Pagi itu, kubuka mataku dengan perlahan, menatap jam yang menggantung di dinding kamar. Astaga ! betapa terkejutnya aku ketika membayangkan jam itu menjerit meronta untuk membangunkanku.
Namaku Aletta Ziudith anggara. Orang sering memanggilku Ziu, mungkin karna nama aletta agak terlalu panjang dan sulit untuk dipanggil ? Entahlah. Gadis berusia 13 tahun baru lulus sekolah dasar dan berencana masuk ke SMP dekat kompleks agar tak jauh dari rumah. Tentunya hal itu atas omelan ibu yang membuatku pusing tujuh keliling. Jika membahas omelan, mungkin kembang tujuh rupa tak bisa mengusir dan menanggulangi omelan ibu, kecuali kalau dibawa kedukun.
Tepat pukul 07.00 aku sudah bersiap untuk memulai mendaftarkan diri disekolah menengah pertama, dengan mengayuh sepeda usangku. Yang jika dinaiki kita bisa mendengarkan musik sekaligus. Eits! Bukan sepeda yang mahal itu, jangan ketinggian mengkhayalnya. Tapi sepeda yang bisa mengeluarkan bunyi “sraak srakk ngikkkk.” Mungkin seperti itu.
Waktu masih berada disekolah dasar mungkin bisa dibilang itu adalah masa aku mulai mengenal persahabatan untuk pertama kalinya, ya walaupun belum mengetahui arti dari persahabatan itu sendiri. Salah satunya aku mengenal Wanda ayu mahesa, gadis yang sekarang ingin ku jumpai, aku dan wanda bak sepasang kurcaci yang tidak bisa dipisahkan selalu melekat walaupun kadang terjerat.
Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk menuju kerumah wanda yang berjarak 10 M jauhnya, sangat menguras tenaga sekali. Kupanggil namanya dengan nada menyerupai suara artis papan atas BCL. Sangat melengkung! Melengkung ya bukan melengking, beda!.
“Apa sih teriak teriak ?!” datangnya ngedumel.
“Kamu ga tau aja suara yang begini nih yang dicari bapak sutradara !”
“Apaan ? suara kaya Tyrex kecemplung kolam gitu bagus dari mananya coba ?”
“Emang kamu pernah denger suara tyrex nyemplung kolam ?” tanyaku penasaran.
“Tuh !“
1 detik. . .
2 detik . . .
3 detik . . .
Dukk !!
Satu toyoran maut mendarat dijidat wanda, dengan polosnya dia mengusap usap jidatnya diimbuhi dengan gumaman yang bisa ku yakinin jika itu sumpah serapah yang ditujukan kepadaku.
“itu ayam gobl*k ! Bukan tyrex, rabun ya ?” celotehku kesal
“gini nih kalo gak pernah baca buku, otaknya cetek!” ujar winda mengerutkan keningnya seperti bapak bapak minus membaca huruf hijaiyah dari jarak 10 km. Kejauhan beg*!
“ jadi disini aku yang salah ? kayanya kau perlu aku bawa ke rumah sakit jiwa deh.”
“enak aja itu mulut ngomongnya! Gini gini aku percaya kalo ayam tuh titisan dari tyrex ya ?!”
“dah lah! Debat sama otak semut emang ga ada abisnya, ayok berangkat.”
Dengan mengayuh sepeda butut yang cenderung ke bobrok itu kami mulai berangkat menuju ke smp merdeka harapan bangsa, yeah! Jika disingkat jadi SMPNMHB. Kalo ribet ngomong aja smp merdeka.
Digerbang sekolah, aku dan wanda turun dari sepeda roda dua kami. Masuk menuju ke tempat parkir yang tak jauh dari gerbang depan smp.
Namun beberapa detik kami menaruh sepeda, wanda merogoh tas ransel merahnya, seakan mencari sesuatu yang disembunyikannya.
“astagaaaaaa wanda! kamu ngapain bawa borgol segala ! mau nangkap maling disini ?” Tanyaku geregetan, gimana nggak. Dengan otak dangkalnya dia selalu mencari solusi dengan masalah.
“ya buat ngiket roda sepeda kita lah biar ga dicolong! “
“tapi ga gitu juga wanda!”
“dibilang buat keamanan. Inget dan tulis diotak ‘safety firssssst' “ ucapnya alay.
Aku reflex menepuk jidat, baru kali ini aku bertemu dengan orang yang otaknya minus begini. Nggak terlalu kaget sih dengan sikap wanda yang seperti itu, soalnya kami sudah bersama selama 6 tahun lamanya. Yups! Waktu SD.
“haduhh, terus kalo malingnya nyolong sepada kita berdua gimana ?” tanyaku malas.
“oh iya ya ? Ga kepikiran! Aduh gimana dong ziu ?.”
Wanda panik, ia mondar mandir kaya orang gila yang baru diterpa masalah hidup.
“tuh! mata celekin biar jelas. Ada satpamnya, gak perlu bawa bawa beginian segala” aku menggeleng gelengkan kepala heran dengan pemikiran wanda yang abnormal itu.
“ya terus ? aku juga liat kali kalo itu satpam, kau fikir aku buta ? mana ada cewe cantik kaya aku buta ?”
“di-Aminin aja deh, biar kelar urusannya.” Aku nyelonong pergi meninggalkan wanda.
“woy! ya jangan dong!”
Kami melangkahkan kaki menuju halaman sekolah, lalu pergi masuk kedalam aula, tempat pendaftaran waktu itu. Kuraih satu lembar formulir pendaftaran dan mengisinya dengan teliti.
“kupikir bakalan susah, ternyata cuma begini.” Komentar wanda tampak dia kecewa, mungkin saja dia sudah mempersiapkan diri matang matang berharap akan ada tes masuk yang lebih sulit dari ini.
“ya iyalah Cuma begini, kita Cuma mendaftar sekolah bukan mendaftar brimop !” aku memutar bola mata tanda jika aku jengah.
Aku berdiri, menyerahkan selembaran yang sudahkuisi dengan benar dan cermat kepada petugas yang tengah duduk menunggu. Begitu juga wanda yang ikut menyerahkan formulirnya.
Kami berjalan keluar, tampat mata wanda berkeliling melihat sesuatu.
“mumpung disini kenapa nggak berkeliling aja sekalian ?” tawar wanda, dan tanpa menunggu persetujuan dia menarik tanganku begitu saja. dasar!
Dengan malas aku mengikutinya, namun apa yang ku lihat setelah beberapa detik wanda menarik tanganku ? aku melihat sosok yang sangat indah untuk pertama kalinya, tubuh kecil, kulit putih, hidung mancung, gigi ? giginya belum kelihatan, tetapi bisaku pastikan dia memiliki gigi putih bersih mempesona. Gayanya yang cool waktu berjalan bak pangeran berkuda putih dengan aura yang menurutku sangat pekat . Melihat cara berjalannya saja sudah cukup membuatku jatuh dalam pesonanya, aku mengedipkan mata beberapa kali, berharap sosok itu hanya halusi semata. Tapi ternyata aku salah, sosok itu nyata adanya.
kupandangi dia, seakan tak mau kehilangan sedetik pun waktu untuk berpaling. Memang benar kata orang, jatuh cinta itu indah. Seperti menabur biji untuk meraih hasil.
Namun sialnya si kampret wanda malah semakin menarikku menjauh dari pangeran berkuda putihku itu.
“hheeey!! Jangan menarik sembarangan ! sakit tau nggak ?!”
“makanya percepat itu kaki digerakin!”
Wanda berhenti di taman dekat lapangan bola basket, selaku akses masuk untuk menuju ke aula pendaftaran. Kami duduk dikursi menghirup udara pagi menjelang siang namun tidak kehilangan aroma kesegarannya.
“lumayan sih.” Celetuk wanda.
Aku diem tak bergeming, fikiran dan hatiku jatuh untuk pertama kalinya. Rasanya membuat hatiku menggelitik, menuntut untuk selalu tersenyum saat melihatnya. Membuatku salah tingkah walau hanya mengingatnya saja.
Puk!
“hello ziu ? apa anda kerasukan sesuatu ?!”
“kerasukan cinta.” Aku jawab dengan celetukan, tentu saja sambil cengar cengir gak jelas khas cewek puber yang lagi kasmaran.
Namun beberapa detik kemudian mataku menangkap satu sosok yang kuyakini telah mencuri hatiku. Hanya memerlukan waktu satu detik bagiku untuk menyatakan diri bahwa aku jatuh kedalam pesonanya. Dan aku tidak tahu menahu terhadap apa yang aku rasakan, yang jelas aku hanya ingin melihatnya, lagi, lagi, dan lagi.
“ziu ? ngapain liatin itu cowok ? naksir ya ?” kekeh wanda seakan merencanakan niat jahatnya. Jangan ketipu dengan kepolosannya yang melampaui batas, kita tidak ada yang tau apa yang ada di dalam otaknya. Bisa saja didalam otaknya ada sarang laba laba yang antagonis semua kan ?
“siapa juga yang liatin itu cowo ? aku cuma liatin itu bandul tasnya lucu banget, kira kira beli dimana ya ?” aku mengalihkan pembicaraan.
“mau ditanyain ?”
“mas mas bandulnya beli dimana ? temenku naksir sama kamu, tapi dia bilangnya suka sama bandul tas kamuuuuu ” dengan satu tarikan nafas wanda teriak hingga membuat beberapa orang disana melihat kearah kami.
Tuh kan ? jangan ketipu sama muka, inget kata pepatah ‘don’t look at the book by its cover !’ you know ?. Dengan cepat aku membungkam mulut kotor wanda, ke-oon-annya kadang bisa membuat orang lain mati ditempat.
“jangan lah ! sekali lagi kamu ngelakuin hal tanpa izin dariku, siap siap aja aku potong urat surfik ketiga mu biar gak bisa beregerak sekalian !”
“i-iya iya maaf.” Jawab wanda gemeteran termakan sama ucapanku.
Hening mulai menyergap. Fikiranku benar benar sudah diracuni oleh pesonanya. Aku baru menyadari bahwa jatuh cinta bisa membuat orang menjadi seegois ini. Selalu ingin memikirkan walau tak difikirkan. Melakukan apapun walau mungkin tidak diperdulikan. So, is this love ?
Wanda hanya tersenyum simpul melihatku hanya diam, bergelut dengan fikiranku yang aneh kala itu. Rasanya ada yang berbeda denganku didetik aku melihatnya. But what ? I don’t know.
Pukk!
“ziu, tidak ada yang salah dari sekedar jatuh, jadi jatuh cinta aja dulu. Perihal terbalas atau tidak. Itu urusan nanti.” Celetuk wanda menepuk pundakku dan memberikanku senyuman hangat.