu bersiap lari menuju rumahnya.
“Dijah tunggu!” Dijah menghentikan langkahnya, kembali memutar tubuh menghadap Dika.
“Ini buat kamu” Dika kembali menyodorkan sebuah kotak untuk Dijah, Dijah menerimanya dengan bingung, hingga kepergian Dika dari hadapannya tidak disadarinya.
Buru-buru Dijah membuka kotak pemberian Dika yang dirasanya begitu familiar, coklat? Dijah melongo melihat coklat dengan bungkusan yang sama yang sering diberikan Agni padanya, dengan dalih pemberian fans.
Mungkinkah itu Dika?
Jika iya, maka Dika idolaku sekarang menjadi tetanggaku.