“Ry, aku mau curhat boleh.”ucap Tania
“Boleh kok Tan”ucap ku sambil tersenyum.
“Aku putus lagi dengan Wesly” ucap Tania lesu.
“Kok bisa,” tanya Ku sambil menunggu cerita dari Tania.
“Kemarin sewaktu kita jalan, dia ingin mencium bibir ku, aku menolaknya, aku menamparnya Ry. Aku marah padanya dan kembali meminta putus. Ry aku sangat mencintainya. Kamu kan tau Ry kita sudah sangat lama pacarannya.” Ucap Tania menangis sambil memeluk ku. Aku menerima pelukan itu dan mengusap punggungnya dengan lembut.
“Yaudah Tan, Kamu minta maaf aja sama Wesly. Kamu kan tahu Wesly juga sangat mencintai Mu. Kasih penjelasan lagi buat dia Tan.” Ucap ku dengan lembut menenangkan sahabat ku itu.
“Aku takut Tan, Kamu kan tahu selama 5 tahun aku pacaran dengannya, setiap kali kita putus kamu yang selalu jadi penengah kita. Kamu mau yah bantu aku.” Pinta Tania pada ku.
Sungguh ini permintaan yang sangat menyesakkan bagiku. Tapi demi sahabat demi orang yang aku cintai aku selalu menerima permintaan konyol itu.
FLASHBACK ON
Nama ku Cery. Aku berasal dari keluarga tidak mampu. Ketidakmampuan itu membuat ku selalu minder dengan teman-teman ku.
Semasa sekolah di bangku SMP aku memiliki 3 orang sahabat, bernama Anita, Arianty dan Wesly. Aku dan Arianty sama-sama dari keluarga tidak mampu. Sedangkan Anita dan Wesly dari keluarga yang berada. Dari bangku kelas VII sampai IX kami satu kelas terus. Hanya Arianty yang berbeda dengan kami. Dia berada dikelas lain. Tapi biar begitu kami selalu akrab.
Wesly itu tampan, baik hati, Pintar, dan berasal dari keluarga yang berada. Ia memilih bersahabat dengan ku karena kita sering bertukar ide dalam pelajaran. Kita sering jadi partner dalam memecahkan soal-soal. Itu sebabnya kita jadi dekat. Seiring pertemanan kita, awalnya aku merasa hanya mengaguminya saja, namun semakin lama aku berada didekatnya aku merasa jatuh cinta untuk pertama kali padanya. Dia adah Cinta Pertamaku.
Anita dan Arianty awalnya tidak mengetahui itu. Tetapi ketika dibangku Kelas IX aku pernah mengajak mereka bermain kerumahku, aku tidak mengajak Wesly karena aku masih minder karena ketidakmampuan keluarga. Anita dan Arianty menemukan diary ku yang selalu ku letak diatas meja belajar ku, aku lupa menyembunyikannya. Didalam buku itu, semua kuumpahkan cerita ku dan Wesly. Tentang aku mengagumi dan mencitainya.
Aku malu pada mereka, aku memaksa mereka untuk membungkam mulutnya. Ini sangat memalukan pikirku. Dan ternyata mereka menuruti mau ku.
Hingga kami lulus dari bangku dan melanjut ke jenjang SMA. Aku, Arianty dan Wesly berada disekolah Swasta yang sama. Sedangkan Anita tidak dia berada disekolah Swasta yang lebih elit lagi, hanya orang-orang kaya yang mampu sekolah disitu. Namun, biar begitu kami tidak pernah putus komunikasi, dia masih saja sering menggoda ku tentang diary itu.
Di bangku SMA saat Kelas X, Aku, Arianty dan Wesly berada di kelas yang berbeda. Kami jadi jarang bertemu. Aku tidak bisa memantau apayang dilakukan Wesly. Hingga pada saat memasuki semester kedua, aku mendengar isu-isu dia dekat dengan seorang gadis, sesaat hatiku menciut. Aku tidak percaya sebelum dengar langsung dari Wesly.
Diperjalan pulang aku bertemu dengan Arianty. Aku mengorek informasi dari nya. Karena kelas mereka bersebelahan. Dia menggoda ku, mengatakan cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku hanya tersenyum miris. Itu memang benar.
Seangkatan dengan kami dihebohkan dengan berita tentang mereka berpacaran, bahkan para guru sering menggoda mereka. Aku memilih diam, menatap sahabat sekaligus cinta pertamaku tersenyum malu ketika para guru menggodanya. Wesly memang belum pernah mengenalkannya padaku. Aku belum pernah melihat gadis yang sudah memenangkan hatinya.
Aku menanti-nanti Wesly mengenalkan gadis itu padaku. Beberapa kali kami bertemu dia tak pernah mengenalkannya. Hingga pernah ketika seseorang perempuan yang sekelas dengan Wesly, kata teman-temanku namanya Monica, ia datang melabrak ku kedalam kelas, memaki ku, mengatai ku perempuan murahan karena sudah merebut kekasihnya. Aku tidak mengenalnya. Seluruh orang didalam kelas ku mengenalku, aku orang yang pendiam, aku tidak terlalu suka bergabung dengan keramaian, aku lebih sering memilih berkumpul dengan kelompok kecil, dan lebih anehnya lagi aku sedang tidak pacaran. Aku tidak ada dekat berlebihan dengan laki-laki kecuali Wesly. Aku sempat berpikir apa dia gadis pacarnya Wesly. Aku rasa tidak mungkin, bagaimana seorang laki-laki baik seperti Wesly memacari perempuan barbar begini.
Teman sekelasku yang bernama Christine, dia berbadan gemuk, dia berdiri didepanku, mengahadang perempuan itu, karena Monica sudah mengancang-ancang ingin menjambak rambut ku. Kelas ku riuh dan ramai, semua teman kelasku membelaku. Para lelaki didalam kelas ku menarik tangan Monica, menyeret perempuan itu agar keluar dari kelas kami. Hingga timbul dipemikiran ku, ternyata mereka sangat menyanyangi aku.
Ruangan kelas kami kembali tentram, biarpun dikata jam istirahat kami lebih memilih didalam bercengkrama, setelah kepergian Monica, aku bertanya kepada teman ku Christine, siapa dia, mengapa dia marah-marah tak jelas padaku yang tak mengenalnya.
Sebelum Christine menjelaskan, seorang teman ku bernama Deny datang menghampiriku, dia satu kelas dengan ku namun jarak mejanya sedikit jauh dariku.
“Ry, maaf yah. Sebenarnya ini salah ku.” Ucap Deny
“Salah. Memangnya kamu lakuin apa” kata ku kebingungan padanya.
“Iyah, jadi seminggu yang lalu dia mengatakan cinta nya padaku, namun ku tolak, kau bisa lihat sendiri kan dia sedikit galak.” Ucap Deny.
“iyah memang, dia galak sekali dan barbar juga den, untung kamu tidak terima Den “ kata ku bergidik ngeri. “terus apa hubungannya cintanya yang kamu tolak, kok marahnya padaku ?” tanya ku padanya.
“emm, sebenarnya waktu aku nolak dia, aku nyebutin nama Mu, aku bilang sama dia kalo kita pacaran, karena dia kan gak kenal sama kamu. Jadi aku pikir dia akan percaya.” Ucap Deny merasa bersalah padaku.
Aku marah pada Deny. Sebelum aku memarahi dia, temanku Christine yang dari tadi mendengarkan cerita Deny menjadi marah.
“Oh, berarti status si Monica di bbm, wa, line, fb, ig semua nya itu nyindir Cery Den ?” ucap Christine dengan nada kesal.
Aku bingung.
“Apa tin? Status ? nyindir ? maksudnya apa ? aku jarang buka media social loh padahal. Dan aku juga cuman punya FB, itupun sekali seminggu bukaknya dan aku juga gak berteman dengan Monica.?” Ucap ku kebingungan dengan otak ku yang lola ini.
Christine tidak menjawabku, dia terus memelototin Deny yang duduk didepan ku. Aku pun diam kebingungan. Aku sedikit takut dengan Christine karena badan gemuknya, walau sebenarnya dia baik, tapi kalau marah agak seram.
“Iya Tin, itu semua nyindir Cery.” Ucap Deny
“Kau ya Den. Kalau besok-besok si Monica gilak itu melabrak dia lagi gimana?” tanya Christine pada Deny.
Deny hanya bisa meminta maaf padaku, tidak menduga yang awalnya main-main saja malah seserius itu.
Keesokan harinya yang ditakutin Christine terjadi, Monica datang setelah jam belajar selesai. Dia bersama kakak kelas yang terkenal disekolah kami dengan barbarnya, bahkan para guru pun ampun melihatnya. Mereka menghampiri ku, namun kali ini bukan teman-teman sekelas ku yang lain menolong. Tapi Deny. Dia membentak Monica menyuruh Monica pergi, membuat perempuan itu diam membisu, aku terheran tadi dia begitu galak, begitu dia dibentak oleh Deny, dia langsung terdiam, apa sebegitu cintanya dia. Pikirku.
Deny menarik tanganku dari kelas itu dan mengajak ku pulang. Dia mengantarkan aku ke halte tempat menunggu angkot. Aku hanya diam. Ini jauh lebih baik pikirku, daripada aku diserang oleh manusia jadi-jadian itu. Sambil berjalan ke gerbang Deny menggengam tangan ku, aku merasa risih, aku tak nyaman, semua orang melihat ku. Aku ingin melepaskan tangannya tapi dia sangat erat menggengamnya. Aku lebih memilih diam dan menunduk menahan malu.
Sesampai didepan gerbang, ternyata Monica mengikuti kami dari belakang. Dengan gerakan cepat dia menarik ujung rambutku yang ku urai begitu saja, aku meringis kesakitan, Deny melihat ku kesakitan dan mendorong Monica sehingga tubuhnya terdorong jatuh. Depan gerbang itu menjadi ramai, Deny menyembunyikan aku dibelakangnya.
Ketika aku mendongakkan kepala ku kesamping aku melihat Wesly berjalan pulang dengan seorang gadis yang tubuhnya lebih mungil dari ku, rambutnya sedikit pirang asli dan lurus, kulitnya putih, membuat gadis itu terlihat sangat imut. Aku cemburu melihatnya.
Wesly mendekati keramaian yang kami buat. Dia melihat ku sembunyi dibelakang Deny, dia lihat dari raut wajahnya sepertinya dia sudah mengerti dengan kejadian ini. Dia berbicara pada Deny.
“Den, biar Cery pulang bareng kita aja ya,” ucap Wesly pada Deny. Deny pun mengangguk setuju. Wesly menarik tanganku, agar aku mengikutinya. Sebelum kami hendak menaiki angkot. Dia berbalik dan berbicara pada Monica yang sudah berdiri karena terjatuh.
“Mon, sekali lagi aku bilang, jauhi Cery. Dia sahabatku, kau jangan macam-macam sama dia.” Ucap Wesly dengan kesal. Aku bingung. Apa Wesly sudah tahu tentang ini.
Didalam bus aku bertanya pada Wesly, sudah lama rasanya kami tidak bercerita-cerita.
“Dok, kamu udah tahu sejak kapan masalah tadi?” tanya ku. (Dok singkatan dari Kodok , itu adalah panggilan ku pada wesly kalau lagi kesal)
“Uda lama Ry, waktu itu Tania (nama pacar Wesly) screenshot status si Monica sama ku, aku langsung tahu yang dia maksud itu kamu, secara cuman kamu yang namanya Cery di Kelas X-1.” Ucap Wesly.
“Tania siapa Dok?” tanya ku pura-pura bodoh.
“oh ini namanya Tela, dia cewek ku.” Ucap Wesly mengenalkan pacarnya dengan senyum-senyum. Tela yang ditunjuk pun ikutan senyum, senyumannya sangat manis karena ada lesung pipit dipipinya. Kami pun berkenalan.
“Aku sering dengar cerita tentang kamu Ry dari Wesly.” Ucap Tania
“oh iya. Cerita apa aja, gak yang buruk-burukan Tan, kalo buruk biar aku tonjok ni sih kodok. “ ucap ku sambil pura-pura mengepalkan tangan.
“hahaha, kamu sok jago Ry, tadi aja waktu si Monica labrak kamu, kamu malah sembunyi dibelakang pacar mu sih Deny itu” ucap Wesly dengan nada mengejek.
“heh, asal kamu tau yah, itu tadi dia yang narik tangan aku, kalo tidak mungkin sudah ku tendang tulang kering kakinya Dok. Lagian dia bukan pacar aku ya, sejak kapan pulak kami pacaran.” Ucap ku dengan sewot sambil meninju lengannya Wesly dengan pelan. Tania hanya tertawa melihat tingkah kami.
Semenjak kejadian itu, Deny meminta ku menjadi pacarnya secara SAH. Awalnya aku tak mau. Dia selalu saja memohon menggunakan alasan melindungiku. Dengan terpaksa aku menerima nya. Hitung-hitung membalas ejekan Wesly yang selalu mengejek ku dan menjadikan ku penjaga nyamuk ketika pacarnya bergabung. Semenjak kami bertemu diangkot, Wesly semakin sering mengajak pacarnya bergabung. Membuatku semakin cemburu.
Aku dan Deny pacaran. Seperti orang biasa pacaran, kami sering SMS-an, Teleponan, dia juga rutin setiap hari menunggu ku sampai dapat angkot menuju pulang. Aku tidak tau ternyata Deny itu seorang PlayBoy menurut kakak-kakak kelas. Ada seseorang yang mengaku sebagai mantannya, mendatangiku.
“eh kamu,” katanya sambil berdiri didepanku membuatku berhenti didepan perpustakaan, karena aku baru saja dari perpus.
“iya kak, ada apa ya?” tanya ku sopan melihat jumlah bintang dibajunya ada 3 itu tandanya dia kakak kelas ku.
“kamu namanya Cery anak X-1 ya.?”
“iya kak,” ucap ku. Sambil melihat bet namanya. Dia memiliki nama depan yang sama dengan ku. Namanya Cery Wahyuni. Sedangkan aku Cery Heriani.
“Kamu pacarnya Deny yah. Kenalin aku mantannya” kata Kak Cery dengan senyuman ejekan.
“oh iyah kak. Salam kenal,” ucap ku memaksa senyum
“selamat kamu menjadi korban PlayBoy itu sekarang. Sudah berapa lama pacaraanya?” tanya nya.
“hampir sebulan kak” ucap ku dengan polos. Ah, sungguh ini menjengkelkan batinku.
“berarti kamu sebentar lagi diputuskan” ucapnya sambil tertawa, meninggalkan aku sendiri berhubung bel masuk sudah berbunyi. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.
Aku heran kenapa aku harus terjebak dengan percintaan yang dibuat Deny.
Benar kata kak Cery. Dua minggu setelah kami bertemu. Deny mengirim pesan kepada ku. Memutuskan hubungan yang genap 1 bulan 1 minggu. Aku hanya membalas ‘iya’ saja.
Dari awal berhubungan denganya saja sudah salah, terlalu banyak masalah selama kami berpacaran, ditambah pernah dia meminta ku sebuah ciuman, aku menolaknya mentah-mentah dan mendiamkannya seminggu, sebelum kami putus. Mungkin itu jadi alasan dia memutuskan aku. Aku sungguh tak mengerti dengan Playboy itu.
1 bulan 1 minggu berpacaran dengan Deny tak mengubah sama sekali perasaan ku dengan Wesly. Aku tetap mencintainya dalam diam. Bisa didekatnya, tertawa bersamanya, bermain dengannya sudah membuat ku bahagia.
Kenaikan kelas tiba. Kini kami sudah kelas XI. Aku, Wesly, dan Tania berada disatu kelas yang sama. Sedangkan Arianty selalu saja dikelas yang berbeda. Ah takdir sungguh tidak berpihak padaku.
Dikelas XI aku duduk bersampingan dengan Tania, sedangkan Wesly berada dibelakang ku. Sungguh ini penyiksaan batin.
Hari-hariku selalu melihat keromantisan mereka berdua, terkadang aku dan Wesly sering bertengkar konyol hanya membuat Tania tertawa.
Semenjak saat itu aku dan Tania memutuskan menjadi sahabat. Setiap hari bila kami tidak disekolah, dia selalu curhat tentang Wesly, berbagai macam cerita dia sebutkan. Membuat ku muak.
Aku seperti sahabat palsu bagi Tania. Dimulutku selalu berbicara baik padanya, selalu memberi saran dan menasehatinya yang terkadang terlalu kekanak-kanakan sekali. Tapi dihatiku ingin sekali rasanya aku mengumpatnya.
Anita dan Arianty mereka sudah bertemu dengan Tania. Mereka sudah mengenal Tania. Setiap kali Tania curhat padaku. Maka aku akan cerita pada ke dua sahabat ku itu, mereka selalu mendukung ku untuk berkata jujur pada Wesly. Tapi keberanian ku tak ada. Aku selalu memilih diam menatapnya dari jauh.
1 tahun berlalu hari-hari kami selalu begitu saja. Aku dan Deny juga sudah menjadi teman dekat, semenjak putus aku lebih memilih menjauhi Deny, bukan karena aku patah hati seperti prasangka beberapa orang yang tidak suka padaku karena bisa pacaran dengan Deny, tapi karena aku muak dengan tingkah Playboynya itu.
Kini kami sudah dibangku kelas XII,waktunya kami serius untuk tujuan utama kami bisa LULUS.
Kembali lagi kami bertiga satu kelas, dan sahabatku Arianty ditempat berbeda walau kami satu jurusan.
Ternyata ketika ingin meraih sesuatu yang penting bisa mengubah kita dengan sosok yang sangat egois.
Tania, iya dia sangat egois. Semenjak kami duduk dibangku kelas XII dia berubah menjadi egois sekali. Dia bahkan tidak segan-segan menjatuhkan lawannya, demi Nilai yang sempurna. Sekalipun itu kekasihnya. Aku yang menyaksikannya dengan mata ku sendiri, sangat marah pada Tania. Wesly yang diperlakukan begitu oleh Tania hanya diam saja. Membuat ku geram.
Sekalipun kita mencintai seseorang tidak ada salahnya kita menegurnya apalagi itu hal yang salah. Apa cinta sudah membuatnya bodoh. Ah sungguh aku tak mengerti dengan Wesly.
“Dok,” panggil ku, aku menghampiri Wesly sendirian dikantin dengan mengaduk-aduk minumannya.
“Emmm” Wesly hanya berdehem
“Kenapa melamun? Kamu uda kayak kodok beneran kalo begini. Ada masalah apa cerita dong” kataku sambil meninju lengannya pelan. Aku sungguh terluka melihatnya begitu.
“Biasa, Tania tadi malam mutusin aku lagi tadi malam.” Ucapnya sambil meletakkan kepalanya dimeja. Aku juga ikutan meletakkan kepalaku diatas meja. Membuat kami saling memandang. Ingin sekali aku menyentuh wajah tampan itu. tapi aku menahannya.
“Ada masalah apalagi dok? Kok rutin amat putus nyambung.?” Tanya ku sambil menatapnya.
“entahlah Ry. Aku selalu salah baginya. Aku selalu berbuat apa yang dia mau, sampai aku lupa sama jati diriku sendiri Ry.” Ucap Wesly frustasi.
“Dok, kalo kamu mencitainya, jangan jadikan beban. Kalo hatimu saja tertekan untuk apa kamu pertahankan. Lepaskan saja.” Ucap ku dengan sedikit emosi. Membuat Wesly mengankat kepalanya kesal.
“Maksud kamu apa sih Ry, kamu nyuruh aku lepasin dia, gitu? Jangan gila deh, aku tuh cinta mati sama dia. Mana mungkin aku lepasin.” Ucap Wesly dengan kesal dan membentak ku sedikit keras.
Untuk pertama kalinya dia membentak ku dengan wajah yang serius.
“emm, Dok, maksud aku gak gitu. Kamu tenang dulu dong jangan langsung emosi.” Ucap ku menenangkannya.
“kalau kamu memang mencintai Tania, harusnya kamu jangan merasa tertekan begini, kalau memang tingkah mu ada yang tidak di sukai Tania kamu harus rubah, tapi jangan sampai mengubah jati diri kamu. Itu identitas kamu, jangan karena cinta kamu kehilangan jati dirimu. Kamu harus bisa omongin ini ke Tania, usahain terbuka dengan Tania, nanti juga aku bantu deh, ngomong sama Tania, biar dia juga gak maksa-maksa kamu terus.” Ucap menjelaskan kepada Wesly agar tak salah paham. Dia diam memikirkan perkataanku. Seketika senyuman itu muncul dibibirnya.
“Ry, makasih banget yah. Kamu memang sahabatku paling baik. Kamu selalu jadi penengah antara kami” ucap Wesly sambil menyiku leher ku masuk kedalam ketiaknya dan mengacak-acak rambutku. Aku bisa mencium aroma tubuhnya. Aku langsung menjauhkan tubuhku, jantungku berdebar sangat kencang, aku pura-pura memasang wajah kesal padanya.
“sudah gih sana, minta maaf sama Tania” usir ku pada Wesly. Ia pun mengangguk dan berlalu pergi.
Aku kembali meletakkan kepalaku diatas meja. Aku melamun mengingat aroma tubuhnya yang masih melekat kuat dihidungku. Lalu sipengacau datang, membuyarkan lamunanku.
“hai mantan” ucap Deny, sambil mencubit pipiku. Memang semenjak kelas XII aku dan dia lebih akrab sebagai teman yang lebih sering bertengkar konyol. Banyak diantara teman kami yang menyuruh kami balikan, tapi aku langsung memelotot tajam setiap x ada orang yang menjodoh-jodohkan kami. Berteman lebih baik menurutku.
“Mantan belikan aku air jeruk dingin 1 yah” ucap ku dengan suara manja dibuat-buat. Dia pun mengangguk dan membelikannya.
Aku pergi meninggalkannya, lama-lama dengannya bisa membuatku kesal saja nantinya.
Semenjak hari itu, setelah Wesly dan Tania berbaikan, aku menjauhi mereka, aku menjaga jarak dengan mengikuti eskul paduan suara dan futsal wanita. Ditambah les sore karena kami sudah kelas XII, hanya saat jam belajar saja kami bertemu. Dan oh, yah semenjak hari itu aku pindah tempat duduk agak menjauh dari Tania. Namun bodohnya Wesly ikutan pindah juga dibelakang ku, sungguh membuatku susah move on.
Beberapa kali Tania datang kebangku Wesly bercanda gurau dan sesekali memanggilku bergabung namun aku tidak menggubrisnya. Aku focus dengan soal latihan dari les sore ku. Tania sedikit kesal dengan ku.
Malam harinya Wesly mengirimi pesan padaku, bertanya apakah aku ada masalah, aku hanya membalas, ‘aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan’. Tidak ada balasan lagi dari Wesly.
Sejujurnya semenjak dia berpacaran dengan Tania aku tak pernah cerita tentang kehidupan ku lagi, aku hanya sebagai sahabat pendengar untuk mereka berdua, membuat kedua sahabat ku yang lain (Anita dan Arianty) kesal padaku, berulang kali mereka menyuruhku menjauhi Wesly dan Tania. Tapi aku tak bisa.
Hampir 3 bulan lebih aku menjauhi mereka, aku merasa sedikit tenang sekalipun sesekali Wesly sering menghampiri tempat duduk ku. Mengganggu konsentrasi ku belajar. Aku hanya diam dan tersenyum. Sungguh sangat sulit mengabaikan lelaki ini.
Hari ini adalah ujian semester mata pelajaran bahasa Indonesia. Aku duduk tepat disamping meja Tania. Kami duduk diajak saat ujian, dengan 2 gelombang. Aku dan Tania satu gelombang. Saat ujian berlangsung, aku memergoki Tania mengeluarkan buku paket bahasa Indonesia. Aku marah dan menegurnya, tapi dia tidak menggubris ku. Aku memilih diam menyelesaikan ujian ku.
Ujian pun selesai. 2 hari kemudian hasil ujian kami dibagikan nilainya hampir sempurna, Tania mendapat 95 sedangkan aku 70 dan Wesly 50, Tania marah pada Wesly mengatai nya tidak becus belajar, aku marah tapi tidak ingin mencampuri urusan mereka tapi semakin lama kuping ku semakin panas. Aku tak tahan. Aku mengangkat tangan ku dan memanggil guru kami.
“Pak, kalo seandainya ada teman kita yang mengopek saat ujian apa tidak ada sangsinya Pak?” tanyaku.
“Tentu ada, memangnya siapa” kata Pak Guru
Aku memandang Tania, Tania yang melihat ku hanya tersenyum kecil, aku sungguh tak mengerti dengan senyuman itu.
“Tania Pak,” ucap ku sambil memandang Tania.
“Apa kamu yakin? Tania itu murid Pintar tidak seperti kamu lambat sekali menjawab saat ditanya, atau jangan-jangan kamu iri dengan Tania, kamu yang mengopek kamu tuduh teman mu ? ucap Pak Guru dengan kesal. Ahh sungguh aku melupakan satu hal, Tania murid kesayangan Bapak ini. Bapak ini sudah sangat terkenal pilih kasih. Dia hanya berbaik hati dengan siswa yang cantik. Aku pun terdiam menahan emosi sambil mentap Tania.
“kamu siapa namanya ?” tanya Pak Guru, dia selalu saja melupakan nama siswa yang tidak cantik menurutnya.
“Cery Hariani Pak” jawab ku.
“Nilai kamu saya kurangin 20 karena kamu sudah menuduh temanmu sendiri.” Kata Pak Guru. Aku hanya terdiam. Yang harusnya nilai aku pas-pas makan (KKM), terpaksa Aku dan wesly mengikuti ujian remedial dihari itu juga.
Saatnya jam pulang, aku yang hari esok piket menyapu memilih tinggal untuk membersihkan kelas, agar besok tidak merepotkan kalau aku terlambat datangnya. Ternyata Wesly mendekati aku yang lagi mengangkat kursi ke atas meja satu-satu.
“Ry, kau apa-apaan sih menuduh Tania seperti tadi. Bikin malu tau gak.” Ucap Wesly dengan kesal. Aku hanya diam. ‘Dok, kalo saja kamu tahu, aku begitu karena ingin membela kamu. Tapi sayangnya kamu malah salah paham’. Batinku dalam hati.
Melihat ku hanya diam saja, Wesly meninggalkan aku.
Sejak hari itu aku, Wesly bahkan Tania tidak pernah betegur sapa. Beberapa orang yang dekat dengan mereka berdua juga memilih menjauhi ku. Mereka yang dulu pernah menyaksikan Tania mengopek membela ku, mereka selalu menghiburku, aku tidak keberatan sama sekali. Mungkin ini satu-satunya cara agar aku lupa dengan cinta pertama ku itu. walau sejujurnya aku begitu kecewa dengan Wesly yang tidak percaya padaku, dia bahkan tidak mengenali sifatku lagi. Aku takkan mungkin berbicara kalau bukan fakta yang sebenarnya. Aku merutuki kebodohanku, jelas Wesly membela Tania, dia pacar yang sangat dicintainya apapun akan dia lakukan, sedangkan aku ini siapa. Aku hanya sosok yang tak berarti yang selalu mencintainya dalam diam.
Hari-hari menjelang Ujian Nasional tiba. Berhubung aku wakil sekretaris dalam kelas itu, aku disuruh untuk mendata ukuran size baju setiap orang, ketika giliran Tania aku tidak menyebut namanya aku hanya menujuknya dengan pena ku, dan untuk Wesly sendiri, aku tak pernah memanggilnya ‘Kodok’ lagi, melainkan namanya langsung. Entah dia merasa asing atau tidak aku tak peduli.
Tetapi aku mendapat pesan chatting dari Anita, dia bertanya ada masalah apa aku dengan Wesly. Ternyata Wesly sering bertanya kepada Anita, apakah aku ada bercerita tentang dirinya pada Anita. Sedangkan pada Arianty dia tidak berani karena dia pasti tahu masalah kami, Wesly takut Arianty akan menyembur nya dengan celotehan Arianty yang sangat cerewet. Semenjak hari itu aku tidak memberi tahu Anita, aku kasihan padanya berhubung jadwal belajar disekolah elit nya sangat full, aku tak mau membebaninya.
Aku membalas pesan chatting itu mengatakan ‘kami baik-baik saja, hanya aku ingin focus pada UN, aku tak ingin cinta tak terbalas ini merusak nilai UN ku, hehehehe’. Anita pun membalasnya dengan stiker Jempol. Dia jauh lebih mendukungku daripada Wesly. Karena sampai saat ini Anita masih saja menaruh tidak suka pada Tania yang masih bertingkah kekanak-kanakan itu.
Hari-hari Ujian Nasional berjalan dengan baik, aku satu ruangan dengan Wesly. Dihari ke 3 ujian, Wesly datang menghampiri ku yang sedang membereskan alat perang ujian ku.
“Ry,,” panggil Wesly sambil duduk disamping ku. Aku hanya tersenyum padanya.
“Kamu marah yah sama ku” tanya Wesly. Aku hanya menggelengkan kepala. (sahabat mana sih yang gak marah, ketika sahabat nya tidak mempercayainya, dasar Kodokkk) umpatku dalam hati.
“Terus kalo gak marah, kok kamu diamin aku dan Tania, Ry?” ucap Wesly sambil menahan tas ku, agar aku tak pergi. Aku pun mengakhiri kebisuanku selama ini.
“Dok, kamu anggap aku sahabat kamu gak ?” tanya ku sama Wesly dan duduk disampingnya menatap mata itu lebih dalam, (ah andai kamu pekak Dok, aku itu sangat mencitai kamu) batin ku.
“Tentu dong Ry, kita udah Sahabatan dari kelas VII SMP, emang kenapa kok kamu tanya gitu sih” ucap Wesly
“Dok, kalo kamu anggap aku sahabat kamu, tentu kamu akan percaya sama ku, kamu lebih mengenal aku kan Dok. Kamu pasti tahu kalo aku gak pernah mengarang-ngarang cerita yang tidak benar kan, kalo kamu lakuin hal yang gak benar, pasti aku negur kamu Dok,” ucap ku terhenti dan menatap Wesly yang hanya menganggukan kepalanya. Kemudian melanjutkan kembali. Ah, sungguh aku tak tahan ingin mengeluarkan semua unek-unek dihatiku. Kalau pun Wesly marah lagi itu terserah dia, setidaknya liburan panjang akan tiba, aku tak lagi melihat dia dan Tania.
“ Sama Dok, Semenjak kamu bawa Tania kehadapan ku, mengenalkannya sebagai Pacar Mu. Aku sudah anggap dia sebagai Sahabat ku. Kalau aku ini jahat sama Tania. Aku gak bakalan mau bantu kamu dan Tania kalo lagi putus nyambung. Sama juga Dok dengan waktu itu, Aku kan gak mungkin jelekin Tania apalagi didepan Guru begitu kalau itu gak benar. Memang aku salah memalukannya dengan didepan kelas. Aku minta maaf, Dok. Tapi itu karena aku sudah tak tahan Dok, Tania jahat sama kamu. Dia marahin kamu karena nilai kamu rendah, sedangkan dia dapat nilai tinggi karena contekan. Aku gak terima Dok, sahabat aku digituin kuping aku panas. Tapi kamu datang padaku menuduh ku keterlaluan. Jujur, aku sakit hati Dok dengar omongan kamu waktu itu, Aku tahu kamu cinta mati pada Tania, tapi aku saranin Dok, jangan sampai kamu buta karena Cinta, kamu gak bisa bedain mana yang baik dan benar lagi. Sekarang aku tanya sama kamu, kalau kamu jadi aku, kamu bakalan lakuin hal yang sama gak?” tanya ku pada Wesly. Dia hanya diam, mencerna omongan ku.
Aku sungguh kesal dengannya, aku beranjak pergi meninggalkannya. Hatiku panas. Sungguh aku tak bisa marah padanya. Tapi aku tak bisa menahan emosiku lagi.
Aku berjalan pulang, aku bertemu dengan Tania didepan gerbang sekolah, aku hanya melirik sekilas, lalu membuang muka. Aku sungguh malas sekali melihat sosok itu. aku merasa muak. Entah karena aku cemburu atau karena aku marah dengannya tentang waktu itu. Entah lah aku bingung dengan hatiku yang kacau.
Pentas seni sebagai tanda perpisahan bagi kami angkatan Kelas XII. Aku duduk ditengah-tengah acara ada Arianty disamping kanan ku, aku merebahkan kepala ku dipundaknya. Dia tahu aku sedang dilemma. Dan dia memilih diam, dengan dia berada disampingku terus sudah hal yang baik bagiku. Aku menatap acara demi acara, tapi pikiran ku melayang-layang.
“Aku bakalan tak melihat wajah mu lagi kodok, hari ini adalah hari terakhir aku memandang wajah Cinta Pertama ku. Mencintai mu dalam diam bukanlah satu penyesalan bagiku. Aku sangat beruntung bisa menjadi sahabat mu, walau akhir-akhir ini kita tak akur, aku anggap ini sebagai putusnya hatiku mencintai Mu Dok. Aku berharap kalian tetap bersama, aku tau Dok, kamu sangat mencintai Tania. Aku ikhlas merelakan Mu dengan Tania. Selamat tinggal Cinta Pertama ku, selamat tinggal Sahabat Ku, Aku sangat Mencintai Mu” batinku.
Tania datang menghampiriku, membuyarkan semua lamunan ku, dia duduk disebelah kiriku.
“Ry. Aku boleh duduk disini” katanya pada ku. Aku hanya menganggukan kepala dengan melirik sekilas, aku tetap dengan posisiku bergelayut dipundak Arianty yang tubuhnya lebih besar dari ku. Arianty menyetuh lenganku, mengelus-elus tanda sebagai tetap tenang.
“Ry, aku minta maaf tentang waktu itu, aku tau aku yang salah. Semenjak kejadian waktu itu, aku merasa kehilangan kamu, kamu selalu mengabaikan aku dan Wesly. Aku juga mau bilang, akhir-akhir ini Wesly sering marah padaku karena aku belum meminta maaf pada mu. Maaf Ry, aku terlambat datang meminta maaf, sejujurnya aku malu dari dulu menatap Mu Ry, makanya kuputuskan untuk diam menatap Mu Ry.” Ucap Tania terus menatap ku yang hanya terdiam.
Aku hanyut dengan kata-kata Tania, yang bilang akhir-akhir ini Wesly memarahinya. Itu artinya Wesly terpengaruh dengan omongan ku yang terakhir. Seketika ada timbul rasa bahagia Karena Wesly mendegarkan omongan ku. Namun rasa bahagia itu hilang. Saat Tania menyentuh tangan ku.
“Ry, kamu ngomong dong, aku minta maaf sama kamu.” Ucapnya sambil menahan air mata.
Aku menoleh ke arahnya. Aku merasa kasian, tapi aku masih kesal. Aku meluruskan pandangan ku kesebelah kiri. Ada Wesly yang berdiri dari ujung sana memperhatikan kami. Mata kami beradu. Dia tersenyum padaku. Dia sungguh manis dan tampan. Sudah lama aku tak melihat senyuman itu. aku tidak tau arti senyuman itu untuk ku, atau karena dia bahagia melihat aku dan Tania berteman lagi. Ahh jujur aku sungguh muak dengan adegan ini. Aku pun mulai mengeluarkan suara.
“Tan, aku udah maafin kamu kok, lama sebelumnya. Kita kan sahabat. Aku mengerti kok sama kamu.” Ucap ku berlidah busuk. Sungguh didalam hatiku ingin memaki wanita ini.
Arianty yang dari tadi diam, mengajak ku berdiri, dia ternyata sudah muak dengan wanita disampingku ini.
Sebelum pergi, aku memeluk Tania, aku mengelus punggungnya, dan berkata.
“Aku pergi ya Tan. Kamu baik-baik sama Wesly, aku doakan kamu dan Wesly berjodoh” ucap ku sambil melepaskan pelukan itu.
Arianty terlihat kesal dengan ku, dia mengajak ku keluar dari acara itu meninggalkan acara Pentas Seni yang belum selesai, kami menuju gerbang, sepertinya Arianty ingin mengajak pulang. Sebelum pulang Arianty meninggalkan ku dihalte. Aku melihatnya berjalan kearah Wesly. Entah apa yang dikatakan nya pada lelaki itu, aku tak mendengarnya. Cukup lama mereka berbicara.
Aku pun mendatangi mereka, yang sudah bosan menunggu Arianty dihalte. Sebelum aku sampai ditempat mereka, Wesly meninggalkan aku yang belum sempat menyapanya, aku bingung. Ada apa dengan ekspresi Wesly itu, bukan nya dia tadi tersenyum melihat aku sudah berteman dengan Tania. Aku memandang Arianty tanda meminta penjelasan. Arianty hanya mengacuhkan aku. Dia berjalan ke halte kembali dan aku mengikutinya, berulang kali aku bertanya pada Arianty. Dia hanya diam saja. Aku pun menyerah.
Hari pengumuman kelulusan pun tiba. Semenjak Acara Pensi waktu itu, aku sudah tak mendengar kabar dari Wesly dan Tania. Aku berjalan keruangan Guru Wali Kelas ku mengambil surat pengumuman ku, aku terlambat mengambilnya karena orang tua ku lama datang. Hal serupa terjadi pada Wesly. Dia datang dari belakang kubersama orang tua nya.
Tanpa diduga mama ku dan mama Wesly ternyata saling mengenal mereka betegur sapa seperti sseorang teman akrab yang lama tak bertemu. Aku mengarahkan padangan ku kepada Wesly, dia juga menatap ku. Aku menarik tangan Wesly dari ruangan itu, dia mengikuti ku. Kami duduk dibangku taman depan ruangan Wali kelas kami.
“Wes,” panggil ku, dia hanya diam saja. Aku tak perduli.
“Kamu apa kabar Dok,” tanyaku
“Aku baik” ucap nya singkat. Aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya.
Aku mulai berbasa-basi hal yang tak penting, dia hanya mendengarkan ku. Hingga dia memotong omongan basiku itu.
“Ry, kenapa dari dulu kamu gak jujur” ucapnya padaku. Aku terkejud. Jujur. Jujur tentang apa. Tanya ku dalam hati.
“Ma-maksud kamu jujur apa dok ? ucap ku gugup
“Kenapa kamu gak bilang kalau kamu suka padaku, kenapa kamu gak bilang kalau kamu mencintaiku.” Ucap Wesly memandangiku.
Aku membatu, Wesly tau dari mana pikirku. Aku tak berani menatapnya. Aku mulai memikir-mikirkan darimana dia tahu hal itu.
“kamu tau dari mana dok?” tanya ku memberanikan diri menatapnya, mungkin sudah saatnya aku member tahu Wesly.
“Arianty” ucapnya. “Oh jadi ternyata waktu itu ini yang di sampaikan Arianty. Dasar memalukan sekali dia, pantas saja dia tak mau memberi tahu ku pada saat itu. rupanya dia takut aku memarahinya,. Awas saja kau Arianty” batinku
“Memangnya kalo aku memberi tahu Mu, kamu akan meninggalkan Tania Dok?” tanya ku sambil menatap kedepan. Aku tak berani lagi menatap mata itu.
“Aku gak bisa Ry, kamu kan tau... ak…” belum selesai Wesly berbicara aku sudah memotongnya.
“Aku tahu dok. Aku tau kamu tak kan bisa meninggalkan Tania, itu sebabnya aku memilih Mencintai Mu dalam diam. Aku memilih menjadi sahabat yang baik bagi Mu. Berteman dengan kekasih Mu sejujurnya membuat ku sakit Dok, tapi itu satu cara agar aku bisa memastikan kamu baik-baik saja dan tetap bahagia, apapun yang membuat Mu bahagia, aku laukin Dok.” Ucap ku panjang lebar. Sambil memberi tinju pada lengannya dengan pelan. Dia hanya menatap ku dengan wajah yang datar.
“Aku ikhlas kok kamu pacaran dengan Tania, asal kamu baik-baik saja Dok, satu hal lagi, jangan hiraukan perasaan ku. Tetaplah menjadi sahabat ku, kalau kamu nyaman bersahabat dengan ku. Aku tak keberatan kok Dok” ucap ku sambil berdiri
“Aku pergi Dok, sepertinya Mama kita sudah selesai menggosip” ucap ku sambil menunjuk orang tua kami yang sedang menunggu kami. Wesly hanya mengangguk paham. Dan aku pergi lebih dulu meninggalkannya.
Hari itu adalah hari terakhir aku bertemu dengan Wesly. Aku memilih meninggalkan kota itu, aku merantau kesalah satu kota untuk melanjutkan kuliah ku. Aku ingin menata hatiku. Sesekali Aku, Anita dan Arianty hanya betegur sapa, menggosip melali social Media. Begitu juga dengan Tania. Dia sangat sering curhat pada ku melalui Messengger. Aku selalu menanggapinya dengan baik.
Sedangkan Wesly aku tidak tau kabarnya. Aku menutup telingaku saat kedua sahabat ku yang lain. Ingin membicarakannya.
2 tahun aku sudah merantau, aku pulang ke kota asal ku. Setiap tahun sebenarnya aku pulang kekota asal ku. Tapi di tahun ke 2 ini. Tania mengajak ku bertemu. Katanya dia merindukan ku. Dan aku pun menurutinya.
Kami bertemu disalah satu cafee didalam Mall yang terkenal dikota ku. Dia bercerita banyak hal padaku, dan semuanya tentang Wesly. Sungguh membuat ku panas.
Aku mendengarkannya dengan baik. Hingga muncul permintaan konyol itu. rupanya dia dan Wesly sedang putus kembali. Aku muak. Sungguh aku muak. Permintaan apa seperti itu. dia tak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Apa dia sengaja membuat ku panas. Pikirku.
Aku berpura-pura, mengatakan ‘Iya’ pada Tania. Aku berjanji akan membantunya. Padahal aku sama sekali menolaknya. Setelah pulang dari pertemuan itu. aku memblokir semua koneksi didunia maya dengan Tania. Aku tak sanggup lagi. Bagaimana mungkin aku membantunya sedangkan aku dan Wesly sudah 2 tahun tak berkomunikasi. Konyol sekali.
Sudah cukup bagiku. Mencintai Wesly dalam diam, sudah cukup selama 6 tahun lebih nama itu mengobrak-abrik dihatiku. Aku sudah tidak tahan.
Sekarang aku akan menata hatiku dengan seseorang yang aku temui dikota perantauan ku. Aku berjanji perlahan akan menghapus nama yang sudah lama anteng dihatiku itu.
“Wesly, aku pernah mencintai mu sangat dalam, dalam diam. Kamu cinta pertama ku. Jujur sulit melupakan Mu, hingga sampai saat ini. Tapi aku mengikhlaskan kamu pada orang yang kamu cintai. Aku berdoa semoga kamu selalu bahagia dimana pun kamu berada saat ini..”