Seharian ini aku begitu penat, seharian penuh otakku terus-terusan dijejali materi-materi yang sangat sulit ku cerna di otakku. Ku lihat langit sudah mulai mendung, awan hitam tampak menjadi hiasan langit sore ini. Aku sengaja mempercepat laju motorku agar segera tiba di rumah, rasanya bukan hanya otak, tapi badanku juga sudah minta jatah istirahat.
“Kamu baru pulang Res?” Tanya ayah melihat kedatanganku. Aku hanya mengangguk lesu, langsung menjatuhkan badanku di sofa. Sesaat aku terlelap.
“Res, bangun! Ayo kita makan malam dulu!” Ibu membangunkanku. Masih dalam keadaan setengah sadar aku mencoba bangkit, 19.55 angka yang ku dapati di benda bulat berwarna hitam yang menempel di lengan kiriku. “Aku mandi dulu saja, Yah, Bu, biar lebih segar,” Kemudian aku bangkit.
“Ares tunggu dulu! Ayo sekalian panggil Adikmu, dari tadi sore dia terus saja diam di kamar dan bermain game!” Perintah ibu mengalihkan langkahku untuk pergi ke kamar Varo. Varo adikku yang baru duduk di bangku kelas 1 SMA. Saat berjalan melewati tangga, aku jadi teringat sudah beberapa kali Varo mengajakku bermain game. Ku rasa inilah saat yang tepat. “Itung-itung hiburan, refreshing otak,” pikirku sambil mempercepat langkahku.
“Varo!” Aku mengetuk pintu kamarnya. Tapi sama sekali tak ada jawaban.
“Varo, ini Kakak!” Kembali ku coba mengetuk pintu kamarnya, tapi nihil, masih juga tak ada jawaban.
Akhirnya perlahan aku membuka pintunya, “Varo,” tapi tak ku temukan siapa pun di sana, kamarnya kosong, yang ku lihat hanya layar komputer menyala bertuliskan “…” kemudian layar itu berubah bertuliskan “Play,” tak ku temukan kata lain di sana. Layarnya terus saja berkedip-kedip. Aku menatapnya dan mulai mendekat. “Sepertinya ini game yang keren,” pikirku.
Akhirnya tanpa pikir panjang aku mulai mengarahkan kursornya dan mengklik tombol “Play,”
Seketika semuanya berubah, seperti ada angin topan yang menghampiri dan aku terbawa ke dalamnya. “Aaaaaahhh…”