Hari ini aku akan pergi ke rumah bibi yang berada di Kota S. Tempatnya memakan waktu 3 jam perjalanan dari kotaku jika menggunakan mobil. Aku pergi bersama ayah dan adikku yang kecil. Sendangkan ibu tinggal bersama kakakku menjaga rumah karena kami (aku,ayah dan adik) tidak pergi untuk waktu yang lama.
Selama perjalanan aku terus menatap keluar jendela kaca mobil. Pemandangannya sungguh indah dan hijau. Yah karena rumah bibi berada di pedesaan sendangkan kami tinggal di kota yang penuh dengan bangunan tinggi dan kendaraan yang padat. Selama perjalanan ayah menjelaskan tentang tempat-tempat yang kita lewati tersebut.
Kami terus berbincang satu sama lain dan tertawa bersama-sama. Ayah menceritakan tentang kehidupan yang beliau jalani dulu ketika masih kecil di desa. Bermain bersama teman-teman sepulang sekolah, berenang disungai dan menangkap ikan, mencari buah di hutan belantara hingga hampir tersesat dan masih banyak lagi keseruan yang beliau lakukan ketika kecil dulu.
Karena capek bercerita bersama ayah dan adik, aku pun tertidur didalam mobil. Beberapa saat berlalu aku terbangun karena mendengar suara tangisan adikku. Aku membuka mata dan melihat ke sekeliling ku. Aku terkejut karena tidak melihat ayah dan hanya melihat adikku yang sedang menangis kencang. Aku pun mulai bertanya padanya, "Dek dimana ayah? Dan mengapa kamu menangis?". Dia menjawab, "Ayah sedang pergi menjemput bibi dirumahnya kak. Tetapi dari tadi ayah belum juga kembali".
Aku pun mulai merasa khawatir tentang ayah. Tetapi aku juga merasa bingung karena bukankah kita akan kerumah bibi? Jadi, untuk apa ayah menjemputnya? Dan kenapa kami tidak bersama-sama pergi untuk menjemput bibi?. Posisi mobil kami sekarang berada disamping jalan setapak yang sunyi.
Aku pun mendiami adikku dan mengatakan untuk bersabar lagi menunggu ayah. Jika beliau belum juga datang setelah beberapa jam aku dan adik akan menyusul beliau. Akhirnya setelah menunggu setengah jam ayah datang tapi tidak bersama bibi. Karena penasaran aku pun bertanya, "Ayah dimana bibi? Dan bukankah kita akan kerumahnya? Mengapa ayah perlu menjemput bibi?". Ayah tidak menjawab dan malah memutar balik mobil untuk kembali ke kota. Aku melihat wajah beliau ketakutan seperti orang yang habis dikejar setan.
Pada saat perjalanan balik ke kota, aku terkejut karena melihat pemandangan alam yang awalnya indah dan hijau itu menjadi hancur berantakan. Api dimana-mana dan membakar pepohonan juga rumah. Tetapi yang aku bingungkan adalah tidak ada satu orang pun yang berusaha memadamkan api tersebut. Mereka hanya melihat ke arah kebakaran yang terjadi. Aku bertanya kepada ayah tentang apa yang terjadi tetapi beliau masih juga tidak menjawabnya.
Hingga tak berapa lama setelah itu, mereka tiba-tiba berteriak dan mengamuk seperti orang gila. Dan yang aneh dan sadisnya adalah mereka memakan diri mereka sendiri. Aku sangat terkejut ketika melihat itu semua. Mereka mulai menggigit tangan dan kaki mereka, bahkan ada yang sampai mencabik-cabik perut kemudian memakan isi dalam perutnya sendiri. Aku pun langsung muntah ketika melihatnya.
Ini bukan seperti difilm zombie yang memakan manusia lainnya tetapi mereka memakan diri sendiri. Mereka seperti telah kehilangan akal sehat dan bukan menjadi gila tapi lebih seperti menjadi monster. Muka menjadi sepucat mayat, memiliki gigi yang tajam, kuku yang panjang dan bola mata yang berwarna hitam.
Pandangan ku arahkan kedepan agar tidak melihat itu semua lagi. Kemudian aku mengingat ibu dan kakakku yang berada dikota. Aku merasa ketakutan, berpikir jika keduanya akan berubah seperti itu juga. Tapi aku mencoba berpikir positif, karena kami adalah orang kota yang terpelajar dan bukan seperti orang desa yang tidak terpelajar. Aku beranggapan bahwa keanehan yang terjadi kepada orang desa disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka. Sehingga membuat mereka menjadi gila juga aneh.
Tapi itu semua terbantahkan setelah apa yang kulihat juga terjadi dikota. Aku menjadi histeris dan sangat ketakutan. Aku memeluk adikku agar dia tidak melihat itu semua. Orang-orang mulai menggila dan memakan diri sendiri lagi. Sungguh sangat menakutkan juga menjijikkan. Aku pun teringat ibu dan kakak. Aku menyuruh ayah untuk membawa mobil dengan ngebut agar cepat sampai di rumah.
Tetapi terlambat, ketika sampai di depan halaman rumahku. Aku melihat ibu dan kakak yang sedang memakan kaki dan tangan mereka. Rumah kami juga sudah terbakar setengah. Aku ingin keluar untuk mencoba menyadarkan keduanya tapi ayah melarang ku untuk keluar dari mobil, karena jika itu terjadi kami bertiga juga akan menjadi seperti semua orang.
Yah kami tidak menjadi seperti mereka karena kami tidak menghirup asap bekas kebakaran yang terjadi dimana-mana. Karena itu ayah tidak jadi mengambil bibi sebelumnya dan malah balik ke kota karena pada saat ingin menjemput bibi, beberapa rumah di desa telah terbakar dan orang yang menghirup asapnya menjadi monster. Ayah yang mengetahui hal tersebut langsung berlari balik ke arah mobil dan menjauh dari desa. Tapi ternyata dikota hal yang serupa pun terjadi.
Aku menangis bersama adik dan ayah. Menatap orang kita sayangi telah menjadi monster. Namun itu semua belum selesai. Ternyata tanpa kita sadari karena terlalu fokus pada tangisan. Semua orang kota yang telah menjadi monster itu berjalan ke arah mobil kita. Mereka menatap kita dari luar mobil seperti singa yang sedang menatap mangsanya. Aku mulai berpikir dan merenung kan, apakah ini adalah akhir dari kehidupan sekarang.
Dunia telah tua dan menjadi hancur. Inikah yang namanya kiamat...??
—SELESAI—