Malefactor
n. a person who does wrong, illegal or very bad things.
Suara langkah kaki terdengar, bergema teratur di tengah suasana senyap tanpa sedikitpun suara yang ada.
Berjalan dengan anggun, sosoknya yang tinggi tegap nampak begitu luar biasa sehingga mengambil atensi siapapun yang menatapnya. Wajahnya adalah apa yang orang-orang akan menyebutnya rupawan, berada di liga lain dari semua manusia di sekitarnya. Menarik perhatian ke manapun dia berada. Berdiri di depan kelas rupanya begitu memesona, sembari tersenyum ia berkata,
“Perkenalkan, namaku Lucien Evander.”
Sedetik kemudian kesunyian pecah, ruang kelas riuh dengan bisikan keras atau pekikan tertahan para gadis yang terdengar ditelingaku.
Aku menatap kosong ke arahnya yang masih tersenyum, jelas tidak terganggu oleh para mata yang terus menatapnya atau bisikan yang jelas-jelas mensubjekkan dirinya. Pada saat itu juga, tatapanku bertemu dengannya. Netranya berwarna hitam, begitu gelap dan dalam, seolah akan menyedot jiwa siapapun yang ditangkap oleh pandangannya. Merasakan sedikit rasa aneh pada diriku, aku membuang muka berhenti menatap padanya.
Lucien... ya? Rasanya dia begitu menganggu.
Aku sudah menebak bagaimana hal klise seperti ini terjadi. Setelah bel istirahat berbunyi, para penghuni kelas segera berbondong-bondong mengerubungi mejanya. Berebut minat seorang laki-laki yang tengah duduk tenang di pusat semua keributan sekitarnya. Aku membayangkan bagaimana kumpulan lalat yang tengah mengerubungi makanan akan terlihat seperti itu.
Mendengus tidak peduli, aku mencoba tertidur, mengabaikan keributan tidak perlu di sekitarku.
***
Seminggu telah berlalu, berarti sudah 7 hari sejak Lucien pertama menjejakkan kaki di sini. Sebagai siswa pindahan baru, kuakui popularitasnya begitu luar biasa. Tapi kurasa itu wajar, toh dia sangat tampan. Selain itu, temperamennya juga begitu baik, dia ramah dan murah senyum.
Aku bahkan pernah melihat tumpukan surat cinta dan cokelat yang jatuh dari dari lokernya sejak hari pertama ia pindah. Beberapa kali juga aku menjumpainya mendapat pengakuan langsung dari para gadis yang akan berani mengajaknya berkencan. Sayang sekali, tak satupun dari mereka yang berhasil mendapat pernyataan yang sama darinya.
Kurasa jika terus begini dia akan segera mendapat julukan ‘Heartbreaker’ dari para penggemarnya.
Seperti hari ini. Koridor sekolah penuh riuh disesaki oleh beberapa siswa ataupun siswi yang penuh rasa ingin tahu. Beberapa dari mereka tampak memegangi ponselnya tinggi-tinggi, siap untuk mengambil gambar atau merekam sesuatu.
Aku mengernyit saat merasa seseorang menabrak bahuku, membuatku terhuyung maju oleh gaya yang disebabkan olehnya.
‘Ini menyebalkan,’ Aku membatin saat melihat kerumunan disekitarku terus bertambah pesat, tidak membiarkanku untuk pergi keluar. Saat itu juga, aku mendengar suara keras bergema.
“Lucien, aku suka kamu!”
Aku memiringkan kepalaku, melihat pelaku peneriakan suara tadi adalah seorang gadis cantik dengan rambut panjang kecoklatan. Berada 10 meter jauhnya dari tempatku, aku melihatnya berdiri di depan Lucien. Matanya menatap lurus ke arah lawan bicaranya, dengan tangannya terkepal erat dan sedikit gemetar.
Ah, kalau tidak salah nama gadis itu adalah Estelle, kakak senior ketua klub balet yang sangat populer. Jadi, sekarang dia sedang mengungkapkan cinta?
Riuh pecah diantara kerumunan, aku menoleh melihat sekeliling dan mendapati banyak murid-murid yang sedang berbisik-bisik ria dengan segala macam mimik wajah. Tatapan mereka semua masih tertuju pada kedua tokoh utama tadi, masing-masing dari mereka menantikan bentuk respon dari laki-laki bermarga Evander tersebut.
Melihat ke arah Lucien, aku mendapati ekspresinya masih tenang dengan senyum seperti biasa. Tak terpengaruh sedikitpun akan sebuah pengakuan tiba-tiba yang ditujukkan padanya.
Seolah sudah terbiasa, ia melangkah mendekati gadis yang masih menatap penuh harap padanya dan membisikkan sesuatu yang bahkan tak dapat didengar oleh kerumunan sekitar. Kulihat ekspresi gadis ketua klub balet itu mengeras sejenak. Namun hanya sesaat, sesudahnya ia kembali tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku bekedip heran, apakah baru saja Lucien menerima pernyataan cinta kak Estelle? Wow, itu mengejutkan.
Mengingat reputasi murid baru itu sebagai ‘Heartbreaker’ yang berkali-kali menolak dengan tegas ajakan kencan para gadis. Aku menjamin bahwa tak lama kemudian gosip luar biasa ini akan beredar luas ke seluruh sekolah.
Puas. Aku berbalik pergi keluar dari kerumunan.
***
Saat itu langit penuh kelabu, gelap, dengan hujun turun deras dan guntur menyambar. Suara jeritan terdengar, namun teredam-kalah oleh bahana guntur yang terus menyambar memekakkan telinga. Aliran air mengalir, deras dengan darah merah bercampur diantaranya.
***
Aku menatap ponsel di tanganku, waktu menunjukkan pukul 07.00 tepat waktu. Melangkah konstan, menuju arah kelasku yang berada di gedung timur.
Saat itu juga aku melihat beberapa murid-murid berkeliaran di koridor, bukan hal yang aneh, hanya saja atmosfer yang ada di antara mereka terlalu suram. Seolah... ada sesuatu yang salah.
Aku mengedarkan pandangan, melihat seorang gadis dengan kuncir kuda yang melambai penuh semangat ke arahku. Kontras dengan suasana gelap yang ada. Sambil mendekat ke arahnya aku melontarkan tatapan bingung bertanya-tanya apa yang telah terjadi.
Seolah mengerti, gadis itu-Freya berbisik pelan ke arahku,
“Kamu tahu Anne? Kak Estelle meninggal!”
Kak Estelle... meninggal? Aku tidak dapat menggambarkan perasaan lain selain terkejut. Begitu aneh rasanya saat mendengar berita bahwa orang yang baru kau lihat kemarin, mati di keesokan harinya. Kutatap Freya penuh tuntutan, menginginkannya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Freya menghela napas, kemudian melanjutkan dengan suara yang sangat pelan, “Yah... kemarin sore, kak Estelle ditemukan meninggal di bangunan bekas hotel dekat Stasiun kota X.”
Sejenak Freya berhenti, seolah kalimat selanjutnya terlalu sulit ia ucapkan. “Dia dibunuh. Pokoknya keadaan mayatnya sangat mengenaskan.” Dia menelan ludah, “Dari rumor yang ada, katanya tubuhnya telanjang digantung terbalik, dengan semua organ dalam yang telah dikeluarkan.”
Aku menutup rapat mulutku, tidak berkomentar sama sekali. Hanya menatap menerawang, seolah teringat sesuatu. ‘Jadi, kak Estelle dibunuh?’ Aku menggumam dalam pikirku.
Freya masih menatapku, ekpresinya penuh simpati. “Kasihan kan Lucien? Pacarnya meninggal.” Ucapnya miris.
Memang semenjak kejadian pernyataan cinta kak Estelle di koridor, rumor tentangnya dan Lucien yang berkencan sudah menyebar, meskipun aku sama sekali tak pernah melihat mereka berdua bersama.
Sejenak kemudian aku melihat ekspresinya berubah kosong “Tapi, lumayan kan? Lucien jadi bisa didekati. Soalnya, dia bukan milik siapa-siapa lagi.” Lanjut Freya tanpa sadar.
Aku menoleh ke arahnya. Tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Jadi, begitu?
***
Aku memandang ke arah luar jendela samping tempat dudukku, memirsa pemandangan hutan hijau kecil dengan kolam buatan di area sekolah. Kelas bahasa Inggris hari ini sangat membosankan, aku bahkan tidak repot-repot untuk mendengarkan. Menutup mataku, merasakan semilir angin menggelitik wajah, menerbangkan surai-surai hitam panjang rambutku.
Sejenak, aku teringat peristiwa tadi pagi. Para guru dan kepala sekolah sudah menenangkan para murid dengan menjelaskan peristiwa secara ringkas agar tidak mencegah ketidakkondusifan dalam kegiatan pengajaran. Mereka mengatakan akan menunjukkan belasungkawa dengan penghadiri pemakaman Estelle keesokan harinya.
Aku menoleh, memandang seseorang yang berjarak dua bangku dariku. Lucien Evander, sosoknya masih menawan seperti biasa. Seolah tidak terpengaruh apapun, ekspresinya masih sama, tenang dengan senyum lembut dibibirnya.
Aku memiringkan kepalaku, bukankah kekasihnya baru saja meninggal? Tidakkah dia merasa sedih atau sesuatu? Kemudian, kembali seperti saat pertama kali kita bertemu, netranya berbalik menatap kearahku. Irisnya masih sama, hitam, gelap, seolah ada jurang tak berujung di dalamnya. Tapi kali ini, aku masih tidak menghindari tatapannya.
Dia tersenyum ke arahku, begitu hangat dan indah, seolah ia adalah matahari, menghipnotis semua orang yang menatap untuk menggapainya, memilikinya. Tapi, seperti yang mungkin mereka lupa, ketika kamu mencoba untuk menggapai matahari, kamu hanya akan terbakar dan mati tanpa menyisakan apa-apa.
***
Pukul 2 siang, bel pulang sekolah telah berdentang. Tapi disinilah aku, masih harus membersihkan kelas karena jadwal piket. Seharusnya salah satu teman sekelas akan membantuku melakukannya juga. Tapi oh sial, dia tidak masuk sekolah gara-gara sakit. Jadi, Aku harus membersihkan kelas sendiri.
"Mau kubantu?"
Sebuah suara lembut datang dari arah belakang, kudapati seorang laki laki bermarga Evander itu sedang menatapku. Sembari mengajukan pertanyaan tadi ia segera meraih sapu, seolah tak perlu menunggu persetujuan dariku. Yah, Aku juga tak protes kalau dia ingin membantu.
Hening berlalu, hanya ada suara gesekan yang beradu antara lantai kelas dan sapu. Aku hanya diam, Lucien juga tidak memulai pembicaraan. Senyap, tapi Aku bisa merasakan perasaan akrab antara Aku dan dia, melenyapkan atmosfer canggung yang harusnya ada.
"Kamu Adrianne kan?" Tanyanya basa-basi, sembari tersenyum ia menatapku.
Aku mengangguk, tak perlu merasa menjawab pertanyaannya. Sudah dua minggu semenjak Lucien berada di kelasku. Harusnya ia paling tidak sudah tahu, ataupun akrab dengan beberapa nama dikelasku. Kecuali murid yang benar-benar tidak pernah berinteraksi dengannya, sepertiku.
Sejenak Lucien berhenti menyapu, "Apakah Adrianne membenciku?” Ia bertanya tiba-tiba.
Tentu saja itu mengejutkanku, benar-benar sebuah pertanyaan yang tidak masuk akal. Aku menggeleng pada pertanyaan aneh tadi,
“Aku nggak benci sama kamu.” Ucapku menjelaskan.
Kulihat ia tersenyum lebar seolah lega dengan sesuatu, “Maaf kalau aku berpikir begitu, hanya karena kamu terlihat selalu acuh terhadapku.” Terangnya kemudian.
Aku mengangguk diam-diam, sebagian menyetujui pernyataannya. Aku hanya tidak mau terlibat dengannya, karena dia menyebalkan dan selalu menarik perhatian. Saat itu aku tiba-tiba teringat akan sesuatu, karena penasaran aku mengangkat kepalaku menatapnya,
“Omong-omong kamu pacaran dengan kak Estelle?” Tanyaku sejurus kemudian.
Kulihat Lucien mengangkat alisnya, mungkin bingung dengan pertanyaanku, tapi dia hanya tersenyum dan menggeleng pelan,
“Enggak kok.”
Aku mengangguk tak bertanya lebih lanjut, sementara masih merenung dalam pikirku, Aku mendengar suara guntur bertalu-talu kemudian diikuti oleh derai hujan yang jatuh membumi.
Aku menatap kosong ke arah luar jendela, sejenak mengutuk keadaan kemudian berpikir bagaimana caraku pulang ke rumah? Aku sama sekali tidak membawa payung.
Aku menyandang ransel dibahuku setelah selesai mengerjakan piket, sembari berjalan keluar kelas aku memindai langit yang masih dengan deras mencurahkan hujan. Bersamaan dengan itu sebuah suara menginterupsiku,
“Mau pulang bareng?”
Itu adalah tawaran yang menggoda, aku menatap Lucien dalam diam. Dengan latar langit kelabu dan hujan deras yang turun, aku mendapati diriku masih menatap pada sosoknya. Begitu indah memikat, rambutnya yang kelam sedikit basah karena hujan, kulitnya putih-sedikit pucat tapi sangat cocok dengan rupanya, dan irisnya masih menyihir siapapun yang pernah memandangnya.
“Adrianne?”
Aku mengerjap, mengalihkan pandanganku darinya aku mengangguk setuju. Yah, lagipula aku tidak punya pilihan lain.
“Mau naik apa?” Seolah teringat akan sesuatu, Aku baru bertanya tentang hal ini.
Lucien menatapku geli, sembari mengeluarkan sebuah kunci mobil dengan lambang Porsche dari sakunya, ia menjawab pertanyaanku,
“Mobil, biar enggak kehujanan.”
Aku mengangguk mengerti, diam-diam membatin ‘Ah, ternyata dia anak orang kaya.’
***
Siang hari kantin begitu ramai, dengan Aku dan Freya saat ini tengah duduk di salah satu meja kantin paling ujung, menikmati semangkuk mi udon panas.
“Anne, kamu tahu enggak?” Freya bertanya, membuka pembicaraan diantara kami.
Aku menggeleng acuh tak acuh, tetap fokus pada hidangan yang sedang kusantap, sepenuhnya mengabaikan Freya yang kini cemberut karena ketidakpedulianku.
“Katanya sih, Anne... Charlotte dikabarin hilang.” Sejenak aku kehilangan fokus pada makanan di depanku, Aku menatap Freya penasaran dan mendapati dirinya tengah tersenyum puas karena berhasil mendapatkan atensi dariku.
“Hilang gimana?” Aku bertanya, mendesaknya untuk bercerita lebih lanjut.
Freya mengangkat bahu, sembari melanjutkan penjelasannya “Aku sih dengarnya cuma dari desas-desus yang ada, Charlotte Heraiz anak kelas 10-4. Sudah 3 hari nggak pulang ke rumahnya. Orang tuanya khawatir banget, dan sudah lapor polisi, tapi ya... masih belum ditemuin juga jejaknya.”
Aku sekali lagi terdiam mendengar cerita Freya, kembali memikirkan sesuatu tentang itu. Tiga hari yang lalu, itu waktu yang sama dengan waktu pulangku bersama Lucien.
Aku menoleh ke arah dimana suara riuh yang terdengar tiba-tiba disekitarku. Detik itu juga, Aku merasakan rasa dingin yang mengalir dari ujung kepalaku, diikuti oleh sensasi lengket dan bau manis yang menyebalkan. Aku mendongak dan mendapati wajah congkak seorang gadis pirang tengah menatapku, alisnya berkerut penuh amarah dengan bibir gemetar.
Aku memiringkan kepalaku, bingung dengan keadaan bodoh yang tiba-tiba ini. Setahuku aku tidak pernah mencari masalah ataupun ingin mencari masalah dengan sang Queen Bee sekolah-Vivian Edith. Aku menatapnya apatis, tetap tanpa ekspresi dan bertanya,
“Kamu punya masalah denganku?”
Gadis itu-Vivian melotot tak percaya, wajahnya semakin terdistorsi, mungkin kesal karena kurangnya respon dariku. Sedetik kemudian tawa sumbang mengalun dari bibir merah mudanya yang dipoles oleh liptint yang kutebak sangat mahal.
“Tentu saja. Bukankah kamu memang memprovokasiku dengan mendekati Lucien?” Ucapnya percaya diri.
Ah, aku hampir memutar bola mataku mendengar penyataannya. Sudah kutebak dari mana semua akar permasalahan ini bermula. Adegan ini benar-benar seperti drama klise murahan yang biasa ditonton oleh ibuku.
Aku menggeleng pelan, “Maaf.” Kataku skeptis.
Aku tidak perlu repot-repot berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, toh gadis itu tidak akan mendengarkan. Yang harus kulakukan untuk menghindari masalah adalah meminta maaf dan meyakinkan bahwa aku tidak akan menganggunya.
“Aku tidak akan mendekati Lucien lagi.” Lanjutku kemudian.
Vivian mencibir ke arahku, tatapan matanya yang arogan secara terang-terangan menatap mengejek ke arahku. Ia menyunggingkan senyum sinis, “Tentu saja, kamu harus melakukannya.” Ujarnya sombong, sebelum berbalik pergi meninggalkan kantin.
Aku berjalan dengan cepat, mengabaikan semua mata yang menatap kearahku. Jari-jariku dengan ringan menyisir untaian rambutku yang kini lengket, tersiram jus stroberi. Benar-benar menyebalkan. Berbelok ke arah tikungan tempat toilet berada, aku hampir saja menabrak tubuh tegap seseorang.
“Adrianne? Kamu nggak apa-apa?”
Mendongak ke arahnya, kudapati pelaku yang menyebabkan hariku saat ini begitu sial, Lucien Evander-tengah menatapku penuh khawatir. Aku berbalik pergi mengabaikannya, hendak membasuh rambut dan seragamku tanpa mencoba menjawab pertanyaannya. Bukankah aku berkata pada Vivian untuk menjauhinya?
***
Vivian mengernyitkan alisnya saat merasakan nyeri disekujur tubuhnya. Rasanya begitu sakit, seolah seluruh tubuhnya telah jatuh dipukuli. Mencoba merasakan sesuatu selain rasa ngilu yang ada, Vivian berjuang untuk melihat di mana ia berada. Hanya saja, yang bisa ia pandang adalah gelap, menyadari bahwa seseorang tengah menutup matanya dengan kain.
Saat mencoba untuk berteriak, didengarnya sebuah langkah kaki lambat dari seseorang. Gadis itu mendapati tangannya yang diikat tengah gemetar, keringat dingin membasahi tubuhnya yang panik.
“Halo,Vivian! Selamat datang di neraka. Hari ini kamu akan mati dengan penuh kesakitan.” Sebuah suara ceria datang sosok di hadapannya, nadanya yang penuh semangat benar-benar tidak cocok dengan pilihan kata yang digunakannya.
Vivian tersentak mendapati suara ini adalah seseorang yang di kenalnya, “Kamu!”
Namun saat itu juga rasa sakit yang luar biasa datang dari kedua kakinya, mencegahnya untuk meneriakkan hal-hal yang tidak perlu. Sejak saat itu dimulailah neraka bagi seorang Vivian Edith.
***
Aku lagi-lagi merasa familiar dengan suasana disekitarku pagi ini. Atmosfer berat yang suram, sama seperti saat kabar kak Estelle yang meninggal menggemparkan sekolah. Mencoba untuk tidak peduli, Aku mengambil langkah pergi menuju kelasku. Disana kudapati Freya masih seperti biasa, sibuk dengan ponselnya. Gadis itu dengan cepat menyadari kehadiranku, seolah sedari tadi telah menungguku, ia dengan segera berbisik rendah kearahku,
“Coba cek berita di grup sekolah deh, Anne.”
Aku mengangguk, meskipun sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Merogoh ponsel di saku rokku, aku segera melakukan apa yang Freya katakan. Di dalam teks berita yang kulihat, nampak headline tebal dengan judul ‘Berita duka, siswa kelas 10-1 Vivian Edith meninggal.’
Sekolah hari ini pulang lebih awal, mungkin karena kabar meninggalnya Vivian yang tersebar luas sangat menghawatirkan bagi sekolah. Aku menatap kosong ke arah langit, lagi-lagi cakrawala penuh hitam mendung. Desir angin terasa dingin, bersamaan kurasakan rintik hujan yang mulai turun. Aku mengambil payung dari ranselku, sejak kejadian hujan terakhir kali dimana aku harus terpaksa pulang bersama Lucien, aku tidak pernah melupakan untuk membawa payung.
Aku memutar ringan gagang payung yang kupegang, merasakan genangan basah disetiap jalan yang kulewati menuju rumah. Saat tiba-tiba aku menyadari bahwa ponselku tertinggal di laci meja kelas. Oh, benar-benar bodoh. Aku berhenti berjalan, mendongak menatap langit dimana hujan masih turun. Sejenak menimbang apakah aku harus kembali untuk mengambil benda itu?
Aku mendecakkan lidahku, tentu saja aku harus mengambilnya. Melangkahkan kakiku, aku mulai berlari kecil kembali menuju arah sekolah, sedikit mengambil jalan memutar lewat gerbang belakang sekolah. Melewati sebuah gedung tua yang tidak terpakai, disana aku berhenti. Tatapanku dengan kosong mengarah pada sosok familier yang ada diingatanku, bukankah itu Lucien?
Aku mengalihkan pandanganku pada gedung tua itu, bertanya-tanya mengapa Lucien harus pergi ke sana? Aku masih diam, lamat-lamat mengamati sosoknya yang semakin menjauh dari pandanganku. Harusnya bukan gayaku untuk penasaran terhadap hal-hal yang tidak pasti seperti ini, tapi aku tidak bisa menghentikan diriku yang perlahan mengikuti kearah mana ia berada.
Itu adalah bangunan tua lapuk, sebuah gedung bekas pabrik bertingkat dua. Keadaan dalamnya gelap dan kotor dengan tercium bau apek yang menjijikkan, dari jarak aman kulihat sosok Lucien masih berjalan santai, jelas tidak terusik dengan keadaan tempat yang dijejakinya.
Aku melangkahkan kakiku sepelan yang kubisa, menaiki tangga yang telah dilewatinya, aku masih tetap mencoba untuk tidak bersuara. Hanya sedetik kemudian aku membeku melihat pemandangan mengerikan yang menimpa netraku, disana berjejer-jejer tubuh-entah mati atau tidak digantung berurutan dengan masing-masing keaadanya yang mengerikan.
Napasku memburu, mencoba menahan laju detak jantungku yang bertalu-talu, Aku memutar otak-memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang harus kulakukan saat ini. Tapi saat itu juga aku mendengar suara langkah kaki bergema lagi, dengan refleks aku melemparkan tubuhku bersembunyi di salah satu lemari besi kosong di sana.
Aku menutup mulutku membungkamnya dengan kedua tangan, berharap tak pernah membuat suara sekecil apapun. Dari celah pintu lemari, kulihat sosok laki-laki yang tadi kuikuti-Lucien, sedang berdiri tenang. Wajahnya menawan seperti, biasa dengan senyum hangat seolah apa yang dilakukannya seperti menggantung tubuh-tubuh dan memutilasinya hanyalah hal ringan yang wajar.
Disana, dia dengan kejam menyeret rambut seorang gadis tanpa ampun, jeritan memilukan terdengar hanya untuk diikuti oleh lebih banyak darah yang menyembur keluar dari tubuh ringkihnya. Lucien yang kupandang saat ini adalah sesosok iblis yang keluar dari neraka, dengan cipratan darah disekujur tubuhnya dirinya mendefinisikan kengerian itu sendiri.
Aku diam, menghitung dalam hati telah berapa lama waktu berlalu disini? Kakiku mulai mati rasa karena berjongkok terlalu lama. Hanya kemudian aku mendengar suara jeritan sayup-sayup berhenti, apakah mereka sudah mati? Aku mencoba mengintip dari celah lemari, kudapati Lucien dengan seringai lebar sedang memutar-mutar pisau utilitas di tangannya. Detik itu juga ia menoleh, menatap tepat kearah celah lemari tempatku berada, seolah tatapannya menembus diriku dan tahu akan kehadiranku.
Aku merasa jantungku sejenak berhenti, sosoknya dengan tenang berjalan lambat ke arah sini. Derap kakinya bergema semakin mencekam, kemudian berhenti selangkah tepat di depan lemari besi tua ini. Suaranya yang lembut mengalun merdu,
“Apakah kucing kecil menyelinap disini?”
Aku masih diam, tidak bersuara sama sekali bahkan mencoba sebisa mungkin untuk menahan napasku yang memburu. Suara kekehan geli terdengar jelas dari luar tempatku bersembunyi, tiba-tiba mendapati derit dibukanya pintu lemari. Waktu terasa sejenak membeku saat aku memaksakan untuk mendongak ke arahnya. Lucien menyeringai saat menatap ke arahku, seolah menemukan sesuatu yang menarik,
“Adrianne ternyata kamu?” Tanyanya jelas.
Aku mengangguk, tak tahu harus merespon bagaimana. Tawanya sekali lagi mengalun melewati indra pendengarku.
“Kamu juga sama kan?”
Aku mengerjapkan mata bingung pada sebuah pertanyaan aneh barusan, tapi Lucien kembali melanjutkan pernyataannya,
“Vivian Edith mati, kaki tangannya dimutilasi dan seluruh tubuhnya disiram oleh air keras.” Sejenak ia berhenti, kembali menatapku sekali lagi “Kamu kan yang membunuhnya?”
Aku membelalak terkejut, menatap Lucien linglung. Bagaimana bisa? Dia... mengetahui hal itu? Meletakkan jari-jariku di bibir, mencoba menahan sebuah seringaian lebar. Ah, jadi... dia sudah tahu sejak awal?
Aku dengan tenang mengangguk, kembali berdiri dan dengan santai mengibaskan debu dari seragam sekolahku. Toh, dia sudah tahu jadi tak perlu menyembunyikannya lagi. Aku tertawa kecil, sejenak menerawang mengingat kejadian di kantin tempo hari.
“Vivian ya?” Ujarku pelan, kembali mengingat betapa imutnya dia saat mengancamku untuk melepaskannya.
”Dia gadis sombong, tidak menyadari bahwa hidupnya adalah mainan bagiku.” Aku terkikik saat mengenangnya.
Kembali menatap Lucien, aku memiringkan kepalaku melihatnya tetap tenang seperti biasa. Seolah tidak terkejut melihat perubahan sikapku barusan. Menyeringai sekali lagi, yah... kurasa aku juga bisa memahaminya.