Sarjana berarti sukses. Apa itu benar?
Hai, perkenalkan namaku Monica. Orang-orang biasa memanggilku Caca. Aku anak pertama dari dua orang bersaudara. Keluargaku adalah keluarga yang sederhana, sangat jauh dari kata kaya. Namun, aku sungguh bangga pada kedua orang tuaku. Mereka berhasil menyekolahkanku hingga aku lulus kuliah, dan adikku berhasil melanjutkan pendidikan di bangku kuliah.
Dalam benakku, aku harus membalas budi semua darah dan keringat yang orang tuaku berikan pada kami berdua. Namun, nyatanya semua tak sesuai harapanku.
Cerita ini dimulai ketika aku berhasil mendapatkan beasiswa selama 2 tahun di salah satu Universitas Swasta Kota Tangerang pada tahun 2013.
Kala itu, aku sama sekali tak memiliki pikiran untuk kuliah karena ekonomi keluarga yang cukup memprihatinkan. Namun, berkat dukungan semua keluargaku akhirnya aku memutuskan untuk mengambil kesempatan itu.
Flashback tahun 2013
"Kakak, katanya ada kampus dari luar kota lagi buka program beasiswa selama 2 tahun. Coba kamu ikut nak, siapa tahu kau bisa berhasil." ucap ayahku penuh semangat.
"Tapi Pa, semua itu pasti butuh uang." balasku berusaha menolak halus.
"Tak masalah. Mama dan Papa bisa mencari uang lebih keras lagi untuk biaya sekolahmu." sambung mamaku lagi mencoba membujukku.
"Mama dan Papa hanya lulusan SMP saja. Kalau kau dan adikmu bisa menyelesaikan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, tentu itu suatu kebanggaan buat kami, Nak." ujar ayahku yang akhirnya membuatku menuruti keinginan mereka.
"Baiklah."
Flashback off
Awal berkuliah, aku sangat terbantu dengan beasiswa dari kampus, tapi ketika tenggang waktu beasiswaku berakhir itu menjadi salah satu ujian berat dalam hidupku.
Aku memutuskan bekerja part time di beberapa tempat dan menjual baju-baju bekas milikku yang sudah tak terpakai di sebuah pasar malam Tangerang. Uang yang aku hasilkan cukup untuk biaya hidupku. Namun, semua kegiatan itu membuatku cukup tertekan karena tugas kuliahku juga semakin banyak.
Akhirnya, aku memutuskan berhenti kerja part time dan hanya sesekali menjual baju bekas di pasar malam. Semua kegiatanku itu, tak diketahui oleh keluargaku yang berada di Manado.
Oh ya, aku hanya anak perantauan dan tentu kalian tahu bagaimana susahnya merantau jauh dari rumah di usiaku yang masih tergolong muda pada waktu itu.
Setelah 3 tahun aku berkuliah, ayahku berkata untuk tak usah melanjutkan kuliahku lagi di Tangerang. Beliau berkata, sebaiknya aku pindah kuliah di daerahku saja dan mencari beasiswa lagi yang full karena orang tuaku sudah tak mampu membiayaku.
Tentu saja aku sedih dan kecewa. Bukannya aku ingin egois, tapi sebentar lagi aku lulus kuliah. Kalau aku berhenti, bagaimana dengan semua perjuangan dan pengorbananku?
Aku menangis semalaman untuk bisa mengambil keputusan yang tepat. Namun, Tuhan masih berbaik hati padaku.
Entah bagaimana caranya Mamaku berhasil membujuk Ayah untuk tetap merestuiku melanjutkan kuliah.
Aku sangat senang dan semangatku semakin membara untuk lebih giat belajar. Orang tuaku juga mengirimkan uang yang cukup banyak agar bisa membayar biaya kuliahku yang menunggak.
Usut punya usut, ternyata mereka mengambil pinjaman sebesar 25 juta di sebuah bank. Aku sungguh kaget karena rumah kami yang menjadi jaminannya.
Namun, namanya orang tua mereka akan melakukan segala cara untuk bisa membuat anak mereka berhasil.
Akhirnya, berkat pinjaman itu aku berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tak terasa sudah 4 bulan aku lulus dan masih berusaha mencari kerja di kota besar itu.
Tangerang, Jakarta, Bogor, Surabaya, Yogyakarta. Itu adalah sebagian dari beberapa kota, di mana CV-ku bertengger indah. Entah sudah berapa ratus lembar CV terbang ke segala kota. Namun, belum juga mendapatkan panggilan interview.
Persaingan yang ketat antar ribuan fresh graduate membuatku tak bisa mendapatkan posisi apapun. Aku sempat down dan depresi, tapi kembali lagi Tuhan berbaik hati padaku.
Februari 2018, aku diterima bekerja di salah satu cafe start up di Gading Serpong dengan posisi sebagai Asisten Manager dan Koki. Sungguh jauh dari jurusanku berkuliah, yaitu Ekonomi.
Namun, semua itu aku terima dengan ikhlas dan aku sangat menikmati pekerjaanku walaupun gajinya pas-pasan saja.
Aku sempat minder bertemu teman-teman kuliahku yang lain. Mereka mendapat pekerjaan kantoran dan gaji yang besar hingga bisa berlibur dan menabung. Berbeda denganku, gaji yang aku dapatkan 75% aku berikan kepada keluargaku untuk bisa membayar hutang ke bank, sedangkan 25% untuk diriku sendiri yang aku pakai untuk membayar biaya kost dan keperluan harianku. Menabung hanya bisa Rp. 10.000 saja setiap bulan.
Aku tetap mensyukuri apa yang Tuhan berikan kepadaku. Bukankah dengan kita bersyukur, akan membuat kita tak memiliki sifat iri dan dengki, pikirku.
Bekerja sebagai Asisten Manager dan Koki sekaligus adalah suatu tantangan bagiku hingga membuat diriku berkembang pesat.
Ilmu yang aku peroleh sungguh luar biasa, dimana awalnya aku orang yang pemalu berubah menjadi sangat welcome terhadap orang-orang baru yang aku temui. Awalnya bahasa inggris yang aku milikku juga tak terlalu lancar. Namun, sejak menjabat sebagai Asisten Manager aku bisa berbicara lancar berkat bantuan owner cafe tempatku bekerja yang mana Beliau sendiri adalah lulusan S3 di Singapura.
Aku juga semakin paham tentang berbagai jenis masakan, entah itu makanan western atau oriental aku bisa membuatnya.
Kembali lagi aku berpikir, Tuhan mengirimku ke suatu tempat itu pasti ada maksud dan tujuannya.
Singkat cerita, aku bekerja di cafe tersebut selama hampir 3 tahun. Pada bulan desember 2020 aku memutuskan berhenti dan kembali ke kampung halamanku setelah 5 tahun aku tak pernah pulang.
Covid-19 yang semakin parah kala itu, membuat cafe kami sepi dan pemasukkan semakin menurun. Pemecatan terhadap karyawan sangat banyak terjadi dikondisi genting itu. Aku memang tak dipecat, tapi tugasku dan tanggung jawabku semakin banyak ketika beberapa temanku berhenti bekerja, dan pekerjaan mereka dilimpahkan semuanya padaku.
Kerja bagaikan kuda, tapi gajiku tak ada kenaikan sama sekali. Bahkan, tahun itu aku belum menerima kenaikan gaji yang biasanya aku dapatkan sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Akhirnya, setelah pertimbangan yang matang aku memutuskan berhenti dan bertemu keluargaku.
Tahun 2021 aku sudah kembali ke Manado. Di sini pun situasi cukup rumit karena lapangan pekerjaan yang sedikit, dan juga harus ada sogokan dulu baru bisa bekerja. Sungguh memprihatinkan.
Tak terasa, sudah 4 bulan aku menganggur dan berdiam diri di dalam rumah. Suatu malam, ayahku berkata bahwa Pemda Talaud sedang mencari banyak orang untuk dipekerjakan ke Jepang. Tentu saja aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
24 April 2022, sudah hampir 1 tahun aku mempersiapkan diriku untuk bisa ikut ujian Bahasa Jepang dan berangkat ke Jepang untuk mengubah jalan hidupku. Aku belajar bahasa dan budaya Jepang dengan sangat giat, berharap dengan ini aku bisa mengangkat derajat keluargaku.
Doakan ya, semoga aku bisa berhasil lulus ujian dan mendapatkan sertifikat untuk bekerja ke Jepang tahun ini.
Oh ya, di sela-sela waktu kosongku aku juga menyempatkan diri untuk menulis novel dan beberapa cerpen di aplikasi ini. Jangan lupa mampir yaa 🥰😊