Pernikahan yang aku jalani sudah berjalan puluhan tahun lamanya dan tidak tahu sudah berapa banyak penghianat yang di lakukan suamiku di belakangku.
Jujur aku tidak mengerti ini sifat atau hobi suamiku yang bernama Hans Wijaya untuk bergonta-ganti wanita, seperti tidak mau peduli betapa sakitnya hatiku menjadi istrinya.
Aku hanya wanita biasa yang bernama Delisa Nur Fitriyah, mencoba bertahan bertahun-tahun menghadapi sifat Hans yang gemar bermain wanita.
Aku sudah mempunyai dua orang anak, satu putra dan satu putri, mencoba menutup mata melihat kelakuan suamiku yang sangat menjengkelkan.
Sudah beberapa kali aku meminta cerai darinya namun ia tidak pernah mau menceraikanku, namun tidak juga mampu menjaga perasanku. Tapi aku masih betah bertahan karena selama ini Hans bermain wanita hanya untuk sebuah kesenangan.
Sampai di satu titik jarum pengendalian diriku habis tak bersisa, perpisahan yang harus menjadi jalan terbaik untuk kami.
Suatu hari suamiku datang dengan seorang wanita muda dan mengaku hamil anak dari Hans, lalu memintaku untuk merestui mereka menikah.
Wanita itu aku sangat mengenalnya dia adalah teman satu kantor suamiku, tetanggaku dan orang yang aku percaya untuk berkeluh kesah tentang masalah rumah tanggaku.
Bagaikan petir di siang bolong aku merasa di khianati, aku merasa di bohongi dan alangkah bodohnya aku bisa menjadikan wanita seperti itu untuk mendengar cerita rumah tanggaku lalu ia menikamku dari belakang.
Wanita itu yang sering pergi bersamaku, bahkan aku sangat memanjakannya karena aku menganggap dia bisa menjadi teman curhatku. Aku menitipkan suamiku kepadanya, mereka pergi dan pulang kerja bersama satu mobil dengan begitu aku berharap suamiku bisa langsung pulang ke rumah selepas kerja, tanpa mampir ke tempat maksiat.
Kenyataannya mereka berdua malah bermain gila di belakangku dan wanita itu hamil anak Hans sekarang. Tanpa sepengetahuanku mereka sering menghabiskan waktu bersama dan suamiku sangat mencintai dirinya.
Sakit sekali rasanya hatiku bagaikan tertikam puluhan belati di hati yang kecil ini, sesak dadaku jika mengingat apa yang mereka lakukan berdua di belakangku.
Lemas semua tubuh ini, ingin aku bunuh diri atau ku bunuh saja wanita iblis itu sekarang juga, jika aku tidak ingat dosa.
Aku hanya menangis tidak bisa menjawab apa pun, mengizinkan mereka menikah aku tidak rela dan meminta mereka berpisah Hans pun tidak setuju.
"Kamu setuju atau tidak aku tetap akan menikah dengannya," itu kalimat penegasan yang keluar dari mulut seorang Hans.
Sedang wanita itu hanya diam seribu bahasa dan menunduk, Hans dengan mesranya memeluk dan menciumnya di depanku. Tangan Hans menggenggam jari wanita itu, mereka berdua layaknya orang yang sedang jatuh cinta, sedangkan aku hanya menangis perih dengan ketidak berdayaanku.
"Persetan dengan apa yang akan kalian berdua lakukan, namun jangan harap aku merestui hubungan busuk ini!" Jawabku di sela tangisku yang terdengar sangat menyakitkan.
"Baiklah, aku tidak butuh persetujuanmu! Aku kesini hanya memberitahu kamu supaya suatu saat jangan kaget ketika dengar berita ini dari orang lain." Ucap Hans sambil membawa wanita pengkhianat itu pergi dari rumahku.
Setelah kejadian itu hatiku hancur, aku hanya wanita yang memang tidak berguna, kalau aku tidak melihat anak-anakku yang masih membutuhkan aku ingin rasanya aku mengakhiri hidup saat ini juga.
Tapi aku harus bertahan demi mereka, aku tidak ingin melihat mereka hidup bersama mama tirinya.
Hans mempersiapkan rumah untuk wanitanya dan pindah dari lingkungan perumahan kami ke tempat yang baru.
Suamiku mulai jarang pulang dan banyak menghabiskan waktu bersama istri keduanya itu, bahkan sepertinya melirik aku pun ia sudah tidak berselera.
Memang aku akui istri keduanya itu wanita muda, modis, dan secara sosial ia termasuk orang yang cukup berada.
berbeda dengan aku yang hanya ibu rumah tangga biasa, pakai daster dan hampir tidak pernah berdandan.
Kulitku hitam gelap sedangkan istri mudanya suamiku berkulit putih dan mulus, membuat Hans sepertinya sudah tidak sudi untuk menjamah ku.
Awalnya aku masih bertahan dalam posisi ini, menjadi istri yang di abaikan dan tidak pernah di anggap kehadiranku.
Hans yang masih sesekali pulang dan menginap di rumah untuk melihat anak-anaknya kini mulai tidak peduli lagi terhadap kami, bahkan sampai masalah keuangan pun yang awalnya lancar dan masih tercukupi mulai tidak di pedulikan.
Untuk mencukupi biaya anak-anak sekolah aku harus bekerja, untung di sebelah rumahku ada seorang bidan yang membuka praktik dan aku bekerja di situ untuk menambah penghasilan.
Aku memutuskan untuk bercerai dari Hans karena sepertinya akan lebih baik seperti itu supaya aku tidak mengalami tekanan batin lagi sebagai istri.
Hans mulai tidak pernah menginjak rumah aku dan anak-anak lagi, kecuali sesekali datang hanya untuk melihat anak-anaknya itu pun tidak lebih dari dua sampai tiga jam saja.
Seiring waktu berjalan aku bisa menata hidupku dengan anak-anakku dengan baik, aku melihat Hans tidak terlalu mencintai anak-anak kami, mungkin dia terlalu bangga dengan keluarga barunya.
Aku melihat isi medsos miliknya hanya di isi dengan foto bahagia dia dan keluarganya barunya. Bahkan aku melihat ia sudah mempunya tiga orang anak bersama wanita itu, sekalipun aku bercerai namun rasa sakit tetap ada ketika aku melihat kebahagiaan yang Hans miliki, tetapi aku memendamnya dalam hati yang terdalam.
Aku tidak menikah lagi setelah perceraian itu, trauma akan rasa sakit pernikahan itu membekas di dalam hidupku.
Aku mengerti Hans pasti bangga dengan istri baru yang masih kelihatan muda dan cantik, berada, dan memiliki karier yang bagus.
Berbeda denganku yang hanya wanita biasa, gadis desa dan orang yang tak punya apa-apa.
Berharap menikah aku akan bahagia, apalagi Hans memiliki karier yang cukup bagus namun tetap saya aku tidak menikmatinya, hanya satu-satunya rumah yang aku tempati ini harta bersama yang Hans tinggalkan untuk aku dan anak-anak.
Mungkin ini takdir hidup dari Tuhan yang harus aku dan anak-anak jalani, berbeda dengan kehidupan Hans dan wanita itu yang hidup dalam kemewahan.
Anak-anaknya dalam kecukupan, bahkan bersekolah pun di sekolah elite.
Aku percaya suatu saat nanti akan ada keadilan Tuhan untukku dan anak-anakku.