Pertama-tama sebelum mulai membaca ini, saya harap para pembaca bisa menanggapi cerita ini dengan bijak.
Dari lubuk hati saya, sungguh cerita ini saya buat hanya untuk berbagi kisah, tanpa ingin memojokkan pihak manapun. Mohon dimengerti dan dimaklumi.
Terima kasih.
Aku Mommy Sha, ceritaku ini berawal pada tahun 2016, setelah kelahiran putra pertamaku.
Sebagai New Mommy, banyak tantangan yang harus kuhadapi. Bersyukur sebab Aku, putraku, orang tua, dan mertua, selalu memberikan dukungan. Baik membantuku secara langsung atau pun berupa dukungan moril.
Bagaimana dengan suamiku?
Sejak masih berstatus sebagai kekasih, kami berdua memang menjalani hubungan jarak jauh.
Jadi ketika putra pertama kami lahir, suamiku hanya bisa menemui putra kami 3 hari dalam sebulan.
Aku mengerti mengenai tuntutan pekerjaannya, sebab kami sama-sama bekerja dibidang yang sama, di bidang perbankan.
Hanya saja wilayah kerja suamiku berada di sebuah kabupaten kecil, sedangkan aku di perkotaan.
Aku sendiri sudah bekerja di industri ini sejak lulus SMA. Aku mencintai pekerjaanku.
Kembali ke masa ketika putra pertamaku lahir. Saat masih masa cuti 3 bulan pertama, aku benar-benar merasakan bahagia menjadi Ibu.
Melihat perkembangan putraku hari ke hari, rasanya luar biasa. Aku yakin Ibu yang lain juga merasakannya.
Aku dan suamiku berusaha memberikan semua hal yang terbaik pada putra kami.
Begitupun dengan orang tua dan mertua ku, maklumlah putraku adalah cucu pertama.
Hingga 3 bulan berlalu, menjadi awal kegalauanku. Aku yakin Working Mom lain juga pernah merasakan ini. Bagaimana aku harus meninggalkan putraku yang biasanya hampir tiap detik bersamaku, bagaimana putraku akan meminum ASI-nya yang biasanya direct feeding dan kini harus dengan bantuan botol susu.
Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana terus berkecamuk di benakku dalam setiap detik yang kulewati tanpa putraku di sisiku.
Beruntung aku bisa melewati semuanya berkat bantuan orang tuaku. Selama 3 bulan putraku harus ikut berangkat pagi bersamaku, Ia akan kutitipkan di rumah orang tuaku dan saat pulang kantor Ia akan kujemput kembali.
Masa-masa galau keduaku, saat Putraku kita sebut saja Baby S memasuki masa MPASI. Aku harus bangun dini hari untuk membuat MPASI yang akan ku bawa bersamaan saat aku mengantar Baby S ke rumah kakek neneknya.
Masa-masa galauku yang ketiga dan lainnya adalah ketika Baby S mengalami kejadian yang tak terduga. Seperti demam, diare, atau bahkan tantrum.
Terkadang juga aku harus memohon pengertian dari perusahaan bahwa aku tak bisa mengambil tugas yang mengharuskan aku bermalam di luar rumah sebab Baby S tidak bisa tidur tanpa kehadiranku dan hal itu berlangsung hingga sekarang.
Dan banyak kegalauan lain lagi yang sulit aku jabarkan satu per satu.
Namun di balik itu semua, aku dan suamiku mensyukuri sebab kami mampu memenuhi dan memberikan yang terbaik untuk Baby S.
Hingga Baby S menginjak usia 1 tahun.
Di awal masa kehamilanku dulu, aku dan suami pernah membuat janji jika saat anak kami usianya 1 tahun maka aku harus bersedia untuk melepaskan karirku dan pindah mengikuti suamiku di kabupaten.
Ketika suamiku menagih janji itu, sebenarnya agak berat bagiku melepas karir yang selama 7 tahun ku bangun.
Namun janji tetap janji, aku mencoba berbesar hati menepati janjiku, melepas pekerjaan yang cukup menjanjikan, tinggal jauh dari kota dan keramaian, tinggal jauh dari orang tua dan mertua.
September 2017, menjadi masa-masa yang cukup berat bagiku. Beradaptasi dengan daerah baru yang semua kebiasaan dan kebutuhanku dan putraku tidak ada di daerah ini.
Sangat sulit bagiku mengubah kebiasaan hidupku di kota besar Yang serba ada dengan daerah tempatku tinggal sekarang yang semuanya serba terbatas.
Belum aku bisa menyesuaikan dengan baik, Tuhan mempercayakan aku kembali untuk mengandung. Aku kembali dibuat tertekan saat tahu jika dokter kandungan di daerah ini hanya ada 1 dan beliau sangat sibuk hingga untuk memeriksakan kandunganku saja aku harus antri berjam-jam di malam hari.
Sempat aku merasa iri dengan temanku yang juga memiliki anak namun masih bisa bebas bekerja.
Belum lagi pundi-pundi rupiah yang biasanya kuhasilkan
setiap bulan kini sudah tidak ada. Aku harus bisa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri di tengah masa-masa hamil muda dengan anak sulungku yang sedang aktif-aktifnya.
Tapi seiring berjalannya waktu aku mulai bisa mengerti keadaan. Aku mulai bisa menyesuaikan dengan apa yang disediakan di tempat ini.
Meski tak ada supermarket tapi ada toko grosir yang harganya jauh lebih murah.
Meski tak ada Mall, tapi ada pasar tradisional yang juga menjual berbagai macam barang.
Meski tak ada Playland, tapi di sini banyak taman untuk Baby S berlarian, bermain, dan untuk menikmati Quality time kami sebagai keluarga.
Hal positif lainnya aku bisa menjadi saksi langkah pertama Baby S saat pertama kali berjalan sendiri, aku bisa mendengar kalimat pertama yang diucap Baby S.
Jika di Kota kami biasanya makan di restoran mewah, di daerah kami yang sekarang cukup bermodalkan tikar dan kotak makan yang kudoakan dari rumah, kami bisa menikmati makanan layaknya sedang berada di restoran mewah dengan background pantai pasir putih yang masih terjaga kelestariannya.
Akhirnya banyak hal baru yang bisa ku pelajari, Aku dan Baby S sama-sama belajar menerima kenyataan dan keadaan.
Sekarang aku menyadari jika untuk sebuah terobosan dalam hidup tidak selamanya soal berikut meraih. Bahkan saat aku melepaskan, itu adalah suatu terobosan dalam hidupku.
Bagaimana aku yang terbiasa bekerja kantoran kini menjadikan dapur adalah ruang kerja favoritku.
bagaimana aku yang terbiasa dengan kehidupan kota yang serba ada, Kini harus bisa memanfaatkan apa yang ada.
Dan sungguh luar biasa, sudah hampir 5 tahun aku melalui itu semua, dan ternyata tidak buruk .
Tidak ada yang buruk, selama aku mau berusaha mengenalnya.
Bahkan kini, di sela-sela waktuku, aku bisa menyempatkan melakukan hobi menulis ku di Noveltoon.
(Silahkan klik di profil untuk membaca karyaku yang lain)
Inilah kisah ku, aku Ibu rumah tangga yang bahagia. Bahagia yang benar-benar bahagia sebab aku selalu dekat bersama orang-orang tercintaku, suami dan 2 anakku.
Pada akhir ceritaku, aku ingin menyampaikan rasa banggaku pada semua Ibu yang membaca tulisan ini. Aku yakin menjadi Ibu, terlepas kita adalah Ibu berkerja atau IRT, kita semua sama.
Menjadi Ibu adalah terobosan luar biasa dalam hidup seorang wanita.
Untuk semua Ibu, terima kasih, mari saling mendukung, aku bangga pada kalian semua.