Pernahkah kalian bayangkan? Kalian berada di posisi dimana kalian begitu sulit dalam mengambil keputusan.
Begini, aku akan mengajukan pertanyaan yang menurutku sangat sulit, tapi sebelum itu kita akan bercerita siapa dirimu terlebih dahulu.
Disini, dirimu adalah seorang gadis kecil, dimana kedua orang tua gadis tersebut bercerai sesaat setelah gadis itu lahir.
Gadis itu adalah anak ke 3, dia lahir di kota Pekanbaru.
Karna ibumu yang tidak sanggup merawat 3 anak sekaligus, akhirnya gadis itu alias dirimu disini dipindahkan ke kota kecil dan di rawat oleh bibi dan pamanmu.
Kau tumbuh disana, mendapat banyak pernghargaan dan selalu juara 3 besar di kelas, bahkan ada saatnya kau mendapat juara 1 dan ikut olimpiade matematika hingga tingkat kabupaten, kau gagal mendapat juara 3 besar, tapi setidaknya kau mendapat rangking 6. Pencapaian yang bagus untuk seorang gadis yang tinggal di kota kecil.
Kau tumbuh dengan bahagia namun juga suram. Kelas 1 SD kau sering di bully, mungkin karna saat itu kau masih berada di rangking 7.
Ya, sebenarnya kau tidak selalu juara kelas, semua itu dimulai ketika kau semester 2 kelas 2 SD, kau naik dari rangking 7 ke rangking 3.
Suatu hari, di keluargamu. Bibimu yang ternyata berhutang banyak pada koperasi untuk menghidupi kau dan kakak saudaramu, memutuskan untuk pergi ke Pekanbaru karna sudah tak tahan dengan keadaannya disini.
Bibimu akan membawa kau dan kakakmu, tapi tidak dengan pamanmu.
Awalnya kau ingin bertanya apa bisa membawa paman bersamamu, tapi kau ragu dan akhirnya memutuskan menunggu.
Keesokan harinya, kau yang sedang tidur dikejutkan oleh ibumu yang tiba tiba datang ke kamarmu.
Dia terlihat sangat marah, dan akhirnya mulai mengomel tidak jelas.
Setelah semua itu, kau akhirnya tau apa yang terjadi, abang saudaramu mengirimkan uang 2.000.000, tapi ternyata uang itu hanya kebagian 700.000 di bibi, sedangkan 1.300.000 lainnya diambil oleh pamanmu.
Bibimu tentu sangat marah, dia mulai kembali mengomel bahkan sampai memukul lantai keras dengan tangannya, sesuatu yang sangat jarang kau lihat.
Walau bibimu suka marah akhir akhir ini, tapi itu hanya karna kondisi. Bibimu orang yang cukup lembut, bahkan kadang saat marah pun dia tetap akan lembut dan perhatian padamu.
Sekarang, kau yang mendengar ocehan itu hanya bisa diam karna tak tau dan tak ingin membuat bibimu lebih marah lagi.
Waktupun berlalu, saat kau turun dari kamarmu, pamanmu sudah menyediakan sekantong plastik putih di meja berisi dua bungkusan nasi.
Dia tersenyum pahit dan berkata untuk mengambil bungkus yang kanan.
Kau menurutinya, dan ternyata bungkus tersebut berisi nasi dengan banyak lauk beserta ayam kesukaanmu!
Sepanjang makan, pamanmu kadang memandang padamu dengan senyuman dan menanyakan rasanya.
Saat itu, kau mulai menyadari ada sesuatu.
Kau mulai sadar, mungkin pamanmu hanya ingin kau makan dengan enak dan bervariasi, sesuatu yang sudah sangat lama belum kau rasakan.
Kau mulai kebingungan, hingga akhirnya memutuskan untuk kembali menunggu.
Malam harinya, kakak saudaramu terus bercerita tiada henti tentang hutang dan ayahnya atau pamanmu yang tidak memberi uang pada bibimu untuk dikasih ke koperasi.
Kakak saudaramu sedikit aneh, awalnya kau hanya mengenal dia sebagai sisi yang buruk, karna yang kau dengar hanya dia mencuri uang dan gonta ganti pacar yang jelas jelas tidak mencintainya.
Tapi itu hanya tanggapan masa lalu, perlahan pandanganmu padanya mulai membaik, sekarang kau menyadari betapa tulusnya dia.
Saat kau liburan ke pekan sebentar dulu, kakak saudaramu sempat menangis karna merindukanmu.
Selain itu, setiap hari dia juga selalu menyediakan kebutuhanmu, seperti menyiapkan baju untukmu, menyiapkan makan dan minum untukmu, dll.
Kakak saudaramu juga tak pernah diizinkan untuk keluar dari kota kecil itu, dia seolah bebas namun sebenarnya terkurung.
Setelah mendengar bibimu akan membawanya dan kamu untuk pergi ke pekan dan memulai hidup baru, dia lah yang paling antusias.
Mendengar perjalanan akan ditunda karna kau yang masih harus sekolah 1 semester lebih lagi, kakak saudaramu tetap tidak masalah, mungkin yang di pikirkannya hanya bahwa dia akan bebas.
Semua ini seperti bom waktu untukmu, ada 1 semester lagi dimana kau harus berpikir selama jangka waktu itu.
Kau sangat ingin memulai hidup baru, berjualan, dan membantu bibimu bekerja, bukan hanya duduk dan menatap ke layar ponsel setiap harinya. Disisi lain, kau tidak tega meninggalkan pamanmu yang baik padamu.
Pamanmu yang setiap hari mengantar mu kesekolah sebelum pandemi ini, pamanmu yang selalu menasihati sisi kekanakanmu, pamanmu yang galak tapi perhatian padamu.
Kau ingin bertanya pada bibimu apakah bibi bisa membawa paman bersama kau,bibi dan kakak saudaramu, tapi kau sadar, kemungkinan bibimu tidak akan mengizinkan hal tersebut.
Kemungkinan lain yang kau pikirkan, mungkin setelah bibimu mendengar permintaan mu itu, dia akan merasa terbebani dan merasa bersalah telah membuatmu berada di posisi seperti ini, dan kau tidak ingin itu terjadi, karna bibimu sudah sangat sibuk memikirkan tentang hutang hutangnya yang ada demi membiayayi hidupmu dan anak anaknya yang lain yang sekarang sudah dewasa dan mulai bekerja.
Kau ingin meminta bantuan abang abangmu yang sudah bekerja, tapi sepertinya mereka juga sudah sibuk mengurus hidupnya masing masing.
Dan disinilah pertanyaan tersulitnya, apa yang akan kau lakukan menghadapi keadaan yang begitu buruknya ini?