*Brakkk!! Brakk!!!
Ahh...
*Brakk!! Brakk!! Brak!!!
Berapa lama lagi ini akan selesai...
"Hahahaha, Kau benar-benar tidak enak dipandang, Sampah!"
Sampah? Maksudmu aku?
"Kenapa... Kau.. Selalu... Berlagak sok cantik, Dasar sampah!!"
Walaupun aku tidak melakukan apapun??
*Cuih
"Aahhh... Bosan, sudahlah... Ini benar-benar membosankan!"
Ibu...
-------------------
Kenapa... setiap orang tidak mempunyai hak untuk berbahagia?
Kenapa yang disebut "takdir" itu sangat kejam?
Kesepian, pelecehan, penindasan, apa alasan dari semua ini?
Julia, SMA kelas dua, karena takdir yang mengikatnya... dia terus-terusan dihantui oleh kekerasan dan pelecehan dari orang lain.
Sebelum Ibunya meninggal, dia dipindahkan oleh Pamannya ke sekolah yang baru sesuai permintaan Ibu Julia kepada Pamannya.
Ibunya sangat tahu bahwa anaknya mengalami penindasan di sekolahnya, oleh karena itu dia ingin setidaknya memindahkan anaknya sebelum dia meninggal.
Pindah sejauh mungkin dari sekolahnya yang lama...
Berharap agar kekerasan tidak terjadi pada anaknya di sekolah barunya...
Tapi, sia-sia saja... Di sekolah barunya pun dia mendapatkan kekerasan yang lebih parah dari sebelumnya...
Guru yang tidak peduli, teman yang mengabaikannya, dan seseorang yang iri dengan penampilannya...
Semua itu menjadi penderitaan yang kejam bagi Julia, dia selalu berharap seseorang akan menyelamatkannya dari takdir yang kejam ini, tapi harapan itu pudar seiring berjalannya waktu.
Hari pertama...
Hari kedua... Hari ketiga...
Hari ketujuh... Hari kesebelas...
Hingga hari ini genap kedua puluh...
"Apa yang harus kulakukan..." gumam Julia dengan menangis
Pulang dari sekolah seperti tidak terjadi apa-apa, Julia tidak ingin membuat Pamannya khawatir akan hal itu...
Makan... Minum...
Mandi... Kamar sendiri...
Keluarga...
Kehidupan...
Walaupun Julia dirundung, ditindas, dibuat pelampiasan orang lain, dia tidak peduli...
Sudah beruntung bagi Julia untuk mendapatkan kebahagiaan dari keluarga Pamannya...
Tidak ada penyesalan, sudah sewajarnya untuk kehidupan yang diberkati ini...
"Tidak apa-apa, selama masih ada Paman dan yang lainnya membantuku... Aku akan menahan semuanya..." batin Julia
---------------------
Kembali sekolah... Kembali juga penindasan...
Saat ini Julia berada di kelas, pelajaran masih berjalan... hingga jam kedua semua mengeluarkan bukunya untuk dinilai... Julia tidak tahu apapun tentang hal ini.
"Hmm? Julia... Mana PR-mu?" tanya guru kepada Julia.
"Ma-maaf Pak! tapi saya tidak tau apapun tentang pekerjaan rumah kali ini... Kupikir kemarin benar-benar tidak ada pekerjaan rumah?" jawab Julia.
"Hah?! Julia... Apa kamu tahu apa yang kamu katakan itu? Kutanya... apa kamu tahu apa yang kamu katakan itu? ULANGI SEKALI LAGI!!!" teriak sang guru.
"Ma-maaf pak!! Tapi saya benar-benar tidak mengetahuinya... Aku pun tidak berpikir kemarin ada pekerjaan rumah yang diberitahu." jawab Julia.
"Kamu!! Sudah kubilang berapa kali agar kamu mengerti, jika kamu tidak mengetahuinya tanya pada teman sekelasmu!!!" bentak sang guru.
"Ta-tapi... Aku sudah bertanya, tapi katanya memang tidak ada pekerjaan rumah, be-benarkan Lani?" tanya Julia kepada teman sekelasnya Lani.
"Eehhhhhh... Tidak ada loh... Kamu sama sekali tidak bertanya tuh..." jawab Lani dengan sedikit seringai dimulutnya
"Ha? Ta-tapi aku benar benar berta-"
"Julia... Kalau kamu mencari-cari alasan seperti itu, temanmu bisa membencimu loh..." ucap seorang perempuan yang memotong pembicaraan.
"A-Agnes..." gumam Julia dengan perasaan ketakutan.
"Ahhh... Benar... Pak Guru! Aku melihat kemarin Julia bermain-main di Mall bersama seseorang!!" ujar perempuan yang disebut Agnes.
"A-apa... Aku tidak bermai-" sahut Julia.
"Juliaaaa!!! Kau tidak mengerjakan PR-mu tetapi kau masih bisa bermain-main!! Lalu buat apa kau sekolah?!" teriak Pak Guru.
"Ti-tidak, i-itu hanya salah pah-"
"Mau beralasan berapa lama lagi kau, Julia? Keluar! Putari lapangan sekolah sebanyak sepuluh kali!!" bentak Pak Guru.
Tentu saja, ini semua adalah rencana si perempuan yang disebut Agnes itu...
Menggunakan koneksinya dengan guru untuk membatasi pemberitahuan PR kepada Julia...
memperingati teman sekelasnya supaya tidak memberitahu kepada Julia dikemudian hari...
Dan, itu semua demi untuk menghukum Julia memutari lapangan di hari yang panas.
Alih-alih untuk melaporkan hal ini kepada keluarganya, mereka mencoba untuk menyiksa Julia dengan memutari lapangan yang sangat besar itu.
Julia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, yang dia bisa hanya mengikuti perkataan gurunya dan berlari di lapangan.
Menahan kesedihannya, Julia terus berlari...
"Tidak apa-apa, Tidak apa-apa... Aku tidak mau merepotkan Paman untuk hal kecil seperti ini." batin Julia dengan menahan kesedihan yang dialaminya.
Di lain sisi pun mereka semua menikmati apa yang mereka sebut sebagai "pertunjukan" ini...
Bahkan orang yang dulu pernah dirundung pun, akan merasa bahwa ini adalah hukuman bagi si Cantik(Julia).
Menikmati...
"Makan tuh, dasar sampah!"
Menganggap ini semua lelucon...
"Haha, ini sangat-sangat lucu!!"
Iri dengan kecantikannya...
"Dasar jal*ng! makan itu... itu adalah hukuman bagimu yang diberikan berkah begitu besar!!"
Begitu banyak orang yang sangat menginginkan pertunjukan ini... tidak tekecuali seseorang yang membuat semua sandiwara ini.
"Haha, ini benar-benar menyenangkan!! Ini tidak membosankan... Bagaimana aku belum tahu selama ini!" batin Agnes yang sedang gembira.
Dua putaran... Tiga putaran...
Empat putaran...
Lima putaran...
Julia merasa bahwa kakinya sudah tidak kuat lagi untuk berlari, tapi mau bagaimana lagi... Dia hanya bisa mengikuti perkataan gurunya.
Bahkan guru-guru yang lain hanya melihatnya sebagai hukuman biasa...
Tidak peduli apapun yang terjadi kepada murid kelas lain, selama murid dikelasnya baik-baik saja, itu cukup.
Melanjutkan berlari, Kali ini Julia merasa bahwa kakinya benar-benar akan patah jika dia berlari lebih lama lagi.
Setelah mencapai delapan putaran, dia diam untuk sementara, karena sudah tidak kuat untuk berlari dalam panas ini.
"Apa-apa ini? Jika kau menerima hukuman, lakukan dengan benar! Kenapa kau berhenti sekarang!!" terdengar teriakan dari kelas lain yang bahkan tidak diketahui Julia.
Julia pun berpikir sejenak dan dia bertanya-tanya,
Kenapa banyak sekali yang membenciku?
Kenapa aku dibenci? Apa karena wajahku?
Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang membuat seseorang membenciku, lantas karena apa kalian membenciku?
Tentu, tidak semua murid membencinya, ada yang hanya mengikuti alur, ada juga yang tidak peduli kepadanya.
Apalagi mereka semua berpikir akan merepotkan untuk membantu Julia sekarang,
Ya, itu semua karena satu orang saja... perubahan tidak masuk akal itu, semua orang tidak akan bisa membantah maupun menentangnya.
Tidak lain, tidak bukan, orang itu adalah Agnes, Orang tuanya adalah investor terbesar di sekolah ini.
Mereka semua ketakutan jika Agnes akan menyerangnya balik dan mengeluarkan mereka dari sekolah.
Bukan tanpa alasan mereka semua ketakutan, selama ini Agnes sudah mengeluarkan 5 orang yang menentangnya,
dan 1 orang guru dengan alasan melakukan pelecehan seksual kepada murid perempuan,
yang padahal semua orang tahu bahwa guru itu hanya ingin memperbaiki cara berpakaian Agnes yang sudah melanggar kebijakan sekolah.
Murid lain hanya bisa diam dan melihat Julia diperlakukan seperti itu oleh Agnes.
"Benar.... Benar!! Kenapa kau berhenti sekarang... Jika kau mendapatkan hukuman lakukanlah dengan serius, Bod*h!" teriak seseorang dari kelas lainnya.
"Benar!! Larilah lagi!!"
"Larilah, dasar bod*h!!"
"Kenapa kau berhenti, dasar jal*ng!!"
"Larilah sampai kau mati, bgst!"
Semua orang meneriakinya, mulai dari kelasnya hingga ke kelas lainnya,
di berbagai sisi sekolah begitu banyak teriakan dan ejekan yang dilontarkan kepada Julia.
Julia benar-benar sudah tidak kuat untuk berlari lagi, dan hanya ingin istirahat sejenak dan melanjutkannya sebentar lagi.
Tapi murid yang lain hanya bisa meneriakinya dan melontarkan ejekan padanya.
Tapi seseorang yang diejek itu sekarang sedang berpikir,
"Mati? Apa lebih baik kalau aku mati begitu? Apa hidupku hanya menjadi beban bagi orang? Jika seperti itu maka lebih baik untuk mati seka-"
Selagi ingin memikirkan hal ini, dia teringat tentang keluarga Pamannya yang ada dirumah...
Menggantikan hal itu, yang ada dipikiran Julia sekarang hanyalah keluarga dirumah yang menantinya untuk pulang.
"Benar, ada Paman dan Bibi Cecilia yang menunggu dirumah... Aku tidak boleh berpikir seperti itu!" batin Julia untuk menyemangati dirinya.
Julia terus berlari, berlari dan belari... saat sembilan putaran dia merasakan bahwa kakinya terasa terkoyak-koyak saat melanjutkan satu langkah saja...
Keram-keram pada otot kaki mulai bermunculan saat setengah lapangan terlalui...
Pada kondisi ini jika dia berlari lagi maka akan terasa sangat menyakitkan dikemudian hari
Tapi dia tidak peduli, walaupun sakit dia tetap harus berlari...
Julia benar-benar tidak pernah lari sejauh ini sejak dia hidup, apalagi tubuh Julia yang benar-benar lemah akibat jarang berolahraga.
Hal ini pun, tak bisa dia capai karena banyaknya kekerasan dan penindasan yang dilaluinya dulu.
Otot-otot merasakan rasa sakit yang tidak tertahankan,
"Sebentar lagi, tunggu sebentar lagi.. hanya perlu sebentar, maka semua ini akan berakhir!" batin Julia
Terus berlari dan berlari, didepan matanya terlihat tempat dia memulai untuk berlari, hanya butuh untuk sampai disitu saja maka semua ini akan berakhir.
Mata Julia pun mulai sedikit pudar karena panas yang diterima tubuhnya itu.
"Ti-tidak!! Cukup sebentar! Sebentar lagi aku akan sampai!"
Tersisa 6 langkah, dan Julia terjatuh pada waktu itu juga.
Orang-orang yang melihatnya menatap dan hanya bilang...
"O-oi, di-dia tidak benar-benar mati kan?" tanya salah seorang murid
"Mana kutahu bodoh! Kau coba cek sana!" jawab murid disebelahnya
"Ti-tidak mau, kau saja yang kesana!" balas murid tadi
Setelah itu, Julia dibawa ke UKS oleh gurunya karena salah satu murid melaporkannya.
-------------------------------
Terbangun dengan keadaan kaki dan kepala yang sakit, dia melihat seseorang sedang menunggu disebelahnya
"Syukurlah kau sudah bangun, Julia!" ucap seorang anak dengan wajah sedihnya.
"Ahhh... Millie... Aku baik-baik saja." sahut Julia dengan senyum diwajahnya.
"Kau sungguh baik-baik saja?" ucap anak yang dipanggil Millie.
"Hmm..? Kenapa? Apa Millie benar-benar mengkhawatirkanku?" ejek Julia kepada Millie.
"Ka-kamu! Huftt... Baiklah, kalau kamu baik-baik saja, a-aku benar-benar meng... meng-"
"Meng? Ehh.. apa itu meng?" ejek Julia sekali lagi.
"Aghhh kau! A-aku meng... meng... keuhh... Aku benar-benar mengkhawatirkanmu, bodoh!" sahut Millie.
"Haha, terimakasih Millie... sudah mengkhawatirkanku." ucap Julia kepada Millie.
Millie adalah anak dari Paman dan Bibinya, dia satu tahun lebih muda dari Julia, dia tepat pada SMA kelas 1 saat ini.
Walaupun orang-orang membenci Julia, hanya Millie lah yang benar benar membantunya selama ini.
Millie juga tidak mengetahui bahwa Julia telah dirundung dan ditindas oleh teman sekelasnya,
ini karena kelas Millie benar-benar jauh dari lapangan, dan tidak melihat apa yang dilakukan Julia pada saat itu, dia hanya mendengar bahwa Julia jatuh pingsan di UKS lalu menghampirinya.
Walaupun perbedaan mereka satu tahun, tetapi bagi Millie... Julia adalah kakak yang sangat baik bagi dirinya.
Setiap Millie kesusahan di rumah, Julia selalu membantunya selama ini...
Walaupun pada awalnya, Millie tak terlalu akrab dengan Julia karena Ayahnya yang tiba-tiba membawa seseorang seumurannya ke rumah.
Tapi lambat laun dia mulai menerima Julia dirumah sebagai keluarganya, dia sudah dibantu oleh Julia selama ini,
Jadi mengetahui bahwa Julia pingsan di UKS benar-benar mengkhawatirkannya.
"Julia, kenapa kamu bisa pingsan?" tanya Millie.
"A-ahh... I-itu karena... Ahhh benar, itu karena kurang makan." jawab Julia
"Haaa?? Bukannya tadi pagi kita sarapan? Apa porsi segitu masih kurang bagimu? Kalau begitu aku akan memberitahu Ibu untuk menambahkan porsi makanmu." ucap Millie dengan nada keheranan
"Ti-tidak apa-apa, na-nanti aku akan memberitahu Bibi sendiri, aku juga tidak ingin mengkhawatirkan Bibi." sahut Julia.
"Be-benarkah?"
"Iya-iya, benar!"
Julia berpikir bahwa tidak baik memberitahu keluarganya tentang hal itu, dia juga tidak ingin mengkhawatirkan keluarganya lagi.
"Baiklah kalau begitu, karena istirahat sudah hampir selesai, maka aku akan kembali ke kelas..." ucap Millie.
"I-iya, sampai jumpa di rumah."
"Iya, sampai jumpa di rumah."
Millie pergi kembali ke kelasnya, saat itu juga Julia menangis.
Memang benar bahwa kakinya sakit sekali, tetapi dari semua itu dia terharu... sebab masih ada yang mengkhawatirkannya.
Bel pun berbunyi, menandakan kalau jam istirahat sudah selesai.
"Kutahu bahwa ini mengejutkan tetapi pingsan hingga jam istirahat, berapa lama kupingsan?" batin Julia
"Jika dihitung 3 pelajaran diawal selama 3 jam, penjelasan materi dan tugas selama 1 jam kurang lebih. Maka sudah 4 jam ini aku pingsan."
"Inimah tidur bukan pingsan." batin Julia dengan perasaan sedih yang berbeda
Selang beberapa menit Julia bergegas ingin memasuki kelas, tetapi dia terhenti karena kakinya masih kesakitan.
Saat digerakan sebentar saja lutut Julia sudah merasa sangat kesakitan, apalagi jika dia berjalan.
Hal ini membuat Julia mengetahui bahwa olahraga juga penting untuk tubuh, mungkin setelah kakinya sembuh dia ingin melakukan sedikit olahraga.
Beberapa menit sakit sudah mereda, dia berjalan keluar dari UKS.
Walaupun sakit masih menghantuinya, ini belum seberapa jika dibandingkan saat Julia dipukuli.
Terus berjalan hingga kelasnya... Tetap saja, dia masih gugup untuk masuk ke kelas, mengambil napas dalam-dalam lalu keluarkan...
Membuka pintu...
Lalu, dia melihat teman dan gurunya yang sedang menatapnya saat ini.
Karena Julia malu, dia tak mempunyai hal yang harus dikatakan... dan terus berjalan menuju tempat duduknya.
Saat itu pula, dia sangat terkejut, mengetahui bahwa meja dan kursinya sudah banyak sekali sampah dan berbagai coretan terpampang jelas dimatanya.
Dia bingung dengan ini semua dan terkejut, lalu dia berpaling ke arah meja Agnes dan melihatnya.
"Tolong jangan menatapku seperti itu, Julia... Aku menjadi malu." goda Agnes
"Agnesss..." batin Julia yang sudah merasa ini semua perbuatan Agnes.
"Ah, jangan salah paham.. aku tidak melakukan apapun kali ini, jika kau menuduhku tanpa bukti bisa bahaya loh..." ucap Agnes dengan seringai kecil dimulutnya.
Julia sudah tau bahwa Agnes lah orangnya, yang membuat meja dan kursinya berantakan seperti ini.
Walaupun bukan dari tangannya, ucapannya saja sudah bisa menggerakkan tangan orang lain untuk melakukan hal kejam seperti ini untuknya.
"Julia, jika kau ingin membuang sampah buanglah pada tempatnya, bukan buang sampah di meja dan kursi!!" geram guru itu.
"Ta-tapi bu, ini bukan samp-"
"Tapi apa?! Julia, tolong jangan membuat orang lain marah... Kau sudah membuat Wali Kelasmu terkena sanksi, sekarang apa kau akan membuatku merasakannya juga?!" bentak sang guru.
"Ti-tidak bu... A-aku mengerti, aku minta maaf." jawab Julia dengan takut.
Tentu, sandiwara seperti ini sudah disiapkan dengan matang sebelumnya, dan kalian mungkin tau siapa yang dibaliknya.
Jika, pertanyaan ini adalah pertanyaan terakhir dari "Who Wants to be a Millionaire?"
Dan jika, jawabanmu adalah Agnes, maka selamat... Anda menjadi jutawan sekarang.
"Tidak ada yang bisa untuk memberhentikan perempuan ini."
Itulah pemikiran semua orang yang ada di sekolah ini, mau itu guru ataupun murid.
Segera setelah itu, Julia membersihkan meja dan kursinya, dia mondar mandir hanya untuk membersihkan tempat duduknya.
Walaupun sampah sudah dibuang tetapi bau dari jus dan lem kertas melekat di meja dan kursi.
Coretan pun hanya setengah yang bisa dihapus, karena setengahnya lagi bekas dari spidol permanen.
Tidak ada pilihan lain, sudah 20 menit berlalu sejak Julia membersihkan tempat duduknya, menahan rasa sakit dari kakinya,
dan teman sekelas maupun gurunya melanjutkan pelajaran seolah-olah tak terjadi apapun,
yang bisa dilakukan Julia sekarang hanyalah duduk dan menahan bau dari tempat duduknya sampai pulang sekolah.
Tentu tidak semudah itu untuk pulang dari sekolah, Julia harus melewati kekerasan lain yang dilakukan oleh Agnes dan teman-temannya.
Seperti dibasuh dengan air pel, tasnya dimasukkan ke tempat pembuangan sampah, memberinya kertas "aku adalah jal*ng" tepat di punggungnya, dan bermacam-macam perundungan lainnya
----------------------------
Bel pulang berbunyi...
yang bisa dilakukan Julia sekarang hanyalah kembali ke toilet untuk membersihkan dan menghilangkan bau busuk dari tubuhnya.
Sesudah merapikan semuanya, Julia pulang dari sekolahnya dan bersikap seperti tidak terjadi apaapun pada dirinya.
Karena untuk membuat Paman dan Bibinya khawatir adalah hal yang tidak mau Julia lakukan.
----------------------------
Pulang ke rumah baru...
Disambut dengan hangat oleh keluarga barunya....
Keberadaan Paman dan Bibinya yang membuat Julia aman dan nyaman...
Mempunyai sepupu seperti adik perempuannya...
Nikmat dan berkat apalagi yang harus diterima piatu seperti Julia ini?
Walaupun Julia dirundung, ditindas, dan dipermainkan oleh semua orang.
Selama keluarga barunya masih mendukung dan menyayangi Julia,
"Tidak apa-apa."
Itulah pemikiran yang ditanam oleh Julia kepada dirinya sendiri....
Untuk bertahan saat keinginan maupun semangat untuk hidup sudah tidak ada.
-------------------------
"Keluarga yang harmonis."
Begitulah kesan pertama Julia kepada keluarga Pamannya...
Saat Ibu Julia tiada, yang bisa dilakukan Julia hanyalah meratapi nasibnya.
Berpikir seperti...
"Apa yang harus kulakukan..."
"Kenapa Ibu meninggalkanku sendirian..?"
"Bagaimana caranya untuk bertahan besok?"
"Apakah ada tempat bagiku untuk pulang?"
"Aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi..."
"Aku sudah muak dengan mereka..."
Sementara Julia melamun memikirkan hal ini, Pamannya tiba-tiba datang padanya...
Berkata jika dialah yang akan mengurus Julia sekarang...
Memindahkan sekolahnya ke sekolah yang baru, dekat dengan tempat tinggalnya yang sekarang...
Bibi maupun Sepupunya yang lambat laun menerima keberadaan Julia sebagai keluarga...
Jadi tidak ada alasan untuk tidak mengatakan bahwa keluarga ini sangat harmonis sampai sekarang...
Ya, sampai maut menjemputnya...
------------------------------------
Sudah 2 minggu sejak Julia tinggal di rumah Pamannya...
Waktu yang dia habiskan bersama, benar-benar membuat Julia bahagia...
Meskipun banyak rintangan yang harus dihadapinya disekolah, dia tidak pernah berpikir untuk membuat Pamannya kesulitan...
Dia selalu menyembunyikan kesedihan dan beban yang dipikulnya selama ini, tidak pernah terpikir oleh Julia untuk melapor ke Paman maupun Bibinya...
Dan selama jangka waktu ini, keadaan Julia pun semakin memburuk, baik itu mental maupun tubuhnya.
Memang benar bahwa keberadaan keluarga bagi Julia adalah sesuatu yang sangat dia syukuri.
Tetap saja, itu tidak membantu dalam menangani kesulitannya...
Dia saat ini sedang kesakitan karena semakin lama keadaan kakinya semakin memburuk.
Bahkan saat menggerakkan kakinya sedikit saja, Julia merasa bahwa kakinya benar-benar akan lepas dari tubuhnya.
Tidak tau lagi apa yang harus dilakukannya, Julia juga tau bahwa meratapi nasibnya yang sekarang, itu percuma saja.
Saat ingin mengambil segelas air putih untuk diminum, dia tiba-tiba terjatuh saat bangun dari kasurnya.
Suara jatuhnya pun terdengar oleh Paman dan Bibinya yang sedang menonton televisi saat ini, tidak terkecuali dengan teriakannya.
Paman dan Bibi bergegas ketempat suara itu berasal, dan terkejutnya mereka bahwa suara itu berasal dari kamar Julia, tidak ada pilihan lain... Paman Julia membuka pintu kamarnya cepat-cepat.
Alangkah terkejutnya mereka, melihat Julia tergeletak dilantai dengan keadaan menangis kesakitan.
"J-JULIAAAAA!!!" teriak Bibinya dengan perasaan sangat khawatir.
"Tenanglah, kita panggilkan ambulance sekarang juga." ujar Pamannya untuk menenangkan istrinya itu.
Setelah itu, Julia dibawa kerumah sakit untuk menjalani pengobatan.
Dokter mendiagnosa adanya cedera pada tendon achilles milik Julia, tendon achilles adalah tendon besar pada pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis ke tulang tumit.
Diketahui tendon achilles milik Julia robek, ini mengakibatkan Julia tidak bisa berjalan, melompat maupun bergerak sembarangan.
Robeknya tendon achilles diakibatkan terlalu banyak meregang melebihi kemampuannya, yang didasari pada banyaknya pergerakan Julia.
Saat ini Julia tidak mengetahui tentang metode pertolongan pertama RICE, alih-alih mengobati kakinya Julia justru mengabaikannya.
Apabila ada cedera saat tendon achilles terluka, maka dianjurkan untuk segera menjalani pertolongan pertama RICE,
Ini untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, contohnya seperti cacat permanen pada kaki.
Lalu, Julia segera dioperasi untuk menyambungkan tendon achilles miliknya...
-------------------------------------------------
5 hari telah berlalu sejak kaki Julia terluka...
Tidak ada yang bisa Julia lakukan sekarang, hanya bisa menahan rasa sakit ini walaupun Julia sudah hampir tidak kuat untuk menahannya...
Disaat ini, Julia masih tidak mengetahui apa yang membuat kakinya sangat sakit, banyaknya pergerakan yang dilakukan Julia justru membuat luka ini semakin memburuk.
Walaupun Julia ingin juga untuk istirahat, tetap saja Agnes akan melakukan hal buruk setiap harinya saat Julia disekolah.
Membuatnya perlahan-lahan untuk mengalami rasa sakit, Agnes akan memukul, menendang, dan menjambak sesuka hatinya...
Ada kalanya Julia menangis saat ditendang oleh Agnes, yang ditendangnya adalah pergelangan kakinya.
Pada titik pergelangan kaki, seperti yang kita semua tahu bahwa tendon achilles milik Julia sudah sangat meregang seiring waktu...
Melihat Julia dalam keadaan menangis, Agnes semakin terlihat menikmati saat menindas Julia.
Tertawa, dan menganggap tangisannya adalah hal yang sangat lucu... pada genetika Agnes pun tidak terlihat bahwa dia memiliki kekejaman yang diwarisi oleh ortunya.
Dan rasa sakit itu semakin lama semakin memburuk hingga 5 hari, dan puncaknya adalah hari ini tepat pada malam hari... tendon achilles milik Julia tidak bisa bertahan saat Julia terpleset.
Jika itu dalam keadaan normal mungkin saja hanya keseleo, tapi pada situasi kali ini yang membuatnya kesakitan adalah peregangan tendon miliknya.
Saat tekanan pada tendon achilles terjadi, lipatan kaki Julia saat terpleset membuatnya memberikan beban yang berlebih pada tendon achilles sehingga menyebabkan robeknya tendon tersebut.
-------------------------------------------------
Operasi selesai, Julia pun mendapatkan hasil yang memuaskan...
Untung saja dia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untung menjalani operasi, sehingga luka bisa lebih cepat ditangani...
Paman dan Bibinya pun lega saat ini, mereka sangat khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Julia.
Setelah melihat keadaan Julia, Paman dan Bibinya merasa sedih tidak bisa menjaga Julia dengan baik.
Setelah itu Dokter datang untuk menjalani Anamnesis pada Julia...
Julia pun tidak punya pilihan untuk menceritakan awal terjadi penyakitnya,
tentu dia berbohong jika itu adalah penindasan dan tidak menceritakan tindakan Agnes yang membuatnya mengitari lapangan sepuluh kali,
bahkan soal tindakan kejam Agnes lainnya, Julia tidak ingin hal ini menjadi semakin merepotkan.
"Pertama kali saya merasa kesakitan adalah lima hari yang lalu..."
"Itu mungkin terjadi karena saya terlalu banyak bergerak selama ini..."
"Saya piatu, mereka adalah paman dan bibi saya yang merawat dan menjaga saya selama ini, saya sangat bersyukur bisa menjalani hidup bersama mereka..."
"Aku tidak ingin menceritakannya... terima kasih..."
"Mungkin ini ketiga kalinya kerumah sakit... biasanya saya merawatnya di rumah bersama Ibu saya..."
Selesai, Dokter pun pergi dari ruang inap...
------------------------------------------------------
Melihatnya menjawab semua pertanyaan Dokter itu, air mata Bibinya tidak bisa bertahan lebih lama.
"Kenapa dia tidak menceritakannya pada kita?" batin Paman dan Bibinya...
Lalu, Julia memberitahu perasaannya selama ini kepada Paman dan Bibinya itu...
"Itu tidak merepotkan kita sama sekali kok... kenapa kamu berpikir seperti itu..." jawab Bibinya.
"Seperti yang Bibimu katakan, kita adalah keluarga... tidak peduli berapa lama waktu yang dihabiskan bersama, saat ini yang bisa kita lakukan adalah percaya satu sama lain." ujar Pamannya kepada Julia.
"Kau sudah kuanggap sebagai anakku sendiri, yah mungkin sedikit aneh untuk mengatakan ini, tapi kamu sudah pintar sebagai kakak untuk Millie."
Tidak ada keraguan, semua yang dikatakan Paman dan Bibinya adalah sebagai sumpah untuk diri sendiri,
"Mulai dari sekarang kita akan lebih memperhatikanmu, jadi katakan semuanya ketika kamu butuh bantuan dan tidak ada tempat untuk bersandar."
"Te.. terima kasih... Paman... Bibi... tidak, Ayah... Ibu..."
"Haaa..... Sayang, dengar? dia mengatakan aku sebagai Ibu, kyaaa!!" teriak Bibi Julia dengan senang.
"I-iya dan dia juga mengatakan Ayah..." lirih sang Ayah dengan malu-malu kucing.
Alasan mereka bahagia dipanggil Ayah dan Ibu oleh Julia adalah karena Millie, sudah lama Millie tidak mengatakan Ayah dan Ibu.
Setiap kali mereka mendekatinya untuk mendapatkan panggilan Ayah dan Ibu selalu saja dia menjauh.
"Mungkin dia sedang mengalami masa penolakannya... apa dia punya pacar ya? dia terlalu kejam kepada orang tuanya, OHHHHH!!!" itulah pemikiran orang tua Millie...
*Bukannya karena itu Millie menjauhi mereka?
Setelah sedikit berbincang dan bercanda, Paman dan Bibinya pun akan segera pulang karena sudah larut malam.
Mereka mengatakan untuk Julia agar beristirahat dengan cukup selama dirumah sakit, menjaga pola makannya dan mengkhawatirkan hal hal kecil lainnya.
"Kita pergi dulu ya..." ucap Paman dan Bibinya.
"Iya, hati-hati dijalan!" sahut Julia
Setelah itu Julia sendirian diruang inap, dan dia memikirkan tentang hal hal yang berkaitan dengan Ibunya dulu...
Julia merasa tidak enak saat berpikir tentang Ibunya, jadi dia tidak melanjutkannya... apalagi dia sekarang sudah memanggil Bibinya sebagai Ibu sekarang...
"Ahhhh... malunya... kenapa tadi aku mengucapkan hal seperti itu..." gumam Julia dengan rasa malu menyelimutinya...
Setelah itu dia tertidur dengan perasaan yang lebih lega dari sebelumnya, bahkan Julia tidak pernah merasakan lagi perasaan nyaman seperti ini selain saat bersama Ibunya.
----------------------------------------------
Pada keesokan harinya, Julia terbangun dengan perasaan nyaman sekali... walaupun nyeri di kakinya masih terasa...
Memandangi langit cerah sebagai awal mula dari kehidupannya...
"Terima kasih Tuhan, telah memberiku berkah yang seperti ini..."
*Sreeg
Mendengar suara pintu terbuka, Julia langsung melihat kearahnya dan dia melihat...
"Banyak sekali orangnya... ada apa ini... apa ada hal buruk terjadi pada kondisiku? dokter dan suster banyak yang berdatangan... semuanya 7 orang." batin Julia terkejut dengan kedatangan banyak orang saat ini.
"Dek Julia, mungkin ini terdengar sangat menyakitkan dan berat untuk dikatakan tapi kuharap kamu bisa menerima kenyataannya..." ucap sang Dokter dengan perasaan sedih.
"Dokter? ada apa? apa penyakitku ada yang salah..?" jawab Julia dengan perasaan khawatir.
"Kemarin malam, ditemukan 2 orang meninggal dalam kecelakaan di jurang dekat sini... 2 orang itu terdiri dari satu laki-laki dan satu perempuan, alasannya karena rem blong pada mobil tersebut..." ucap sang Dokter.
"Ehhh...?"
Julia kebingungan dengan situasi yang ada didepannya pada saat ini... Julia berpikir mereka salah orang untuk mengatakan hal itu tapi...
"Yang kebetulan itu adalah wali anda..." ucap Dokter.
"Hah..? Ehhh...? Apa maksud anda tentang wali? wali yang anda maksud itu..." rintih Julia dengan perasaan tidak enak.
"Benar, itu Paman dan Bibi anda yang tadi malam ada disini..."
Betapa terkejutnya Julia setelah mendengar hal ini, seperti ada batu besar yang menghantamnya... perasaan Julia menjadi tidak karuan dan...
"ITU MUSTAHILLLL!!!!!!!" teriak Julia dengan suara lantang.
"Tapi itu kenyataannya, kamu harus menerimanya..." jawab Dokter itu untuk meyakinkan Julia akan kenyataan.
"MUSTAHIL, MUSTAHIL, MUSTAHIL, AKU TIDAK MENERIMA HAL ITU...!!!! KENAAAAPAAA?!!! KENAPAA?!!!!" teriak dan tangis Julia.
"I-itu mustahil... kenapa? kenapa hal seperti itu terjadi? padahal kemarin ada disini tapi kenapa?!"
"Itu tidak benar-benar terjadi benarkan?"
"Memang itu kenyataannya." sekali lagi Dokter menegaskan kenyataan pada Julia.
"KENAPA!?!!! KENAPA SEMUANYA MENINGGALKANKU SEPERTI INI..!!! AKU TIDAK SALAH APAPUN, AKU TIDAK PERNAH MEMILIKI KESALAHAN APAPUN, JADI KENAPA?!!!"
"PADAHAL KEMARIN KITA TERTAWA BERSAMA DAN SEKARANG MEREKA SUDAH TIADA, BAGAIMANA ITU MUNGKIN?!!!"
"Itu benar... bagaimana itu mungkin..." rintih Julia.
"Akhhhh.... akkhhhh.... AAAKKKKKKKKKHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!"
"AKKGHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!"
Tangisan Julia menggema ditelinga semuanya, ruangan dipenuhi isak tangis Julia,
dokter dan para suster memutuskan untuk meninggalkan Julia sendirian saat ini adalah keputusan yang baik, bagi remaja sepertinya.
Bahkan orang-orang yang dilorong dekat kamar inap Julia, mendengarkan tangis Julia.
Kejam, itulah takdir yang terus dialami gadis ini.
Saat ini Julia tidak tahu harus bagaimana kedepannya, pikirannya secara acak membuatnya tidak bisa berpikir lebih jauh... dan semangat hidup telah...
"Kamu pasti bisa...", "Kamu sangat pintar, sayang!", "Hahaha, jal*ng ini berani-beraninya sok cantik!", "Matilah!", "Matilah!", "Kenapa kamu masih hidup?", "Kamu tidak perlu sedih, sayang.", "Bagaimana bisa dia lebih cantik dariku!", "Bukankah dia terlalu sombong?!", "Apa yang kamu lakukan, sayang!", "Matilah, dasar bjngan!", "Lihat, lihat dia haha!!", "Lihat dia menangis, haha payah!", "Lihatlah dirimu, dasar bodoh!", Tidak apa-apa, tidak apa-apa...", "Aku sungguh membencimu!", "Kenapa kamu memegang pisau?!", "Kembalikan! kembalikan pacarku dasar pelakor!!!", "T-Tolong letakkan itu...", "Apa yang akan kau lakukan sekarang?", "Lakukan sesukamu, aku tidak akan pernah kembali lagi...", "Tapi, sayang anak kita!", "Lihat, dia ngompol! ahahaha!!", "Perlukah sejauh itu..?", "Lihat dirimu, si cantik!", "To-tolong jangan!", "Hey, hidup itu sungguh sulit ya?", "MATILAH!!", "Bagaimana ini...", "Haha, lihat muka dia penuh kencing!!", "Jangan pernah kau ulangi!!", "Bukannya kau terlalu dekat dengan cowokku?", "Julia, kita putus ya... aku tidak kuat lagi!", "Berani-beraninya kau menyentuh pacarku!!", "Maaf ya sayang, hanya ini yang kita punya...", "Kenapa kita tidak membunuhnya saja?", "KENDALIKAN DIRIMU!!!", "Mama ada disini... tidak apa-apa...", "Memang cewek seperti dia bisa hidup sesukanya?!", "dasar tol*l!!","TOLOOONNNNGGGG!!!!"
"Ahhh... langitnya benar-benar indah."
*WUUUUUUUUSSHHHHH!!!!
"Akankah tanganku mencapainya?"
*WUUUUUUUUSSSSHHHHHHH!!!
"Ahhh benar, aku melupakannya... Mill-"
*Cpraaatttt!!!!
"Kyaaaaa!!!!!!!"
"Apa yang terjadi?!"
"Seseorang bunuh diri!!!"
"Apa?!"
"Dia langsung terjun dari atas sana..."
"Gadis yang malang..."
"Panggil pihak rumah sakit cepat!!!"
"Ayah... Ibu...."
~Selesai~
----------------------------------------------------
Terimakasih telah membaca Cerpen ini, semoga kalian suka... dan maaf apabila ada kesalahan kata, kalimat, dan nama yang menyinggung pihak lain...
Saya buat semata-mata hanya untuk menghibur kalian dengan cerita ini...
Terima kasih!
FIKSI|MENYERAH|TERIMAKASIH!!
~By Azayoi