Menjalani kehidupan poligami ternyata bukanlah hal yang mudah. Itu yang kurasakan saat ini. Meskipun, dulu semenjak aku mengenal hubungan antara perempuan dan laki-laki, aku sudah paham akan hal ini.
Aku lahir dari sebuah keluarga yang berpoligami. Ayah memiliki lima orang istri dan puluhan anak. Salah satu anaknya adalah aku. Seorang anak perempuan yang saat ini merasakan bagaimana berbagi kasih dengan maduku yang lain.
Aku adalah istri kedua dari seorang lelaki bernama Jambul. Ya, setidaknya itu yang kutahu sejak pertama kali berkenalan dengannya.
Kakak maduku adalah seorang perempuan dengan rambut ikal yang sangat cantik. Warna mahkota indahnya yang sekelam malam, serta perawakan yang tinggi, membuatku yakin dahulu ia begitu memukau. Namun, waktu menggerus segalanya. Ia terlihat sangat tua sekarang. Pantas Mas Jambul meminangku untuk jadi istrinya.
Brak! Bruk! Brak!
Tiba-tiba, terdengar suara berisik dari kamar sebelah. Tempat Teh Iteung--kakak maduku--dan anaknya Ai, tinggal.
"Pergi!" Teh Iteung berteriak.
Aku tetap bergeming, kepada siapa Teh Iteung berteriak. Apakah Mas Jambul? Aku tak berani memastikan, terakhir kali aku ikut campur urusan mereka--Teh Iteung marah saat Mas Jambul mengambil madu ketiga--aku yang jadi sasaran amukan Teh Iteung.
"Bu, aku takut," ucap Snow, anakku membuyarkan lamunan.
"Aku juga, Bu." Choco, anakku yang lain ikut berbicara.
"Sudah, tenang. Jangan berisik, ada ibu di sini." Aku menenangkan mereka.
Kami meringkuk di dalam kamar, tak berani untuk menengok apa yang terjadi di sebelah.
Berisik sekali, seperti ada pertempuran sengit. Suara tangis anaknya bersahutan dengan suara teriakan Teh Iteung.
"Teh ... Teh Iteung gak apa-apa? Ai, kenapa gak ada yang jawab? Kalian masih di sana, kan?" Aku memastikan keberadaan mereka.
"Huhuhuu ... anakku diculik. Monster itu pasti akan memakan Ai. Huhuhuu ...." Suara Teh Iteung menangis pilu. Apa katanya? Monster? Monster apa? Apakah itu Monster yang dulu pernah datang kemari?
Aku penasaran, kemudian ke luar melongok ke kamar Teh Iteung. Ketika melihatku, ia bangkit dan berjalan mondar-mandir, gelisah.
"Hen, aku harus bagaimana, sekarang aku tak punya anak. Semua anakku telah dibawa kabur oleh Monster itu," Teh Iteung menangis mengingat semua anaknya telah tiada.
"Sabar, Teh," ujarku menenangkan.
"Sabar bagaimana, anakku habis tak bersisa. Di mana Jambul saat anak-anaknya jadi korban. Dulu, waktu kelima anakku menjadi korban, ia tak ada di rumah. Baru datang ketika hanya tersisa Ai saja. Dan, itupun tak sendiri, ia datang bersamamu. Sekarang, di mana ia, saat kita membutuhkannya untuk menjaga anak-anak. Sudah tiga malam ia tidak pulang, Hen." Panjang lebar Teh Iteung mengomel.
Betul juga, Mas Jambul memang kurang bertanggung jawab. Entah di mana ia sekarang.
"Kamu harus hati-hati, Hen. Anak-anakku sudah habis. Sekarang bisa saja anakmu yang menjadi incaran." Teh Iteung memberi peringatan padaku.
Aku terdiam cukup lama. Seandainya Mas Jambul ada di sini, tentu Ai masih bisa diselamatkan. Karena, sejauh ini selama ia di rumah, monster yang tak sengaja kulihat memiliki kaki empat itu, tak berani menginjakkan kakinya di kontrakan kami.
Aku memperhatikan sekitar. Kondisi tempat tinggal kami memang sangat rawan. Berada di blok paling belakang, tanpa pagar pelindung, membuat 'siapa saja yang berniat jahat' dapat dengan mudah menjalankan niatnya. Termasuk monster berkaki empat itu.
Biasanya, apabila Bu Kos--pemilik kontrakan--melihat ini, ia akan langsung membetulkan bagian yang rusak. Baik itu dinding yang jebol, ataupun pintu yang lepas.
Namun, sudah beberapa hari ini aku tak melihatnya mengunjungi kontrakan kami. Ia sedang pergi sepertinya, sudah tujuh malam kulihat rumahnya sepi.
***
Malam ini, aku tak tidur. Kudekap keenam malaikat kecil itu erat-erat. Mata yang biasanya pada malam hari tak dapat melihat dengan jelas, kupaksa kemampuannya.
Klotrak!
Suara benda terjatuh membuatku siaga. Kuedarkan pandangan mencari di mana sumber suara itu. Ketemu. Ia ada di sana, bergantung di langit-langit. Monster berkaki empat dengan gigi yang runcing.
"Teh Iteung!" Sengaja kukeraskan suara.
"Iyaaa," teriak Teh Iteung tak kalah keras.
Aku terkikik geli melihat kekompakkan kami saat ini. Padahal, biasanya setiap hari kami perang mulut. Ada saja yang membuat kami ribut.
"Kayaknya ada tamu, Teh. Disuruh masuk, atuh." Aku berteriak lagi.
"Mau dikasih apa kalau sudah masuk?" tanya Teh Iteung.
Aku dan Teh Iteung terus bersahutan. Malam itu, kami membuat keramaian yang dapat membangunkan semua makhluk yang tidur.
Aku melirik ke tempat Monster itu bergantung. Ia masih di sana. Tak takut rupanya. Aku terus berteriak. Tapi, ia menyeringai menampakkan gigi runcingnya.
Bagaimana ini? Ia mendekat, aku dan Teh Iteung berteriak lebih keras.
"Tolong ... tolong ...." Kami berteriak bersamaan.
Tak sedikitpun aku melepas dekapan dari anak-anakku.
Suasana semakin ribut. Si Monster sudah di depan mata. Baru pertama kali kulihat wujudnya. Ia bersiap melompat memasuki kamarku.
Dalam sekali lompat, anakku sudah digigitnya. Snow, anakku yang memiliki rambut seputih salju, diterkam olehnya.
"Mau ke mana kau, Monster Kecil!" Teh Iteung sigap menginjak tubuh Monster itu.
"Badanmu kecil, tapi makananmu banyak, hah!" bentak Teh Iteung.
"Anakku, kau habiskan semua. Dasar rakus!" Aku melihat kemarahan pada mata Teh Iteung.
Monster itu mencicit. Dilepaskannya Snow.
"Berani, kau kembali lagi. Kukoyak perutmu dengan kuku tajamku. Paham!" bentak Teh Iteung, mengancam.
Ngeri juga aku melihatnya seperti ini. Tak kusangka ia bisa seberani itu.
Namun, aku bersyukur anak-anakku selamat.
"Terima kasih, Teh. Kalau tak ada Teteh anakku pasti akan habis juga," ucapku, terharu.
"Tak masalah, mereka anak-anakku juga," ucap Teh Iteung.
Saat itu juga tak terasa semburat jingga telah nampak di ufuk timur. Terdengar suara pembuka pagi yang tak asing.
"Huh, di sebelah rupanya si Jambul. Sedang cari madu baru rupanya ia," ucap Teh Iteung.
"Hoi Jambul. Pulang kau!" Teh Iteung berteriak lantang.
"Kukuruyuuuuuk." Suara Mas Jambul menjawab perintah Teh Iteung. Ada nada ketakutan di sana. Hahaha. Biar tau rasa kau Jambul.