Tulisan ini merupakan tulisan saya tahun 2020 saat mengikuti sebuah event battle di salah satu grup kepenulisan.
Terinspirasi dari virus yang melanda Indonesia untuk pertama kalinya.
Meskipun tulisan tak sebagus film Hollywood, aku tetap meminta like pada kalian.
_______
Happy reading!
***
Kevin memijat pangkal hidungnya mendengar tangisan Alesya, tetapi kenapa suara di seberang sana begitu berisik. "Sayang, tenanglah. Kau di mana? Kenapa suaranya berisik sekali," tanya Kevin pada Alesya.
"Aku, hiks. A-aku, sedang di pasar Paspati. Ta-tadi ...." Alesya tergagap. Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Kevin langsung menyelanya.
"Apa! Sayang, kenapa kau sampai ada di di sini?!" tanya Kevin. Ia begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Alesya kepadanya.
***
MAKO NCSF, pukul 06.46.
"Pagi yang cukup sibuk," ujar Anthoni.
"Hmm." Hanya gumaman dari Kevin yang Anthoni dengar.
Mereka berdua melahap sandwich yang dibeli oleh Kevin saat keluar gedung NCSF tadi.
Pintu kaca ruangan terbuka. Bagas masuk menenteng sesuatu di tangannya, "Coffee?" Bagas mengangkat plastik bening yang berisikan beberapa cup coffee latte. Dijawab anggukan kepala oleh dua orang di depannya.
Kevin, Bagas dan Anthoni adalah partner. Mereka bersama sejak pertama kali memasuki akademi kepolisian dan entah sebuah kebetulan atau bagaimana, saat bertugas pun mereka menjadi partner lagi. Kecuali Bagas, yang bertugas di Tim Delta.
Tiba-tiba seseorang menyambar sandwich milik Kevin. "Arya, kembalikan makananku!" tapi yang diteriaki hanya nyengir dan melahap sandwich miliknya.
"Jangan pelit nanti kau gendut," ucap Salma ikutan mencomot sandwich milik Kevin yang berada di tangan Arya.
Mereka berdua baru saja kembali dari tugas patroli. Selain wajah mereka yang tampak kelelahan karena kurang tidur, juga menunjukkan tampang-tampang kelaparan.
"Aku tidak akan gendut! Kalian berhenti memakan makananku!" sergah Kevin kesal.
Tentu saja mereka berdua tidak peduli sama sekali. Bahkan tetap asyik melahap sandwich miliknya.
Pintu kaca ruangan terbuka, lagi. Dina masuk dengan wajah yang sangat lelah, lalu duduk di sebelah Bagas.
Bagas memandang Dina dengan ragu, "Kau juga harus makan. Kau belum makan dari pagi." Bagas menawarkan sandwich miliknya.
"Tak apa, aku sudah sarapan tadi sebelum menyelesaikan laporan kepada Co-Chief Alexandra." Dina menolak tawaran Bagas, lalu membenamkan wajahnya di meja.
Mereka yang melihat hal itu hanya diam, terhanyut dalam pikiran masing-masing.
Semua orang memang tampak begitu lelah. Sudah hampir dua bulan terakhir NAD City dilanda kekacauan. Kota metropolitan yang dulu tampak begitu megah, kini begitu mencekam. Selain wabah Cerevirus, penjarahan dan juga teror bom yang terjadi beberapa waktu lalu cukup menguras tenaga dan pikiran para anggota kepolisian NAD City Special Force (NCSF).
Bukan hanya divisi mereka saja, melainkan semua divisi lain pun sama. Bahkan dari mereka ada yang tidak pulang ke rumahnya.
***
MAKO NCSF, pukul 09.25.
"Wow, bukankah dia sangat cantik?" seru Kevin.
"Siapa, Kev?" Bagas ikutan melihat ponsel milik Kevin.
Layar ponsel milik Kevin menampilkan pagelaran Fashion Show sekitar satu bulan yang lalu, di layar tersebut terpampang wajah seorang wanita --Valeria Park. Ia adalah desaigner muda yang sedang naik daun.
"Biasa saja. Kau fans dia, Kev?" tanya Bagas.
"Tidak, aku hanya suka kepribadiannya. Lagi pula untuk sekelas designer terkenal seperti dia, jarang sekali jika melakukan sebuah kebaikan tidak ingin diekspos," ujar Kevin pada Bagas
"Kau tahu dari mana memangnya?" tanya Arya.
"Temanku, kebetulan dia salah satu sukarelawan di sebuah panti asuhan di pinggiran kota," jelas Kevin pada mereka.
Mereka mengangguk tanda mengerti dengan apa yang dikatakan Kevin. Saat semua hanyut dalam lamunan masing-masing, tiba-tiba ...
'KRIIING'
Suara alarm, berbunyi keras mengangetkan mereka. Pasalnya, alarm tidak akan dibunyikan jika tidak ada keadaan darurat yang benar-benar berbahaya.
Semua yang ada di dalam ruangan itu saling pandang. Kevin yang pertama bangkit dan keluar dari ruangan tersebut, ia bertanya kepada Rey yang baru saja lewat di depannya, yang ditanyai hanya menggeleng tidak tahu.
Terdengar suara Chief Satria di speaker.
"PERHATIAN! NCSF SEGERA BERKUMPUL DI RUANG BRIEFING! SEKALI LAGI, NCSF SEGERA BERKUMPUL DI RUANG BRIEFING!"
Kevin menoleh kepada anggota tim lainnya, mereka bergegas menuju ruang briefing. Sesampainya di sana mereka melihat ada aura ketegangan di wajah Chief Satria.
"Terjadi sebuah ledakan bom di sebuah Bank di pasar Paspati pada pukul 9.30 tadi. Belum ada laporan mengenai jumlah korban, tapi kita harus bersiap dengan kemungkinan terburuk," ujar Chief Satria.
Mereka semua terkejut. Ini gila. Ledakan bom terjadi dalam kurun waktu kurang dari dua Minggu?!
"Dengarkan instruksi saya! Kevin, amankan TKP, susuri semua area dekat bank dan pasar, pastikan tidak ada yang teror susulan!" ujar Chief Satria.
"Dina, seperti biasa kumpulkan barang bukti yang mencurigakan, tanpa ada yang terlewati! Kirim ke NCCI untuk investigasi lanjutan!" Chief Satria menatap mereka tajam.
"Ya, Chief. Laksanakan!" Kevin dan Dina menjawab bersamaan.
"Bagas, pimpin Tim Delta, koordinasikan dengan operator Fire Departement dan paramedis General Hospital untuk evakuasi korban!" instruksi Chief Satria, yang ditunjuk menganggukkan kepalanya.
"El, Alexandra, aku butuh kalian untuk mengamankan perimeter, dan kordinasikan dengan Tim Armed Forced untuk pengendalian massa! Pastikan tidak ada penyusup atau provokator yang bisa memperkeruh suasana! Jangan lupa laporkan setiap ada pergerakan yang mencurigakan!" Chief Satria menunjuk gadis juniornya itu dengan dagunya.
"Ya, Chief. Laksanakan!" Alexandra menjawab lantang. Setelah paham dengan pembagian tugasnya, mereka pergi menuju loker masing-masing untuk bersiap-siap. Hanya lima menit waktu yang diberikan Chief Satria untuk bergegas.
Alarm kedua berbunyi, seluruh anggota harus sudah berangkat dari markas menuju TKP. Kekhawatiran dan kelelahan tampak terekam di wajah masing-masing anggota tim. Tetapi mereka dapat menyembunyikannya dengan baik.
***
Bank Pasnam, pukul 09.45.
Kacau. Mungkin itu yang menggambarkan keadaan di lokasi kejadian.
Walaupun ledakan dikategorikan dalam low explotion, cukup membuat bangunan luluh lantak dan menimbulkan korban jiwa.
Sebelum masuk ke dalam gedung Kevin mengintruksikan penjagaan perimeter di area Bank Pasnam, menegaskan jika tidak ada yang boleh masuk ke tempat kejadian kecuali petugas yang berwenang.
Aroma sangit tercium, begitu Kevin masuk ke dalam gedung. Debu berterbangan, puing-puing bangunan di sana sini. Ia harus tetap waspada karena takut jika ada reruntuhan bangunan yang jatuh mengenainya.
Kevin menyusuri setiap bagian dari gedung dengan tetap waspada. Memeriksa setiap inci bagian gedung Bank Pasnam.
Langkah kakinya menginjak puing bangunan. Mengarahkan senjata Laras panjang itu ke arah depan.
"Clear."
Ia lalu memeriksa ruangan lainnya.
'Srett'
Mengangkat beberapa puing-puing bangunan, kalau-kalau ada korban yang terjebak di bawahnya. Suara rintihan tertangkap oleh telinga Kevin.
"To-long."
Kevin mencari asal suara tersebut.
"Sa-kit. Tolong aku, siapa pun," rintihan kesakitan itu terdengar lagi.
Mata Kevin terbelalak di balik kacamata helmnya melihat ada korban jiwa yang terluka di hadapannya.
"Ya TUHAN! Bagaimana keadaan anda?" tanya Kevin, mengangkat puing bangunan yang menimpa sosok tersebut.
Tubuhnya sangat kotor tertutup debu. "Kakiku," menunjuk kakinya yang terluka.
"Tenang, saya akan memanggil bantuan." jawab Kevin. Lalu mengambil HT-nya, "Blue to Delta 1, Blue to Delta 1, please respon," tak ada respon dari Bagas.
Sial!
Sepertinya Bagas begitu sibuk menangani korban lainnya, hingga dia tidak merespon panggilan Kevin.
Kevin menaruh HT-nya di saku rompi, mengalungkan senjata laras panjang senapan tipe AR-15. Berjongkok meraih tubuh wanita tersebut.
"Nyonya, maaf jika saya lancang. Saya akan membantu anda keluar dari sini." Kevin mengangkat tubuh wanita itu. Mengendongnya ala bridal style, lalu melangkah keluar dari gedung tersebut dengan hati-hati.
Benar saja. Sesampainya di luar Kevin melihat tim Delta dan paramedis NCGH dibantu oleh anggota NCFD sigap menolong korban yang beberapa diantaranya tertimpa reruntuhan bangunan.
Kevin membawa wanita tersebut kesalah satu ambulance, agar cedera pada wanita itu segera ditangani.
Baru saja perasaan lega hinggap pada dirinya karena berhasil menyelamatkan korban, tiba-tiba ada teriakan dan suara germuruh tak jauh dari tempatnya berpijak.
“KEBAKARAAAAN!! KEBAKARAAAN!!!”
Apa?!
Kevin menoleh ke arah sumber suara. Tampak kepulan asap membumbung tinggi.
Sial!
Kevin segera mengambil HT-nya.
"Blue to Bee, Blue to Bee, status posisi?" Kevin memangil Alexandra.
"Bee masuk, posisi gang Bank Pasnam, kondisi El yellow!" Alexandra merespon Kevin.
"Saya segera ke sana," jawab Kevin.
Kevin segera memerintahkan anak buahnya. Sebagian untuk ikut bersama dengannya dan sisanya tetap stan by di tempat untuk berjaga.
'Bangar'
Suara riuh dari kerumunan manusia yang berhamburan. Membakar kios-kios di pasar Paspati dan melempar bom molotov ke arah jalan beraspal.
"Sepertinya ada unsur kesengajaan," gumam Kevin.
Kevin berjalan cepat menyusuri jalanan dan memasuki gang sempit Bank Pasnam. Tatapannya tetap waspada.
Berbarengan dengan itu ponselnya bergetar. Alesya. Nama yang tertera di layar ponselnya.
"Halo, sayang." Kevin menjawab panggilan dari istrinya.
"Sa-sayang, ak-aku takut." Alesya dengan suara lirih. Terdengar dari suaranya ia begitu ketakutan.
Kevin sedikit terkejut, tetapi mencoba menenangkan. "Honey, tenanglah. Ingat kau dan bayi kita tidak boleh stress. Narik napas perlahan, katakan ada apa?"
"Hiks. Hiks," suara tangis Alesya. Aku semakin tidak konsentrasi sekarang. Kerumunan manusia tersebut belum juga bubar, seluruh personel kewalahan.
HT-nya gemeresak. Namun Kevin mengabaikannya.
Kevin memijat pangkal hidungnya mendengar tangisan Alesya, tetapi kenapa suara di seberang sana begitu berisik. "Sayang, tenanglah. Kau di mana? Kenapa suaranya berisik sekali," tanya Kevin pada Alesya.
"Aku, hiks. A-aku, sedang di pasar Paspati. Ta-tadi ...." Alesya tergagap. Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Kevin langsung menyelanya.
"Apa! Sayang, kenapa kau sampai ada di di sini?!" tanya Kevin. Ia begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Alesya kepadanya.
"Ta-tadi, aku ...," belum selesai Alesya berbicara.
'PRANG!'
Terdengar suara kaca yang pecah. Berbarengan dengan itu terputusnya sambungan telepon Alesya kepada Kevin.
"Alesya! Halo. Halo, Alesya! Sayang jangan membuatku khawatir," seketika Kevin panik. Bagaimana keadaan istrinya yang tengah mengandung anak pertama mereka.
****
Catatan kaki :
1. NCSF: NAD City Special Force
2. NCFD: NAD City Fire Departement
3. NCPD: NAD City Police Departement
4. NCGH: NAD City General Hospital
5. NCAF: NAD City Armed Force