Usiaku menginjak 23 tahun ketika itu, dan orang tuaku sangat khawatir dan cemas karena anak perempuan satu satunya belum kunjung mendapatkan jodoh. Belum lagi cemoohan, hinaan dan ocehan para tetangga yang selalu saja aku terima, katanya aku perawan tua yang gak laku laku, aku yang sok jual mahal, aku yang terlalu pilih pilih, aku yang kena guna guna sehingga belum mendapatkan jodoh.
Pernah aku melakukan taaruf, tapi selalu saja mendapatkan kendala, aku yang kurang cocok sama pihak laki laki, orang tuaku yang kurang setuju, atau pihak laki lakinya yang kurang cocok denganku, sehingga membuatku kecewa dan frustsi.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah, dan berserah diri kepada Allah, aku berdoa siang dan malam agar segera bertemu dengan jodohku. Agar orang tuaku tenang dan para tetangga berhenti menghinaku.
Suatu ketika aku sedang bermain sosmed, ada seorang laki laki yang mengajakku sharing tentang hijrah. Semakin hari kami semakin sering berbagi pengalaman. Sampailah pada pernikahan, karena aku adalah gadis yang polos, aku ceritakanlah semua kejadian yang aku alami. Dari taaruf sampai mulut tetangga yang senang mencemooh dan menghinaku. Kemudian dia memberikan nomor ponselnya, dan memintaku menghubunginya lewat nomor ponselku, tapi tidak aku lakukan karena aku merasa takut.
Dia terus mendesakku agar menghubunginya lewat nomor ponselku. Karena terus di desak akhirnya aku mengalah, aku menghubunginya lewat nomor ponselku. Akhirnya dia lebih leluasa menghubungiku, kami saling mengingatkan satu sama lain, semakin sering berdiskusi.
Akhirnya dia meminta alamat lengkap tempat tinggalku, aku tak langsung menanggapinya karena aku merasa takut. Karena terus di desak kuberikanlah alamat tempat tinggalku, aku yakin dia tidak akan pernah mau mencariku, mengingat jarak yang cukup jauh, karena dia tinggal di kota B, sedangkan aku tinggal di kota S, jarak yang lumayan jauh karena hampir setengah hari perjalanan.
Suatu hari ketika aku sedang memghadiri pesta pernikahan temanku, dia menghubungiku dan mengatakan bahwa dia sudah ada rumahku dan bertemu dengan kedua orangtuaku.
Deeegggg jantungku rasanya mau lepas, saking kagetny. "kok kenapa bisa ketemu...?" pikirku, karena yang aku tahu dia belum pernah menginjakkan kakinya di kota S, dan mengingat tempat tinggalku yang cukup terpencil.
Akhirnya aku pulang dan benar saja dia sudah duduk di ruang tamu di temani orangtuaku. Laki laki itu berperawakan tinggi, berbadan tegap, dengan garis wajah tegas dan alis yang cukup tebal. "Assalamu'alaikum adek... ! " itu sapaan pertamanya sambil menangkupkan kedua tangannya, dan kujawab wa'alaikumsalam sambil menunduk keheranan.
Setelah berbincang cukup lama dengan orangtuaku, akhirnya dia mengatakan hal yang sesungguhnya. Maksud kedatangannya adalah ingin melamarku dan menjadikanku istrinya. Bak di sambar petir aku kaget dan bingung sendiri. "Inikah jawaban dari doa doaku...?" pikirku membatin.
Setelah mencapai kesepakatan akhirnya di putuskanlah bahwa kedua belah pihak keluarga harus bertemu dan membahasnya, akhirnya setelah sama sama menilai, kami semua setuju untuk mengadakan proses lamaran.
Lamaran pun di laksanakan, dan menjelang satu bulan kemudian dilangsungkanlah acara pesta pernikahan yang sederhana, tapi cukup menamapr mulut para tetangga yang senang mencemooh dan menghinaku. Aku pun diboyong ke kota B dan menetap di sana.
Alhamdulillah sekarang aku sudah di karuniai dua orang anak laki laki yang lucu lucu, dan aku sangat bahagia dengan pernikahanku, aku sangat bersyukur di kirimkan jodoh yang baik oleh Allah, jawaban dari semua doa doaku.
Begitulah kisahku yang menurutku cukup rumit tapi biasa biasa saja.
Alhamdulillah.