Sebenarnya aku tak tahu kesalahan ini dimulai dari mana. Namaku Albert, mereka yang mengenal diriku memanggil dengan sebutan Al. Aku hanya seorang kakak dari adik kembarku yang lucu. Keluarga ku sangat harmonis dan saling menyayangi. Makanya saat peristiwa yang tidak memungkinkan ini terjadi, aku hanya berpikir siapa yang tega melakukan hal ini terhadapku, terhadap keluargaku?
Aku terus meringkuk dibawah meja sambil memeluk adik kembarku dengan gemetaran. Yang ada dipikiranku sekarang hanyalah bersembunyi dari dia. Ya, seorang lelaki yang tiba-tiba menyerang keluargaku saat tengah malam. Tubuhnya tinggi dan dia membawa pisau ditangan kanan nya. Aku menyadari kehadirannya pertama kali saat dia hendak menyusup di kamarku. Tawanya yang menyeramkan serta wajahnya yang haus akan darah dan kematian itu menatap adik ku yang tengah tertidur pulas disebelahku. Aku terkejut setengah mati melihatnya. Darahku berdesir ketakutan. Dari arah pintu, aku melihat Ayah dann Ibuku berteriak menyuruhku menyingkir sembari membawa adikku keluar dari kamar.
Ayah memukul laki-laki itu menggunakan pentungan bisbol dengan keras. Laki-laki itu mengumpat, "Sialan!"
Tubuhnya limbung sesaat dan kemudian dia balas menyerang Ayah dengan hunusan pisaunya. Ayah berkelit.
"Ara, susul anak-anak sekarang!", suara Ayah itu menggema disepanjang ruangan.
Ibu yang awalnya bimbang lalu mulai menyusul kami dengan cepat. "Sayang, kamu harus selamat selamat!"
Aku berlarian sambil menggendong dua adikku yang menangis keras. Ibu berada cukup dekat di belakangku. Kami berlari menuju dapur yang ada di bagian belakang. Aku sudah tidak dapat berpikir jernih. Ughh.. aku harus sembunyi dimana?
Aku menatap liar dan menemukan sebuah meja yang tertutup dipojokan. Dengan cepat aku langsung saja bersembunyi didalamnya sambil berharap semoga saja penjahat itu tidak menemukan kami. Ibuku masih saja berdiri kebingungan mencari tempat sembunyi, namun dapurku ini sangat lenggang. Tidak ada tempat yang pas untuk bersembunyi selain meja yang sedang kupakai.
"Ibu.. masuklah sini!", ucapku padanya.
Ibu menggeleng tegas. "Tidak. Jika ibu masuk kesitu maka kalian akan lebih cepat ketahuan oleh orang itu!"
Sebelum aku bisa bertanya lebih lanjut, terdengar suara orang yang tengah menyeret sesuatu dilantai dan dia berteriak seperti orang gila. "Kalian dimana? Mau petak umpet denganku?"
"Ha! Ternyata tikus-tikus ini sedang bersembunyi di dapur ya?"
Aku hendak menarik tangan Ibu untuk bersembunyi, tapi orang itu sudah masuk duluan dengan menyeret tubuh yang berlumuran darah.
Ayah?
Uh.. aku menahan tangis sambil mendekap kedua adikku semakin erat. Ayah sudah dibunuh oleh penjahat itu. Tubuh Ayah yang tengah sekarat itu dilemparnya kearah Ibu.
"Sayang, lari dan bawalah si kembar keluar", kata Ayah pada Ibu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Ibu menangis.
Orang itu dengan santainya mengajukan kesepakatan yang sangat sinting. "Bunuh anakmu sendiri atau aku yang membunuhnya, hm?", ujarnya sambil memainkan pisau yang ada ditangannya.
"Apa maksudmu melakukan ini pada kami?!"
Orang itu tertawa keras. "Haha! Lucu sekali!", dia menghembuskan napasnya kasar lalu melanjutkan, "Motifku? Tidak ada, selain bersenang-senang!"
"Maka biarlah kami tetap hidup, setidaknya jika kamu memang ingin membunuh, maka bunuhlah aku saja. Jangan anak-anakku!"
"Ck! Gimana bisa begitu? Sudahlah, jika kau tak mau membunuhnya maka biar aku sendiri yang membunuh anakmu satu persatu!"
Setelah dia mengatakan hal yang mengerikan itu, dia berjalan kearahku sambil tertawa-tawa dan bergumam keras. Ibu menahannya mendekati kami.
"Kalau begitu lawan aku dulu!", ucap Ibu sambil mengambil gunting yang ada disebelahnya lalu mulai menyerangnya namun meleset. Dengan kasar dia lalu mendorong ibu menjauh.
"Hey kau diamlah disitu! Kamu juga akan kubunuh setelah membiarkanmu melihat aku membunuh anak-anakmu didepan mata!"
Dia sudah sampai dedepan kami. "Hm hm enaknya siapa dulu ya?"
Orang itu menatap Luz, adik perempuanku lalu menariknya dengan keras sampai terlepas dari pelukanku. Luz memberontak sambil menangis keras. Aku menarik kakinya berusaha melindungi adikku tapi malah ditendangnya.
Dengan bengis dia mulai mengiris tangannya pelan, mulut Luz dibiarkannya berteriak kencang. Darah mengalir di sepanjang goresannya.
"Huaaa! Kakak, Ibu tolong aku!", tangis Luz semakin keras. Sekujur tubuhnya kini penuh darah dengan goresan yang dalam.
"Sa-sakit ukh hu hu!", rengek nya sambil menendang-nendang orang tersebut.
"Woi bisa diem gak?!",teriak laki-lki itu dengan geram lalu dengan cepat memotong kaki adikku dengan pisaunya.
"Uwakkh"
"Heh lepaskan adikku!", ujarku sambil berusaha meraih tangannya.
Ibu dari belakang bangkit lagi dan berlari menancapkan guntung di punggungnya.
"Sialan!"
Laki-laki itu menggeram, gunting yang ada di bahu nya ia cabut sendiri lalu matanya semakin menggelap dan kemudian dia menancapkan gunting itu kearah perut ibu berkali-kali. "Rasakan! Rasakan itu! Ha ha!"
Perut Ibu yang kini penuh darah menatap orang itu sendu. "A-pa kamu sudah pu-as sekar-ang, Al?"
Tunggu. Apa maksud Ibu? Aku disini, aku sedang menjaga adik laki-laki ku, Luf. Penjahat itu bukan aku! Ibu pasti salah mengira!
"Kak-ak.. sa-kit"
Luz memanggilku pelan. Aku menoleh kearahnya. Huh? Kenapa sekarang Luz ada ditanganku? Kapan aku mengambilnya dari penjahat itu?
Luf, dia memeluk kakiku menangis sambil memohon-mohon, "Kakak, lepaskan Luz! jangan tusuk Ibu lagi!"
Dalam kondisi yang bingung, aku melihat bayangan hitam. Banyangan yang sama seperti pembunuh itu. Aku memanggilnya, tapi setelah ia menoleh ternyata itu wajahku.
Bayangan itu mendekatiku sambil tertawa terbahak, "Baru sekarang kau menyadarinya? Yang membunuh Ayah adalah kamu! Yang menusukkan gunting ke perut ibumu itu juga kamu! Yang membuat adikmu Luz berlumuran darah itu juga kamu! Kamu mau menyalahkanku atas semua ini hah?! Percuma saja, karena aku adalah kamu dan kamu adalah aku! Haha!"
"Tidak! Itu bukan aku yang melakukannya! Jangan membual!", ujarku padanya.
"Kau masih menyangkalnya? Coba ingat-ingat kembali yang sebenarnya terjadi!"
Ahh.. Ternyata ucapannya memang benar. Dari awal penjahat itu tidak ada, tapi aku sendiri yang berusaha membunuh keluargaku. Ayah dan ibu datang ke kamarku saat mendengar adik kembarku menangis ketika aku hendak membunuhnya. Ayah memukulku dengan pentungan bisbol tapi aku malah membunuh ayah duluan Lalu membawa kabur adik kembarku kearah dapur. Ibu menyusulku dengan cepat, aku bukan melindungi mereka tapi aku yang membunuh mereka.
Bagaimana bisa?
Lalu terdengar suara pintu yang terbuka secara paksa dari luar dan masuklah segerombolan polisi dengan senjata yang teracung kearahku. "Turunkan pisaumu dan letakan anak kecil itu sekarang!"
Mereka lalu membekuk ku dan memasukkanku kedalam jeruji besi. Lalu esoknya, berita tentang pembantaian keluarga ini menjadi deadline disetiap majalah, koran dan berita.
Lalu aku? Entahlah, yang pasti sekarang kondisiku tidak stabil dan di asingkan.
Ternyata yang membunuh mereka adalah penyakitku, penyakit kepribadian ganda.