Aku sedari kecil kurang mengenal agama sehingga menginjak dewasa , aku yg biasa hidup dijalanan hingga suatu hari saat aku berhasil bekerja di suatu perusahan yg lumayan bonafit.
Karena meskipun aku sering berada di jalanan aku tidak pernah meninggalkan pendidikan ku.
Meski aku sering hidup di pasar dan pernah jadi kuli namun aku tetap berusaha menammat kan kuliah ku.
Karena teringat pesan kedua orang tua ku, bahwa kalau memiliki harta yg banyak masih bisa di curi orang namun kalau memiliki ilmu yg banyak tidak akan ada yg bisa mencuri nya.
Dan pesan itu tetap ku ingat sehingga Aku mampu menyelesaikan S1 meski di tengah keterbatasan ekonomi.
Dan ketika ada lowongan pekerjaan di salah satu perusahan yg lumayan bonafit aku melamar dan berhasil jadi salah satu pengawai nya di bidang management.
Plus dengan gaji yg lumayan dan mendapatkan sebuah tempat tinggal , Karena merasa hidup sendiri tidak menyenangkan mengingat usia ku pun telah pantas untuk berumah tangga, akhir nya kuputuskan untuk mencari pendamping hidup.
Mulai dari biro Jodoh, bahkan bertanya kepada teman-teman ku, juga teman wanita yg sekantor ku , tetapi hasilnya nihil.
Aku tidak menemukan yg pas buat ku, hingga teman-teman ku bertanya seperti apa contoh istri yg ideal menurut ku.
Ku jawab sekena nya saja, karena Aku bodoh masalah agama aku kepengen punya istri yg memahami agama hingga kelak anak-anakku tidak akan buta dalam agama jawab ku.
Ada seorang temanku menyarankan untuk mencari calon istri dari sebuah pesantren yg dekat dari perumahan kami.
Kupikir itu suatu ide yg baik , hingga ku putuskan mulai melakukan pencarian calon istri dari pesantren.
Awal nya agak ragu masuk ke dalam pesantren yg bernama Darul ihsan tersebut, namun demi niat ku untuk mendapatkan istri yg sesuai dengan harapan ku , akhirnya kuputuskan masuk juga.
Ingat sekali waktu itu hari minggu tepat di bulan Ramadan, aku mendatangi pesantren yg di pimpin oleh kyai Zainuddin.
Dengan alasan ingin mendalami agama akhir nya aku di terima disana sebagai murid pesantren kilat Dan aku hadir pada hari sabtu dan minggu saat aku libur kerja.
Dari sinilah awal perkenalan ku dengan Putri kyai Zainuddin yg bernama Ainur hasanah seorang perempuan yg amat taat beribadah dan juga seorang hafizah , seorang perempuan yg hafal Alquran.
Aku tidak berani memandang nya karena menurut ku ia adalah seorang perempuan yg sempurna yg telah di ciptakan oleh Tuhan.
Hingga suatu saat pertemuan kembali yg tidak di sengaja ketika hari itu ia menunggu Taksi online untuk membawa nya pulang setelah berbelanja dari pasar , Aku bertemu dengan di pinggir jalan.
Karena Aku telah mengetahui bahwa ia adalah Putri dari Guru ku , Ku beranikan untuk mengantarkan nya pulang karena aku pun akan ke pesantren, ia pun bersedia .
Di dalam mobil aku tidak banyak bicara hanya bertanya kepada dia kapan akan menikah.
Rupanya Ainur hasanah seorang perempuan yg polos dengan cepat ia berkata apabila Allah akan memberikan jodoh ucap nya.
Ku tanya kembali bagaimana sosok yg cocok menurut dia untuk di jadikan suami , di jawab nya dengan tegas, seorang lelaki yg mampu jadi imam nya dengan syarat ia harus hafal Alquran pula.
Aku terdiam dan tidak berani berkata lagi, seolah tidak ada celah buat ku untuk masuk sebagai kandidat nya.
Namun Ainur hasanah berkata lagi, kalau pun ia tidak mampu hapal tiga puluh Juz, paling minimal Juz tiga puluh harus mampu di hapala nya dengan nada berkelakar.
Karena dia mempunyai jiwa yg humoris, Aku menjadi berani bertanya lagi, Jika Aku mampu menghapal Juz tiga puluh apakah aku bisa masuk untuk melamar nya.
Kembali ia berkata , karena aku tadi telah menyatakan demikian maka pantang bagi ku mencabut ucapan itu meski tadi aku hanya bercanda, kata nya dengan tersenyum yg amat indah.
Mulai saat itu aku berusaha menghapal Alquran Juz tiga puluh dengan di bimbing seorang ustadz yg juga al Hafiz,
Singkat kata satu tahun setelah pembicaraan kami di mobil saat mengantarkan pulang dari pasar itu, ku ceritakan kembali ke pada Ainur hasanah, karena aku memang telah akrab dengan nya, sebagai salah seorang murid dari pesantren yg di pimpin oleh orangtuanya itu.
Apakah syarat yg diajukannya dulu masih berlaku,tentang calon suami yg harus mampu menghapal Alquran minimal juz tiga puluh ,ia pun mengangguk .
Maka kuberanikan diri untuk mencoba nya.
Dan ia pun menyetujui dengan di dengar oleh kyai Zainuddin akhirnya aku pun membuktikan bahwa aku mampu mengahapal Alquran Juz tiga puluh, dan berniat melamar Ainur hasanah untuk di jadikan istri. Dan ternyata aku lulus dan kyai Zainuddin hanya berkata bila memang itu syarat yg telah di berikan oleh putrinya itu, ia hanya dapat mengaminkn saja.
Akhirnya pinangan ku di terima dan jadilah Ainur hasanah menjadi istri ku, seorang perampuan yg hafizah.