Pagi itu aku sedang memanaskan motor sambil merekam keadaan sekitarku untuk dijadikan postingan Instagram Story sebelum berangkat untuk wawancara kerja saat secara tidak sengaja aku kamera ponselku merekam suatu kejadian. Kejadian itu begitu cepat hingga aku sendiri tidak dapat melihat secara jelas, namun untungnya kamera ponsel terarah ke jalan tersebut sehingga merekam keseluruhan kejadian.
Jadi, saat itu ada seorang bapak dan ibu terjatuh di depan sebuah mobil mewah. Yang pria langsung berdiri dan memukul kap mobil sedangkan yang wanita masih terduduk di aspal sambil mengaduh. Seorang pria berjas keluar dari mobil setelah kap mobilnya dipukul. Bapak yang tadi menunjuk ke arah pria itu lalu ke arah si ibu yang masih terduduk di aspal.
Pria yang keluar dari mobil sudah mengeluarkan dompet, sepertinya akan memberikan uang sebagai ganti rugi. Aku segera menghampiri mereka dan menahan pria itu mengeluarkan uangnya.
"Pak, bapak sama ibu tidak boleh berbohong seperti ini."
"Dia yang sudah menabrak saya dan istri saya. Dia harus ganti rugi untuk pengobatannya," ujar si bapak tetap memaksa.
"Pak, saya merekam semua kejadian saya di ponsel. Apa perlu saya tunjukkan? Di video terlihat jelas kalau bapak dan ibu yang menjatuhkan diri di depan mobil mas ini, bukan mas ini yang menabrak," ujarku tidak mau kalah.
Bapak itu langsung pucat wajahnya lalu langsung menarik tangan si ibu dan membawanya pergi. Pria yang kutolong hanya memandangiku dan mengangguk lalu masuk kembali ke mobilnya sedangkan aku kembali le motorku yang masih terparkir tak jauh dari sana.
Aku melajukan motorku dengan segera menuju tempat wawancara kerja dan sepertinya aku akan terlambat. Aku segera memacu motorku dengan kecepatan yang melebihi kecepatanku yang biasanya. Sesampainya di gedung tempatku akan wawancara kerja, aku langsung dibawa ke kantor rekrutmen dan dihadapkan pada seorang wanita paruh baya yang sedang memandangku tajam.
"Kamu yang bernama Tasya Maxime?" tanya si ibu itu.
"Iya benar bu," jawabku.
"Kenapa kamu terlambat?"
Aku menjelaskan secara rinci kejadian yang kualami tadi tanpa merubahnya sedikitpun. Ibu itu hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
"Baiklah Tasya. Besok kamu mulai bekerja dan posisimu sebagai asisten pribadi Direktur sekaligus pemilik perusahaan ini."
"Tapi saya hanya melamar sebagai staff biasa bu. Kenapa bisa jadi asisten pribadi Direktur?" tanyaku tak mengerti.
"Kamu direkomendasikan oleh Direktur langsung dan jika ada pertanyaan lagi, silakan tanya langsung pada Pak Direktur ya."
Aku hanya terdiam dan mengangguk lalu pergi dari sana sambil bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana mungkin direktur perusahaan bisa merekomendasikan dirinya padahal dia saja tidak mengenal siapa sang direktur.
Besoknya aku datang setengah jam lebih awal dan diberikan beberapa petunjuk dan sedikit pekerjaan yaitu merapikan jadwal-jadwal sang direktur hingga minggu depan. Karena sedang fokus dengan pekerjaan, aku tidak menyadari direktur sudah lewat depan mejaku menuju ke ruangannya hingga telepon di mejaku berbunyi.
"Se...selamat pagi. Dengan Tasya di sini. Ada yang bisa dibantu?" jawabku dengan terbata-bata.
"Tak perlu terlalu banyak sapaan. Segera ke ruangan saya dan bawa jurnal jadwal saya."
Klik.
Telepon ditutup sepihak dari ujung sana tanpa basa-basi dan membuatku agak kesal. Mentang-mentang yang punya perusahaan bisa seenaknya. Yah namanya bos ya suka-suka dia lah ya. Aku melangkah cepat ke ruangan direktur dan mengetuk pintu. Setelah dipersilakan masuk, aku membuka pintu dan tertegun melihat sosok di depanku.
Dia adalah pria yang kemarin kubantu saat akan mengganti rugi pasangan penipu itu. Tak kusangka pria yang kubantu kemarin adalah bosku. Aku masih terpaku di depan pintu sampai suara pria itu mampir ke telingaku.
"Mau sampai kapan kamu berdiri di sana?" tanya si bos dengan suara beratnya yang menggetarkan hati.
"Ma...maaf pak," ucapku menutup pintu dna melangkah lalu berhenti di seberangnya.
Aku membacakan jadwalnya hari itu dan dia mendengarkan sambil sibuk dengan berkas-berkas yang ada di mejanya. Setelah selesai, dia meminta beberapa jadwalnya diubah dan aku mencatatnya. Saat aku akan beranjak meninggalkan ruangan, direktur memanggilku.
"Tasya, nanti kamu makan siang dengan saya."
"Ba...baik pak."
Duh nasib dapat bos sedingin gunung es tapi ya sudahlah dibanding tak punya kerjaan. Tak terasa sudah jam makan siang dan aku bersiap-siap sambil menunggu si direktur keluar dari ruangannya tapi sudah sejam berlalu, si direktur tak keluar juga. Aku sudah sangat lapar tapi aku tahan karena sudah terlanjur berjanji.
Di saat aku memutuskan untuk makan roti saja, si direktur keluar dari ruangannya dengan wajah bantal. Kelihatan sekali dia baru bangun lalu tanpa berkata apapun menarik tanganku agar mengikutinya. Sepanjang jalan menuju lift, semua mata memandangi sang direktur dengan pandangan memuja sambil berdecih melihat tanganku yang digenggam olehnya. Karena risih, aku berniat melepaskan genggamannya namun dia diam saja dan tidak berniat melepaskannya.
Aku akhirnya menurut saja dan terdiam. Saat akan naik di kursi penumpang samping supir, si direktur menahan dan memintaku duduk di sampingnya di jok belakang. Lagi-lagi aku menurut. Sepanjang jalan kami hanya diam tanpa suara hingga sampai ke tempat tujuan.
Aku mencarikan tempat duduk untuk kami berdua dan setelah duduk, kami berdua disodorkan menu restoran itu. Setelah membolak-balik menu dan menelan ludah melihat harganya, aku memutuskan bertanya padanya.
"Pak, bapak mau pesan apa?"
"Nama saya Christopher. Panggil saya Chris di luar kantor. Saya tidak mau mendengar embel-embel bapak selain di kantor."
Karena kesal dengan sifat dinginnya, tanpa sadar aku malah menjawab ketus,"Baik Christopher alias Chris."
Aku terkejut dengan diriku yang menjawab seperti itu namun di luar dugaan, Chris malah tersenyum dan mengelus puncak kepalaku.
"Anak baik," ucap Chris sambil mengelus puncak kepalaku.
Belum sempat aku berkata apapun, tiba-tiba suara seorang wanita mampir di telingaku.
"Chris," ucap seorang wanita dengan dandanan tebal dan bibir yang merah.
"Delima," jawab Chris tanpa menoleh.
Wanita itu langsung mendudukkan bokongnya di sampingku agar berhadapan dengan Chris dan menggeser dudukku.
"Bagaimana kabarmu, Chris?" tanya wanita itu lembut namun dengan gaya yang genit.
"Sangat baik," jawab Chris tanpa bertanya kembali.
"Kamu ke sini sendiri?" tanya wanita itu lagi.
What!? Wanita itu buta atau bagaimana? Jelas-jelas dia melihat aku bersama dengan Chris namun malah bertanya seperti itu seolah aku tak dianggap. Aku hanya diam dan bertahan sekaligus ingin tahu apa jawaban bosku itu.
"Saya datang bersama calon istri saya," jawab Chris tenang.
Jederrrr.
Aku ternganga dengan jawaban bosku sekaligus salut dengan ketenangannya. Jika aku tidak salah menebak, wanita di sampingku itu adalah wanita yang pernah mengincarnya atau bahkan mungkin mantan kekasihnya. Wanita itu langsung menoleh padaku saat mendengar jawaban Chris.
"Jadi tipe wanitamu sekarang seperti ini? Ternyata seleramu sekarang menurun ya," cibir wanita itu sambil melihatku dari atas ke bawah.
Emosi dengan cibiran wanita itu, aku langsung berdiri dari dudukku dan menghadapnya langsung. Wanita itu tidak mau kalah dan ikut bangkit dari duduknya juga seolah menantangku.
"Maaf ya bu. Saya tidak tahu Anda siapa tapi Anda sudah mengganggu ketenangan makan siang kami berdua. Silakan Anda cari tempat lain untuk tebar pesona," kataku tajam pada wanita itu.
"Enak saja panggil saya ibu. Saya masih muda. Kau tidak tahu siapa saya?" jawab wanita itu sengit.
"Maaf berhubung dandanan Anda terlihat seperti wanita paruh baya jadi saya memanggil ibu biar sopan. Saya juga tidak tahu siapa Anda dan juga tidak peduli. Yang saya tahu, Anda sudah mengganggu acara makan siang saya dengan calon suami saya jadi silakan Anda pergi segera atau saya akan menyebut Anda sebagai pelakor," jawabku tak mau kalah.
Wanita itu terlihat marah dan sudah mengangkat tangan akan menamparku namun sebuah tangan menghentikan gerakannya. Tangan itu ternyata milik bosku dan dia sekarang sedang menatap tajam pada wanita itu.
"Jangan coba-coba menyentuh calon istri saya atau saya akan memanggil satpam untuk menyeretmu keluar," ucap Chris lalu menghempaskan tangan wanita itu.
Wanita itu melihat kami berdua secara bergantian lalu pergi sambil menghentakkan kaki seperti anak kecil.
"Maaf. Yang tadi itu mantanku," ucap Chris.
"Tidak apa-apa," jawabku seadanya.
Tak berapa lama makanan kami datang dan kami pun makan dalam diam.
Tak terasa aku sudah bekerja selama setahun di perusahaan itu sejak kejadian di restoran dengan wanita yang merupakan mantan kekasih Chris. Selama setahun hubunganku dengan Chris masih bos dan atasan, tidak ada yang berubah. Hanya sesekali aku diajak ke pesta bisnis dan statusku tetap sebagai asisten pribadinya.
Suatu hari, Chris mengajakku ke pesta pernikahan adik perempuannya. Jujur aku sangat terkejut karena baru kali ini aku diajak ke pesta keluarga olehnya. Aku pun mengiyakan dengan ragu-ragu karena tidak enak menolak permintaan bos padahal jantung sudah berdisko ria. Aku sebenarnya sudah menaruh hati pada bosku itu sejak enam bulan yang lalu karena ternyata diam-diam dia sangat perhatian padaku. Saat pekerjaanku sedang banyak dan lupa makan, dia akan menaruh roti lapis dan susu di mejaku saat aku sedang ke toilet. Aku tahu dia yang menaruh roti dan susu itu saat melihat rekaman kamera keamanan karena aku penasaran siapa yang sudah beberapa kali menaruh roti dan susu di atas mejaku. Atau saat aku kelelahan karena lembur, dia akan memintaku untuk libur sehari demi memulihkan staminaku. Atau saat aku pulang kemalaman karena lembur, dia akan meminta supirnya mengantarku pulang.
Hal-hal kecil seperti itu tentu saja menggetarkan hati seorang wanita yang aslinya mudah baperan sepertiku tapi aku sadar diri bahwa aku tak pantas bersanding dengannya.
Di hari pernikahan adik perempuannya, dia meminta supir menjemputku dan membawaku ke sebuah butik. Saat aku sampai, dia sudah duduk manis di atas sofa menungguku. Dia memintaku mencoba beberapa gaun yang menurutnya pas untukku. Dengan enggan, aku mencoba lalu memperlihatkannya padanya. Akhirnya dia memilih sebuah gaun kemben sutra yang panjang dengan hiasan di bagian dada. Lalu dia menyuruh seseorang mendandaniku. Rambut panjangku dibiarkan terurai dan dicatok bergelombang dengan sedikit bagian sampingnya dijepit ke belakang dengan tambahan hiasan rambut berwarna putih. Wajahku didandani dengan polesan natural sehingga memberikan kesan segar.
Setelah selesai didandani, aku melangkah dengan susah payah menemui Chris. Dia menoleh melihatku dan tertegun sebentar.
"Cantik," ucapnya tanpa sadar.
"Terima kasih," ucapku malu.
Aku yakin wajahku sudah semerah kepiting yang direbus. Dia mendekatiku lalu jongkok. Aku bingung dia mau melakukan apa tapi akhirnya aku tahu. Dia mengulurkan heels berwarna putih dengan hiasan berkilauan dan memakaikannya ke kakiku. Wow, aku berasa seperti putri. Setelah selesai memakaikan heels ke kedua kakiku, dia berdiri dan menancapkan pandangannya ke mataku. Aku yakin saat itu aku sudah terkena serangan jantung ringan sehingga aku hanya bisa terpaku.
Dia mengulurkan lengannya untuk kugandeng dan kusambut dengan ragu-ragu. Setelah itu, dia menuntunku ke mobil dan membantuku naik. Ternyata urusan kami di butik itu memakan waktu lama juga dan tak terasa waktu sudah menunjukkan petang ke malam. Kami terdiam sepanjang perjalanan walau mulut ini gatal ingin bertanya tentang semua ini.
Tak terasa kami sudah sampai di sebuah gedung mewah dan saat masuk, kami disambut beberapa wanita penyambut tamu dan salah satunya adalah wanita yang setahun lalu mengganggu kami, mantan kekasih Chris. Chris sepertinya tahu apa yang ada di pikiranku lalu berbisik di telingaku.
"Dia salah satu teman adikku. Hiraukan saja."
Kami berjalan masuk dan wanita melihatku seperti ingin menelanku hidup-hidup. Sesampainya di dalam, Chris meninggalkanku sejenak untuk mengambil minuman karena jenis acaranya adalah prasmanan alias self service.
Sepeninggal Chris, wanita bernama Delima itu mendekatiku, mencekalku dan berusaha membawaku pergi namun aku sekuat tenaga menahan diri agar tidak mengikutinya. Dia masih berusaha menarik dan gerakan kami mulai mengundang perhatian beberapa orang di sekitar kami.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentak lepas cekalan Delima dari lenganku dan tangan itu milik Chris. Chris memeriksa lenganku yang memerah karena cekalan Delima dan menatap tajam wanita itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Chris geram.
"Aku ingin mengusir wanita jalang ini," jawab Delima dengan percaya dirinya.
"Jalang? Kau tidak punya cermin?" tanya Chris sambil mengertakkan gigi.
"Chris, aku tahu wanita ini bukan calon istrimu. Dia adalah asisten pribadimu kan? Aku yakin keluargamu belum ada yang tahu tentang wanita ini kan?" balas Delima lalu menoleh ke arahku,"Berapa kau dibayar untuk pura-pura menjadi calon istrinya?
Astaga mulut wanita ini beracun sekali. Aku berusaha menahan air mata dan makian yang sudah menggantung di ujung mata dan mulutku. Rasanya ingin sekali menangis mendengar cara wanita itu merendahkanku. Tak kusangka Chris menarik tubuhku mendekatinya, memegang daguku agar mendongak dan mengecup lembut bibirku.
Aku hanya diam tak bisa berkata-kata karena sangat terkejut sedangkan Chris kembali melanjutkan perdebatan dengan wanita itu.
"Kau percaya sekarang?" tanya Chris dingin.
Wanita itu hanya ternganga melihat Chris mengecup bibirku lalu pergi begitu saja. Aku juga akan melangkah pergi karena malu. Malu karena kenyataannya aku hanyalah asisten pribadi Chris. Malu karena dia menciumku di saat kami tidak punya status apa-apa. Namun dia menahanku agar tidak pergi.
"Tetaplah di sini. Jangan kemana-mana," ucapnya lalu pergi.
Aku hanya diam dan mengangguk seperti kerbau yang dicucuk hidungnya dan berdiri terpaku menatap punggungnya yang lama kelamaan menghilang di balik keramaian. Tiba-tiba lampu ruangan padam dan sebuah lampu sorot menyirami posisiku berdiri. Sebuah suara memakai mikrofon terdengar berkumandang di seluruh penjuru ruangan.
"Tasya Maxime." Suara itu membuatku menoleh ke arah panggung dimana suara itu berasal dan melihat Chris berdiri dengan gagahnya di sana.
"Sejujurnya aku tak pandai berkata-kata. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu, di hari dimana kamu menyelamatkanku dari dua orang pasangan penipu itu. Kebetulan aku melihat lamaran kerjamu di meja rekrutmen dan merekomendasikanmu sebagai asisten pribadiku agar bisa selalu berada di dekatmu. Kau juga telah menyelamatkanku dari wanita penggoda yang hanya menginginkan hartaku. Namun karena diamnya aku, membuatmu tersiksa dan direndahkan. Maafkan aku. Mengambil kesempatan ini, aku ingin mengatakan isi hatiku sekaligus mengambil tindakan yang pasti. Tasya Maxime, maukah kau menjadi asisten pribadi hidupku selamanya?"
Aku menutup mulut tidak percaya sambil memandangi Chris yang berjalan mendekatiku. Saat sampai di hadapanku, dia berjongkok lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah dan membukanya. Di dalam kotak itu, terdapat sebuah cincin bertahtakan berlian dengan ukuran sedang.
"Tasya Maxime, maukah kau menjadi asisten pribadi di hidupku selamanya?" tanya Chris mantap.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya bisa mengangguk mengiyakan. Chris tersenyum manis dan menyematkan cincin itu ke jariku. Tak kusangka orang yang pernah kuselamatkan setahun lalu adalah bosku dan sekarang menjadi calon suamiku.
~THE END~