Bab I. Berusaha Tegar.
Empat hari belakangan ini Radit tak pernah terlihat di kantor. Seluruh masyarakat kantor pun tak ada yang tahu di mana rimbanya.
Setiap kuhubungi nomornya, selalu saja terdengar suara cantik dari mbak operator yang mengatakan 'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif'. Sebagai kekasih hatinya tentu saja sangat khawatir. Jangan-jangan Radit diculik dan si penculik meminta aku sebagai tebusan. Jiaaaahhh!
Dan hari ini aku berencana mengunjungi rumahnya. Rumah mewah yang berlokasi di salah satu perumahan elit di tengah kota. Setidaknya itu informasi yang kudapat dari Mas Rendra teman sekantor yang ditulis di potongan kertas. Pelit amat dia!
Mungkin banyak yang bingung, mengaku sebagai kekasih hati tapi alamat rumahnya saja tak tau. Yup! Itu benar. Karena setiap kali Radit ngajak ke rumahnya, aku selalu menolak dengan alasan 'belum siap'. Belum siap bertemu sama calon mertua.
"Tujuh puluh lima ribu, Mbak." Ucap pelayan kasir setelah menghitung belanjaanku.
Kusodorkan tiga lembar uang kertas dengan nominal yang disebutkan. Lalu meraih kantong kresek yang disodorkan si pelayan.
"Makasih," kutampilkan senyum termanis dengan sedikit genit. Siapa suruh pelayannya cakep. Ckckck!
Aku bergegas menuju parkir. Menenteng plastik berisi cemilan kesukaan Radit tersayang.
Ping.
Satu notifikasi masuk. Segera ku rogoh isi tas selempang. Mencari benda yang bermerk Sams*ng. Lalu mengusap layar.
[Tega pake banget lo Ay, mau nikah diam-diam]
Alisku mendadak jadi satu membaca pesan dari Arini. Wanita paling bawel dijagad raya. Tapi sahabat terbaik sedunia.
[Maksud lo?]
Satu pesan masuk. Sebuah foto. Segeraku buka. Ah ... lama benar loadingnya. Jangan-jangan kuota sekarat. Dalam hitungan detik sebuah undangan muncul juga di layar.
[Eh tapi nama ceweknya Ayrania Adelia Wijaya. Sebenarnya nama lengkap lo siapa sih, Ay? Kok berubah gitu]
Tak kuperdulikan lagi pesan dari Arini.
Air mata tumpah kini. Bagaimana tidak nama Radit bertengger mesra dengan nama seorang wanita yang tidak ku kenal dalam sebuah kertas undangan pernikahan.
Dengan hati yang hancur entah berapa keping kubelok arah Vario kesayangan menuju kost-an. Tak sabar ingin berguling ria di kasur menikmati hati yang terluka.
Sesampai di kost, untung si bawel Arini belum pulang kantor. Jadi aku bisa bebas menjalankan aksi tampa harus menjawab berbagai pertanyaannya.
Menangis ala aktris Bollywood yang senasip dengan diriku saat ini. Bedanya, mereka menangis dapat duit sedangkan aku ... menangis sambil ngemil.
Dua jam berlalu. Aku menuju meja rias. Melihat pantulan diri di cermin. Berantakan sekali. Lalu kembali merebahkan diri sambil mengotak atik benda ajaib. Semua medsos atas nama Radit kublokir. Lalu menonaktifkan Simcard . Dan yang lebih parah semua cemililan yang kubeli tadi sudah berpindah tempat. Ke perutku. Puas rasanya.
****
"Lo yakin kuat, Ay?" Tanya Arini saat turun dari motor.
"Ya, yakin lah, Beib." Jawabku sok kuat. Padahal hati mewek, guys! "Ayo, ah." Aku menarik tangan Arini untuk memasuki sebuah hotel ternama tempat acara berlangsung sambil berdoa dalam hati mudahan bukan Radit yang ada di pelaminan.
Mewah. Itu kesan pertama saat memasuki ballroom.
Dia di sana.
Radit terlihat tampan mengenahkan setelan Jas warna abu dipadu kemeja warna putih dengan dasi kupu-kupu hitam di leher. Bersanding dengan seorang wanita anggun mengenakan gaun senada warna setelan jas Radit dengan mahkota di atas kepala. Satu tangannya memegang buket mawar putih.
Pasangan serasi.
Aku, Syafalin Aylana Akbar tidak boleh lemah. Harus menjadi wanita tegar dan kuat.
Kami mengikuti barisan mengular menuju satu tujuan. Sepasang manusia yang sedang tertawa riang di atas pelaminan. Sedangkan aku? Aku hanya sang mantan yang kini menahan perih tanpa ada kata perpisahan selama dua tahun menjalin manisnya hubungan. Tak kubayangkan diri ini saat mengenang masa indah bersama. Menyedihkan bukan?
Live musik di acara itu seakan menambah rasa ingin menjambak rambut sang mempelai wanita. Alunan lagu group band Lyla Mantan Terindah mengalun dengan kurang ajarnya. Aku hanya bisa menarik napas. Dalam. Inginnya sih tanpa dihembuskan lagi. Lebay ya!
Kini tibalah aku didepan Radit setelah berjabat tangan dengan wanita yang bersanding disampingnya.
Netra kami bertemu. Tak ada sedikitpun rasa bersalah didalamnya.
"Maksih ya udah datang ...." Tangannya yang kokoh menjabat tanganku dengan lembut.
"Selamat, Yang."
Up! Spontan aku menutup mulut. Mataku membulat menatap langit-langit. Aku melirik Radit. Dia tersenyum. Cepat aku memperbaiki diri. Bertingkah sewajar mungkin. Lalu berjalan mengikuti barisan.
Kenapa aku bisa sebodoh ini. Aku ingin pulang. Segera pulaaaang ...! Emaaakkk!
Bersyukur suaraku lemah lembut ditambah suara musik yang menggelegar. Sehingga seisi ruangan tak ada yang mendengar.
"Teman-teman kita foto dulu, yuk ...," ajak Mas Rendra.
Huaaahh ... Mas Rendra apaan sih. Manusia tidak berperasaan! Haruskah aku berpose tersenyum? Sedangkan hati dibalut luka?
Tolong bilang ke Dilan yang berat itu bukan rindu, tapi pura-pura tersenyum saat foto bareng sang mantan di pelaminan pernikahannya. Jiaaahh!
Setelah selesai menyantap hidangan dan basa basi lain yang memuakkan bagi orang yang patah hati sepertiku, akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan acara yang sangat menjengkelkan itu.
Muhammad Radita Al-farizi . Laki-laki keras kepala. Tapi sangat perhatian dan penyayang. Laki-laki yang membuat hari dalam hidupku indah. Hampir semua hari itu kami lewati dengan bahagia. Bukanya kami tidak pernah punya masalah. Namun Radit selalu bijak. Dia bisa menetralkan semuanya.
Ah ... Radit! Lo mah tega ... Apa salah dan dosa diri ini? Pacaran ama Gue nikahnya ama cewek lain. Sabar Ay! Jangan mewek disini. Nanti makeup-nya luntur.
**
Pagi ini moodku hilang total.
Seluruh tubuh rasanya remuk. Mata sedikit bengkak. Karena sukses menjalankan aksi nangis sambil guling-guling.
Setelah menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim aku membuat sarapan seadanya. Telur mata sapi menjadi menu pagi ini. Berdandan ala kadarnya.
Semangat Ayla. Kalau masih ingin tetap hidup dan makan. Harus kerja! Bukankah sale di butik itu sangat menggiurkan?
"Ay, udah siap belum?" suara nyaring Arini bersamaan dengan suara ketukan pintu. Itu sudah menjadi santapan setiap pagi. Kalah suara ibu kos yang nagih sewa.
Aku membuka pintu. Dia langsung nyelonong.
"Eh, tau gak, si Radit hanimun ke Korea." Dia duduk di atas kasur. Sudah rapi dengan dandanan menornya.
Tuh kan, dia mah kalau ngomong asal ceplok.
"Cuma dua hari." Tambahnya sambil mengotak atik hape.
Entah dari mana dia berburu gosip sepagi ini.
Aku duduk disampingnya.
"Rin, bisa gak sih, lo hormati hati gue yang lagi patah?"
"Maafin gue ya, Ay..." Dia membelai rambutku dengan tatapan iba. "Aku nebeng ya, motorku masih dibengkel." Lanjutnya sambil nyengir.
Dasar si Arini. Aku tersenyum.
Seharusnya aku yang berada di Korea saat ini. Berpose di bawah bunga sakura. Menikmati berbagai macam kuliner. Yang halal tentunya. Selpong bersama Lee min Ho. Ah sudahlah! Persetan dengan orang yang pergi honymoon. Dunia gak akan kiamat meski Radit tidak jadi milikku. Aku harus bisa menata hati. Tak ada gunanya bermelow terus menerus. Siklus waktu akan tetap berjalan. Akulah yang harus mengejarnya.
****
"Gak sebaiknya lo risen aja dari kantor, Ay?" Arini memberi saran.
"Gila lo, Rin. Trus gue mau makan apa kalau berhenti." Tolakku mentah-mentah.
"Gue cuma kasian ama lo, beib." Arini menatap iba.
"Gue baik-baik aja. Lihat lah gue bahagia!" Aku tertawa terpaksa.
Arini menepuk pundakku."Gue kenal betul ama lo, beib."
"Udah ah ... masuk sana." Aku menepis tangannya. Arini terkekeh. Dasar!
Berambung.