Hari itu Wayan merenungi nasibnya yang malang, ayahnya meninggal minggu lalu, kekasihnya menghianati cinta dan memutuskannya di hari ulang tahunnya 3hari lalu dan sekarang hari Jumat, awal bulan seharusnya gajinya naik 10% karena beberapa hari lalu dirinya lembur dab memenangkan sebuah proyek tetapi bukan gaji yang naik atau peningkatan jenjang karier tetapi surat pemberhentian tidak hormat dengan setengah gaji pesangon karena dirinya dianggap lalai mengerjakan tugas proyek di kala Ayahnya meninggal seminggu lalu.
" Akh, " Wayan melenguh marah sambil menyugar rambutnya kasar.
Wayan, lelaki 27 tahun itu terhenyak di atas rumput di taman kota setelah siang ini keluar dari perusahaan yang sudah 5tahun menghidupinya.
Wayan duduk termenung dengan marah, merasa bahwa takdir hidupnya sedang menertawakannya. Ditinggal ayahnya, dikhianati kekasih yang sangat di sayanginya bahkan phk dari perusahaan. Entah mau bagimana menjalani hidup yang berat.
Wayan mencengkeram rumput yang ada disampingnya dengan marah dan mencabutinya dengan marah untuk menyalurkan emosi yang sedang berkecamuk dalam dadanya.
Tanpa di sadari oleh Wayan, rumput yang di cabutinya bukannya habis tetapi semakin bertumbuh semakin banyak. Seakan setelah tercabut, rumput itu kembali tumbuh dengan pesat. Wayan terhenyak kaget ketika ada sesuatu yang menyentuh tengkuknya. Dan matanya melotot tajam saat menyadari bahwa dirinya yang berada di Taman Kota dengan rumput yang cantik dan pepohonan yang rindang di tepi jalan setapak, kini berubah menjadi hutan dengan rumput tinggi yang hampir menenggelamkan dirinya.
Wayan merasakan tubuhnya seperti dililit sesuatu dan matanya melihat rumput itu dengan daun ramping yang memanjang semakin menghimpit tubuhnya. Bahkan Wayan merasakan lehernya semakin terbelit rerumputan.
Dengan kekuatan dan tenaga yang terakhir, Wayan segera beranjak berdiri mencoba membebaskan leher dan tubuhnya dari belitan rumput aneh.
Setelah berjuang dengan susah payah, Wayan berhasil melepaskan diri dari belitan rumput dan segera berlari tunggang langgang keluar dari tempatnya duduk sedari tadi.
Bersamaan dengan langkahnya yang berlari keluar dari Taman Kota, rumput yang tadi membelitnya pun semakin bergerak mengikuti arah kakinya berlari.
Wayan terkejut dan berlari dengan sangat kencang tanpa tujuan. Dirinya berlari ke sembarang arah tapi kemana pun dirinya berlari rumput itu pun bergerak mengikuti dan menutup seluruh akses jalannya. Jalan raya pun sudah di tutupi tumbuhan serupa rumput itu.
Wayan berlari ke arah perkantoran tempatnya bekerja sebelum dirinya di PHK, dan rumput itu pun bergerak dengab cepat seakan sedang menutup akses jalannya.
Wayan melihat orang - orang di sekitarnya pun mulai menjerit bahkan ada yang mulai menggelepar karena rerumputan itu mulai mencekik leher beberapa rekan kantornya. Suasana sangat mencekam.
Wayan sangat panik dengan situasi yang sedang di hadapi.Seperti sedang menghadapi kiamat, dengan mata kepalanya sendiri Wayan bisa melihat kematian dengan mudah datang dan menyerang orang - orang di sekitarnya.
" Apakah ini kiamat ? " gumam Wayan di sela - sela ketakutannya sambil terus bergerak membebaskan diri rumput yang terus mengejar dan menyerangnya.
Wayan semakin panik ketika dilihatnya rumput di hadapannya semakin tinggi dan menutup aksesnya untuk bergerak ke kanan atau kiri. Rerumputan yang seakan hidup itu kembali membelit tubuhnya dan mencekik lehernya sehingga membuat Wayan kehilangan pasokan oksigen. Semuanya gelap. Wayan mulai menggelepar kehabisan Oksigen dan seluruh tubuhya terbelit rerumputan hijau. Dan seluruh kota hampir mengalami hal yang sama. Mobil, rumah, pertokoan, orang - orang semuanya mengalami hal yang sama. Terbelit rerumputan yang seakan sedang hidup.