Kringg ... Kringg ... Kringg
Dering telepon memecah keheningan ruangan kamar ini. Kendati suaranya sangat kencang bahkan mampu memekakkan gendang telinga, namun sang empu tetap saja masih terlelap terbawa suasana alam mimpi.
Kringg ... Kringg ... Kringg
Dering telepon kembali terdengar, barulah kali ini sang empu merasa terusik dari tidurnya dan segera mengangkat telepon.
"Naylaaa, lo lama banget sih ngangkatnya. Jangan-jangan jam segini lo masih tidur ya?!" Baru saja mengangkat telepon Nayla sudah disuguhi suara cempreng milik sang sahabat.
"Sorry Dar, gue ketiduran."
"Emangnya lo tidur jam berapa neng? Bisa-bisanya jam segini masih tidur." Katanya menggerutu
"Gue tadi tidur sehabis sahur."
"What! Lo baru bangun jam segini?!"
"Gila kali ya lo, itu tidur apa latihan mati?!" Sarkasnya
"Ya sorry Dar, abisnya gue ngantuk banget."
"Gue tebak tadi malem lo sama sekali gak tidur."
"Emang ya lo tuh sahabat gue yang paling pengertian. Tau aja kebiasaan gue,"
"Huftt," terdengar helaan nafas sang sahabat di seberang sana
"Udah deh sana mandi, gue sama yang lain udah sampe tinggal lo doang yang belum dateng."
"Iya-iya, janji deh gak bakal lama, paling setengah jam lagi gue sampe."
"Okey, gue tunggu, see you."
"See you too."
Tut
Setelah mematikan panggilannya, Nayla mulai beranjak dari tidurnya dan bersiap-siap untuk pergi ke kamar mandi
Butuh waktu selama beberapa menit untuk Nayla tampil cantik dan segera berangkat
Nayla mengendarai motornya, membelah kepadatan jalanan di ibukota.
Tak butuh waktu lama bagi Nayla untuk cepat sampai ke tempat tujuan dikarenakan rumahnya yang lumayan dekat.
Setelah memarkirkan kendaraannya, Nayla pun masuk ke dalam restoran tempat acara bukber di laksanakan.
Saat memasuki restoran pandangan mata Nayla disuguhi pemandangan teman-temannya yang sudah terlebih dulu tiba.
"Weshh ratu kita udah dateng Gus," ucap Dimas
"Ratu apa Dim?" Tanya Agus mencoba menggoda Nayla
"Ratu jomblo, hahaha." Katanya disambut gelak tawa oleh beberapa orang
"Hush, gak boleh di gangguin, nanti tanduknya muncul, hahaha." Kali ini ucapan datang dari Dara
"Elo ya Dar, bukannya belain malah sama-sama ngejek." Dengus Nayla kesal
"Udah Nay, lo duduk aja, jangan hiraukan tiga cecunguk ini." Ucap Cantika-salah seorang teman baik Nayla
Nayla pun mengangguk dan duduk diantara Cantika dan Dara
"Kalian udah pesen makanan?"
"Udah, gue juga udah pesenin makanan favorit lo, tinggal tunggu aja." Ucap Cantika memberitahu
"Thanks ya Kaa," kata Nayla
"Iyaa sama-sama." jawab Cantika
"Eh lo tau gak sih temen sekelas kita dulu yang paling pendiem itu sekarang udah meninggal loh." Ucap Yoga memulai pembicaraan
Walaupun kini bulan puasa namun yang namanya Yoga Pratama tak pernah absen dari yang namanya ghibah
"Maksud lo Sarah? Yang pendiem sekaligus culun itu?" Tanya Dara
"Hah meninggal? Kenapa? Kok gue baru tau sih ..." Timpal Cantika
"Katanya sih dicelakain istri pertama." Ucap Yoga
"Lah emang dia istri ke berapa?" Tanya Nayla
"Emang kalian gak tau kalau dia jadi istri kedua wakil walikota?" Kali ini Yoga menatap satu persatu teman-temannya dengan pandangan heran
Kompak semuanya pun menggeleng pertanda tidak tahu
"Wah gila sih ini, hot news banget." Ucap Silvia heboh
"Terus nikahnya kapan?" Tanya Ajeng
"Kalau gak salahs sih nikahnya udah sekitar 1 tahunan, dan selama itu mereka nikah siri biar gak ketahuan istri pertama. Tapi yang namanya bangkai, bakal tercium juga baunya. Setelah istri pertama tau kalau suaminya nikah lagi, langsung dah tuh kehidupan rumah tangga Sarah perlahan mulai hancur gegara istri pertama suaminya." Ucap Yoga dengan nada suara yang menggebu-gebu
"Apalagi puncaknya saat dia hamil, eh malah di gugurin sama istri pertama."
"Kejam gak tuh?" Tanya Yoga meminta pendapat teman-temannya
"Gilaa sih itu kejam banget." Ucap Ajeng
Semua orang pun kompak mengangguk pertanda setuju.
"Terus yaa, kalau gak salah-"
"Permisi, maaf, ini pesanannya." Ucap seorang pelayan memutus perkataan Yoga
"Eh iya terima kasih." Ucap Yoga seraya menyengir memperlihatkan deretan giginya yang rapih
"Eh terus apa tadi Ga?" Tanya Nayla menuntut penjelasan
"Nah meninggalnya ini tuh gak wajar banget," Ucap Yoga kembali memulai sesi pembicaraan
"Emang meninggalnya gimana?" Tanya Cantika
"Meninggalnya itu-" kali ini perkataan Yoga harus terhenti karena dering telepon milik Agus
"Udah kalian lanjut aja ngobrolnya, gue mau ngangkat telepon dulu." Ucap Agus seraya bangkit dari duduknya
"Gak, kita nungguin lo aja sampe selesai teleponan." Ucap Yoga yang tak setuju dengan ucapan Agus
"Yaudah kalau gitu gue keluar dulu ya,"
"Iyaa." Jawab Yoga
"Tadi meninggalnya kenapa?" Tanya Adam yang sedari tadi diam menyimak
"Nanti dulu, tungguin Agus balik baru cerita lagi." Kata Yoga yang kekeh tak mau bercerita sebelum Agus kembali dari luar
"Huftt, kebanyakan iklannya ini mah." Ujar Silvia mendengus kesal
Setelah beberapa saat menunggu Agus, kini yang ditunggu-tunggu telah datang dengan raut wajah yang ketara sangat khawatir
"Lo kenapa Gus?" Ucap Dimas bertanya
"Ini pacar gue masuk rumah sakit karena kecelakaan sehabis pulang dari kantornya, gue pengen kesana tapi gue gak enak sama kalian." Ucap Agus !menjelaskan
"Udah sana pergi, pacar lo sekarang butuh lo, lain kali juga kita bisa bukber lagi." Kata Nayla
"Ini beneran gak papa nih?" Tanya Agus tak enak hati
"Iya gak papa Agus." Ucap Nayla
"Yaudah kalau gitu gue pergi dulu ya,"
"Iya udah sana hati-hati di jalan, jangan sampe lo masuk rumah sakit juga karena ngebut pengen cepet sampe di sana." Ucap Dara disertai candaan garingnya
Setelah kepergian Agus, Yoga kembali di desak untuk kembali bercerita.
"Cepet lanjutin ceritanya." Desak Silvia tak sabaran
"Iya, sabar napa. Baru juga gue mau narik nafas," ucap Yoga sedikit kesal
"Jadi meninggal nya itu karena kebakaran, rumah yang ditempati dari pemberian suamianya itu kebakaran sampe tubuhnya pada gosong gitu."
"Tapi anehnya gak ada konsleting listrik atau semacamnya, pokoknya kematiannya ini kaya disengaja deh."
"Terus sekarang kasus nya gimana?"
"Ya ditutup gitu aja, orang gak ada yang mau ngelaporin ko, seolah-olah disuruh bungkam sama seseorang."
"Astagfirullah halazhim kasian banget yak."
"Heeum bener, tragis banget, ya gitulah resikonya kalau jadi benalu dalam rumah tangga orang lain, bakal ada api cemburu dari salah satu belah pihak."
"Udah gini aja ceritanya?" Tanya
"Iya gini aja, emangnya lo mau gimana?"
"Ya siapa tau ada lanjutannya."
Sesaat setelah Yoga menyelesaikan ceritanya tiba-tiba indera penciuman Nayla mengendus bau gosong.
"Eh kalian pada nyium gak sih?"
"Nyium apa?"
"Itu loh, kaya bau gosong gitu."
"Enggak, gue gak nyium apa-apa."
"Sama, gue juga."
Nayla pun sontak melihat sekeliling menatap teman-temannya yang juga sedang menatapnya dengan pandangan heran
"Idung lo aja kali yang bermasalah, orang gak ada yang nyiun kok." Celetuk Cantika
"Iya kali ya." Ujar Nayla seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal
Tak berselang lama terdengar bunyi ledakan yang sangat besar yang berasal dari dapur restoran tersebut.
Ledakan itu tak bisa dihindari, berawal dari sang koki yang lupa mematikan kompor hingga berakhir menjadi malapetaka bagi semua pengunjung yang ada disana.
Kejadiannya pun begitu cepat, hingga tak ada seorangpun yang selamat dari peristiwa ledakan itu.