Ketika hati mulai rapuh, ketika raga mulai kehilangan jiwa, ketika diri mulai kehilangan arti hidup. Ketika ragu menyapa hati. Untuk apa aku mempertahankan semuanya?
Rasa yang tumbuh bertahun-tahun lamanya kini hancur bagaikan kepingan kaca yang tak mungkin bisa ku rangkai lagi menjadi sebuah cermin. Dia yang ku cintai pergi meninggalkan tanpa alasan, tanpa ungkapan kata-kata, pergi ke dalam pelukan wanita lain.
Aku berjalan sendiri di keheningan malam yang menyelimuti jalan di pinggiran kota, hanya satu sampai dua kendaraan saja yang melintas di sana dan desiran angin malam yang menyapa tubuh.
Kaki ku kini goyah dan lemas, tidak mampu untuk menopang tubuhku lagi.
"Brukk! Aaaaaahhhhhh. Begitu kau tega terhadapku. Hiks." Aku terduduk di jalanan yang dingin, berteriak melepaskan rasa sesak di dada.
Air mata pun sudah tidak dapat ku bendung lagi, aku menangis sejadi-jadinya meratapi hidupku yang tak berarti lagi. Seandainya jika waktu bisa ku ulang, aku tidak akan memiliki rasa cinta pada seorang pria, yang pada akhirnya aku harus merasakan sakit yang mendalam seperti ini. malam ini, jika sebuah kendaraan menyapa tubuhku pun aku tak perduli, aku sudah tak sanggup untuk hidup lagi.
Tetesan air hujan mulai turun, membasahi sekujur tubuhku, sepertinya alam pun ikut menangis untukku. Hembusan angin yang menusuk hingga tulangku, membuat aku jatuh tersungkur di atas jalanan sepi ini.
Aku yakin, jika ini adalah akhir dari hidupku. mata ini mulai terpejam perlahan ketika aku melihat sorot lampu dari kejauhan. Lampu dari sebuah kendaraan yang akan melintas di jalan ini.
Aku tidak perduli, sungguh aku tidak perduli.
"Ckitt." Suara mobil yang berhenti tepat di hadapanku.
Samar-samar aku melihat seseorang menghampiriku, mengguncang tubuhku, mencoba menyadarkanku.
Namun, mata ini tak sanggup untuk ku buka kembali, aku terpejam tak sadarkan diri.
"Eh, di mana aku sekarang?" Aku terbangun ketika sinar matahari menyapa mataku di pagi hari di sebuah ruangan.
Tatapanku mengitari setiap sudut ruangan itu, dan ketika aku melihat punggung tanganku, tertancap jarum infus di atasnya.
Aku berfikir ini pasti di sebuah rumah sakit. Tapi, kenapa kamar pasien ini begitu mewah desainnya. Aku bagai seorang yang kehilangan jiwanya, tatapanku kosong, dan tak mengerti kenapa aku berada di sini. Ah aku ingat semalam aku pingsan dan seseorang berusaha menyadarkanku, apakah dia yang membawaku kemari?
"Kamu sudah sadar rupanya? Bagaimana keadaan mu sekarang?"
Aku menoleh ke arah suara yang menyapaku barusan. Seorang pria, pria yang sangat tampan sedang berjalan menghampiriku. Aku rasa dialah yang menolongku.
"Aku baik sekarang, terimakasih sudah menolongku. Kalau boleh tahu aku sedang berada di mana?" Tanyaku seraya menundukkan kepala, mengalihkan pandanganku, aku tidak ingin melihat nya.
"Kamu berada di rumahku. Tapi kamu tidak perlu takut padaku. Jika kamu sudah pulih total, kamu boleh pergi." Ucapnya lembut.
Aku hanya terdiam dan mengangguk, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut ku lagi. Tapi sesungguhnya ada pertanyaan yang ada di benakku, siapa dia? Kenapa dia menolongku? Tapi aku tahan, tidak ingin berbicara atau mengeluarkan sepatah katapun lagi saat ini. Yang aku fikirkan saat ini aku ingin pergi dari sini, dari tempat asing ini. Aku tidak berharap sama sekali belas kasihan dari seseorang, dan aku tidak ingin berhutang budi pada siapapun.
Dia memberikan sebuah mangkuk berisi sup yang masih mengeluarkan asap, sangat wangi dan mampu menggugah selera.
"Makan dulu, biar kamu fit lagi, semalam kamu habis kehujanan." Titah nya seraya menyodorkan mangkuk sup itu.
Aku menggelengkan kepala, menolak dan tidak ingin memakannya. Untuk apa, toh aku sudah tidak perduli lagi dengan diriku sendiri, entah aku pulih atau tidak tetap tidak ada bedanya.
"Kau punya masalah tidak harus melampiaskan pada makanan, ambil saja dan makan, aku tidak menaruh racun di dalamnya."
Dia berdiri lalu meninggalkan ku sendiri di sana, meninggalkan sup hangat itu di atas nakas di samping ranjangku. Aku tidak memperdulikannya sama sekali. Aku mencabut paksa jarum infus yang tertancap di tanganku saat pria itu sudah keluar dari kamar tempat ku berada.
Aku putuskan untuk berganti pakaian dan meninggalkan tempat ini sekarang juga.
Setelah selesai ku berganti pakaian, aku melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Apa hanya ada pria itu saja di rumah ini? Kenapa begitu sepi?" Gumamku.
Aku tidak perduli dan tetap melangkah menuruni sebuah tangga, meninggalkan rumah megah tanpa berpamitan pada tuan rumah.
Aku kembali ke rumah lama ku, ku coba melewati hari demi hari dan mencoba melupakan semua yang terjadi di malam kelam itu. Aku hanya ingin bahagia di hidupku ini, walau tanpa orang yang mencintai ku. Membiarkan luka ini untuk sembuh sendiri seiring waktu.
Sempat terfikir aku ingin bertemu dan bertanya pada pria penghianat itu, apakah dia masih punya rasa untukku walau hanya seujung kuku saja. Rasa yang sempat dia berikan padaku, rasa yang membuat hidupku penuh warna, rasa cinta yang mendalam terhadapku, yang walau sedetikpun hanya ingin kita lewati bersama. Aku ingin berjumpa dengannya sekali saja, aku ingin mengambil separuh hatiku yang sudah dia ambil dariku. Agar hidupku kembali utuh seperti sebelum bertemu dengannya. Namun ku tampik kembali keinginanku itu, akan ada banyak rasa sakit yang akan aku dapatkan jika dia kembali.
Biarkan aku bahagia tanpanya.
Biarkan sisa hidupku ku lewati tanpa dirinya.
Biarkan luka ini sembuh dengan sendirinya.
Biarkan separuh hatiku yang dia ambil kembali seiring waktu.
Aku ingin hidup bahagia.
Aku ingin hidup tanpa cinta.
Aku ingin hidup walau dengan separuh jiwaku.
Tamat