Suara musik bergema, asap rokok dan aroma alkohol menguar memenuhi penciuman dikala Rindang memasuki sebuah club malam.
Bukan, dia bukan ingin bersenang-senang atau menghabiskan waktu di sana yang menurutnya sia-sia.
Rindang, gadis berusia dua puluh empat tahun itu lebih memilih menghabiskan waktu luangnya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menguntungkan baginya. Salah satunya seperti malam ini, profesi sampingan sebagai supir pengganti yang sudah digelutinya satu tahun terakhir ini.
Dengan jaket hitam, rambut dikucir kuda ditutupi dengan topi serta celana jeans dan juga masker yang menutupi wajah cantiknya. Dia berjalan melewati keramaian orang-orang yang bisa dikatakan setengah sadar, karena mabuk oleh minuman beralkohol itu.
Dia harus menajamkan penglihatan di antara gemerlap lampu disko yang sesekali redup, mati, redup, mati.
“Permisi, di manakah ruangan VVIP berada?” Rindang bertanya kepada seorang bartender yang tengah meracik minuman.
Pria yang ditanyai menelisik, memperhatikan setiap jengkal penampilan Rindang.
“Saya adalah supir pengganti.” Katanya menjelaskan karena tak jua mendapatkan jawaban atas pertanyaan pertama yang dia lontarkan.
“Ah, supir pengganti. Kau lurus saja, di pojok sebelah kanan ada tangga. Nanti di sana ada lift menuju lantai tiga, di sanalah pelanggan para VVIP itu berada.”
Cukup jelas atas jawaban dari bartender tersebut, Rindang mengucapkan terima kasih lalu berjalan sesuai dengan instruksi yang tadi diberikan.
Sayangnya di tangga matanya ternodai dengan adegan yang cukup membuatnya kesal.
Sial! Apa mereka berdua tidak mempunyai wang yang cukup untuk menyewa hotel?
Beruntung masih ada sela sebelah kiri untuknya lewat. Perlahan dia berjalan tanpa berniat mengganggu kegiatan keduanya yang tengah asyik dengan surga dunia.
Rindang akhirnya terbebas dan memasuki lift. Menekan angka tiga, tempat pelanggannya berada.
Setelah berjalan beberapa saat di lorong yang bisa dikatakan lebih sunyi daripada di lantai bawah, Rindang akhirnya menemukan ruangan tersebut.
Dia mengetuk pintu, seorang pria dengan perawakan lebih muda darinya yang membukakan pintu untuknya.
“Kau siapa?” Tanyanya dengan nada sedikit ketus.
“Saya adalah supir pengganti yang dipanggil untuk menggantikan Tuan Dwayne.” Jawabnya.
“Ah, supir pengganti rupanya. Masuklah,” nada ketus pria itu berubah menjadi ramah dan mempersilakan Rindang untuk masuk.
Rindang menganggukkan kepalanya.
“Siapa dia? Apakah kita memanggil layanan kamar tambahan?”
Celetuk salah satu pria yang tengah memang seorang wanita dengan pakaian kekurangan bahan.
Apa dia tidak kedinginan?
“Dia supir pengganti si Tuan muda.”
“Oh,”
Lalu melanjutkan lagi aktivitas yang sempat terhenti. Rindang melihat hal itu dengan risih.
Sebenarnya bukan hanya dia, tapi ada tiga pemuda lainnya yang juga ada di sana. Satu sedang sibuk bercumbu sama seperti pria yang tadi tentang kehadiran dirinya, yang satu lagi sedang sibuk dengan ponselnya, satu lagi tengah tertawa cekikikan dengan beberapa wanita.
Rindang hanya berdiri mengamati semua orang yang ada di dalam ruangan itu dengan posisi berdiri.
“Kau mau minum,” tawar seorang pria menyodorkan segelas wine kepada Rindang. Dan pria itu merupakan salah satu yang tadi sedang asyik bercumbu dengan seorang wanita.
Kapan pria ini pindah ke sini?
“Kau wanita ya?” Tanya pria itu dengan wajah merunduk mengamati Rindang yang tertutup masker dan topi.
“Seorang wanita menjadi supir pengganti,” ujarnya dengan nada mengejek lalu terkekeh.
Dapat Rindang lihat, wajah pria itu memerah menandakan jika dia tengah dalam pengaruh alkohol dan Rindang seketika berubah waspada.
“Daripada kau hanya jadi supir pengganti, bagaimana jika kau—” mendekati sisi telinga Rindang, “menghangatkan ranjangku saja malam ini.” Bisiknya.
Sungguh bukannya tergoda, justru perutnya melilit karena ingin muntah.
“Terima kasih atas tawaran anda, Tuan. Tapi saya tidak berminat,”
Pria itu seketika menatapnya nyalang. Saat tangan pria itu mulai bercokol di bahu Rindang dan semakin turun ke lengan lalu hendak memegang sisi dadanya. Rindang dengan senang hati memegang dan memelintir tangan pria itu lalu mendorong tubuhnya hingga tersungkur.
Brukh!
“Argh!”
Pria itu berteriak kesakitan, sedangkan wanita di sana memekik terkejut.
Dan masing-masing pria lainnya mendongak, mengentikan aktivitas mereka untuk melihat apa yang baru saja terjadi.
“Kau—”
“Apa ada yang aku lewatkan?”
Suara seseorang membuat Rindang menoleh ke arah samping. Pria dengan postur tubuh atletis, rahang tegas, hidung mancung, serta alis tebal, tatapan mata yang tajam dan jangan lupakan wajah tampannya itu bertanya.
“Apa anda Tuan Dwayne Johnson?”
“Ya, itu aku.”
“Aku adalah supir pengganti yang tadi anda hubungi, bisakah kita pergi sekarang?”
“Ya, bisa.”
“Hei! Kau mau pergi kemana? Tanggung jawab.”
Baik Rindang maupun Dwayne menoleh ke arah pria yang masih duduk di lantai.
“Kau sedang apa di situ?”
“Alex berurusan dengan orang yang salah, Kak.”
Alis Dwayne naik karena keheranan. Sedangkan teman-temannya yang lain sama tidak mengertinya.
“Diam Dion!” Sungutnya.
Pria yang dipanggil dengan nama Dion dan yang juga membukakan pintu untuk Rindang itu kini tengah menahan tawanya.
“Apakah kita bisa pergi sekarang? Karena ini sudah melewati jam yang seharusny—”
“Hei! Kau jangan pergi dulu.” Pria yang tadi didorong oleh Rindang kini menyela dan mencekal tangannya.
“Tolong lepaskan.”
“Tidak!”
Pria itu kemudian menarik pundak Rindang, tapi belum sempat melakukan lebih Rindang mengunci dan membanting tubuhnya ke lantai.
Semua orang yang ada di sana menganga tak percaya.
***
Kota Jakarta semakin larut bukan sepi malah semakin ramai. Rindang tengah mengendarai mobil miliknya, setelah seharian bekerja di luar rumah. Kali ini dirinya diminta menjadi sopir pengganti sepasang pengantin yang hendak mengelilingi kota Jakarta saat malam hari. Sekitar pukul satu dini hari, tugasnya baru selesai.
Lelah. Sudah pasti, tapi begitu melihat notifikasi pesan masuk ke rekening miliknya. Hatinya Berbunga-bunga. Seperti orang yang jatuh cinta.
Pffftt, cinta? Jatuh cinta saja tidak pernah. Selama dua puluh empat tahun hidupnya dia tidak pernah sekalipun memiliki kekasih, bagaimana mau pacaran? Dia selalu menghabiskan waktunya berkerja dan bekerja.
Uang adalah nomor satu baginya.
Saat tengah serius menyetir, tampak dari kejauhan dia bisa melihat beberapa orang yang tengah berkelahi. Kebetulan Rindang mengambil jalan pintas untuk pulang ke apartemennya. Tak sangka justru bertemu hal seperti ini dalam perjalanan pulang.
Dia dengan hati-hati dia mengambil lampu yang ada di laci dasboard mobilnya lalu menaruhnya bagian atas mobil.
Lampu hidup dan berbunyi meraung-raung, rupanya membuat beberapa orang yang ada di depan sana berusaha melarikan diri. Dia sengaja membeli itu untuk digunakan di saat terdesak, contohnya seperti sekarang.
Mereka tampak kalang kabut menyelamatkan diri, meninggalkan sosok yang tergeletak di jalan aspal.
“Tsk, semoga aja gak mati.”
Rindang membuka pintu mobil, kakinya berjalan mendekati sosok yang kini tak lagi bergerak.
Dia memerhatikan penampilan sosok yang tergeletak dengan seksama lalu menoleh ke kanan dan kiri mengamati keadaan.
“Mobilnya bagus, dia orang kaya yang mau dibegal? Jasnya yang dipakai juga jas mahal.” Gumamnya.
Dia mencoba mengangkat pria itu. Memapah tubuh yang kini tak sadarkan diri dengan susah payah ke dalam mobilnya.
Setelah itu dibaringkannya di kursi belakang.
“Mobil aku kunci aja kali ya,” Setelah mengunci mobil, dia berjalan kembali menuju mobilnya. Rindang berniat membawa pria itu ke rumah sakit terdekat.
Petugas medis di rumah sakit itu keheranan, tapi dia menjelaskan kronologisnya.
Rindang meninggalkan nomor ponsel agar mereka mudah menghubungi jika terjadi sesuatu.
Kini pria itu sudah ditangani dan di rawat di kamar inap. Kunci dan dompet pria itu di letakkan di atas meja. Dia sama sekali tidak membuka atau mengintip dompet kulit itu.
Setelah administrasi selesai, dia pergi dari sana menuju apartemennya untuk tidur. Untung saja besok adalah hari Minggu.
***
Sudah satu minggu semenjak kejadian malam itu, Rindang tak mendapatkan kabar apapun dari pihak rumah sakit yang artinya pria itu baik-baik saja.
“Ndang, oi, Rendang. Laporan PT. Angkasa Tunggal udah jadi belum?” Neri melongok di atas kubikel Rindang.
“Udah aku kirim ke email.”
“Sip, tengkyu.”
“Guys, kita semua, kan, dapat undangan pesta nanti malam. Kalian udah tau mau pakai baju apa?”
“Gue mau belanja!”
Bla bla bla ... Sahutan demi sahutan saling nyambung menyambung membicarakan acara ulang tahun perusahaan malam ini, yang dimana Direktur Utama mereka Mr. Lim akan mengenalkan anak semata wayangnya untuk menjadi pengantinnya meneruskan tonggak kepemimpinan di El!t Global (EG). Perusahaan yang bergerak di bidang periklanan.
Perusahaan ini sendiri merupakan perusahaan nomor satu terbaik yang ada negara Indonesia dan bertaraf internasional, jadi tak heran EG identik dengan klien-kliennya yang berasal dari internasional khususnya Jepang seperti Yamaha, Pocari Sweat, maupun Toyota dan lainnya.
EG telah meraih beberapa penghargaan bergengsi periklanan yaitu Citra Pariwara, Adfest dan New York Festival.
Menduduki peringkat nomor satu dari segi pelayanan yang lengkap dari mulai kebutuhan komersial hingga entertainment, tidak dapat dipungkiri produktivitas EG yang kian melejit dengan sederet klien besar yang ditangani.
Dengan selalu memperbarui aktivitasnya di sosial media, EG terlihat selalu hidup dan digandrungi oleh klien manapun hingga berhasil meraih berbagai penghargaan.
Dan malam ini pesta ulang tahun berdirinya perusahaan ini serta penyambutan sang pewaris, tentu saja tak ada yang mau melewatkan. Sudah bisa dipastikan, selain bertabur bintang terkenal. Juga banyak pria-pria tampan dan kaya di sana, itulah yang menjadi poin utama para pegawai wanita yang lajang maupun yang tidak untuk datang ke sana.
***
Pukul tujuh, Rindang sudah memarkirkan mobilnya di pelataran parkir. Hampir susah menemukan tempat untuk memarkir kendaraan itu, karena di sana sudah berjejer mobil-mobil mewah yang hisa dipastikan itu merupakan tamu-tamu pesta malam ini.
Rindang memasuki lift untuk naik ke lantai tempat pesta berlangsung. Demi kelangsungan hidup agar tenang karena diteror oleh Neri yang tidak henti-hentinya menelpon dan mengirimkan pesan, terpaksa dia datang.
Dan setelahnya dipikir-pikir, tidak ada ruginya datang ke sini. Makan enak. Gratis. Dapat bingkisan mewah juga. Ah, enaknya.
Biasanya dia malas sekali untuk berdandan mengenakan make-up secara lengkap, tapi khusus malam ini Rindang mengenakan riasan wajah sesimpel mungkin. Mengenakan gaun dengan model off shoulder berwarna navy blue, dan tatanan rambut Simple French Roll.
Beberapa pasang mata meliriknya atau bahkan terpesona dengan kecantikannya.
“Ndang!”
Mendengar namanya dipanggil, Rindang menoleh ke arah sumber suara. Seulas senyum manis menghiasi bibirnya.
“Lama,” protes Neri.
“Sorry, kan, udah dibilang malas datang.”
“Udah, ah, sini ikut. Sebentar lagi anaknya Mr. Lim mau dikenalin ke publik.”
“Oh.”
“Cuma ‘oh’, seharu—”
“—jadi perkenalkan putra saya satu-satunya yang baru saja menyelesaikan pendidikan S2-nya di Oxford University, Dwayne Johnson Lim.” Mr. Lim berujar dengan bangga memperkenalkan putranya di hadapan tamu undangan.
Baik Neri maupun Rindang ikut melihat pria itu.
“Oh, God! Dunia sempit sekali,” gerutunya begitu melihat sosok di depan sana.
“Hah?” Neri yang tidak mengerti mengeryitkan alisnya.
“Gak apa-apa, lupakan.”
Neri mengendikkan bahunya, sedangkan Rindang menoleh ke arah depan. Tak sangka matanya justru bertemu pandang dengan sosok pria itu. Pria yang tak lain adalah pria yang menggunakan jasa dirinya sebagai supir pengganti dan juga pria yang dia tolong saat dipukuli oleh para preman. Dan sekarang pria itu adalah bos-nya.
****