Jodoh itu rahasia Tuhan. Kalimat tersebut akan selalu benar adanya. Aku pernah hampir dijodohkan oleh papaku. Aku yang berusaha menolak sampai akhirnya aku memutuskan mandiri setelah kuliah, dan bekerja jauh dari keluarga. Aku saat itu sedang patah hati, di PHP in yang kesekian kalinya, dijanjiin serius sama si ini itu, ternyata semua palsu. Pernah aku hampir menjalin hubungan dg teman sekantor yg gencar PDKT sama aku, ternyata setelah diselidiki dia sudah menikah dan punya anak. Gila. Tentu saja aku marah dan pergi. Lagi kesekian kali aku gagal membina hubungan. Aku memutuskan untuk lebih fokus ke karir. Iseng aku bergabung dengan kontak jodoh online. Yang mana sasaranku selalu saja pria seputaran tempat tinggalku. Yang tidak jauh dari kotaku. Ingat kata orang tua, utk tidak menikah dg orang jauh. Waktu berlalu, aku terus fokus ke karir, hingga tanpa sengaja aku berkontak dg seorang pria asing dari Jerman. Jerman? Jauh amat. Sudahlah cuekin saja. Tapi entah kenapa, si pria ini yg selalu takut kehilangan kontak denganku. Membalas chattingnya sambil malas2an. Beberapa kali dia sampai berkirim surat kepadaku. Surat cinta? Iya. Surat cinta seperti zaman dahulu kala. Jumlahnya sampai belasan lembar. Entah apa yg dia tuliskan saat itu. Aku harus membalas surat itu, katanya. Aku balas beberapa lembar saja. Otakku tidak terlalu bisa menggombal. Dia sempat bertanya mengenai perbedaan keyakinan kami. Dia paham kalau muslimah tdk bisa menikah dg non muslim. Aku yg tidak terlalu menggubris kala itu hanya menjawab, memangnya siapa yg mau menikah dgmu? Kita kenal saja cuma dunia maya. Oh sangat tidak sopan kalau diingat. Tapi aku kala itu hanya takut kalo sudsh membahas ttg agama. Aku yg merasa masih tidsk berilmu, aku tidak pernah mau memaksa atau menyuruh seseorang mengikuti agamaku. Ada rasa takut utk bertanggung jawab kedepannya jika aku tdk bisa membimbing. Siapa yang menyangka, dia yg tdk lagi pernah membahas masalah itu, sekitar 6 bulan bulan kedepannya mengungkapkan bahwa dia sudah seiman denganku. Aku bahagia kala itu? Enggak! Aku marah. Aku takut. Aku takut aku salah. Aku takut krn dia tiba2 mengikuti keyakinanku. Aku marah dengannya. Dan dengan entengnya dia menjawab. Jangan kepedean. Mungkin kamu perantaranya. Tapi aku tidak mengikuti keyakinanmu krn kamu. Tapi aku diam2 telah belajar mengenai itu. Dan aku memutuskan utk menjadi muallaf. Setahun lebih berkomunikasi didunia maya, dia memutuskan utk datang ke Indonesia. Sebelumnya aku sdh bilang ke dia, saat itu banyak wanita diundang gratis ke negara si pria. Apapun itu, jangan pernah undang aku ke negaramu. Orang tuaku tidak pernah mengizinkan aku utk dtg ke tempat asing, ke negara asing, bertemu dg orang asing. Dia mengerti. Setelah mengantongi izin dan restu dsri keluarganya, dia terbang ke Indonesia. Aku masih tidsk mempercayainya saat itu. Sampai dia suruh aku bersiap untuk menjemputnya di bandara. Dia datang. Iya. Dia, pria yang tidak pernah aku anggap serius sebelumnya. Dia yang benar-benar datang. Dia langsung menghadap orang tuaku, melamarku. Masih kuingat kegugupannya menyatakan didepan orang tuaku, betapa dia menginginkanku utk menjadi pendamping hidupnya. Masih kuingat bagaimana keringat dinginnya mengucur membasahi wajahnya, saat menyatakan ke orang tuaku bahwa dia berjanji akan mencintaiku selamanya. Apa aku mencintainya? Sebelumnya tidak! Meskipun dia bule, dia bukan tipeku. Aku bukan wanita cantik, tapi aku pny kriteria idaman. Yang saat itu lebih mengacu ke pria lokal. Tapi saat itu adalah saat pertama kali hatiku berdebar melihat keseriusan seorang pria yg aku tdk pernah temukan sebelumnya. Aku terenyuh dan tanpa terasa air mata berlinang. Lalu bagaimana dg respon orang tuaku?
Mereka sebelumnya adalah termasuk "anti bule". Bule dibenak mereka adalah (maaf) mengacu ke pergaulan bebas, gaya hidup bebas dll. Tapi entah hidayah dari mana. Yang pasti dari Allah swt. Papaku menyetujui lamarannya. Dengan syarat. Tolong praktekkan sholat beserta gerakan dan bacaannya lengkap didepan mereka. Dan dia memperagakannya. Lolos. Lamaran diterima! Maasha Allah tabarakallah.
Perjuangan tidak selesai disitu. Calon suami kembali ke negaranya utk mengurus dokumen2 selanjutnya juga masalah pekerjaan. Hidup didesa sptku, tidak semudah di kota. Omongan negatif dan fitnah sdh bertebaran ditelinga sampai membuat bnyak sakit hati. Menikah dg orang asing masih merupakan hal tabu ditempatku saat itu. Bahkan beberpaa orang tidak mengerti darimana datangnya calon suamiku. Melihatnya, sudah seperti melihat alien yang harus diwaspadai. Persoalan pengurusan dokumen kawin campur yang menguras biaya, waktu dan tenaga sampai kursus bahasa yang harus kujalani sampai tidak ada persiapan pernikahan secara pribadi. Semua itu akhirnya terlewati. Akhir tahun 2014 kami menikah! Kami menikah dengan wali papa kandungku, didepan KUA dan keluarga suami.
Masalah berlanjut tentang izin tinggal. Aku ngotot ingin tinggal di Indonesia. Aku tidak mau tinggal jauh dari keluarga. Sedangkan suami tidak bisa meninggalkan pekerjaan dan tetek bengeknya di Jerman. Saat itu, terpaksa aku ikut diboyong suami beekat nasehat keluarga. Bagaimanapun, kodrat istri, manut ke suaminya. Aku meninggalkan karir, keluarga utk hidup dg suamiku. Suami yg kukenal baru 2x pertemuan langsung menikahiku. Mendarat di Jerman, aku menangis sesenggukan. Aku merasakan penat yg luar biasa krn saking lamanya jam terbang. Tapi bukan itu yg membuatku menangis. Yang membuatku menangis adalah kesadaranku, sakit lelahku menyatakan betapa jauhnya jarak yang aku tempuh. Betapa jauhnya negeriku, keluargaku aku tinggalkan. Bagaimana jika terjadi apa-apa denganku kedepannya. Suamiku berjanji, apapun dan bagaimanapun caranyay akan selalu mengusahakan setahun sekali mengunjungi keluargaku di Indonesia. Aku mempercayainya dan dia menepatinya!
Sekarang pernikahan kami sudah berjalan ditahun yg ke-8. Kami sudah dikaruniai 2 putra yang lucu dan sehat. Semoga Allah selalu melindungi keluarga kami di jalanNya.
Oh. Aku dulu bukan wanita yg selalu berhijab. Suamiku yg membuatku membuka mata. Dia bertanya, jika kewajiban utk menutup aurat tertulis di Alqur'an, dan apapun yg tertulis di Alqur'an adalah wajib hukumnya utk ditaati. Kenapa mama tdk berhijab? Jika mama tdk menjalankan kewajiban agama, bagaimana aku, yg baru muallaf nantinya bisa membimbing istri dan anak2ku kelak?
Saat itu aku merasa tertampar. Rasanya sakit tapi tdk berdarah. Semenjak itu aku memutuskan utk belajar berhijab. Dan alhamdulillah keluarga suami menerima keputusan itu. Sampai mereka juga sangat menjaga kehalalan makanan yg diberikan kpd kami utk di konsumsi. Menemukan produk halal di Jerman kala itu bukan hal yg mudah. Hampir tdk ada logo halal dimana-mana. Orang tua suami yg bahkan pertama kali menemukan cara, bagaimana mengetahui kehalalan suatu produk, yaitu dg cara mengecek kode produksi online. Semakin hari, semakin banyak imigran muslim yg datang dan tinggal di jerman. Saat ini menemukan produk halal bukan hal yg sulit. Selalu ingatlah pepatah mengatakan, dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan.