Saat SD, hal utama yang dilakukan di sekolah adalah bermain bersama teman, karena selain di sekolah aku tidak bisa bermain (tidak memiliki teman). Aku hanya memiliki 1 teman akrab saat itu, kami sangat cocok satu sama lain. Dia lebih tua 1 tahun dariku, selain itu status keluarga kami juga sangat berbeda jauh. Karena itu, aku dan dia berpisah saat masuk SMP, karena ekonomi keluarga kami, menentukan pendidikan kami juga.
Saat mulai memasuki tingkat SMP perasaan kesalku saat itu memenuhi pikiran ku. Banyak pertanyaan dan kekesalan di sana, pertanyaan terbesar ku adalah..
"Kenapa dia tidak bisa sekolah di sekolahku yang layak, hanya karena ekonomi keluarga kami yang berbeda."
Aku harus beradaptasi ekstra untuk berada di sekolah standar Nasional (sekolah favorit), orang-orang baru dan asing, tingkatan kelas di atur sesuai kemampuan dan kepintaran diri, adaptasi itu yang paling sulit untuk ku, di tambah aku tidak memiliki semangat apapun tanpa sahabatku itu. Tak jarang juga ibu ku membandingkan aku dengan kakak ku yang lebih pintar dariku. Hinaan kecil aku dapatkan sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu, membuatku geram dan bertekad. Aku mulai beradaptasi dan belajar karena tidak ingin terus berada di situasi yang sama. Tanpa ada yang mengajari dan membimbing, dengan arah langkah yang tidak aku ketahui, aku terus berjalan agar bisa menyeimbangi lingkungan ku. Hasilnya tidak buruk, tapi tanpa sadar aku terlalu menjadi seorang ambisius. Tidak ada teman selain tumpukan buku, tapi aku merasa kesepian.
Saat memasuki tahun kedua, aku kembali beradaptasi karena saat ini aku berhasil menempatkan diri ku di tingkat A (pertama). Dan sebuah pembelajaran yang sangat penting dan berharga. Pikiran ku tentang kelas A itu salah, kelas A adalah orang perjumpulan anak-anak bertopeng. Mereka saling memanfaatkan untuk kepentingan diri mereka masing-masing. Berada di kelas ini tentu saja ada yang ingin berteman dengan ku, tetapi dia hanya memanfaatkan kepintaranku saja. Ketika aku jatuh, dia melepaskan genggamannya, hingga aku terjatuh lagi ke lubang yang sama.
Saat tahun ke tiga, aku kembali ke posisi ku, meski tak seburuk yang pertama. Disini, aku mulai belajar ilmu, dan belajar menganggapi sifat seseorang. Aku menghadapi ambisi ku sendirian, dengan terkad yang bulat. Pagi, siang, sore, dan malam bahkan saat fajar pun buku selalu menemani ku. Ambisi ku bergejok di sana seakan tak kenal ampun dan lelah. Menjadi yang utama adalah tujuan ku, membungkam dan membalas dendam orang-orang yang menyakitiku adalah prioritas ku. Di tengah puncaknya ambisiku, aku bertemu dengan seseorang yang aku sebut sebagai 'cinta pertamaku'. Dia lebih muda dariku, seseorang yang berasal dari kelas bawah, seseorang yang humbel, ceria, memiliki banyak teman, menyenagkan, dan populer. Dia tidak pintar, tidak kaya, tapi tampan. Dia lebih populer di bandingkan anak pintar. Aku pun tidak menyadari bagaimana bisa anak 'miskin' dan 'bod*h' menjadi populer di sekolah seperti ini. Jawabannya adalah "karena kepribadian yang baik". Belum tentu orang yang pintar dan kaya memiliki kepribadian yang baik dan menyenagkan. Hanya orang yang istimewa yang mendapatkan hal seperti itu.
Tahun ke tigaku, penuh warna karena dia. Dia mengubahku menjadi seseorang yang lebih baik. Dia melepaskanku dari ambisi dan amarah ku untuk semua orang yang ku benci. Tapi, apakah kini aku menjadi egois?
Saat aku berhenti mengejar tingkat utama, aku semakin bergantung padanya. Pikiran ku yang di penuhi dengan kalimat..
"dia semangat ku", "dia miliku" dan lain sebagainya..
Aku selalu membutuhkan dia, dia yang selalu memenuhi kebutuhan ku. Aku yang selalu marah dan meluapkannya emosi ku padanya, dia yang selalu menerima dan menenagkanku. Aku yang selalu mengalahkan atas kesalahan ku, dia yang selalu meminta maaf padaku. Aku menjadi egois dan memperbudaknya, di dalam hubungan toxic.
Siapa yang tau, apa yang akan terjadi di hari esok. Sebelum hari kelulusan ekonomi keluarga ku terpuruk. Ayahku tertipu uang milyaran rupiah, dan memaksa kami berhutang hingga kami harus pergi ke luar kota, meninggalkan segalanya, termasuk mimpiku.
~~~~~~
Semuanya telah berakhir, rumah yang dulu luas, kini hanya satu petak tanah saja. Suasana sejuk di dalam rumah, kini tak pernah ku rasa lagi. Kehujanan di dalam rumah, kini aku rasakan. Semua menjadi terbalik, rasanya aku ingin mati saja. Pikiran untuk mengakhiri hidupku terus menyelimutiku, tanpa semangat, harapan dan tujuan, langkahku gontai tak tau arah.
Dulu aku pernah memiliki mimpi menjadi orang yang sukses, tapi kini rasanya mustahil untuk mengangkat kepala ku. Setelah berlika-liku pada jalanan tanpa arah, selama bertahun-tahun pula aku hidup menundukkan kepalaku, dan merasakan sesak di dadaku.
Dia (cinta pertama ku) mencari ku, tapi aku yang menemukannya, karena dia menunggu ku. Dia memberikanku segudang semangat dan harapan, sedikit demi sedikit aku mulai mengangkat bahuku. Aku membawa ambisi dan ego ku sesuai dengan porsi yang aku butuhkan. Bekerja dengan baik, memiliki semangat hidup, megumpulkan uang lalu bersekolah kembali itu jalan yang ingin aku lalui. Aku terus menaiki tangga dengan pijakan semangat dan dorongan darinya, tetapi hari yang sama datang lagi padaku.
Siapa yang akan tau, apa yang akan terjadi pada hari esok....
Dia di jodohkan ibunya karena alasan ekonomi, dan hal itu membuatku terjatuh ke lubang yang jauh lebih dalam dari yang sebelumnya.
Kini hariku juga berubah kembali, aku menjadi seseorang yang takut akan hari esok. Aku bahkan sangat takut untuk menjadi dewasa. Ketika usia ku 20, ketakutanku memuncak karena usia ku yang sudah memasuki fase dewasa. Ketakutan akan hari esok, terus membatangiku.
Kini aku tidak tau harus melakukan apa dan bagaimana....